bc

Jodoh Seberang Rumah

book_age18+
204
FOLLOW
1.2K
READ
love after marriage
arranged marriage
neighbor
drama
bxg
city
lonely
like
intro-logo
Blurb

Rania tidak pernah menyangka jika keinginannya untuk melanjutkan pendidikan pada akhirnya membuat ia harus terjebak bersama Cakra, tetangga seberang rumah yang hampir tidak pernah berinteraksi dengannya. Cakra sendiri yang walaupun tidak begitu mengenal Rania, terpaksa harus mengikuti keputusan ibunya demi tidak menjadi anak durhaka.

Pernikahan yang masih jauh dari angan keduanya itu, mau tak mau harus digelar untuk memuluskan langkah Rania meraih cita-cita. Sayangnya ketika Rania akhirnya meyakini jika ia telah jatuh pada pesona sang suami dan ingin memperjuangkan rumah tangga mereka, ia harus menerima kenyataan jika Cakra malah berniat menunggunya jatuh cinta kepada pria lain lalu menceraikannya.

"Jujur saya enggak cinta kamu, dan saya yakin kamu pun sama. Pernikahan ini ... anggap saja saya sedang membantu kamu, sampai kamu bisa mandiri dan menemukan pria lain yang memang kamu cintai. Setelah itu kita akan berpisah"

chap-preview
Free preview
01- Mencari Suami
Rania menggelengkan kepalanya kuat saat mendengar usulan sang paman yang memintanya untuk ikut pulang ke Pekalongan. Rania tidak bisa melakukannya. Tidak mau. Tidak sudi. Bukan masalah baginya jika memang harus tinggal sendirian di rumah peninggalan orang tuanya ini.   “Kamu masih tetap bisa kuliah walau ikut Paklik pulang, Nduk. Di sini kamu sendirian, ndak ada siapa-siapa yang menemani, Paklik khawatir.” “Nia minta maaf karena nggak bisa menuruti keinginan Paklik. Selain karena Nia ingin kuliah, alasan lainnya adalah karena memang di sinilah tempat Nia, di rumah ini. Tempat semua kenangan orang tua Nia berada.” jelas Rania dengan wajah memohon.  Darmadi Suseno, adik dari ayah Rania, hanya bisa menghela napas berat sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Rania, keponakan satu-satunya ini ternyata sama keras kepalanya dengan almarhum sang kakak. “Paklik tetap ndak bisa, Nia. Kamu keponakan Paklik satu-satunya, perempuan pula. Paklik ndak akan bisa tenang meninggalkan kamu sendirian di kota sebesar Jakarta ini.” “Tapi Paklik …” “Nurut sama Paklik, Nduk. Ini untuk kebaikan kamu.” “Nia enggak mau, Paklik.” “Rania …” Nada suara tajam diikuti raut wajah serius Darmadi membuat Rania hanya mampu menundukkan kepala. Ia benar-benar tidak ingin ikut pulang ke Pekalongan. “Nia mau kuliah Paklik, mau sekolah yang tinggi seperti harapan ayah dan bunda. Nia sudah punya rencana untuk daftar saat penerimaan mahasiswa baru nanti. Tabungan Nia sekarang udah cukup untuk bayar semester awal.” “Kamu bisa kuliah di Semarang, Nia, Paklik yang akan bayar. Semarang jaraknya nggak terlalu jauh dari Pekalongan. Kamu bisa pulang seminggu sekali atau Paklik yang akan datang ke Semarang jenguk kamu. Kalau di Jakarta, Paklik ndak bisa datang sering-sering.” Rania hanya menggeleng. Dalam hati tidak berniat sama sekali mendapatkan bantuan dari Paklik ataupun keluarga besarnya yang lain, tidak sudi. “Saat ini kamu sendirian, Nduk. Paklik satu-satunya keluarga yang kamu miliki. Paklik yang bertanggung jawab dengan kehidupan kamu setelah ini. Kalau terjadi apa-apa sama kamu di sini, Paklik ndak akan bisa memaafkan diri sendiri, tolong mengerti.” “Nia bisa bertanggung jawab atas diri Nia sendiri, Paklik. Nia sudah dewasa,” jawab Rania. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh menahan emosi. Pembicaraan ini tidak akan selesai jika pamannya terus ngotot seperti sekarang. Darmadi menggeleng tegas. “Kamu masih menjadi tanggung jawab Paklik sampai kamu menikah nanti, sampai kamu memiliki pendamping hidup. Selama kamu masih belum menikah, kamu tanggung jawab, Paklik.” “Ya sudah kalau begitu, Nia akan menikah saja!” Darmadi yang mendengar jawaban keponakannya sedikit tersentak, tidak menyangka. “Kamu punya pacar, Nduk? Siapa orangnya? Kenalkan sama, Paklik.” Rania menatap pamannya dengan wajah bingung. Astaga, saking kesalnya karena pembicaraan alot ini ia sampai asal bicara. “E-enggak, Paklik. Enggak punya,” lirihnya seraya menundukkan kepala. Helaan napas terdengar sebelum suara Darmadi kembali muncul. “Paklik serius. Kalau memang kamu benar-benar ndak mau ikut ke Pekalongan, kamu ndak boleh sendirian di sini. Paklik baru bisa tenang kalau ada yang menjaga kamu. Kalau memang ada laki-laki yang sedang menjalin hubungan serius dengan kamu, bawa dia bertemu Paklik. Atau kamu mau Paklik carikan saja? Paklik punya beberapa kenalan dan teman di sini yang bantu urus distribusi batik keluarga kita, nanti Paklik bisa …” “Enggak mau, Paklik,” sahut Rania cepat. Kepalanya menggeleng-geleng horor. Adik ayahnya ini memang masih terlihat bugar. Tidak tampak tanda-tanda jika usia sebenarnya sudah empat puluh lima tahun. Namun bukan berarti Rania mau dijodohkan dengan laki-laki paruh baya seumuran pamannya ini. “Kamu boleh tetap di Jakarta dengan satu syarat, memiliki pendamping yang Paklik percaya bisa menjaga dan membimbing kamu dengan baik juga menyayangi kamu sepenuh hati. Kalau ndak ada, berarti pilihannya ikut Paklik pulang ke Pekalongan, lanjutkan kuliah di Semarang saja,” lanjut Darmadi tak bisa dibantah. Ucapan final sang paman yang baru saja meninggalkannya menuju kamar tamu, membuat Rania termenung. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan sambil mendesah berat. Ini adalah satu-satunya jalan keluar yang ia punya, tapi masalahnya Rania sama sekali tidak memiliki pasangan yang bisa dibawa untuk menemui Darmadi. Bagaimana ini? *** Rania duduk termenung di lantai dapur rumahnya sambil menghadap sekeranjang penuh bawang merah dan bawang putih yang harus dikupas. Pamannya sudah kembali ke Pekalongan siang tadi menggunakan kereta api, meninggalkan Rania yang semakin kalut karena teringat ucapan pria itu sesaat sebelum meninggalkan rumahnya. “Paklik beri waktu tiga minggu untuk memikirkan kembali semuanya. Kalau sampai saat itu  ndak ada laki-laki baik yang bisa dikenalkan sama Paklik, berarti kamu setuju untuk ikut pulang.” Tadi Rania hanya bisa mengangguk patuh pada setiap ucapan pamannya, tapi sekarang saat sedang sendiri ia benar-benar kebingungan. “Ini pasti cuma akal-akalan Paklik aja supaya aku nggak bisa nolak buat ikut pulang ke Pekalongan,” gerutu Rania. Rania tidak ingin tinggal di kampung halaman orang tuanya itu. Tidak lagi sejak ia sering mendengar cibiran dan cemoohan orang-orang di sana mengenai ayahnya yang ternyata hanya berakhir menjadi seorang guru sekolah dasar setelah sempat ribut besar dengan kakeknya karena lebih memilih merantau untuk melanjutkan kuliah, dan pada akhirnya hanya menjadi guru yang gajinya tidak seberapa, daripada meneruskan usaha batik keluarga. Awalnya Rania tidak terlalu mengerti tentang apa yang terjadi, tapi seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, ia mulai bisa memahami mengapa setiap kali mereka ke Pekalongan kakeknya akan terus menerus memasang wajah masam dan keras pada ayahnya. Itu semua karena ayah Rania sebagai anak laki-laki pertama benar-benar menjadi tumpuan dan harapan kakek. Dan pilihan sang ayah membuat banyak orang kecewa padanya. “Awas nanti bukannya ngupas kulit bawang malah ngupas jari sendiri.” Rania yang mendengar seruan itu mendongak dan mendapati Bu Ratna, wanita paruh baya yang ikut membantunya mengurusi katering sudah berdiri di hadapannya dengan senyum mengembang. Rania ikut tersenyum. “Udah biasa, Bu. Enggak akan melenceng pisaunya,” gurau Rania. “Jangan takabur …” Bu Ratna mencubit pelan pipi Rania lalu meninggalkan gadis itu sendiri dan meneruskan pekerjaannya memotong kacang panjang. Ia tahu apa yang menjadi kegelisahan Rania sejak pamannya datang dua hari yang lalu, tapi tidak ingin terlalu ikut campur. “Bawangnya ditinggal dulu aja, kamu istirahat sana. Biar ibu sama Rima yang lanjutin nanti.” “Enggak apa-apa, Bu,” tolak Rania tak enak hati. “Udah jangan bantah. Malah bahaya kalo diterusin, tapi kamunya enggak fokus begitu.” Rania akhirnya mengalah dan meninggalkan pekerjaannya, melangkah memasuki kamar. “Ayah bilang kalau Rania harus sekolah yang tinggi, kan? Sebentar lagi Rania bisa mencapai impian kita, tapi Paklik Darma nyebelin banget maksa Nia untuk ikut pulang ke Pekalongan. Nia enggak mau, Yah.” Rania mulai mengadu pada foto lama orang tuanya yang berada di atas nakas di samping tempat tidur. Menceritakan kegundahannya mengenai sang paman. Ia paham kekhawatiran Darmadi sangat beralasan, tapi tetap Rania tidak bisa menurut begitu saja. Ia punya keinginanan sendiri, ia punya impian sendiri. “Kasih tahu Nia gimana caranya dapetin calon suami dalam waktu tiga minggu, Yah, Bun?”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
203.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.5K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
20.5K
bc

Kali kedua

read
222.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook