Bagian 13 - Muenchen I'm in Love (I)

1314 Words
"Aku tidak menyangka Muenchen akan menyihirku sekuat ini. Kini sepertinya, aku tahu ke mana harus melarikan diri." ~Valerie Genneth. *** Kartu nama itu masih terselip di sela jemari Pedro. Bahkan hingga siluet tubuh lelaki berkemeja yang baru saja berbalik dari hadapannya menghilang di salah satu pintu, tatapan Pedro masih mengarah lurus ke arah serupa. Tanpa sadar keningnya berkerut saat membaca ulang informasi yang tertera di kartu itu. Valerie yang tadinya sudah bersiap untuk pergi, kini menghampiri dan berhenti persis di samping sahabatnya. "Kau mengenalnya?" tanya Valerie bingung. "Apa yang dia katakan padamu?" Meski berada di belakang lelaki itu sejak tadi, namun Valerie tidak dapat mendengar dengan jelas apa kalimat yang diucapkan Pedro atau lelaki berkemeja itu. Sang lelaki bertato menoleh. Menunjukkan kartu nama ke arah Valerie, ia bergumam. "Sepertinya dia bukan berasal dari sini," Pedro berasumsi. "Dia tidak berbicara menggunakan bahasa kita, dan meski bahasa Inggrisnya cukup bagus, tetapi dia memiliki aksen yang cukup terdengar unik." "Dia memberimu ini?" Valerie menunjuk sebelum Pedro menyodorkan kartu nama itu padanya. Bola mata perempuan itu bergerak cepat, persis saat ia membaca deretan huruf yang tertera di kartu. "Kairo Lefano? Nama yang cukup unik, bukan?" Valerie berujar. "Apa yang dia katakan hingga memberimu kartu nama ini, memangnya?" Pedro mengangkat bahu, mencoba bersikap tidak peduli karena rasanya apa yang dikatakan lelaki itu terdengar ambigu. "Dia hanya mengatakan bahwa dia memuji kemampuan bela diriku." Berbalik badan, Pedro kini membungkuk untuk kembali mengangkat kardus-kardus itu. "Lantas dia bertanya apakah kira-kira aku berminat untuk bergabung dengannya atau tidak," sambungnya lagi. "Bergabung apanya? Dia saja siapa aku tidak tahu. Jangan-jangan, dia adalah salah satu jaringan mafia." Valerie membiarkan kardus-kardus itu kini terangkat dengan tangan kokoh sahabatnya sebagai tumpuan. Menepuk pundak lelaki itu, Valerie masih memegang kartu nama milik Kairo Lefano. "Dan kau tidak tertarik untuk itu?" tebaknya. "Mana tahu dia bisa menawarkan pekerjaan dengan bayaran tinggi?" Pedro sudah melangkah lebih dulu, membelah kerumunan orang saat ia berbisik pelan di dekat Valerie. "Gamit tanganku, aku tidak mau kau hilang dan tersesat," perintahnya. Kepala lelaki itu menggeleng saat ia tampak yakin. "Apakah kau berpikir bekerja untuk golongan mafia seperti itu akan cocok untukku? Kau tidak berpikir ayahku akan membunuhku tanpa ragu? Lagi pula, dari mana kau tahu dia adalah mafia? Kau yakin?" Valerie terkekeh pelan. Rentetan pertanyaan dari lelaki itu membuatnya terhibur rupanya. Cepat-cepat mengabulkan permintaan Pedro, Valerie menggamit lengan kokoh Pedro dan berjalan tepat bersisian dengan lelaki itu. Peristiwa pencopetan yang hampir saja membuatnya kehilangan barang-barang penting tadi, sudah cukup membuat Valerie meningkatkan level keawasannya hingga level tertinggi. Dan mulai detik ini dia bertekad, agar tidak terpisah dari Pedro apa pun alasannya. Bahkan dia akan ikut jika lelaki itu ke kamar kecil nantinya, meski menunggu di depan saja. "Itu sudah jelas," timpal Valerie. "Kurasa Lord Viscout akan memburumu hingga ke ujung dunia, jika saja kau bergabung dengan organisasi semacam itu, bukan begitu? Kau adalah penerus keluarga, Viscout. Jangan lupakan hal itu." Pedro harus berterimakasih karena Valerie mengingatkannya tentang fakta itu. Lelaki itu mengangguk samar, lantas disusul dengan tawa kecil yang juga mengudara. "Kuyakin akan begitu," ia mendesah samar. Langkah kaki keduanya membawa menjauhi peron stasiun, hingga kini Pedro mengedarkan pandangan untuk memeriksa keadaan. Banyak kendaraan berjejer di tepian jalan, yang didominasi oleh transportasi dalam kota. Queensbay sebenarnya bisa dicapai dengan menaiki bus, namun karena bawaan mereka cukup banyak, Pedro akhirnya menuju ke salah satu counter untuk memesan taksi. "Ayo," ajaknya. Sama seperti Valerie yang tidak ingin terpisah dari lelaki itu, Pedro juga telah meniatkan agar dia tidak meninggalkan Valerie jauh-jauh. Setelah memberitahukan tujuan dan melakukan pembayaran, keduanya kini masuk ke dalam salah satu unit taksi yang terparkir menunggu giliran. Warna kuning cerah menyambut mereka di hari yang menuju siang itu. "Berapa lama kita akan sampai di Queensbay?" tanya Valerie dengan manik yang sibuk memperhatikan ke arah luar jendela. "Tidak lama, paling lima belas menit." Pedro melirik sekilas pada Valerie, yang kini tampak mengangguk-anggukkan kepala. Mengarahkan pandangan ke arlojinya, lelaki itu memeriksa waktu. "Kau belum lapar, Val?" "Belum. Kopi dan kue tadi sepertinya cukup untuk mengganjal perutku hingga kita menyelesaikan urusan kardus-kardus ini," jawab Valerie cepat. "Setelah urusan Queensbay selesai, bisakah kita berjalan-jalan di Muenchen kemudian?" Pedro tahu pesona Muenchen mungkin sudah mulai menyihir Valerie. Mengingat kembali bagaimana perempuan itu berulang kali menolak saat ia mengajaknya kemarin, Pedro hanya bisa menggantung tawa. "Baiklah," sahutnya menjawab. "Apa yang ingin kau lihat di Muenchen?" Valerie tampak berpikir, sungguh tidak tahu apa sebenarnya yang menunggunya di depan sana. Mengunjungi Muenchen tidak pernah ada dalam list yang akan dia lakukan, sebab untuknya Heidelberg adalah tempat yang amat tepat. "Apa saja," Valerie bersuara. "Apa saja yang mungkin ... membuatku tidak akan melupakan perjalanan hari ini." Manik keduanya masih bertaut lekat, saat kini Pedro tersenyum cukup lebar. Sebab lelaki itu tahu, permintaan Valerie itu tidaklah sulit untuk dikabulkan. *** Valerie harus mengakui bahwa dia terkesima. Tidak lama setelah taksi yang mereka tumpangi berhenti di Queensbay, perempuan itu memilih untuk menunggu di bawah sebuah pohon rindang di kawasan taman, saat Pedro menyerahkan barang-barang yang mereka bawa dari Heidelberg ke pihak yang bertanggungjawab. Tidak menghabiskan waktu yang lama untuk menyelesaikan urusan itu, Pedro lantas berlari kecil untuk menghampiri Valerie dan mengajaknya beranjak. Menuju ke halte terdekat, Pedro tampaknya sudah memahami ke mana arah yang harus mereka tuju. Menaiki sebuah bus berwarna biru cerah, Pedro tidak sama sekali ragu. "Kau yakin ini busnya?" Valerie berulang kali bertanya saat kendaraan panjang itu mulai bergerak menyusuri aspal. "Kita tidak akan tersesat, kan?" Pedro mengangguk yakin. "Percayalah padaku," jawabnya cepat. "Kau tidak salah memilih teman perjalanan jika itu mengenai Muenchen." Meski tak sepenuhnya percaya, namun Valerie tahu tidak ada yang dapat ia lakukan selain mengikuti apa yang Pedro katakan. Lagi pula, dia memang sama sekali tidak mengerti tentang Muenchen. "Apa yang kau sukai?" tanya Pedro kini. Mentari cukup berterik di luar sana, namun udara dingin dari AC bus yang berembus berhasil membuat para penumpang merasa nyaman berada di dalam sana. "Kau suka museum? Atau wisata pasar seperti yang ada di Heidelberg?" Valerie menggumam, tampak berpikir. "Terserahmu saja," jawabnya akhirnya. "Museum juga oke, pasar juga oke." "Baiklah, serahkan padaku." Merogoh ke kantung tas backpack-nya yang kini berada di pangkuan, Valerie meraih sesuatu dari dalam sana. Menyodorkan kartu nama tadi ke depan Pedro, ia menggerakkan jemari. "Nah," ujarnya. "Simpanlah. Mana tahu kau membutuhkannya suatu saat nanti." Pedro tidak menyangka Valerie masih menyimpan kartu nama itu. Meski awalnya ragu, akhirnya Pedro mengulurkan tangan guna menerima kartu nama itu. Valerie tersenyum. "Pastilah ada sesuatu yang membuat seseorang bernama Kairo Lefano ini menghampiri dan memberimu ini," katanya. "Mungkin kau tidak butuh itu sekarang, namun untuk berjaga-jaga saja. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi, Ped." Pedro masih memegangi kartu nama di sela jemari. Setelah menimbang beberapa detik, lelaki itu lantas memasukkan kartu nama Kairo Lefano ke dalam slot dompet. Entah apakah perkataan Valerie kelak terbukti atau tidak, mari kita nantikan bersama-sama. Bus itu berhenti di beberapa halte setelah perjalanan yang cukup lama, namun Valerie tidak dapat mengalihkan pandangan dari pemandangan di luar jendela. Muenchen adalah tipikal kota besar yang padat penduduk, namun harus Valerie akui bahwa interior dan infrastruktur kota itu amatlah baik. Ia masih tenggelam dalam lamunan saat kini Pedro berujar. "Ayo, Val. Kita hampir sampai." Lelaki itu mengenakan kembali backpack-nya, bersiap-siap untuk turun sebab halte yang akan mereka tuju berada tidak jauh di depan sana. "Kita sudah sampai?" "Hampir." Kecepatan bus itu melambat perlahan-lahan, saat kini Pedro lebih dulu bangkit untuk berdiri. Diikuti Valerie yang menyeimbangkan tubuhnya karena bus itu belum sepenuhnya berhenti, lagi-lagi ia mengamati suasana sekitar. Hingga pintu bus itu terbuka otomatis di sebuah halte, dan keduanya melangkah menuruni bus untuk kini memijak di dasar lantai. Manik Valerie tampak tidak bisa mengerjap secara normal, saat kini bangunan yang berdiri kokoh di hadapannya itu telah mencuri seluruh atensinya. Tidak menyadari bibirnya terbuka begitu saja, Valerie menggumam. "Pedro, ini apa?" Dengan senyum merekah senang, Pedro menggamit tangan sahabatnya yang tampak sudah amat terkesima. "Selamat datang di Muenchen, Valerie." ~Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD