Sudah seminggu sejak sang paman kembali ke Pekalongan, dan Rania belum menghubunginya sama sekali. Ia tidak tahu harus mengatakan apa jika Darmadi nanti bertanya mengenai calon yang mungkin akan ia kenalkan pada pamannya itu.
Dan siang ini Rania memutuskan untuk melupakan sejenak semua pembicaraannya dan sang paman, ia lebih memilih menyusun kotak-kotak berisi tiga puluh lima pesanan makan siang yang sebentar lagi akan dijemput taksi online yang dipesan sendiri oleh pelanggannya, pegawai kantor sebuah perusahaan retail yang letaknya sekitar dua kilometer dari perumahan tempatnya tinggal.
Di dalam masih ada sekitar dua puluh kotak lagi yang akan diantar ke tempat berbeda serta tambahan tiga belas kotak pesanan milik penghuni kos-kosan yang ada di pangkal jalan. Hari ini total ada enam puluh delapan kotak makan siang yang dipesan. Jumlah yang cukup banyak untuk usaha rumahan yang Rania jalankan bertiga bersama Bu Ratna dan anaknya Rima.
Beginilah kegiatan Rania sehari-hari sejak setahun terakhir. Sejak ia memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai junior cook di Binari resto agar bisa mengurusi bundanya yang saat itu tengah sakit tifus.
Rania mendapatkan pekerjaan itu tiga bulan setelah ia lulus SMA. Saat itu ia mendaftar sebagai cook helper, posisi paling bawah dalam hierarki Binari resto yang tugasnya adalah membantu menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan Chef dan anggota lain, mencuci peralatan masak, juga membersihkan dapur.
Di Binari resto hanya ada empat tingkatan posisi untuk bagian dapur. Cook helper, junior cook 1 dan 2 serta leader cook / head chef. Satu tahun Rania bertahan di posisi cook helper sampai akhirnya diberi kesempatan untuk mencoba posisi junior cook 1. Saat itu ia sudah diperbolehkan memasak menu pesanan pelanggan yang proses pembuatannya paling mudah dan tentunya masih dalam pengawasan leader cook.
“Mbak, itu taksinya udah nyampe.”
Panggilan itu membuat Rania yang sempat teringat masa-masa kerjanya dulu kembali fokus pada kotak-kotak makan yang sudah tersusun rapi di dalam kantung plastik besar. Menghitung kembali total kotak yang ada sebelum menatap Rima.
“Udah nih, Rim, bantuin Mbak bawa ke depan, ya,” pinta Rania. Tanpa banyak bicara Rima membantu Rania membawa satu kantung yang tersisa kemudian menyusul langkah Rania yang sudah lebih dulu berjalan ke depan.
Setelah memasukkan semua pesanan ke dalam mobil, Rania kembali ke dapur untuk mengecek sisa pekerjaan. Namun baru akan merapikan semua peralatan yang digunakan memasak tadi, suara Rima yang memanggil namanya membuat Rania melongokkan kepala dari pintu dapur. “Kenapa?”
“Ada Bu Fatma, Mbak.”
Mendengar itu, Rania mengurungkan niatnya untuk mengangkat wajan besar yang digunakan menumis labu siam tadi. Lantas segera beranjak untuk menemui wanita paruh baya yang tinggal di rumah yang persis berhadapan dengan rumahnya.
Ternyata Bu Fatma hanya ingin mengantarkan uang pesanan lima puluh nasi kotak untuk pengajian ibu-ibu yang rutin diadakan sebulan sekali. Dan setelah memberikan amplop berisi pembayaran, Bu Fatma pamit pulang.
Rania baru saja akan menaruh amplop berisi uang itu ke dalam kamar saat suara salam dari pintu depan menarik perhatiannya. Mata gadis itu membelalak dan ketika rasa terkejutnya sirna bibirnya seketika mengerucut kesal.
“Lihat Paklik datang kok malah cemberut.”
Rania yang mendengarnya memilih bungkam kemudian mengulurkan tangan untuk menyalami pamannya. Walau bagaimanapun Rania masih menghormati pamannya sebagai satu-satunya keluarga yang ia punya saat ini.
“Paklik langsung dari Pekalongan?” tanya Rania saat mereka sudah duduk di ruang tamu.
Darmadi mengangguk. “Sampe Jakarta sudah dari pagi, terus ke departement store yang kerja sama dengan batik kita, ngobrol sebentar sama manajernya. Katanya bakal buka cabang baru di Jakarta Pusat, mereka nanya Paklik sanggup ndak buat isi di sana juga.”
Rania mengangguk-angguk sambil meremas kedua tangan gugup. Takut kalau nanti Darmadi kembali mengulang pembahasan mengenai keharusannya ikut pulang ke Pekalongan.
“Permintaan Paklik minggu lalu sudah dipikirkan? Bulik sama adik-adik sepupumu nungguin. Mereka seneng banget kalau kamu mau ikut tinggal di Pekalongan.”
“Nia tetap mau di sini, Paklik.”
Darmadi menghela napas berat. Sudah menduga Rania tidak akan semudah itu berubah pikiran. “Paklik masih ndak bisa membiarkan kamu tinggal sendirian di sini, nduk. Syaratnya sama seperti yang Paklik sebutkan minggu lalu, kalau ndak ada berarti kamu ikut Paklik pulang.”
“Enggak. Nia enggak mau. Paklik enggak bisa maksain Nia untuk nurutin keinginan Paklik. Nia sudah punya rencana sendiri untuk masa depan Nia.”
“Paklik ndak mengizinkan kamu tinggal sendiri di sini. Paklik tahu kamu itu anaknya penakut. Nanti kalau ada apa-apa gimana? Siapa yang mau bantu kamu?”
Rania menunduk dengan kedua mata mengembun. Ia tidak ingin ke mana-mana. Rumah ini adalah rumahnya, seumur hidup ia tinggal di sini. Mana boleh pamannya memaksa untuk pergi dari rumah penuh kenangan ini.
“Emm … maaf mengganggu.”
“Oh, Mbak Fatma, mari masuk,” ajak Darmadi pada tetangga seberang rumah keponakannya yang juga ia kenal baik
Rania mendongak setelah mengusap pipinya yang sempat dijatuhi air mata. Menatap pada Bu Fatma dan pamannya yang sedang bersalaman.
“Saya mau nganterin ini buat Rania.” Bu Fatma mengulurkan paper bag yang dibawanya ke arah Rania. “Oleh-oleh dari Ajeng.”
“Sampaikan terima kasih Nia buat Ajeng, ya, Bu,” ucap Rania setelah menerima paper bag itu. Bu Fatma hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Maaf kalau saya lancang, tapi tadi saya dengar Rania mau dibawa pulang ke Pekalongan? Memangnya kenapa, ya, Dik Darma?”
Darmadi kembali menceritakan mengenai kegelisahannya pada Bu Fatma. Bagaimana ia selalu mengkhawatirkan keponakannya yang kini tinggal seorang diri sejak ibunya meninggal dunia dua bulan yang lalu.
“Saya ndak bisa biarkan Rania tinggal sendirian di sini, Mbak. Dia masih punya saya. Makanya saya mau bawa Rania ke Pekalongan. Tapi anaknya ndak mau, susah ini, sama kerasnya seperti ayahnya.”
Setelah cukup lama diam mendengarkan penjelasan Darmadi, Bu Fatma merasa jika kekhawatiran pria itu kepada sang keponakan wajar adanya. Namun ia juga cukup mengerti mengenai keberatan Rania untuk tinggal di Pekalongan. Tempat yang walaupun merupakan kampung halaman kedua orang tuanya, tapi tetap saja asing bagi gadis itu.
“Begini, kalau Dik Darma enggak keberatan, bagaimana kalau Nia tinggal sama saya saja? Toh hubungan kita sudah sangat dekat layaknya keluarga sendiri. Saya akan senang sekali kalau Nia mau tinggal sama saya,” kata Bu Fatma mencoba membujuk.
Rania menggeleng pelan. “Jangan, Bu. Nia enggak mau merepotkan.”
“Merepotkan apanya. Kamu toh sehari-harinya memang lebih sering sama Ibu dibanding kedua anak ibu sendiri. Malah Ibu senang sekali kalau kamu mau tinggal sama Ibu di rumah. Rumah ini biarkan saja begini. Sesekali kalau kamu kangen, rindu orang tuamu, ya, kamu bisa tidur di sini.”
Rania mengalihkan tatapannya pada Darmadi yang tampak termenung. Sepertinya memikirkan usulan baru tetangganya itu. Rania yang kembali berharap Paklik-nya mau berubah pikiran nyatanya harus kembali kecewa melihat Darmadi menggeleng.
“Saya minta maaf, Mbak Fatma. Tapi saya ndak bisa mengizinkan. Kalau saat ini Mbak Fatma hanya tinggal sendirian atau bersama dengan seorang anak perempuan di rumah, saya ndak keberatan. Tapi seingat saya Cakra masih tinggal sama Mbak Fatma, toh? Walaupun benar kita sudah seperti saudara, tapi rasanya tetap ndak elok kalau Nia tinggal bersama Mbak Fatma di saat Mbak Fatma memiliki anak laki-laki yang sudah dewasa. Mereka bukan muhrim, apa kata tetangga lain nanti.”
Rania yang sudah pasrah mengenai apa yang akan diputuskan pamannya, hanya bisa menyandarkan tubuh pada sofa tua berwarna cokelat yang sejak tadi mereka duduki. Sejujurnya jika ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah keputusan pamannya, tanpa banyak berpikir ia akan melakukannya. Tapi sayang otaknya tidak bisa memikirkan apa pun sejak tadi.
“Kalau begitu kita bisa membuat Cakra dan Rania menjadi muhrim,” sahut Bu Fatma antusias. Wajahnya yang berbinar menatap ke arah Rania dan Darmadi bergantian. “Bagaimana kalau saya melamar Nia untuk menjadi istri Cakra? Dengan begitu enggak ada halangan lagi bagi Nia untuk tinggal di rumah saya, kan?”