Rani melangkahkan kaki ragu memasuki apartemen tempat tinggalnya dulu bersama pria itu. Tekadnya sudah bulat untuk melakukan segala cara demi kesembuhan putri kecilnya, termasuk bertemu kembali dengan pria itu.
Embusan napas keras yang dia lakukan menandakan rasa gugup yang dia rasakan saat berada di depan pintu apartemen mereka dulu. berhadap pria itu belum pindah ke tempat lain. Hatinya serasa di remas kuat mengingat banyaknya kenangan yang di habiskan di balik pintu apartemen itu.
Sekuat tenaga, dia menahan perasaan untuk angkat kaki dari apartemen itu, namun saat mengingat bagaimana Deeva membutuhkan pria itu, dan mungkin saja, pria itu adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Deeva.
Dengan tangan bergetar, Rani menekan bel. mengigit kuku - kuku tangannya menandakan kegugupan yang dia rasakan sekarang. Dia mencoba kembali menekan bel, namun terkejut saat pintu terbuka. Napasnya tercekat saat melihat orang dari balik pintu. Pikirannya kosong saat melihat pria yang masih berstatus sebagai suaminya menatapnya dengan sama terkejut.
Dia mencoba memendam semua rasa yang dirasakan. Entah kenapa, jauh di lubuk hati terdalamnya, dia masih merindukan sosok pria itu.
Hampir enam tahun mereka tak bertemu, rasa rindu itu masih menyelinap di hatinya.
Alfian Abiyaksa.
Pria yang dulu pernah dia cintai. Orang pertama dan satu-satynya yang telah berhasil mencuri hatinya, tapi juga menghancurkannya dengan begitu kejam yang akhirnya membuatnya pergi menjauh bersama Deeva yang masih ada di dalam kandungannya waktu itu.
Rani menatap dalam diam. Tanpa sadar memperhatikan perubahan - perubahan yang terjadi di wajah Alfian. Rahangnya terlihat semakin mengeras dengan tulang pipi yang semakin menonjol, memperlihatkan gurat wajahnya yang semakin dewasa. Rambutnya ikal panjang berantakan, sekarang dipotong lebih pendek ala eksekutif muda, walaupun image bad boy masih belum hilang dari wajahnya.
Rani terpada saat melihat Alfian berada di depannya tanpa menggunakan pakaian, hanya celana kain yang membungkus tubuh bagian bawahnya. Badannya terlihat sedikit lebih berisi dengan otot_otot mengisi beberapa bagian tubuhnya dengan kadar yang pas.
Dengan menahan tubuhnya yang hampir lemas, Rani memberanikan diri menatap mata Alfian. Mata yang ternyata dia wariskan sempurna kepada Deeva. Pikirannya berkecamuk, masih ada kerinduan yang tersimpan untuk pria ini.
Tubuh Rani bergetar saat Alfian menatapnya. Dia tak dapat mengartikan tatapan yang Alfian berikan kepadanya. Mereka saling menatap dalam diam seolah masing-masing pikiran mereka saling berkecamuk.
Rani menggenggam tangan, sekuat tenaga dia datang ke sini untuk anaknya, tak mau kembali dengan tangan kosong. Minimal, dia harus membicarakan tentang niat mendatanginya. Dengan sekejab, Rani merubah wajah sendunya bergantikanndengan topeng wajah datar yang biasa dia perlihatkan kepada lawan bisnisnya "Hallo, Al," sapa Rani memperlihatkan senyum palsunya.
"Ada yang perlu aku bicarakan, bisa kita bi..."
"Siapa, Ian?" Sapa seseorang dari belakang Alfian lalu memeluk tubuhnya dari belakang.
Rani menatap tak percaya dengan apa yang dia lihat. Seorang gadis dengan hanya menggunakan kemeja putih yang dia yakini milik Alfian memeluk tubuhnya dari belakang. Hatinya terasa kembali teriris melihat kenyataan yang Alfian perlihatkan kepadaya.
Bahkan, anak secerdas Deeva mengetahui apa yang diperbuat Alfian dan wanita itu dalam apartemennya. Raut muka Rani berubah sendu penuh dengan kekecewaan. Selama ini dia berharap Alfian akan berubah dan menerima Deeva sebagai anaknya, namun ternyata itu hanya angan yang sulit untuk terwujud.
Dengan cepat, Rani merubah raut sendunya menjadi datar lalu tersenyum kepada mereka berdua. "Maaf aku ganggu," ucapnya seraya tersenyum kepada mereka berdua. Rani menghela napasnya sekali lagi sebelum menatap ke arah Alfian.Ia harus kuat membicarakan hal ini kepada Alfian, sesakit dan sehancur apapun perasaannya, ini demi malaikat kecilnya.
"Aku ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan denganmu, bisa kita bicara?" Tanya Rani menatap Alfian dengan wajah yang datar, tidak ingin Alfian mengetahui wajah sendunya.
Alfian terlihat menatapnya datar. Ia nampak tidak risih saat gadis di belakangnya mempererat pelukannya, seraya beberapa kali menggodanya dengan sengaja menghembuskan napasnya dilekuk leher Alfian.
"Kita bisa bicara di Kafe dekat sini, Aku tunggu," ucap Rani kepada Alfian yang masih saja diam menatapnya. "Saya permisi dulu," kata Rani mencoba tersenyum kepada Perempuan yang masih saja memeluk mesra Alfian dari belakang.
Dia berjalan meninggalkan Alfian dengan penuh percaya diri. Tubuhnya melemah saat menjauh dari tempat itu. meremas dadanya yang sakit melihat Alfian bersama dengan perempuan itu.
Ia tidak bisa menyalahkan Alfian, toh selama ini dia yang meninggalkan laki-laki itu, sudah dasarnya ia harus menerima laki-laki itu bersama dengan wanita lain. Rani menegakan badannya lalu membenahi bajunya yang kusut. Ia harus kuat demi anaknya toh, selama ini ia bisa menjaga Deeva seorang diri, ia hanya perlu bertahan demi anaknya.
******
Alfian terdiam, pikirannya masih mencerna semua hal yang baru saja terjadi. Pandangan matanya terarah ke punggung wanita yang baru saja meninggalkan tempatnya. Rambut Ikal panjang yang bergerak seirama dengan langkah kaki wanita itu membuat dadanya bergemuruh.
Rani.
"Siapa wanita tadi, Ian?" Suara wanita yang terdengar mendesah di belakang dan memeluknya erat membuat Alfian baru menyadari keadaannya.
Tubuh Shirtless hanya dengan boxer yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
Damn!
Dengan cepat, Alfian melepaskan pelukan wanita yang ada di belakangnya dengan kasar membuatnya jatuh terjerembab. "Pergi..." Desis Alfian.
"Tapi ian...."
"I said go!" Pekiknya sekali lagi membuat wanita itu bergegas masuk ke kamar untuk berganti pakaian, dan pergi dengan ketakutan.
Alfian menggeram, tangannya mengepal, meruntuki apa yang baru saja terjadi sebelum akhirnya dengan cepat dia mengenakan pakaian dan berlari ke kafe yang disebutkan Rani tadi, berharap dia masih ada di sana.
Langkah Alfian terhenti, di depan pintu masuk kafe. Rani di sana. Wanita yang masih menjadi istri sahnya ada di sana duduk dengan pandangan mata kosong menatap ke arah jendela yang berembun karena derasnya hujan. Wajahnya terlihat pucat, tanpa ada binar
Apa yang sebenarnya terjadi kepadanya? Atau bahkan anak mereka?
Anak?
Alfian terkekeh, masih pantaskah dia memikirkan tentang anak mereka setelah kata-katanya yang menginginkan Rani untuk menggugurkan kandungan waktu itu, tapi... salahkah dia menanyakan apa kabar anak itu? Atau bahkan menanyakan jenis kelamin anak itu pada Rani.
Dengan langkah perlahan, dia berjalan menuju meja Rani, berharap tak terjadi apapun kepadanya dan dia bisa kembali kepadanya lagi.
******
Rani duduk termenung memandang ke arah jendela kafe di mana hujan deras menerpa, hanya terlihat beberapa mobil yang menembus derasnya hujan. Senyumnya terlihat miris seolah beberapa hari ini langit seakan Ikut merasakan apa yang dia rasakan.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun masih terlihat beberapa pengunjung yang memasuki Kafe ini untuk sekedar meminum secangkir teh atau kopi untuk menghangatkan diri.
Pikirannya sekarang dipenuhi bagaimana keadaan anaknya sekarang. Rasanya dia sangat bersalah karena tidak bisa menemani Deeva hari ini. Dia harus memberitahu Alfian segera, walaupun dalam lubuk hati terdalam, dia tak ingin Alfian mengetahui keberadaannya dan Deeva.
Rani pesimis, Alfian akan dengan sukarela melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jika melihat kejadian tadi. Baginya, kejadian itu sudah cukup menjelaska bahwa Alfian telah melupakannya.
Bagi Alfian, dirinya dan Deeva hanyalah hambatan untuk kebebasan nya, dan memang sudah seharusnya dilupakan. Dengan cepat, Rani menghapus air mata yang kembali keluar. Ia harus memperlihatkan kepada Alfian kalau dia baik-baik saja tanpa dia, tak mau dianggap lemah
"Apa yang mau kamu bicarakan?" ucap seseorang dengan dingin secara tiba-tiba membuat Rani menatap ke kursi depan nya yang sudah ditempati.
Rani membenahi posisi duduknya lalu menatap Alfian dengan wajah seolah baik-baik saja. Dalam hati Rani kembali terpukau melihat pesona Alfian yang terlihat begitu casual dengan celana jeans dan kaos polo sport berwarna hitam, Rani menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan pikiran itu lalu kembali menatap Alfian.
"Aku butuh bantuanmu," ucap Rani to the point lalu menatap tajam kepada Alfian.
"Bantuan?" ucap Alfian geli.
"Setelah pergi selama 5 tahun , kamu kembali dan meminta bantuan ku, Sungguh menggelikan. KAMU PIKIR KAMU BISA SEENAKNYA?" bentak Alfian membuat tubuh Rani bergetar, namun dengan cepat dapat ia tutupi. Dia menatap ke iris abu-abu milik pria yang masih berstatus sebagai suaminya ini terpancar amarah yang begitu besar. Cepat-cepat Rani menutupi wajah ketakutan nya dengan wajah datar lalu kembali menatap Alfian,"Kamu yang membuatku pergi, jika saja waktu itu..." ucap sendu Rani namun terhenti karena kembali mengingat saat Alfian menyuruhnya menggugurkan kandungan nya.
Rani menggeleng menghapus bayangan masa lalu itu, lalu tangan nya bergerak mengambil kertas dari tas yang dibawanya, "Sudahlah, aku ingin kamu pergi ke sini," ucap Rani seraya memberikan kertas yang diambilnya tadi.
Alfian mengambil kertas itu lalu membacanya, membulatkan mata lebar tak percaya dengan apa yang dibacanya, sekilas wajah emosinya tadi berubah sendu saat membaca kertas itu."Onkologi? Kanker?" ucapnya tak percaya lalu menatap ke arah Rani yang duduk dengan wajah datarnya. Tau bahwa itu sebenarnya hanya kedoknya.
Rani terlihat semakin cantik dengan gurat-gurat kedewasaan yang terlintas jelas diwajahnya, namun ia terlihat begitu pucat.
Mata cantiknya yang dulu bersinar terlihat begitu redup, matanya bengkak memperlihatkan ia terlalu banyak menangis, bibirnya terlihat pucat walaupun sudah tersapu lipstick berwarna pink.
Alfian melunak saat menatap wajah Rani, walau terlihat kuat tapi tau diaterlihat rapuh sekarang, seolah ia takut kehilangan miliknya yang berharga."Siapa yang terkena kanker? Kamu atau anak itu?" tanya Alfian tajam malah cenderung sinis.
"Anak yang mana yang kamu maksud?" Rani memandang Alfian dengan nada terluka mendengar ucapan sinis darinya. "Kalau kamu maksud anak yang aku beritahukan ke kamu waktu itu, anak itu sudah mati sejak kamu memerintahkanku untuk menggugurkan nya, kamu jangan khawatir," kata Rani sembari tersenyum tipis.
Alfian tersentak saat mendengar ucapan Rani yang terlihat terluka mendengar ucapan nya. Matanya terlihat berkaca-kaca namun dengan cepat dia memandang ke arah lain agar Alfian tidak melihatnya
Rani yang sudah tidak tahan mendengar ucapan sinis Alfian lalu mengambil tas yang berada disampingnya dan berdiri. Alfian terlihat memandang Rani dengan perasaan yang tak dapat diungkapkan.
"Setidaknya kalau kamu mempunyai hati dan rasa penyesalan atas kata-kata kamu 5 tahun yang lalu kamu akan datang dan menolongku," ucap Rani sembari berjalan meninggalkan Alfian.
Rani berjalan meninggalkan Cafe ini dengan cepat, beberapa kali mengusap air matanya yang kembali mengalir setelah mendengar ucapan sinis Alfian yang begitu menyakiti hatinya.
Keluar dari Cafe itu tanpa memperdulikan hujan deras mengguyur tubuhnya, Rinai hujan seolah menutupi air matanya yang kembali keluar.
Pikiran nya berkecamuk memikirkan Deeva yang membutuhkannya. Pria itu kesempatan terakhirnya untuk menyelamatkan malaikat kecilnya. Ia tidak ingin kehilangan malaikat kecilnya, ia tak akan bisa hidup jika malaikat kecilnya tidak selamat.
Alfian menatap wanita yang masih berstatus istrinya. Wajahnya memerah menahan amarah mendengar kata-kata yang dilontarkan istrinya itu. Ia meremas kertas yang diberikan Rani lalu berjalan keluar Cafe.