Bab 4 - Family

1390 Words
Rani berdiri di depan rumah besar yang menjadi saksi tumhuh kembangnya. Rumah yang hanya dia datangi satu - dua kali semenjak pernikahannya dulu. Bangunan yang terlihat kokoh dengan pilar-pilar besar yang menyongkongnya. Rumah yang selama ini sangat ia rindukan. Rani menatap pintu kayu besar dengan ukiran indah itu. Ragu, ingin mengetuk pintu besar ini. Berkali-kali dia mengurungkan niat untuk melakukannya. Sudah lebih dari satu jam dia berdiri di depan rumah besar ini tak memperdulikan air hujan yang menerpa. Hujan deras dengan petir besar yang menyambar bersahut-sahutan membuatnya tak gentar, padahal dulu, dia paling takut dengan petir seperti ini. Langit seakan ikut merasakan apa yang dia rasakan seolah ikut menangis keras seperti dirinya saat mengetahui Deeva sakit keras. Tubuhnya mulai basah kuyup sekarang, dia kedinginan merasakan tubuhnya yang basah diterpa oleh angin malam. Dengan tangan bergetar, Rani memberanikan diri untuk mengeruk pintu ini. Dia sudah membulatkan tekad untuk melakukan apapun demi kesembuhan Deeva. Ketukan-ketukan yang awalnya pelan berubah menjadi semakin kuat saat tidak ada tanggapan dari dalam. Lalu "Iya, sebentar....." Terdengar suara dari dalam rumah membuat Rani terpaku. "Abang ." Gumamnya tanpa sadar mendengar suara orang tergopoh-gopoh semakin mendekat. "Ada apa malam-malam berta..." ada suara kesal yang terdengar sebelum kemudian orang di depannya tak dapat melanjutkan kata-kata. "ADEK!" Pekiknya terkejut saat melihat adik yang paling dia sayangi berdiri di depannya, terlebih melihat mata sembab Rani akibat terlalu banyak menangis. "Bang Reno ...." Belum sempat Rani berbicara lebih banyak, tubuhnya sudah dipeluk erat oleh abangnya itu. "Kamu dari mana aja? Abang nyariin kamu kemana-mana?" ucapnya dengan nada khawatir saat melepaskan pelukan. Air mata Rani kembali jatuh saat mendengar kekhawatiran abangnya. Entah kapan terakhir kali mereka bertemu. Dia merasa sangat berdosa karena telah memutuskan silaturahmi lima tahun terakhir ini. "Siapa Ren, malem-malem gini bertamu?" Suara perempuan dari arah tangga membuat Rani terdiam lalu membalikan tubuh. Dia terlalu tak berani untuk menatap wanita yang paling dia sayangi ini. "Rani!" Pekik Ratna, Mama Rani saat melihatnya. Ratna bergegas berjalan menuju arah Rani sebelum kemudian memeluk anak perempuannya yang sudah ia rindukan selama bertahun - tahun tanpa memperdulikan baju anaknya yang basah. "Mama..." Suara Rani bergetar, tangisnya pecah. Rani begitu merindukan kehangatan pelukan ibunya, Rani baru sadar betapa pentingnya seorang ibu bagi anaknya setelah melahirkan Deeva. "Kamu dari mana saja ...?" Tanya Ratna sambil menangis seraya memukuli lengan anaknya karena marah sekaligus rindu setengah mati kepada anak perempuan nya ini. Rani menerima pukulan mamanya, ia merasa pantas menerima itu setelah kepergian nya selama 5 tahun. "Maafin Rani ma.. Rani bukan anak yang berbakti kepada kalian," ucap Rani dengan nada yang bergetar. Ia begitu menyesal tidak pernah memberi kabar kepada keluarganya, sekalinya ia datang ia malah memberi berita buruk kepada keluarganya. Ratna mengurai pelukannya lalu menghapus air matanya dan air mata Rani. Dia kembali mengecup dahi anak perempuannya ini. Rani memainkan tangannya, ia harus memberikan kedua orang tuanya tentang keadaan cucu mereka. "Ada yang mau Rani omongin sama kalian," ucap Rani dengan nada bergetar Tubuhnya sudah mengigil kedinginan dengan bibir yang sudah membiru, tapi mengingat kondisi Deeva yang semakin memburuk membuatnya harus memberitahu keluarganya. "Bicara apa?" Ratna menatap putrinya itu sebelum kemudian menghela napas, "Sebaiknya kamu masuk dulu, ganti baju terus bersihkan diri. Mama mau bangunin papa dulu," kata Ratna meninggalkan Rani tanpa menunggu jawaban. Reno yang melihat adiknya ingin menolak, menarik tangan Rani menuju kamarnya dulu. "Kamu bersihin diri kamu dulu, baru bicara. Abang nggak ingin kamu jatuh sakit," ujar Reno mendorong Rani masuk ke dalam kamar miliknya dulu. Air mata Rani kembali jatuh saat melihat kamarnya yang masih terlihat sama seperti saat dia tinggalkan dulu, tanpa ada debu. Seolah mamanya terus membersihkan kamar ini dan berharap Rani akan pulang suatu saat. Kamar dengan hiasan masa remajanya ini membuatnya merindukan masa-masa sebelum dia menikah dulu. "Huachim!" Rani bergegas membersihkan diri dengan mandi air hangat. Dia tak ingin jatuh sakit dan akan memperburuk keadaan malaikat kecilnya. Rani keluar dengan memakai baju pakaiannya yang masih tersusun rapi di lemari kamar, lalu berjalan menuju ruang keluarga. Di sana Papa, mama dan Reno, abangnya telah berkumpul dalam diam. Dia berjalan pelan membuat Papa menoleh ke arahnya, terlihat raut muka Papanya yang marah, kecewa, pedih serta ada kerinduan yang amat sangat. Dengan takut-takut Rani mendatangi papanya. Rajat, Papa Rani berdiri lalu menatap Rani dengan mimik muka yang tidak dapat dijabarkan. Ia sontak menarik Rani ke dalam pelukannya. "Dasar anak bodoh, anak nggak berbakti, kemana aja kamu selama ini? segitu marahnya kamu sama kami sehingga kamu pergi nggak ngasih kabar sama selama bertahun-tahun," ucap Rajat dengan suara bergetar. Rani tersentak mendengar suara bergetar papanya. Papanya dulu termasuk orang yang jarang memperlihatkan emosinya, tapi saat Melihat ekpresi khawatir di wajah papa membuat Rani sadar kalau ia telah membuat kesalahan fatal. "Maafin Rani, Pa." Rani seraya memeluk erat papanya. Ia menangis sesegukan seperti seorang anak kecil yang menangis meminta perhatian, Rani menumpahkan segala kesakitannya di pelukan papanya. Mama Rani dan Reno terlihat menitikan air matanya melihat kedekatan ayah dan anak perempuan nya ini, Ikatan batin yang sempat terpisah lama kini kembali mendekat. Seperti kata orang-orang zaman dahulu, seorang ayah pasti akan lebih dekat dengan seorang putrinya, dan itu yang terjadi antara Rani dan papanya. Papa Rani mengurai pelukan, lalu mengusap air mata yang terjatuh di pipi anak perempuannya. Ia tersenyum menatap Rani lalu mengecup kening Rani. "Duduk dulu, Mama bilang tadi kamu mau ngomong sama kami?" Tanya Rajat tersenyum simpul. Rani menarik napas lalu mulai menceritakan tentang kepergiannya dulu. "b******k!!!" ucap Reno marah saat Rani menjelaskan tentang alasannya. "Abang..." Tegur Mama saat mendengar Reno yang mengeluarkan kata-kata kasar. "Aku nggak habis pikir, Ma. Gimana mungkin ada seorang ayah yang pengen ngebunuh anak kandungnya sendiri terlebih itu dari Istrinya yang Sah." Mama Rani kembali menangis, ia tidak menyangka kalau menantunya dulu begitu tega menyuruh anak perempuannya untuk menggugurkan kandungan. Selama ini ia berpikir kalau kepergian Rani akibat keegoisan Rani yang tak mau menjalankan pernikahan yang telah ia rancang dengan sahabatnya sejak zaman Sma. Ratna menatap Rani yang menundukan wajahnya sembari memainkan tangan. Perlahan, dia bergerak mendekati Rani lalu memeluk putrinya erat. Dia terlalu menyangka bahwa putri bungsunya melewati penderitaan sebanyak ini. Melahirkan seorang diri tanpa ada keluarga ataupun suami, merawat anak sendiri, bahkan bekerja bantin tulang untuk dia dan anaknya. "Kamu bawa hape kamu? Mama pengen lihat cucu mama" ucap Mama Rani kepada Rani. Bergegas Rani mengambil tasnya yang Reno letakan di ruang tamu lalu memberikan handpone yang yang berisi foto-foto Deeva dari bayi. "Namanya Deeva ma, Adeeva," ucap Rani membuat keluarganya sumringah. Rani mengusap Air matanya saat melihat papa, mama dan abangnya menatap foto Deeva dengan perasaan kagum dan bahagia,Beberapa kali ia dengar bagaimana pujian ibunya saat melihat kelucuan tingkah anaknya dalam berbagai pose di handphone nya. "Mana cucu mama, mama pengen lihat dia sekarang" ucap Mamanya membuat Rani mengigit bibirnya. Haruskah ia katakan kepada mamanya kalau cucunya sekarang terbaring lemah di ranjang rumah sakit? Haruskah ia kembali menghancurkan setitik kebahagiaan yang baru diterima keluarganya? Rani menarik napasnya, mencoba menyembunyikan getaran suaranya, ia tidak ingin orang tuanya terkejut, terlebih disaat baru mendapat berita bahagia dari dia. "Ada ma, nanti kasih alamat supaya kalian bisa ke sana." Rani menghapus air matanya. Ia lalu berpura-pura melihat jam tangan nya, ia ingin pamit. Ia tak sanggup menatap wajah berseri orang tuanya lama. "Kamu mau pulang?" tanya mamanya saat Rani bergegas mengambil tasnya. "Iya ma," ucap Rani lemah "Nggak bisa besok pagi aja Ran, ini sudah jam 3 malam." Rani tersenyum menatap mamanya, "Deeva kalau subuh suka bangunin Rani ma, kalau Rani nggak ada, aku takut dia bakalan nangis nyariin aku," balas Rani yang dibalas wajah khawatir mamanya. "Mama tenang aja, Rani udah biasa kerja lembur kok, Ma," kata Rani menghalau kekhawatiran ibunya. "Pa, bang, Rani pulang dulu. Besok Rani kasih tau alamatnya." Mereka melepas Rani dengan tak rela, Wajah khawatir tercetak jelas diwajah mereka, tapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Ada yang lebih membutuhkan Rani daripada mereka sekarang. Mengetahui Rani sehat sekarang, beban dipundak mereka seperti diangkat sebagian. Rani memasuki mobilnya dengan wajah tegar, Ia berusaha menutupi kesedihan nya. Ia melambaikan tangan seraya tersenyum melihat Orang tuanya dan abangnya. Rani melajukan mobilnya meninggalkan kediaman orang tuanya. Di dalam mobil tangisnya kembali pecah, ia terlihat begitu rapuh sekarang. Ia tak sanggup menerima lagi menahan kepedihan hatinya.. Rasanya dia tak bisa memberi kabar bahwa Deeva sekarang di rumah sakit dan menghancurkan kebahagiaan yang baru mereka terima
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD