Rani sedikit bisa bernapa lega saat melihat Deeva bangun. Wajah cantik berseri sekarang terlihat begitu pucat, namun dia tetap memberikan senyuman terbaik walaupun tak secerah sebelumnya.
Deeva benar-benar anak yang tegar. saat Rani menjelaskan bahwa dia harus berada di rumah sakit untuk jangka waktu yang lama, dia hanya mengangguk dan berkata akan cepat sehat agar mamanya tidak sedih melihatnya seperti itu.
Rani mencoba tersenyum, lalu dengan cepat menghapus air matanya yang keluar karena tak ingin putri kecilnya khawatir. Dia harus kuat dan tegar menghadapi semua ini seperti putrinya yang masih mencoba tersenyum di tengah rasa sakitnya.
"Mommy ..." panggil Deeva sontak membuat tubuhnya Sorong ke depan dan mengusap kepala putri kecilnya lembut.
"Kenapa, Sayang?"
"Mommy nangis melihat Deeva di sini, ya. Maafin Deeva ya, Mi. Udah buah Mommy sedih. Deeva janji bakalan cepet sembuh supaya mommy nggak nangis lagi." Ucapan Deeva kembali membuat tangis Rani pecah. Anaknya terlalu pintar untuk dia bohongi.
Tangan mungil Deeva mengusap air matanya yang terjatuh membuat Rani dengan cepat mengangkat kepala dan menatap putri kecilnya itu. "Mommy jangan nangis. Deeva jadi sedih," ujar Deeva membuat Rani tersadar. Dengan cepat dia kembali mengusap air matanya dan kembali menampilkan senyuman hangat seperti yang biasa dia lakukan.
"Mommy nggak bakalan nangis lagi. Tapi, Deeva harus janji sama Mommy, jangan sakit lagi ya, sayang. Nanti, kalau Deeva ada sakit bilang langsung bilang ke Mommy, ya?" Rani menatap Deeva sendu yang dibalas anaknya dengan anggukan.
Rani terkejut saat dengar pintu ruangan Deeva terbuka lebar dan melihat kedua orang tua serta abangnya berada di sana dengan wajah yang memerah menahan tangis. Mama bergerak mendatangi Deeva dengan air mata yang mengucur deras dari pipinya, mata ayah dan abangnya berkaca-kaca. Rani tau bahwa sekali lagi ia telah mengecewakan orang tuanya. Dia memberi kode kepada orang tuannya untuk diam dan berusaha tegar karena tak ingin melihat Deeva kembali sedih.
"Mommy, siapa mereka?" Tanya Deeva bingung saat melihat orang-orang baru masuk.
"Deeva, kenalin ini Eyang sama Uti kamu, orang tua mommy. Ayo salam," ucap Rani mendekati anaknya laku mengelus rambut anak itu.
"Assalamualaikum, maaf Deeva nggak bisa salim, tangan Deeva ada jarumnya," kata Deeva polos membuat mama, papa dan Reno tersenyum sedih.
"Walaikumsallam, Deeva pinter ya, boleh Uti cium?" tanya mamanya yang disambut Deeva dengan anggukan.
"Deeva,ini eyang, ayahnya mama terus ini Om Reno, kakaknya Mommy," ucap mama mengenalkan ayah dan Reno.
Deeva tersenyum sumringah saat eyangnya berjalan ke arahnya lalu menciuminya dengan penuh kasih sayang. Reno bergerak mendekati Deeva lalu mencium keningnya.
"Hallo Deeva, Deeva suka Boneka? Ini Om bawa Teddy Bear besar untuk Deeva." Reno memberikan Boneka Teddy Bear besar yang besarnya bahkan melebihi ukuran tubuhnya
Deeva bersorak sorai mendapat hadiah itu, Rani tersenyum lega saat Deeva sudah bisa berinteraksi dan bermanja dengan keluarganya. Ia dapat melihat kalau selama ini Deeva selama ini kurang kasih sayang dari orang sekitarnya.
Keberadaannya dan Tami ternyata tak membuat anaknya mendapatkan kasih sayang yang cukup. Ia harus meredam egonya agar Deeva dapat lebih lama tertawa ceria dipenuhi orang-orang yang menyayanginya
***
"Kenapa kamu nggak bicara sama kita malam itu juga De?!" ucap Reno marah kepada Rani, ia merasa kecewa melihat adiknya menutupi penyakit yang diderita keponakannya.
Saat ini mereka berada di luar ruang perawatan Deeva, mereka tidak ingin mengganggu Deeva yang sedang istirahat.
"Rani nggak mau menghancurkan kebahagiaan yang baru kalian dapat bang, setidaknya tidak untuk malam itu," kata Rani kembali dengan nada bergetar.
Mama Rani terlihat histeris mengetahui keadaan cucu yang baru ia ketahui keberadaan nya,ia duduk di samping suaminya lalu meletakan kepalanya di d**a suaminya. Hatinya hancur melihat cucunya berada dalam ruangan itu dengan dipenuhi berbagai alat yang menempel di tubuh mungilnya itu. Bagi Ratna, lebih baik dia yang berada di posisi itu ketimbang cucunya yang masih sangat kecil.
Tubuh Deeva masih terlalu ringkih untuk menerima berbagai jarum menusuk tangannya seperti itu.
Dia semakin merapatkan pelukan keada suaminya terlihat sendu. Merasakan tangan suaminya yang beberapa kali mengusap rambutnya untuk menenangkan. Rasanya baru malam tadi, Rani datang ke rumahnya dan mengatakan bahwa dia akhirnya memiliki cucu yang dia idam-idamkan. dia tak sanggup kembali menghadapi kesedihan saat mengetahui bahwa cucunya menderita penyakit ganas seperti ini.
Rani berjalan mendekati kedua orang tuanya lalu berjongkok memegangi kedua tangan orang tuanya. "Rani bingung harus ngapain Ma, Pa. Rani nggak sanggup kalau harus kehilangan Deeva, Dia satu-satunya alasan Rani bertahan selama ini, Rani nggak sanggup harus kehilangan dia." Rani kembali menangis, merebahkan kepalanya di paha mamanya.
Mama Rani mengusap kepala putrinya, dia harus tegar. Dia pun sama seperti anaknya, tidak sanggup kalau harus kehilangan cucu yang baru dikenalnya, masih banyak hal yang harus ia lakukan bersama cucunya itu.
"Apa yang bisa kami lakukan untuk kamu?" ucap Mamanya menatap Rani.
***
Rani menggigit jempol dan jemari tangannya. Menunggu hasil Lab seluruh keluarganya. Tahu bahwa dia egois menginginkan sumsum tulang belakang keluarganya di saat mereka baru bertemu tapi, itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Deeva, ia harus melakukannya.
"Bu Rani, silahkan masuk," ucap suster
"bagaimana hasil pemeriksaan nya dokter?" TanyaRani sesaat setelah masuk ruangan dokter Riska, ia bahkan belum sempat duduk.
"Silahkan duduk dulu bu, biar saya jelaskan," jawab dr. Riska tenang.
Dengan cepat, Rani duduk di depan dr.Riska , wajah paniknya ketara. "Bagaimana,dok?" Tanya Rani cepat.
Dr.Riska terlihat menghela napasnya, ia tau ketakutan Ibu muda ini,
"Saya minta maaf,Bu. Summsum tulang belakang seluruh keluarga ibu, tidak ada satupun yang cocok untuk Deeva," kata dr. Riska pelan.
Rani menggeleng, tanggisnya kembali pecah. Dia tidak bisa menerima kenyataan ini, ia tidak sanggup, "Dokter bohong kan?" ucap Rani menggeleng tak percaya. "Bilang sama saya dokter bohong kan?!" teriak Rani histeris sembari menarik tangan dr. Riska.
"Saya minta maaf bu. Kemungkinan kecocokan bukan keluarga langsung memang minim. Apa tidak memiliki keluarga langsung seperti kakak atau.. ayahnya? Kemungkinan besar persentase kecocokannya akan lebih besar jika itu ayahnya," ucap dr. Riska pelan.
Rani terdiam. kata 'Ayah' yang barusan dikatakan Dr. Riska membuat dadanya bergemuruh hebat.
Ayah?
Haruskah ia meminta kepada pria itu untuk memberi sumsum tulang belakangnya kepada Putri Kecilnya? Pria itu bahkan tak tahu bahwa Deeva ada di dunia ini.
Rani mengigit ujung bibirnya. Haruskan dia meredakan semua egonya dan meminta pria itu menyelamatkan Deeva?