ROMANTISME SESAAT

1242 Words
Seketika telapak tangan wanita ini pun terbuka untuk meraih benda tersebut dan tak ayal lagi, makhluk kasat mata terlepas. “Auch!” teriak kencang kondektur berparas mirip Chicco Jerikho tersebut. Gayatri segera menyodorkan kumpulan kantong plastik kepada Sarti. Kemudian, wanita ini meminta Sarti untuk bergeser. Kondektur yang masih tertegun memandang wajah Gayatri geming, membuat hati sang wanita cemas. “Maaf. Abang kenapa?” tanya Gayatri sambil menatap paras kondektur di depannya. Pria tersebut tersenyum lalu mengulurkan tangan. “Gak apa-apa, Gek. Saya Kadek Satya,” jawab kondukter tersenyum lebar. Gayatri menjabat tangan Satya lalu berucap, “Gayatri.” “Nama yang cantik, seperti orangnya,” balas Satya sambil memegang erat tangan Gayatri. Dari ucapan Satya, Gayatri jadi tahu, bahwa makhluk sandera yang lepas tak merasuki tubuh pria tersebut. Seketika Gayatri melepaskan genggaman tangan Satya. “Maaf,” ucap wanita ini dengan tersenyum. “Oh, ya, Gek. Saya yang maaf. Permisi,” balas sang kondektur lalu beranjak pergi. “Ke mana dia, ya?” tanya Gayatri lirih dengan raut wajah cemas. “Cari apa, Ge?” Sarti bertanya sambil ikut memutar pandangan seperti yang dilakukan sahabatnya. “Siap-siap ada yang kesurupan dalam bus,” jawab Gayatri lirih seraya kedua mata memindai seisi bus. “Kok, bisa, Ge? Yang bikin kamu kejang barusan?” “Bukan. Itu sih, udah nurut. Punya Simbah. Yang lepas ini, datang barusan. Prewangan¹ jahat, udah aku tangkep. Tau-tau, ada kresek mau jatuh. Otomatis tangan terbuka, mau ambil. Lepas deh, sandera,” ucap Gayatri dengan ekspresi sedih. “Oh, itu tadi. Oalah, terus gimana?” tanya Sarti yang penasaran. “Kamu liat kondektur teriak lalu pegang jidat?” Gayatri berbisik ke telinga Sarti karena melihat kondektur melintas di dekat mereka. “Ya, tau.” “Kirain ... masuk ke dia. Aku panik langsung geser tempat duduk. Aku tanya, dia jawab gak apa-apa. Cuma penasaran. Enggak mungkin, kan, teriak tanpa sebab,” jelas Gayatri yang langsung direspon anggukan kepala oleh Sarti. Akhirnya mereka sepakat, setiba di Bali, akan mengamati gerak-gerik si kondektur beberapa saat. Demi ketenangan dan kenyamanan mereka. Gayatri merasa perlu untuk menangkap kembali sanderanya. Meski sudah kena mantra, tak mungkin bisa pergi jauh. “Bahayakah?” tanya Sarti seraya melempar pandangan ke arah si ‘Chicco Jerikho’ yang lewat. Kondektur ini telah beberapa kali melintasi mereka. “Bisa bahaya kalo merasuki cowok. Ini makhluk usil. Bisa j****y ke sembarang cewek. Aku khawatir, yang kena, udah beristri. Bisa ganggu rumah tangga,” jelas Gayatri. “Bahaya itu, Ge.” Sarti ngomong sambil mengawasi penumpang dan kru bus satu persatu. Akhirnya, mereka kelelahan dan tertidur. Beberapa saat terlelap, Gayatri bangun lebih dulu. Bus sudah hampir memasuki kota Denpasar. Saat yang ditunggu telah tiba, tepat jam dua belas malam, bus mulai memasuki terminal Mengwi. Gayatri segera membangunkan Sarti. “Sampe mana, Ge?” tanya Sarti setelah membuka mata. “Terminal Mengwi. Benar turun sini, kan?” Gayatri balik bertanya karena baru sekarang dirinya menginjakkan kaki di Bali. Ini pun karena diajak kerja oleh Sarti. “Oh, ya, Ge. Beneran udah sampe,” ucap Sarti setelah melongok dari jendela. “Kita turun, tunggu agak sepi. Males desak-desakan.” Lanjut Sarti sambil mempersiapkan tas. Akhirnya, penumpang sudah mulai sepi. Gayatri lebih dulu bangkit karena dia harus mengambil travel bag di bagasi. Sementara Sarti membawa tas kain, jadi bisa disimpan di bawah kursi. Gayatri turun dari mobil, bergegas melangkah menuju bagasi. Dia berdiri antri menunggu giliran. Kondektur tampan sibuk menurunkan tas para penumpang dan terakhir tinggal milik Gayatri. Namun, hanya tersisa tas kain warna hitam dan kardus mie instan. Padahal penumpang tinggal Gayatri saja. “Kok tas kain? Punyaku travel bag warna abu-abu. Gimana, sih? Kenapa bisa sampe ketuker, Bang?” tanya Gayatri emosi. “Gak ketuker. Emang gak ada travel bag abu-abu. Saya turunin barang, sedari tadi tas kain dan kardus,”sanggah Kadek Satya. “Ini bukan punya saya, Bang. Travel bag abu-abu harus ditemukan.” Gayatri dengan muka ditekuk bersedekap di depan kondektur tersebut. “Siapa tadi yang masukin travel bag ke bagasi?” tanya Kadek Satya ke salah satu kru bus yang mendekati mereka. “Kayaknya calo, Dek. Kita tadi masih ngopi. Mbak ini penumpang pertama,” jawab pria yang membawa kain pel ini. “Apaan, Ge?” tanya Sarti yang baru saja turun. “Tuh, liat! Travel bag berubah jadi tas kain dan kardus. Niat bener, tukar barang,” ucap Gayatri jengkel sambil pelototi sang kondektur. Bukannya takut, Kadek Satya langsung menceletuk,”Nikah sama saya. Nanti beli travel bag yang banyak.” Wanita muda ini dengan mata mendelik menatap ke arah Kadek Satya. Sarti yang paham dengan watak Gayatri akan tetap bertahan jika benar, merasa harus segera menengahi keduanya. “Ge, kita lapor ke pusat informasi. Diumumkan saja. Siapa tau, yang ketuker tasnya masih di sini,” usul Sarti sambil menatap Gayatri lalu Kadek Satya bergantian. “Usul yang bagus. Ayo, saya bantu bawa tas ke tempat informasi,” sahut kondektur tampan dengan cekatan, akan mengambil tas dari bagasi. Tiba-tiba dari dalam tas keluar asap yang semakin hitam dan tebal. Asap hitam pekat seketika menutupi seluruh tubuh mereka dan gelap. “Di mana ini? Sartiii ...!” teriak Gayatri sambil berusaha bangkit. Dia merasa asing dengan lingkungan sekitar. Namun, Tak ada wanita tersebut bersamanya. Kedua mata Gayatri memidai keliling dan tampak bangunan ala kerajaan di sekeliling dia. Kemudian, wanita muda ini mengamati pakaian yang menempel di badan. Aneh! Blus dan celana jin berganti dengan kain panjang dan kebaya. Gayatri merasa ada sesuatu di atas gelungan rambut. Tangan kanan gegas menarik sesuatu tersebut. Ternyata sebuah kembang goyang² berlapis emas serta bermata berlian yang sungguh elok rupawan. “Sartiii ...! Di mana kamu?” teriak Gayatri sambil bangkit dari hamparan rumput di bawah pohon besar. Tiba-tiba terdengar langkah tapak kuda mendekat ke arahnya. Bukan hanya seekor, tetapi ada banyak. Gayatri segera mencari tempat persembunyian. Beruntung ada batu besar tak jauh di dekat sungai. Wanita muda ini segera memakai kembang goyang kembali sambil berlari ke balik batu dan bersembunyi. “Gusti Ayu tak ada!” teriak salah satu penunggang kuda yang berada di barisan depan. “Ayo, kita cari sampai ketemu!” seru yang lain. Mereka menyisir sekeliling hingga ke pinggir sungai. “Apa mungkin masuk ke sungai?” tanya penunggang kuda yang tampak sebagai pemimpin pasukan berkuda. “Tak mungkin, Tuan. Ini kereta dan pasukan pengawal hilang. Pasti ulah perompak,”jawab salah seorang penunggang yang lain. “Cari sampe ketemu! Kita bisa kena hukuman mati, jika tak menemukan Gusti Ayu. Sebar prajurit ke sepanjang jalan yang dilalui beliau!” perintah kepala prajurit. Mereka pun gegas meninggalkan tempat tersebut. “Gak perlu sembunyi, Wong Ayu. Tubuhmu tak bisa diliat siapa pun,”ucap seorang pemuda tampan berpakaian ala pengembara di atas pelana seekor kuda berwarna putih. Gayatri kaget dan seketika menoleh ke arah pemuda berkuda di dekatnya. Betapa kaget wanita cantik ini setelah melihat paras sang penunggang kuda. “Kamu ada di sini? Mana Sarti?” tanya Gayatri dengan wajah senang, karena ada orang yang dikenal di lingkungan asing tersebut. “Sarti? Aku tak mengenalnya, Wong Ayu,” jawab sang pengembara yang langsung turun dari kuda, lalu menambatkan tali kekang di sebuah pohon. Pemuda tampan ini berdiri gagah menatap wanita di depannya, dengan sorot mata tajam bernaung di bawah alis lebat. “Kamu kondektur bus, kan?” tanya Gayatri sambil mengamati sekujur tubuh pengembara secara saksama. Note: 1. Prewangan: Makhluk halus; penghubung dengan roh. 2. Kembang goyang: Perhiasan yang dipasangkan di rambut atau sanggul (konde) dan dapat bergerak-gerak karena memiliki pegas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD