“Sarti? Aku tak mengenalnya, Wong Ayu,” jawab sang pengembara yang langsung turun dari kuda lalu menambatkan tali kekang di sebuah pohon.
“Kamu kondektur bus, kan?” tanya Gayatri sambil mengamati sekujur tubuh pengembara secara saksama.
Sang pengembara tersenyum melihat tingkah Gayatri yang dianggapnya aneh. Begitu pun yang dirasakan oleh Gayatri. Wanita muda ini menjadi semakin bingung dengan semua yang dialaminya.
“Kita belum berkenalan. Nama saya Ken Arok, Gusti Ayu,” ucap pengembara tersebut sembari menunduk lalu menangkupkan kedua telapak tangan di depan d**a.
“Nama saya Gayatri. Jadi tambah bingung. Saya bukan Gusti Ayu dan yang dicari mereka barusan siapa?” tanya Gayatri sambil menatap Ken Arok lekat-lekat.
Pemuda gagah tersebut seketika tertawa lirih mendengar pertanyaan Gayatri tadi. Kemudian, dia mengembuskan napas sejenak lalu menjelaskan,”Nama Gusti Ayu adalah Ken Dedes. Istri dari Tuan Tunggul Ametung. Apa gara-gara terjatuh barusan Gusti Ayu jadi tak ingat jati diri?”
“Saya terjatuh? Kapan? Barusan saya bangun dan tiba-tiba semua menjadi asing. Saya jadi hidup di zaman kerajaan. Ada apa dengan semua ini?” tanya Gayatri dengan berurai air mata.
Wanita muda bersanggul tersebut merasa sendiri. Orang yang diharapkan bisa memberi penjelasan atas perubahan dratis di sekelilingnya, justru memberi pernyataan yang di luar logika. Tanpa disadari mereka, ada sepasang mata mengawasi gerak-gerik keduanya. Sosok ini gegas naik ke pelana kuda lalu menghampiri kedua orang yang sedang berbincang.
“Ayo, Nduk. Kita pergi dari sini. Keburu pasukan Tuan Tunggul Ametung kemari,” ucap penunggang kuda tersebut sambil mengulurkan tangan ke arah Gayatri. Keduanya terkejut atas kedatangan penunggang kuda tersebut. Dari keterkejutan, raut wajah Gayatri berubah menjadi kebahagiaan.
“Simbaaah!” seru Gayatri yang segera menyambut uluran Mbok Katemi dan naik ke pelana.
“Wong Ayu, jangan sembarangan ikut orang,” cegah Ken Arok, tetapi terlambat karena Mbok Katemi segera memacu kuda dengan kencang.
“Ge, bangun!” seru Sarti sambil menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya.
“Apakah dia sudah bangun?” tanya seorang kru bus yang berdiri tak jauh dari Sarti.
“Tadi pupil mata seperti bergerak-gerak. Kita tunggu aja. Moga bisa segera siuman. Aku gak mau dianggap penipu,” ucap Sarti seraya mengoleskan aroma terapi ke ujung hidung Gayatri.
“Sar-Sarti ... kamu di mana?” Gayatri meracau dengan kedua mata masih tertutup. Dari kedua sudut mata keluar buliran bening. d**a wanita ini tampak turun naik tak beraturan. Terdengar isakan tangis dari bibirnya.
“Ge, buka matamu! Aku ada di sini,” bisik Sarti di telinga sang sahabat sambil mengusap air mata Gayatri.
Kedua mata Gayatri perlahan-lahan mulai terbuka. Saat terbuka penuh, wanita ini menatap Sarti dengan berkedip-kedip seperti tak terpercaya dengan pandangannya.
“Wah, udah siuman. Syukurlah!” seru kru bus dengan senyum semringah. Hatinya merasa lega. “Yodah, Mbak. Saya mau ke kamar sebelah. Moga teman saya juga udah siuman,” ucap pria berseragam ini lalu beranjak keluar.
“Terima kasih, sudah menemani, Mas,” ucap Sarti yang dibalas kru tersebut dengan kode tautan dua jari membentuk huruf O.
“Sar ... i-ini ka-kamu?” tanya Gayatri masih dengan tatapan mata penuh selidik. Wanita tersebut belum berani mempercayai penglihatannya. Dia takut tipuan lagi. Gayatri kembali menutup mata karena tak ingin hidup di dunia aneh.
“Ge, kok merem lagi? Bangun dong! Keterangan kamu dibutuhkan buat pembuktian,” jelas Sarti seraya menepuk bahu Gayatri.
“Ini beneran kamu, kan, Sar? Kamu, Sarti temanku? Bukan orang kerajaan?”
“Kamu ngomong apaan, sih, Ge? Perasaan kepala kamu gak kejedot apa pun.” Sarti memegang kepala Gayatri lalu memeriksa denyut nadinya. Semua normal.
Gayatri membuka mata kembali dan masih mendapati Sarti dalam ruangan yang sama seperti pertama saat dia membuka mata. “Sar, jangan tinggalin aku lagi, ya!”
“Kamu makin ngaco gini, Ge. Apa ada yang gak beres dalam tubuh kamu?” tanya Sarti dengan pandangan sendu.
“Bang Kondektur ke mana?” tanya Gayatri dengan tatapan mata serius. Wanita muda ini harus bisa memastikan semua baik-baik saja, sebelum duduk dan berdiri. Andai tak ada kepastian tentang pria beralis lebat tersebut, dia akan memejamkan mata kembali hingga keadaan aman.
“Bli Dek ada di ruangan sebelah. Kalian itu tadi pingsan. Hanya aku dan Mas Kru yang sadar setelah ada asap tadi. Kami berdua dianggap penipu. Tolong, melek Ge! Bikin pernyataan di ruang informasi,” ucap Sarti dengan nada mengiba. Akhirnya, Gayatri berani membuka mata setelah mendengar omongan Sarti.
“Ah, lega hatiku. Ayo ke ruangan Bli Dek. Aku harus memastikan bahwa dia orang yang sama saat kita naik bus,” kata Gayatri yang segera bangkit lalu turun dari ranjang. Sarti melihat perilaku Gayatri hanya bisa menggelengkan kepala dan segera mengikuti langkah wanita berambut ikal sebahu tersebut.
Saat kedua wanita hampir selangkah ke luar, secara mengejutkan daun pintu tertutup dengan tiba-tiba. Kedua pun terkejut. Gayatri segera memegang handle pintu untuk membuka pintu, tetapi seperti terkunci.
Padahal, anak kunci terdapat di dalam. Gayatri memutarnya bermaksud membuka kunci. Akan tetapi, sama saja. Pintu tertutup rapat. Wanita berambut ikal ini menoleh ke arah temannya. Sarti pun ikut mencoba membuka pintu. “Kok, gak bisa Ge? Apa rusak engselnya?”
Secara mengejutkan, dari dalam lubang kunci muncul lumut berwarna merah lalu menjalar dan semakin banyak. Gayatri dan Sarti segera mundur menghindar.
Tumbuhan aneh ini bergerak semakin cepat dan banyak. Masing-masing ujung yang menjalar tumbuh bulatan membentuk mata berwarna kuning dengan pupil hitam pekat.
“Astaga! Apa itu Sarti?” Gayatri berucap dengan kedua mata terbelalak.
“Tolong! Toloooong ...!” teriak kedua wanita.
Tumbuhan misterius tersebut mengeluarkan suara berderit lalu terdengar bunyi patahan. Ujung-ujung lumut yang sudah bermata, putus dan jatuh ke lantai. Mereka berkaki berbalut lendir putih yang kental. Aroma busuk serta merta memenuhi ruangan.
“Aku gak tahan, Ge. Dadaku sakit. Bau ini menyengat sekali,” keluh Sarti dengan tersengal-sengal. Wajahnya seketika pucat pasi. Gayatri mencoba merapal mantra yang dia punya, tetapi tak ada satu pun, yang teringat.
“Sarti bertahan, ya!” Gayatri mencari cara agar mereka bisa keluar. Sementara itu, makhluk-makhluk kecil bermata satu semakin banyak. Mereka telah menguasai separuh lebih ruangan.
Aroma busuk bangkai semakin menyengat. Gayatri segera mengambil sebuah kursi lalu memecahkan kaca jendela dengan barang tersebut. Kaca hancur lebur dihantam dengan kursi berkali-kali.
“Toloooong ...!” teriak Gayatri sekencang-kencangnya. Namun, tak ada seorang pun yang lewat. Tiada terdengar bunyi apa pun. Sunyi. Mereka seperti sendiri.
“Ge ...!” Suara Sarti semakin lemah.
Gayatri mencoba mengingat mantra-mantra kembali, tetap tak tak mampu. Dia membaca doa semampu yang diingat.
“Bismillahirrahmanirrahim. Audzubillahiminasyaitonirojim.” Gayatri mengucapkan sepenuh hati sambil memegang tangan Sarti. Dari kedua sudut mata telah banjir buliran bening. Dia pun berucap lembut,”Sar, bertahan, ya. Doa dalam hati.”
Wanita berambut ikal ini kembali melongok ke luar dari jendela yang sudah tak berkaca. Ukuran jendela tak cukup lebar untuk dirinya melompat keluar. Bentuk jendela permanen tanpa engsel, membuat hati Gayatri jengkel.
“Makhluk jenis apa pun kamu. Aku gak akan takut!” teriak Gayatri sambil menenteng kursi sambil berucap,” Audzubillahiminasyaitonirojim.”
Dia pukul-pukulkan kursi ke makhluk-makhluk merah berlendir berbentuk keong tersebut.