12. Kakak Angkat Yang Jahat

1438 Words

Di suasana siang yang cukup terik, Aurel berjalan pelan sembari tak henti-hentinya memukul kepala dengan tangan mungilnya. Menyeret kedua kaki menyusuri trotoar jalan yang berselimut debu. Saat ini Aurel memang tengah berada di luar kantor, bermaksud untuk mencari makan siang di sebuah warung nasi padang yang terletak tidak jauh dari tempat kerjanya. “Aish! Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingat kejadian semalam? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa tuan Gara jadi bersikap sangat aneh tadi?” Aurel menggerutu di sepanjang jalan, mencoba mengingat kembali kejadian yang tidak bisa terekam dalam otaknya. Entah apa yang telah terjadi, sebab saat ia tersadar tadi pagi, Aurel sudah mendapati dirinya berada di sofa ruang tengah dengan kepala yang masih berdenyut nyeri. Seingat Aurel, kemari

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD