03- Harus Menikah

1017 Words
Cakra Dewangga, pria matang berusia tiga puluh dua tahun itu hanya bisa melongo syok saat mendengar permintaan ibunya yang tiba-tiba. Ia baru saja sampai di rumah tidak lebih dari tiga puluh menit yang lalu, belum sempat mandi apalagi makan dan seketika harus dihadapkan pada kabar penting mengenai masa depannya. “Ibu, nggak salah ngomong ini? Bercanda, kan?” tanya Cakra memastikan. Tidak ada angin tidak ada hujan, ibunya berkata ingin ia menikahi anak tetangga depan rumah mereka. Apa-apaan itu? “Ibu serius, Cak. Ibu sudah bilang sama Paklik-nya Nia. Beliau minta ibu bicarakan dulu sama kamu baru bisa memberi keputusan. Makanya ibu bilang sekarang.” “Tapi, Bu, Cakra belum ingin menikah. Cakra masih mau fokus karier dulu,” kata Cakra beralasan. “Belum mau menikah memangnya nungguin apa, toh? Kariermu mau sampe setinggi apalagi baru kamu puas? Mbok ya, disyukuri aja yang ada sekarang. Kerjaanmu sudah mapan, sudah bisa bangun kos-kosan juga. Rezeki alhamdulillah cukup. Usia juga udah matang, udah saatnya memang membangun rumah tangga. Apalagi yang kamu cari?” “Tapi Bu, tetap aja nggak semudah itu.” Cakra menyugar rambutnya kasar, merasa frustrasi. “Nia itu masih muda banget. Jarak usia kita juga lumayan jauh. Lagipula selama ini Cakra sama Nia itu nggak terlalu dekat. Nyapa juga jarang. Gimana ceritanya Ibu mau Cakra nikah sama dia? Kalo ternyata Nia sudah punya pacar gimana? Nggak mungkin kan Cakra harus nikahin pacar orang?” Fatma menggeleng tegas. “Ibu sangat yakin kalau Nia itu single. Dia nggak punya banyak waktu untuk pacar-pacaran karena sejak dulu terlalu sibuk kerja.” “Ya tetap aja nggak bisa tiba-tiba gini dong, Bu.” “Cakra ….” Fatma memanggil nama putranya pelan sembari bangkit dan berpindah tempat duduk. Kedua tangannya menggenggam tangan Cakra erat sambil menatapnya sungguh-sungguh. “Rania itu gadis yang baik. Ibu sangat mengenal dia sejak kecil. Ibu yakin dia akan cocok menjadi pendamping kamu.”   “Kenapa sih Ibu jadi tiba-tiba minta Cakra buat nikahin dia?” Fatma hanya bisa menghela napasnya dalam sebelum memberikan jawaban. “Saat ini Nia itu yatim piatu, Nak. Di kota ini dia nggak punya siapa-siapa lagi.” Cakra diam memandangi ibunya, menunggu penjelasan. “Paklik-nya minta Nia untuk ikut pulang ke Pekalongan dan tinggal di sana, tapi Nia nggak mau. Dia punya cita-cita sendiri, dia pernah cerita sama Ibu mau daftar kuliah saat penerimaan mahasiswa baru nanti. Paklik-nya setuju dia kuliah, tapi nggak mau Nia hidup sebatang kara di sini. Jadi tadi ibu bilang mau melamar Nia untuk kamu biar Nia bisa tinggal sama kita dan Paklik-nya nggak perlu khawatir.” Cakra memejamkan mata erat sambil mengurut pelipisnya. Kepalanya terasa berdenyut saat ini. Bagaimana bisa Fatma dengan entengnya mengatakan sudah melamar seorang gadis yang tidak ia kenal dekat untuk menjadi istrinya karena alasan apa tadi, agar gadis itu bisa kuliah? Cakra mendengkus sebal. Ibunya ini bahkan tidak mengajaknya bicara lebih dulu saat mengambil keputusan sepenting itu. “Kenapa solusinya harus jadi istri Cakra sih, Bu?” tanya Cakra tak habis pikir. “Ini kan masalah keluarga mereka, ya biarin aja mereka yang cari solusinya, kenapa Ibu harus ikut-ikutan pusing,” sungutnya. “Pake ngorbanin kehidupan Cakra lagi.” “Cakra Dewangga!” Cakra terkesiap mendengar jeritan ibunya. Baru kali ini Fatma memanggilnya dengan nada suara setinggi itu, membuatnya ciut dan seketika menundukkan kepala. Cakra tahu mungkin ucapannya tadi sudah keterlaluan, tapi … ah, entahlah. “Maaf, Bu,” kata Cakra tak ingin memperparah keadaan. “Kamu benar,” sahut Fatma setelah menghela napas panjang. “apa yang sedang dihadapi Nia saat ini mungkin memang bukan urusan keluarga kita, tapi Cak,” Cakra menoleh dan mendapati ibunya termangu menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. “Ibu melakukan ini selain karena nggak punya solusi lain juga karena Ibu sangat menyayangi Nia. Sama seperti Ibu sayang kamu dan adikmu, Ajeng. “Nia sudah seperti anak kandung Ibu sendiri. Sejak dulu saat kamu mulai sibuk kuliah di Yogya, yang menemani Ibu di rumah, ya, Nia. Adikmu kamu tahu sendiri gimana kelakuannya. Kalau nggak dipanggil dipaksa pulang, ya nggak akan pulang, sibuk main seharian sama temannya. Cakra terdiam lama, merenung, mengingat kembali saat-saat dimana ia sangat sibuk di awal perkuliahan. Tinggal berbeda kota untuk menempuh pendidikan, membuatnya memang tidak bisa menemani dan memberi perhatian lebih kepada ibu dan adiknya. Apalagi saat itu ayahnya juga belum lama berpulang. Cakra mengerti jika ibunya merasa kesepian. “Tapi kalo cuma biar Nia nggak sendirian di kota ini selama kuliah, kenapa nggak diajak tinggal di rumah kita aja, nggak perlu sampai menikah.” Fatma menggeleng tegas. “Menikah, Nak. Menikahlah dengan Rania. Nia gadis yang baik dan Ibu yakin dia cocok untuk kamu.” **** Cakra mendesah lelah. Kedua tangannya yang bertumpu di paha ia gunakan untuk menutup wajah. Ucapan terakhir Fatma sebelum beranjak masuk ke dalam kamar tadi terus terngiang di kepala Cakra membuatnya tak berkutik. “Kamu mungkin nggak tahu saat kepergian ayahmu dulu, Rania dan Bundanya lah yang selalu berada di sisi Ibu, menemani Ibu, menjaga Ibu. Mungkin kalo nggak ada mereka Ibu bisa berakhir di rumah sakit jiwa, Cak, bisa gila.” Fatma menjeda kalimatnya untuk menarik napas dalam. Ditatapnya Cakra yang tampak terguncang dengan senyum menenangkan. “Jangan salah paham, Ibu nggak menyalahkan kamu karena nggak bisa menemani Ibu dan Ajeng dalam masa duka. Ibu sangat memahami situasi kita, saat itu kamu juga baru masuk awal kuliah.   “Dan Ibu mengatakan ini bukan berarti Ibu menganggap kamu nggak berduka saat kepergian ayah. Ibu tahu kamu juga sama hancurnya. Hanya saja keberadaan Rania dan Bu Resti di saat Ibu masih terguncang karena kepergian ayah dulu, sungguh sangat berarti untuk Ibu bahkan sampai saat ini. Ketika situasi berbalik sekarang, Ibu hanya ingin bisa melakukan hal yang sama, seperti yang pernah dilakukan Bu Resti dan Rania untuk Ibu dan Ajeng. Ibu nggak sanggup melihat Rania harus menjalani hidup seorang diri.” Cakra kembali mengusap wajahnya gamang. Mungkin jika permintaan sang ibu tidak semendadak ini, ia tidak akan merasa sekalut dan segalau sekarang. Cakra mungkin bisa saja menikahi Rania tanpa dasar cinta, tapi bagaimana dengan gadis itu sendiri? Apa Rania bisa dan mau menerima kenyataan itu?  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD