"Ada satu hal yang aku lupakan tentang Muenchen. Selain ramai, padat, dan memiliki bar yang diisi gadis-gadis cantik, kota ini juga dipenuhi para penjahat." ~Pedro Viscout.
***
Valerie benar-benar terlelap.
Bahkan tidak menyadari bahwa perjalanan itu hampir menempuh lebih dari setengahnya, saat ia tersadar perlahan dan mengerjapkan mata.
Mencoba menyesuaikan maniknya dengan cahaya yang berada di dalam gerbong mereka itu, kemudian mendapati kepala seseorang ternyata terkulai di atas kepalanya.
Siapa lagi kalau bukan kepala Pedro?
Ah, lelaki itu ternyata juga sama terlelap dengan dirinya tadi. Mengurungkan niat untuk menggeser kepala sebab khawatir Pedro akan terganggu tidurnya, akhirnya Valerie hanya mencoba untuk mempertahankan posisi.
Menutup mata sekali lagi, mana tahu dia akan kembali terlelap. Namun rasa ingin bersin yang tiba-tiba saja datang tidak mampu ditolak perempuan itu, yang lantas membuatnya berakhir dengan suara bersin cukup keras.
"Hattchiww!"
Dan Pedro terbangun, tentu saja. Sebab kepalanya terhempas karena kepala Valerie yang tiba-tiba bergerak tegak. Tampak terkejut, namun Pedro lekas menghadap pada sahabatnya.
"Val, kau tak apa?"
Valerie mengusap hidung, lantas menggangguk cepat. Menyingkirkan air yang berada di hidungnya menggunakan jaket terdekat, ia sudah tampak lebih baik.
"Oke, oke," sahutnya merasa tidak enak. "Astaga, kenapa bersin tiba-tiba, sih? Padahal aku sedang berusaha untuk tidak membangunkanmu. Kau pasti terganggu, maaf ya."
Lega Valerie tidak kenapa-kenapa, Pedro menegakkan tubuhnya yang selama hampir dua jam tadi dia posisikan lebih rendah. Membuat sendinya kini terasa kaku dan pegal, dan ternyata kembali duduk tegak membuatnya merasa lebih baik.
"It's okay," sahut Pedro dengan kepala yang terteleng ke kanan dan ke kiri. Tampaknya lelaki itu memang benar-benar pegal. "Kau terlelap begitu cepat, jadi aku juga sebaiknya tidur. Lagi pula, Evander benar. Perjalanan ini amat membosankan."
Valerie setuju dengan itu. Ini adalah pertama kalinya ia mengunjungi Muenchen, dan pilihan kereta api sungguh pilihan yang menurutnya (kurang) bijak.
Namun demi menghindari Gosse, Valerie tidak bisa meminta lebih daripada ini.
"Baguslah kita sudah terjaga keduanya," ucap perempuan itu.
Bangkit untuk menempati tempat duduknya yang seharusnya memang berada di hadapan Pedro, syukur sekali tidak ada penumpang lain yang datang dan menginterupsi kursi kosong di masing-masing sebelah mereka.
Kini kembali berhadapan, Valerie mengenakan jaketnya dengan benar.
"Tidak kusangka AC kereta api akan sedingin ini," bisiknya separuh bergumam.
"Apa kau kedinginan?"
Valerie tidak bisa membayangkan sedingin apa embusan AC yang dirasakan Pedro, sebab lelaki itu hanya mengenakan kaus oblong tanpa lengan. Memamerkan otot liatnya yang tampak gagah. Tanpa tambahan jaket.
"Tidak lagi," Valerie menaikkan bahu saat memberi jawaban. "Kau sendiri?"
Menggeleng cepat, Pedro menepis kekhawatiran Valerie. "Aku baik-baik saja. Tunggulah di sini."
Lelaki itu bangkit, memasukkan tangan ke dalam saku celana saat ia memeriksa letak dompetnya di saku belakang.
"Mau ke mana?" Valerie mendongak.
"Beli kopi, mau ikut?"
Tidak perlu Valerie berpikir dua kali, sebab saat itu juga ia langsung menganggukkan kepala. "Ikut!"
Pedro menaikkan alisnya. "Ya sudah, ayo. Masukkan tasmu ke dalam tempatnya."
Menunjuk ke arah slot barang di bagian atas, Pedro ikut memasukkan backpack miliknya. Mengunci slot itu, kini semuanya aman untuk ditinggalkan.
"Ayo!" Valerie tampak jauh lebih bersemangat. "Apa mereka menjual minuman selain kopi?"
Pedro tidak memberi jawaban, alih-alih malah mengulurkan tangannya ke hadapan Valerie. "Pegang tanganku."
Valerie tidak perlu bertanya apa-apa, sebab permintaan Pedro pastilah memiliki alasan tersendiri. Tidak pernah canggung untuk segala skin ship yang terjadi di antara mereka, layaknya dua orang yang telah tumbuh bersama sejak kecil.
Menautkan jemarinya pada uluran tangan Pedro, Valerie tampak senang dengan manik berbinar.
"Agar kau tidak hilang," jelas Pedro tiba-tiba tanpa Valerie minta. "Lagi pula, katanya AC di luar sana terasa lebih dingin."
Hanya memberi anggukan, Valerie sungguh tidak akan mempersoalkan apa pun. Hanya sebuah gandengan tangan, dan mereka sama sekali tidak pernah merasa aneh untuk itu. Bukankah terakhir kali Pedro begitu saja menarik Valerie dalam dekapannya saat perempuan itu basah kuyup?
"Iya, iya," sahutnya. "Ayo, cepat. Aku ingin segera minum kopi."
Melangkah lebar-lebar menyusuri lorong yang memisahkan bangku-bangku penumpang, Pedro mengiring Valerie untuk berjalan menjauh dari tempat duduk mereka. Memastikan slot barang di atas kursi itu sudah terkunci, mereka tampaknya tidak perlu khawatir meski harus pergi lebih lama dari yang direncanakan.
Setidaknya untuk menenggak secangkir kopi hangat, di sela dinginnya embusan pendingin udara yang ada di kereta api panjang itu.
***
"Tunggu di sini, ya?"
Pedro menurunkan dua kardus berukuran sedang itu di sebelah salah satu tiang stasiun. Beberapa belas menit lalu mereka baru saja tiba di Muenchen, dan betapa berbedanya suasana yang kini dirasakan oleh kedua sohib karib itu.
Muenchen dipenuhi orang. Muenchen, terasa amat sesak dengan udara yang terhirup tidak lebih segar dari udara Heidelberg.
Valerie menganggukkan kepala. Menunduk untuk sekilas menatap kardus yang kini berada persis di sebelah kakinya, ia bersuara.
"Jangan lama-lama," suaranya parau setengah meminta. "Ini ... jauh lebih ramai daripada yang aku perkirakan, Ped. Dan mereka tampak ... benar-benar asing."
Pedro terkekeh. Tidak ingin membuang waktu sebab panggilan alam itu telah semakin menyiksa, ia harus segera undur diri dari hadapan Valerie.
"Tidak akan lama," ujarnya cepat. "Pokoknya kau di sini saja, jangan ke mana-mana. Aku segera kembali."
Lagi-lagi Valerie mengangguk. Memegangi tali tas backpack yang berada di punggung, perempuan itu tidak lagi mengenakan jaket yang tadi sempat melindungi tubuhnya dari terpaan AC.
Kini begitu turun dari kereta api, cuaca Muenchen terasa tidak jauh berbeda dari cuaca di Heidelberg.
Riuh pengunjung dan lalu-lalang orang memenuhi penglihatan Valerie, selaras dengan kepalanya yang tertoleh berulang kali ke arah yang berbeda. Mencoba mempelajari keadaan, mencoba menarik kesimpulan atas orang-orang Munich yang berkerumun di sekitarnya kini.
Siluet tubuh Pedro menjauh dan menghilang di sebalik pintu, dan Valerie percaya pintu yang didorong Pedro itu adalah kamar kecil stasiun.
"Tidak kusangka akan seramai ini," gumam Valerie. "Mereka tampak jalan terburu, apa memang seperti itulah kebiasaan di kota besar?"
Valerie sungguh penasaran. Begitu banyak orang-orang yang melintas tidak hanya di sampingnya, namun juga di belakang dan depannya. Beberapa dari mereka bahkan tak segan-segan melirik ke arah Valerie yang tampak bingung.
Terlebih, ada dua kardus yang disusun menumpuk di samping perempuan itu. Mungkinkah Valerie terlalu kentara sebagai pendatang di sana?
Menyelesaikan urusannya sesegera mungkin, Pedro sempat berhenti di depan westafel ketika ia memeriksa keadaan dirinya sendiri pada cermin besar. Membasahi rambut depannya, lelaki itu lantas berbalik arah dan melangkah menuju pintu.
Mendongak untuk memastikan Valerie masih berada di tempatnya semula, Pedro tampak tersenyum tipis. Memperhatikan bagaimana Valerie tampak cemas dan canggung, dan entah mengapa itu membuat hatinya tergelitik dan geli.
Langkahnya memelan untuk mengulur waktu agar bisa melihat pemandangan itu lebih lama, namun iris hitam Pedro tiba-tiba saja menangkap dua sosok pria yang tampak berdiri tidak jauh dari tempat Valerie berada, yang mengundang kecurigaan.
Sorot mata kedua pria bertubuh besar dengan rompi hitam khas ala-ala rocker itu menarik perhatian Pedro, sebab salah satu dari mereka kerap menunjuk Valerie untuk beberapa saat.
Meningkatkan kewaspadaan, Pedro merasa jantungnya berdegup kencang sekali saat langkah kedua pria tadi kini terarah menuju tempat Valerie berdiri.
Di sela banyaknya orang yang memadati stasiun itu, Pedro tidak melepaskan pandangannya sedetik pun dari Valerie.
Hingga apa yang sempat dipikirkan lelaki itu benar-benar terjadi, saat kedua pria berbadan bongsor itu kini menarik tas backpack Valerie dan membuat perempuan itu kaget bukan main.
Darah Pedro berdesir. Langkahnya memacu kencang, selaras dengan dorongan dari tubuhnya yang kini tertarik untuk bergerak lebih cepat.
"Hei!" teriakan Valerie mengudara, namun backpack itu telah berada di antara cengkramannya dan cengkraman sang pencopet.
Valerie tidak mengerti mengapa pencopet di Muenchen bahkan beraksi saat kerumanan cukup ramai, namun satu-satunya yang kini bisa dilakukan Valerie adalah menahan sekuat tenaga tasnya.
"Val!" Pedro menerobos.
Tenaga Valerie hampir habis, persis saat salah satu dari pria itu kini mendorongnya keras. Membuat perempuan itu mengaduh sebab pegangan pada backpack-nya terlepas.
"Hei! Copet!"
Valerie berpikir dia mungkin kehilangan banyak hal kini, namun semuanya tersingkir ketika seseorang dari sebalik kerumunan mendaratkan pukulan telak di salah satu pundak sang pencopet yang hendak mengaburkan diri.
"Sialan!"
Pertarungan pun tak dapat dihindarkan, tentu saja. Memusatkan seluruh perhatiannya pada kedua lelaki bongsor ini, Pedro memberi isyarat pada Valerie untuk mundur dan bergeser.
Menangkis pukulan-pukulan yang coba diberikan oleh kedua pencopet ulung itu, Pedro bertahan dengan sangat baik. Lelaki itu melesatkan tinju bertenaga cukup kuat ke perut salah satunya, hingga membuat lelaki besar itu tersungkur.
Kini menghadapi satu lagi yang hendak maju ke arahnya, Pedro mengambil ancang-ancang untuk melompat dan terbang lebih dulu ke arah lelaki itu. Telak, membuat lelaki yang badannya lebih besar darinya itu kini ikut tersungkur.
Hingga pihak keamanan stasiun tampak berlari kecil dari beberapa arah, Pedro tidak membiarkan pencopet jahat itu lolos kali ini. Tidak, terlebih mereka telah membuat Valerie tersungkur di lantai.
"Rasakan kau!" katanya kesal.
Berbalik arah ketika para petugas itu telah mengambil alih para penjahat ulung, Pedro berlutut di lantai.
"Kau tidak apa-apa, Val?" tanyanya khawatir. "Ada yang terluka?"
Valerie tidak lagi meringis, namun harus ia akui dorongan pencopet itu cukup membuatnya terjatuh tanpa aba-aba dan persiapan. Membuat siku perempuan itu akhirnya mengenai lantai yang kasar, dan kini menyebabkan kulitnya luka dan tergores cukup besar.
"Hanya terluka sedikit," gumam Valerie memeriksa lukanya. "Tidak apa-apa, aku hanya kaget."
Ada sesal yang begitu saja menelusup masuk ke dalam hati Pedro. Menyesal mengapa ia meninggalkan Valerie jauh dari pengawasannya, menyesal mengapa ia memelankan langkah hanya karena ingin memperhatikan ekspresi wajah perempuan itu lebih lama dari kejauhan.
Namun kini, semuanya sudah terjadi dan tidak akan bisa diulang kembali.
"Maaf," ucap lelaki itu akhirnya. "Aku benar-benar minta maaf. Aku lupa akan fakta bahwa selain padat dan ramai, Muenchen juga dipenuhi orang-orang jahat."
Valerie menggeleng, tidak ingin membiarkan Pedro berpikir bahwa ini adalah kesalahan lelaki itu. Sebab tidak begitulah yang Valerie pikirkan.
"Tidak, kau tidak bersalah, Pedro," balas perempuan itu. Dia hanya perlu membilas lukanya sedikit dengan air bersih, dan itu akan menutup dengan sendirinya beberapa hari kemudian. "Anggap saja, ini pengalaman terbaikku di Muenchen."
Senyuman Valerie membangkitkan tawa kecil Pedro, lega sebab sahabatnya itu tampak baik-baik saja.
"Ayo, kita sebaiknya pergi dari sini." Membantu Valerie untuk berdiri, Pedro terkejut ketika seseorang kini berdiri persis di hadapannya.
Saling bertukar pandang, kedua lelaki berbeda ras itu tampak saling memperhatikan.
"Aku yang memanggil tim keamanan stasiun," ujar lelaki berkemeja hitam legam itu menggunakan Bahasa Inggris yang fasih, dan dari situ Pedro tahu bahwa lawan bicaranya bukan sebangsa mereka.
"Terima kasih," balas Pedro menarik senyum. "Kau melakukan hal yang tepat."
Pedro pikir pembicaraan itu akan berakhir dengan ucapan terima kasih, namun nyatanya sang lelaki masih berdiri tegak di posisinya. Bahkan kini, ia menautkan kedua tangan di belakang pinggang.
"Permisi?" Pedro kembali bersuara. "Bisa kau bergeser?"
Lelaki itu berdehem pelan. Irisnya tampak sama hitam legamnya dengan iris milik Pedro.
"Kau memiliki kemampuan yang amat baik," puji lelaki itu lagi. Tidak sama sekali memperkenalkan dirinya, ia terus berujar sendiri. "Maukah kau mempertimbangkan untuk bergabung dengan kami?"
Pedro memicingkan mata. Apa sih yang sedang dibicarakan lelaki ini? Memahami Pedro sedang berpikir, sang lelaki berkemeja mengeluarkan sebuah kartu nama dari sela dompetnya.
"Hubungi aku jika kau berminat," katanya. "Kami akan menunggumu."
Tepat setelah Pedro menerima uluran kartu nama itu, sang lelaki misterius begitu saja berbalik badan dan pergi menjauh.
Meninggalkan Pedro yang masih beberapa kali menatap ke arah punggung lebar lelaki itu, sebelum membaca cepat untaian huruf yang tertera di kartu nama itu.
'KAIRO LEFANO'
Nama yang terasa sangat asing, namun Pedro tidak mengetahui saat ini bahwa nama itu akan membawanya pada satu petualangan menyenangkan di depan sana nanti.
~Bersambung