KONDEKTUR TAMPAN

1088 Words
Bu Tarno yang merasa dipojokkan langsung membalas,”Wo, aku itu ndak tau kapan mereka pergi. Tau-tau, saat pulang dari warung, udah ada kunci dan kertas ini.” Wanita ini mengambil sobekan kertas dari saku daster lalu mengulurkan kepada Mbok Katemi. “Nih, Mi. Coba kamu baca. Apa isinya,” ujar Mbok Katemi yang buta huruf segera menyodorkan kertas ke Bu Ratmi. Beberapa saat kemudian, Bu Ratmi membaca tulisan dalam kertas. “Bulek, titip kunci. Tolong kasih ke Ibu. Aku dan Sarti pamit pergi kerja. Sampaikan ke Ibu dan Simbah. Aku akan buktikan kalo ini bukan kutukan dan tak perlu mengorbankan diri jadi istri ke-tiga Juragan Kasan buat ruwat aku. Tertanda, Gayatri.” Mbok Katemi yang mendengar isi surat yang dibaca oleh Bu Ratmi seketika meradang. Terdengar gigi-gigi wanita tua ini gemeretak menahan amarah. Kedua wanita di dekatnya langsung gemetar karena ngeri. "Mi, bawa sini tali puser Ge! Anak ini, udah ndak bisa disabari lagi. Dibilang darahnya lain dari manusia normal. Harus diruwat! Jauh dari rumah, darahnya akan semakin liar,” kata Mbok Katemi lalu mulutnya komat-kamit baca mantra. Bu Ratmi segera beranjak meninggalkan ruang tamu. Sementara Bu Tarno dengan tubuh gemetar hanya bisa menunduk. Wanita ini paham betul bagaimana akibatnya saat Tuwo¹ murka. Tak lama kemudian, Bu Ratmi datang dengan membawa bungkusan kain berwarna putih kekuningan. Wanita berkuncir karet gelang tersebut meletakkan bungkusan tepat di depan ibunya. Bu Tarno yang melihat ada gelagat aneh, seketika berucap,”Wo, maaf. Aku pulang dulu. Bapak’e pasti udah pulang dari sawah. Belum aku bikinkan kopi. Mi, aku pamit dulu, ya.” Mbok Kasemi mengangguk merespon ucapan Bu Tarno. Sedangkan Bu Ratmi yang tak berani berucap hanya melempar senyum ke arah tetangganya ini. Tak perlu menunggu lama, Bu Tarno gegas beranjak keluar rumah. Wanita berdaster ini segera berlari saat sampai halaman karena ketakutan. Mbok Katemi mengusap-usap bungkusan putih sebanyak tiga kali lalu membuka dan mengeluarkan isinya. Adalah sebuah daging mirip usus berwarna putih kecokelatan yang keras, lalu dipegang oleh wanita tua tersebut sambil menunduk. “Car mancur cahyaning Gusti sungsum balung rasaning Pangeran, getih daging rasaning Pangeran, otot lamat-lamat rasaning Pangeran, kulit wulu rasaning Pangeran. Iya ingsun mancuring Gusti, jatining manusa, ules putih lungguhku, Gusti, nek putih rasaning nyawa, badan Gusti, sang kalebut putih. Iya ingsun nagara sampurna. Gelapo songo gelapo sewu suaraku. Macan putih ono ing d**a Gayatri ono saking ingsun pangeranira sang nur zat maya putih, sira metuwa.” Mbok Katemi membaca mantra dengan khusyuk. Gayatri yang bersiap naik bus jurusan Denpasar, tiba-tiba limbung. “Ge, kenapa?”tanya Sarti sambil menyangga tubuh wanita berambut ikal sebahu tersebut. Kemudian Sarti memapah Gayatri untuk masuk bus. Mereka duduk di deretan bangku nomor dua di belakang sopir. Tiba-tiba tubuh Gayatri kejang dan tampak wanita berusia 28 tahun ini berusaha menguasai keadaan. Dari mulutnya terdengar lirih rapalan mantra. “Deuleu aing deuleu teuteup di deuleu ka jalma eta heunteu huring heunteu seureup seureupkeneh ka badan kuring Ya Hulloh Yahulloh Ya Hulloh.” Sarti hanya bisa melihat dengan terperangah, tetapi tetap waspada dengan keadaan sekitar. Kejadian ini adalah yang kedua kalinya menimpa sang sahabat. Namun, saat ini yang membuat dia kaget, Gayatri mengucapkan mantra dalam Bahasa Sunda. Padahal, dia paham silsilah keluarga Gayatri tak ada yang berdarah Sunda. Kini, Gayatri mengambil dompet dari dalam tas. Dari benda persegi tersebut diambil sebuah foto lalu jemari Gayatri mengambil botol kecil dari dalam tas. Kemudian tutup botol dibuka dan menuangkan sedikit cairan di ujung jari. Botol kembali ditutup dan dimasukkan tas. Kini foto di telapak tangan kiri diusap dengan minyak wangi khusus, berbau menyengat. Aroma penarik sukma yang tak mungkin bisa dihalangi siapa pun. Dengan kedua mata masih terpejam melantunkan sebuah mantra kembali. “Pulunggono pulungsari Sang sengkento sari. Kewan gewang siro tak kongkon. Jupukno jabang hang due kersa tumindak hang gae cilaka. Yen ketemu tekakno menyang ngarepku. Teko welas teko asih. Sopo siro sopo ingsun sopo ndeleng.” Setelah baca japa mantra, Gayatri mengambil sobekan kain putih berlumur darah kering dari dalam dompet lalu meletakkan foto berwajah seorang wanita tua yang telah buram, di atas kain Dia mengambil tiga lembar jinzhi² lalu diusap-usap sebentar dan ditaruh menutupi foto. Mulut Gayatri komat-kamit membaca mantra penakluk sukma. “Sopo siro sopo ingsun. Ono jopo sewu, jopo siji datan tumomo. Sing mandi japaku dhewe.” Wanita berwajah manis ini pun tersenyum sambil melipat kain, lalu mengikat dengan helaian rambut yang dicabut dari kepalanya. Tanpa diduga helaian rambut telah dijapa mantra terbang ke tangan kondektur yang sedang mengulurkan karcis kepada Sarti. Aroma wangi cendana berbaur melati menguar, memasuki lubang penciuman pria muda berbadan tegap tersebut. Tangannya cekatan mengambil helaian tersebut lalu dimasukkan saku baju. Dia tersenyum ke arah Gayatri yang sedang memasukkan bungkusan kain ke dalam tas. “Aneh! Tuh, senyum sama kamu, Ge,” ucap Sarti sesaat setelah kondektur pergi. Gayatri yang telah selesai merapal mantra, seketika menoleh dan hanya dapat memandang punggung pria yang sedang berjalan ke depan. Akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh Gayatri datang. Makhluk tak kasat mata tersebut melintasi daun pintu bus dan sekarang telah tampak dari mata batin wanita berambut ikal tersebut. Sesosok makhluk tinggi besar, berdiri di depannya menantang. Dia menyeringai dengan taring-taring panjang, mata belog merah melotot. Seringainya mampu membuat manusia normal langsung pingsan. Namun, yang dihadapinya adalah Gayatri—titisan wanita nareswari³ Ken Dedes. Dia berani menghadapi jenis makhluk apa pun. Tak gentar dihardik setan, tak mundur dibentak iblis. Bau anyir dan busuk mulai menyebar dalam bus membuat semua penumpang merasa mual. “Bau apa ini? Bacin sekali!” teriak para penumpang. “Tolong tenang! Saya akan buka ventilasi,” sahut kondektur tak kurang nyaring. Pria berseragam abu-abu ini cekatan mengambil tongkat lalu mendorong penutup ventilasi di kap atas. Seketika udara sejuk masuk ke ruangan bus. Namun, hanya beberapa saat saja karena setelah itu, bau busuk mendominasi kembali. Akibatnya, banyak penumpang yang mual dan muntah. Si kondektur sibuk membagikan kantong plastik kepada seluruh penumpang yang mabuk darat karena aroma bangkai. Gayatri yang sadar situasi, segera meniup ke arah makhluk tak kasat mata sebanyak tiga kali. Ajaib! Makhluk tersebut terdiam seperti dihipnotis. Wanita muda ini lalu merentangkan telapak tangan dan meraih makhluk tak kasat mata serta menggenggamnya. “Kresek, Neng,” ucap kondektur sambil mengulurkan beberapa kantong plastik kepada Sarti. Tanpa disangka-sangka benda tersebut jatuh di pangkuan Gayatri hampir meluncur ke bawah. Seketika telapak tangan wanita ini pun terbuka untuk meraih benda tersebut dan tak ayal lagi, makhluk kasat mata terlepas. “Auch!” teriak kencang kondektur berparas mirip Chicco Jerikho tersebut. Note: 1. Tuwo= Yang dituakan. 2. Jinzhi= uang arwah yang dijadikan persembahan untuk leluhur. 3. Wanita nareswari: Wanita yang bersinar auratnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD