“Rel, dari mana saja kau? Sedari tadi pak Gara mencarimu, dan dia nampaknya sedang marah.” Kaki Aurel baru saja menapak pada pelataran gedung SK Production, nafasnya masih terdengar memburu dan jantungnya bahkan masih berdetak dengan kencang. Akan tetapi hal itu makin diperparah saat salah seorang staff mengatakan jika Gara tengah mencarinya. Ya, Tuhan! Apalagi kali ini? “Tuan Gara sedang marah? K-kenapa?” Staff yang diketahui bernama Rani itu terlihat menghendikkan bahu acuh. “Entahlah! Lebih baik kau cepat temui dia sekarang. Jangan sampai hanya gara-gara kau, kita semua terkena amukannya.” Aurel menghela nafas kasar. Berkali-kali ia mencoba merapal berbagai mantra agar hatinya kembali tenang sembari berlari menuju lift yang membawanya ke ruangan Gara yang ada di lantai atas. Ia har

