Bagian 11 - Muenchen (I)

1563 Words
"Aku tidak peduli meski itu adalah kebohongan. Sebab yang terpenting bagiku adalah, melihatmu baik-baik saja." ~Pedro Viscout. *** "Kau tidak ingin bicara apa pun?" Suara Pedro terdengar bernada tenang. Tidak sama sekali mengintimidasi, atau pun menuntut penjelasan. Dengan kedua tangan yang mencengkram setir kemudinya, lelaki itu menoleh sekilas untuk memeriksa keadaan Valerie. Semenjak menaiki mobil milik sang Viscout tadi, Nona Muda Genneth tampak memilih untuk bungkam. Tidak sama sekali mengeluarkan suara, bahkan pandangan matanya terus mengarah ke luar jendela. Tidak peduli dengan kecepatan mobil Pedro yang dilajukan lelaki itu lebih pelan dari biasanya, yang sama sekali tidak menjadi identitas dari sang lelaki bertato. Seharusnya, tidak sepelan ini mereka berkendara. Tetapi suasana hati Valerie sudah terlanjur kelabu dan membuatnya tidak peduli. Perempuan itu menoleh setelah jeda beberapa detik di dalam mobil. Hentakan musik Nirvana yang dipasang Pedro di music player-nya tidak mengubah apa-apa. "Sebaiknya kau yang bertanya," ucap Valerie dengan kedipan mata cukup lama. "Kau ingin bertanya, kan?" Pedro melihat bergantian pada jalanan dan kondisi sahabatnya yang tampak tidak baik-baik saja. Ada sesuatu yang terjadi pada perempuan itu, meski Pedro belum bisa menarik benang merah antara semuanya. "Memangnya kau akan menjawab semua pertanyaanku?" Pedro menyimpulkan senyum. "Apa pun?" Terdengar desahan Valerie mengudara. Tampak frustrasi, ia meraup rambutnya yang kini sedikit berantakan akibat dipaksa bersandar pada jok mobil Pedro. Mengikat kembali surai blonde itu menjadi satu gulungan tinggi, Valerie mengangguk samar. Tidak yakin. "Tanyakan sajalah," balasnya setengah tidak rela. "Ayo, apa yang ingin kau tanyakan? Kutahu kau pasti punya banyak sekali pertanyaan, terlebih aku tidak tahu sejauh mana ibuku berbicara dan mengatakan hal-hal apa saja padamu tadi." Ocehan Valerie kini memenuhi gendang telinga Pedro, dan tiba-tiba saja lelaki itu merasa keadaan seperti inilah yang sebenarnya dia harapkan. Tidak pernah ia mengharapkan akan melewati keheningan dengan sahabatnya itu. Lagi pula, seorang Valerie Genneth tidak biasanya diam seperti putri. "Tidak," sanggah Pedro. Lelaki itu memelankan injakan gas di bawah kaki, mengambil ancang-ancang hendak berbelok. "Aku hanya punya satu pertanyaan meski telah begitu banyak informasi yang dikatakan ibumu. Ah, termasuk kebohongan yang kau katakan." Valerie mendengus. Setengah menyesal mengapa Pedro tiba awal sekali di kediamannya, yang akhirnya membuat lelaki itu terjebak dengan sang lady. Jika saja lelaki itu sedikit terlambat ... mungkin saja semuanya tidak harus terjadi. "Seriusan, Val!" seru Pedro setengah menggeleng. "Perwakilan kampus untuk acara amal? Yang benar saja!" Bagaimana nada suara Pedro terdengar ternyata sukses membuat Valerie terkekeh pelan. Diawali dengan senyuman lebar hingga berakhir dengan tawa yang menggantung, perempuan itu refleks menepuk lengan atas Pedro yang kokoh dan kuat. "Astaga!" gerutunya. "Ibuku memang benar-benar tidak bisa menyimpan rahasia. Terlebih untukmu, Viscout. Kau tidak merasa demikian?" Pedro menarik bahu. Tidak ada yang aneh dari Lady Genneth, sebab memang seperti itulah ibunda Valerie itu sejauh yang dikenal Pedro. "Tidak, tidak," Valerie melanjutkan. Ia bahkan mengibaskan tangan di hadapan. "Maksudku, dia selalu nyaman berbicara denganmu, namun kadang dia tidak memilah-milah apa yang harus dia katakan." Pedro membelokkan kendaraan roda empatnya, menunggu sejenak untuk memasuki jalan yang memutar arah. Beberapa mobil juga mengantri di depan sana untuk mengambil jalur serupa. "Kurasa dia hanya merasa nyaman berbicara denganku," sahut Pedro enteng. Sejak kecil, dia telah mengenal ibunda dari sahabatnya itu. "Tetapi harus kuakui bahwa aku cukup terkejut, dengan fakta yang ibumu beberkan selama waktu minum teh kami yang singkat." Menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, Valerie menaruh sikunya pada dinding mobil. "Jika saja kau lebih lama bersamanya tadi," komentar Valerie. "Mungkin ibuku akan menceritakan segalanya tentang keluarga kami padamu juga." Gelengan perempuan itu semakin kuat, saat ia berpikir betapa ibunya pastilah telah menganggap Pedro sebagai bagian dari keluarga dekat. Tinggal beberapa ratus meter lagi yang harus Pedro dan Valerie tempuh, saat papan penunjuk jalan yang mengarah ke stasiun sudah terlihat dari jauh. Sesuai permintaan Armando, mereka akan menaiki kereta api untuk menempuh jarak Heidelberg-Munich. "Jadi, apa yang ingin kau tanyakan tadi?" Valerie hampir saja lupa, saat Pedro juga tampaknya demikian. "Ayo, tanyakan. Satu saja." Pedro memutar setirnya kali ini, bersiap untuk memasuki kawasan stasiun untuk mengarahkan mobilnya ke kawasan parkir yang tersedia. Menoleh, lelaki itu mengerjap samar. "Apa kau baik-baik saja, Val?" tanya lelaki itu. Tegas, dan tanpa ragu-ragu. Seakan memang hal itulah yang mengganggunya sejak tadi. Tidak peduli akan kebohongan Valerie atau kabar pernikahan Versaline, yang terpenting bagi lelaki itu adalah memastikan kawan berpergiannya hari itu baik-baik saja. Valerie tidak langsung menjawab. Nona Genneth menarik napas dengan amat teratur, disusul iris hijaunya yang bertumbuk lurus dengan iris hitam Pedro. Membiarkan Pedro mendapati ada kesenduan pada pancaran matanya, namun Valerie tidak peduli. "I'm okay, Ped," balasnya diselingi senyuman. Semalaman berpikir, Valerie telah mengambil keputusan untuk tidak lagi membiarkan kabar pernikahan Versa dan Gosse mengubah moodnya. Lagi pula, sungguh tidak ada yang dapat dia lakukan dengan posisi sebagai putri kedua. Dan diam-diam perempuan itu juga bertekad agar perjalanan kali ini mampu menghapus segala denyut yang ia rasakan di dalam hatinya, tidak peduli bagaimanapun caranya. Setelah mereka kembali nanti, Valerie berharap dia akan menjadi jauh lebih kuat. Tidak lagi melarikan diri seperti ini, dia akan berusaha menghadapi Gosse apa pun yang terjadi. Tetapi untuk hari ini saja, Valerie ingin menghirup udara segar. Setidaknya, untuk dirinya sendiri. Laju kendaraan itu semakin memelan teratur, persis saat Pedro telah memilih slot parkir untuk mobilnya pagi itu. Tidak langsung menimpali apa yang Valerie katakan tadi, Pedro masih bungkam. "Serius, Ped." Hingga suara Valerie kembali terdengar untuk meyakinkan. "Aku sungguh baik-baik saja. Aku hanya tidak siap untuk...." Pedro menolehkan kepala sepenuhnya, memandangi wajah Valerie yang tidak berubah sejak perempuan itu memasuki masa puber. Cantik, dan menggoda dalam waktu yang bersamaan. Pedro menunggu apa yang kira-kira akan sahabatnya itu katakan, hingga mobilnya kini berhenti di tempat yang tepat. Hendak membuka sabuk pengaman miliknya, Pedro berbisik samar. "Siap untuk?" Membuat jantung Valerie kembali berdegup kencang, tidak tahu apakah ia harus mengatakan hal sebenarnya atau tidak. Dia tidak siap rasanya. Dia tidak ingin mengakui pada dunia bahwa dia ... mencintai lelaki yang akan bersanding dengan kakaknya tidak lama lagi. Bola mata perempuan itu memutar pelan, disusul dengan anggukan yakin yang amat dipaksakan. "Untuk melepaskan Versa," sambung Valerie sepenuhnya berbohong. Berusaha menatap mata Pedro, Valerie tidak ingin sahabatnya itu mengetahui ada sesuatu yang coba ia sembunyikan dalam-dalam. "Aku hanya tidak siap, itu saja," Valerie berdehem samar. "Setelah Versa menikah, mungkin akan menjadi giliranku. Dan kepergian Versa dari rumah nanti pastilah membuat kami kesepian. Aku hanya ... merasa belum siap." Pedro membisu. Valerie mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia memang sebaiknya bergabung di klub teater saja sekarang. Sebab kebohongan demi kebohongan telah terjadi setelah pembicaraan antara ia dan Gosse di kafe tempo lalu. Sungguh ironis. Kerjapan mata Valerie tertangkap oleh bola mata Pedro, kini menatapnya dengan senyum yang mulai terbentuk. "Aku senang kau baik-baik saja, Val," balas lelaki itu. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, itu hanya masalah pembiasaan nantinya. Cepat atau lambat, kuyakin kau akan menyesuaikan diri dengan sangat baik." Rentetan kalimat Pedro membuat Valerie menghela napas, merasa lega sebab Pedro tampaknya percaya. Lelaki itu juga tidak berniat untuk mengajukan pertanyaan lebih lanjut. "Kau benar," akhirnya Valerie menimpali. Melebarkan senyum, ia ikut melepaskan sabuk pengaman. "Sebab itulah kita harus bersenang-senang di Muenchen, kau berjanji?" pintanya kini. Pedro telah meraih tas backpack-nya di jok belakang, lantas bersiap-siap untuk turun. "Aku berjanji," ucap lelaki itu. "Ayo. Bawa semua barangmu, jangan ada yang tertinggal. Aku akan mengambil kotak di bagasi terlebih dahulu." Melakukan apa yang diminta Pedro, Valerie beranjak turun. Memperbaiki sekali lagi ikatan rambutnya menjadi lebih rapi, perempuan itu menapak lantai parkiran stasiun dengan tas backpack di punggung. "Ayo, Val!" Pedro sudah menenteng dua kardus berukuran sedang yang akan dia titipkan di bagasi kereta api nanti, saat Valerie kini melangkah untuk mengikuti iringan kaki Pedro. Menyelesaikan segala urusan titip-menitip dengan mendapatkan selembar bukti surat manifest, Pedro menghampiri Valerie dengan dua tiket kereta api di tangan. Stasiun kereta tampak ramai seperti biasanya pagi hari itu. Sempat mampir ke sebuah mini market sebelum kereta api mereka beranjak dari stasiun, kini Pedro dan Valerie menempati gerbong cukup nyaman dengan bentuk kursi berhadapan. Melempar pandangan pada hamparan yang terlihat jelas dari jendela, Pedro tersentak kecil saat Valerie bangkit dan mengambil posisi duduk tepat di sampingnya. "Aku mengantuk." Mengeluarkan jaket dari tas backpack miliknya, ia menyampirkan jaket itu untuk menutupi tubuh. "Kemarilah," pinta Pedro. Memperbaiki posisi duduknya, lelaki itu kini duduk dengan bahu yang sedikit melorot. Menyamakan antara tinggi dirinya dan Valerie. "Bangunkan aku saat kita sampai, oke?" Valerie berbisik pelan. Menaikkan kedua kaki ke atas kursi, perempuan itu bergeser beberapa kali untuk menyamankan posisi. Kini menyandarkan kepala ke pundak Pedro yang persis berada di sampingnya, ia segera memejamkan mata. Membiarkan Pedro menghidu aroma khas dari surai blonde miliknya, Valerie membiarkan rasa kantuk menyelimuti diri sebab belakangan ini dia tidak bisa tidur nyenyak. Pedro masih menolehkan kepala untuk memeriksa apakah Valerie sudah benar-benar tertidur atau belum, lantas mendesah samar saat mendapati manik sahabatnya telah menutup sempurna. Valerie mungkin sudah terlelap. "Apa pun yang kau katakan, aku percaya, Val," gumam lelaki itu pada dirinya sendiri. "Meski kau berbohong, aku akan tetap percaya." Kembali memperhatikan pemandangan yang sejak tadi menjadi objek penglihatannya, Pedro menarik napas dalam-dalam. "Tidurlah yang nyenyak," gumam lelaki itu lagi. "Untuk hal yang tidak bisa kau katakan atau kau bagi padaku, aku tetap berharap kau akan menemukan dirimu kembali. Setidaknya, kau harus tetap kuat tidak peduli apa pun yang terjadi." Dan laju kereta api itu kian membawa Pedro bersama Valerie menjauh dari Heidelberg, siap untuk menyambut Muenchen yang akan mereka raih dalam tiga jam ke depan. ~Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD