Bab 7 - Her Condition (1)

1027 Words
Sudah seminggu sejak pertemuan Rani dan Alfian. Tak ada yang berubah, pria itu tak pernah menampakan batang hidungnya untuk memenuhi permintaan Rani. Dirinya dan Deeva memang tak cukup berarti untuk Alfian. Hari demi hari yang dia jalani dengan Deeva terasa begitu berat. Penyakit Deeva, hari demi hari menjadi semakin parah. Penyakit Leukimia Limfloblastik Akut lebih parah dari pada penyakit leukimia yang kronis.Jika penderita Leukimia kronis harapan hidupnya bisa bertahun-tahun, sedangkan penderita LLA harapan hidupnya hanya berkisaran bulan bahkan minggu. Itulah mengapa hari demi hari yang Rani lalui bagaikan berada neraka. Detik demi detik yang ia habiskan dengan Deeva begitu berharga. Hanya dalam waktu 8 hari setelah Deeva divonis menderita LLA, kesehatan Deeva mulai menurun. Tak ada lagi pipi chubby yang biasa Rani cubit gemas, tak ada lagi bibir pink alami yang sering menyambutnya dengan senyuman, bahkan tak ada lagi rambut lebat dan sehat alami yang sering Rani tata mengikuti gaya rambut yang Deeva inginkan dari drama Korea yang sering ditonton Tami. Rambutnya mulai rontok, efek dari kemoterapi yang harus dia jalani. Tubuhnya semakin kurus. Tak ada lagi, Deeva yang selalu riang dan memakan apa saja yang dia berikan. Beberapa hari ini, Deeva cenderung kehilangan nafsu makan dan memilih makanan. Tapi, Deeva tetaplah Deeva, sesulit apapun, dia akan terus berusaha untuk makan, sepucat apapun wajahnya atau bahkan serontok apapun rambutnya. Gadis kecilnya itu terus berusaha untuk memberikan senyum terindahnya untuk semua orang. "Deeva harus tetep makan kan, Mi. biar cepat sehat." Kalimat sederhana yang Deeva ucapkan saat itu menjadi motivasinya untuk tetap tegar, walaupun ketakutan akan kehilangan Deeva terus saja menghantui. Rani kagum, sesakit apapun yang dia rasakan, Deeva gak pernah menangis, berbeda dengannya yang selalu saja menyembunyikan tangis. Rasanya dia tak sanggup melihat penderitaan Deeva. Jika saja dia bisa meminta kepada Tuhan untuk mengangkat penyakit Deeva dan memindahkan penyakit itu kepadanya. Dia tak tega melihat tubuh mungil Deeva menahan sakit berat seperti itu. Tetes air Mata Rani mulai kembali jatuh, namun dengan cepat dia menghapusnya. Dia sudah berjanji untuk tidak menangis di depan anaknya. gadis kecilnya itu telah mengajarinya banyak hal dan hal itu lah yang membuatnya kuat. "Mommy bola Deeva nggak ada." Deeva celingukan mencari bola miliknya yang dia bawa tadi dari atas kursi roda. Rani Sontak tersadar dari lamunannya dan ikut mencari keberadaan bola Deeva. "Jatuh di mana Va?" "Nggak tau," jawabnya."Tadi Va asyik melihat bunga warna-warni di sini, jadi lupa sama bola," ucapnya sedih. Rani mengunci kursi roda Deeva, lalu berjalan ke depan dan menunduk di depannya. Dia awalnya ingin membawa Deeva menghirup udara segar di taman rumah sakit, mengingat betapa bosannya gadis kecilnya itu di ruang perawatan. Rani memulas senyum menenangkan saat Deeva terlihat panik karena tidak menemukan bola kesayangannya. Dibenarkan topi rajut berwarna Lilac yang menutupi rambut Deeva lalu merapatkan selimut yang digunakan untuk menutup tubuh bagian bawahnya. "Mommy cari dulu bolanya. Deeva janji nggak bakalan kemana-mana kan?" ucap Rani menjulurkan jari kelingkingnya. Deeva tersenyum lalu menaitkan jari kelingkingnya kepada Rani. "Janji." ucap Deeva kembali menampilkan senyum malaikatnya. Rani tersenyum,mengecup keningnya lalu berjalan mencari bola kesayangan itu. Deeva tersenyum lemah memandang kepergian Rani, lalu mengarahkan pandangan ke arah taman rumah sakit yang indah. Bergumam memuji bunga-bunga warna-warni di sana, sampai akhirnya pandangan mata Deeva tertuju anak perempuan yang sedang menangis, terlihat beberapa kali ayahnya menepuk punggung anak perempuan seraya menenangkan lalu ayah itu mengecup sayang wajah anaknya. Rasa iri mulai merasuk melihat kasih sayang ayah dan anak itu. dia tak pernah mendapat pelukan hangat dan kecupan sayang dari ayahnya. selalu bertanya-tanya kapan akhirnya dia akan merasakan kebahagiaan seperti itu. Se Deeva merasa iri melihat kasih sayang ayah dan anak itu, selama ini ia tidak pernah mendapatkan pelukan hangat dan kecupan sayang dari ayahnya, ia selalu bertanya-tanya kapan kebahagiaan itu dapat ia rasakan. Selama ini, bukannya tak ingin menanyakan keberadaan ayahnya, namun saat melihat mommy menahan tangis saat mengigat ayahnya membuatnya mengurungkan niat.  Berharap suatu hari nanti ayahnya akan datang dengan senyuman lebar, mencium wajahnya, menggendongnya lalu memeluknya dengan kehangatan yang tak pernah dia dapatkan. Deeva menggelengkan kepala lalu tersenyum manis menenangkan diri, tanpa terasa sandal rumah sakit yang dipakainya terlepas. Diaa kebingungan mencari sandalnya yang terlepas. Kakinya mulai kedinginan, sampai akhirnya seseorang menyentuh kakinya dan memakaikan sandalnya dengan perlahan. ***** "VA!!" panggil Rani dengan membawa bola kesayangan Deeva. Gadis kecilnya itu membalikan tubmengerenyituh lalu tersenyum. Kening Rani mengerenyit saat melihat ada seseorang dengan sedikit berlalu menjauh dari Deeva. "Tadi ngomong dengan siapa, sayang?" tanya Rani yang ikutan tersenyum saat melihat binar di mata Deeva. "Ehm... bukan siapa-siapa kok, Mi. tadi om itu ngebantuin masangin sendal Deeva yang jatuh, kok," jawab Deeva sambil tersenyum, matanya berbinar tak pernah Rani lihat sebelumnya berjalan mendekatinya lalu duduk bejongkok seraya memegang tangan mungil malaikat kecilnya. "Om-om ya Va? Ganteng?" Tanya Rani pura-pura penuh minat mendengar ucapan ceria tadi. "Banget mi, Baik lagi" reflek Deeva dengan nada yang ceria. Senyuman Deeva yang begitu berbinar membuat Rani bertanya-tanya siapa gerangan orang yang telah membuat anaknya bisa tersenyum lebih ceria dari biasanya. "Deeva jadi ngebayangin deh mi, kalau daddy Deeva tampan kayak om itu," ucap Deeva spontan. Raut muka ceria Rani berubah sendu mendengar ucapannya. Deeva yang melihat perubahan raut muka Rani nya langsung memeluk lehernya, "Deeva nggak ada maksud buat mommy sedih, Deeva nggak bakalan ngomong tentang daddy lagi" ucap Deeva mempererat pelukan Rani terdiam, selama ini ia berpikir Deeva baik-baik saja dengan Deeva tanpa kehadiran ayahnya, namun ucapan Deeva tadi membuat Rani berpikir bahwa sebenarnya Deeva juga membutuhkan sosok ayah yang dapat memberi kehangatan yang tidak bisa diberikan seorang ibu. Dalam hati Rani meminta maaf kepada Deeva karena tidak pernah memberitahukan dia perihal ayahnya. Hatinya belum siap untuk mengatakan bahwa ayahnya tidak pernah mengaharapkan kehadirannya Rani melepaskan pelukan anaknya lalu tersenyum menatap Deeva."Mau Es krim?" ucap Rani tersenyum. "Mau, coklat ya, Mi" pekik Deeva ceria yang dijawab anggukan Rani. "Kita masuk." Rani mendorong kursi roda Deeva memasuki rumah sakit Tanpa sepengetahuan mereka, ada orang memerhatikan mereka dari belakang, Matanya terus menatap Rani dan Deeva yang terus berjalan sembari sesekali tertawa saat salah seorang dari mereka melontarkan candaan. Menatap Deeva yang tetap bisa tersenyum walaupun dengan penyakit ganas yang mengerogoti tubuh mungilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD