Bagian 10 - Wedding News

1780 Words
"Sungguh aku tidak tahu apa yang terjadi. Namun telah kuputuskan untuk tidak lebih dulu bertanya, sebelum dia yang benar-benar berbicara. ~Pedro Viscout. *** Selepas perpisahan mereka di kafetaria, baik Pedro dan Valerie mengarah ke gedung yang berbeda. Seperti yang dikatakan perempuan itu, Valerie akhirnya tenggelam dalam kelasnya hingga pukul lima sore sebelum kembali ke rumah. Sedangkan Pedro menyelesaikan kelas hingga pukul dua siang, disusul langkah kakinya yang mengarah ke ruang olahraga. Menindaklanjuti rencana kepergiannya ke Muenchen besok, lelaki itu harus segera berkemas. Tidak begitu banyak barang-barang yang harus dikembalikan ke Queensbay, dan sepertinya dua atau tiga kardus berukuran sedang akan cukup untuk itu. Lelaki itu mengemasi barang-barang yang harus dibawa ke Munchen hingga langit menggelap di luar sana, diselingi dengan tawa Evander yang amat bahagia tampaknya. Jika biasanya Evander-lah yang bertugas untuk mengembalikan barang-barang ke Queensbay, maka lelaki itu hampir sujud syukur karena Armando meliburkannya kali ini. "Kau akan menikmati perjalanan itu, Ped," ucap Evander, yang hanya duduk saja di ruang olahraga itu saat Pedro sibuk berkemas barang-barang. "Munchen tidak akan mengecewakan, meski harus kuakui perjalanannya cukup membosankan." Pedro tidak menaruh perhatian penuh pada lelaki itu, terlebih karena Evander tampaknya tidak berniat untuk meringankan pekerjaannya. Kehadiran Evander di sana hanya mengurangi pasokan oksigen bagi Pedro, dan dia kurang menyukai gagasan itu. "Kembali saja dengan kereta paling malam," Evander mencoba memberi saran. "Setidaknya kau tetap kembali di hari yang sama, meski mungkin terlambat. Katakan saja pada Armando kereta apinya mengalami perbaikan dalam laporanmu nanti." Memasukkan bola bola ke dalam kardus, Pedro mendengus kesal. "Aku tidak butuh saran apa pun darimu, Evan," gerutunya. "Untuk apa kau berada di sini kalau kau hanya duduk sejak tadi? Kau tidak berniat membantu, kan? Sana pergi!" Namun bukannya bergerak, Evander malah terdengar semakin tertawa. Sungguh merasa senang di atas penderitaan orang lain. Terlebih itu adalah Pedro Viscout, yang terkenal paling pembangkang se-tim basket kampus mereka. "Oh, ayolah," bujuk Evander. "Kau takkan melewatkan kesempatan ini. Tidak dengan Munchen. Kota itu ... sungguh amat menarik. Kau tidak tahu bagaimana lampunya berkelip dengan suara yang amat memekakkan telinga. Itu semua...." Pedro sungguh tidak ingin membual bahwa ini bukanlah kali pertamanya mengunjungi Muenchen. Balasan telak untuk Evander sudah hampir keluar dari sela bibirnya, namun Pedro memilih untuk tidak menanggapi pembicaraan dengan temannya itu. Lagi pula, dia merasa tidak berkewajiban menjelaskan apa yang akan dia lakukan di Muenchen pada Evander. Menggeser sebuah meja kecil, Pedro memaksa teman satu timnya itu untuk terjungkal dari meja yang dia duduki sejak tadi. Membuat Evander meringis, namun Pedro tak peduli. "Percayalah padaku." Evander tampaknya belum selesai menyombongkan diri. "Bagaimanapun, aku seniormu dalam mengantarkan barang-barang ini, Ped, hahaha." Dan tepat saat itu, satu sikutan cukup dalam mendarat di perut Evander. Membuat lelaki itu meronta kesakitan. "Hei, hei!" "Sana pergi!" balas Pedro ketus. "Atau kuseret kau keluar?" Evander berusaha menahan sakit, namun masih menyisakan tawa di sudut bibirnya. Menegakkan badan, ia lantas berjalan sembari mengucap hal-hal yang dirasa Pedro tidak perlu. "Bersenang-senanglah di Muenchen, temanku Pedro," ucapnya senang, setengah menggoda. "Kau benar-benar harus mabuk saat itu terjadi!" Melemparkan sebuah bola ke arah Evander yang berada persis di belakang pintu, Pedro memasang wajah datar. "Mau kulempar lagi?" Namun lagi-lagi membuat Evander kembali tertawa terbahak, melambaikan tangan ke arah Pedro seraya menarik handle pintu ruangan olahraga itu. "Nikmati waktumu!" teriak Evander sebelum benar-benar menutup pintu. "Gadis Munich sungguh ... w-o-w!" Pedro benar-benar akan melemparkan bola sekuat tenaga ke arah Evander, jika saja lelaki itu tidak buru-buru menghilang di sebalik pintu. Menggeram, Pedro menggeleng dengan rasa kesal yang memuncak. Memaki meski orang yang dimaksud tidak lagi berada di sana, setidaknya lelaki itu merasa puas dengan apa yang dia lakukan. "Sialan, Evander! Lihat saja kau nanti!" *** Keesokan harinya, bahkan sebelum pukul delapan pagi, mobil milik Pedro sudah terparkir persis di depan pagar kediaman keluarga Genneth. Mengenakan setelan santai berupa celana pendek berbahan jeans sebatas lutut yang memamerkan bulu kaki lebatnya, dipadu dengan kaus tanpa lengan berwarna putih yang bergambar gitar besar di depan, yang juga memamerkan bulu ketek. Rambut lelaki itu tampak belum sepenuhnya mengering, sebab dia sama sekali tidak bersiap dengan benar. Khawatir akan membuat Valerie menunggu, Pedro langsung tancap gas setelah outfitnya melekat di badan. Seorang penjaga tampak membukakan pagar itu untuk Pedro lewati, lantas mengiringinya untuk menuju pintu utama. Sengaja tidak memarkirkan mobilnya di dalam seperti yang biasa dia lakukan, Pedro tidak ingin berlama-lama di kediaman Valerie. Sambutan Nyonya Genneth membuat Pedro melebarkan senyum. "Oh, Tuan Viscout!" seru Lady Genneth dengan binar mata menyala. "Kau sudah tiba?" Pertanyaan yang meyakinkan Pedro bahwa Valerie telah berkata pada sang Lady tentang rencana kepergian mereka pagi ini. "Tentu, Nyonya Genneth," jawab Pedro mengulurkan tangan. Menyalami perempuan paruh baya itu, ia mendaratkan satu kecupan singkat di punggung tangan sebagai bentuk rasa hormat. "Bagaimana kabar Anda?" Nyonya Genneth tertawa dengan anggun. Siapa sangka kediamannya akan menyambut kedatangan dua lelaki berdarah bangsawan di satu hari yang bersamaan seperti ini. "Tentu saja aku baik," balas Nyonya Genneth ceria. "Ah, apakah kalian akan ke Muenchen hari ini?" Pedro mendapati Nyonya Genneth mengiringnya menuju ruang tamu, lantas mempersilakan tamu mereka itu untuk menduduk salah satu sofa empuk berwarna salem muda dengan beberapa bantal persegi di atasnya. Belum ada tanda-tanda keberadaan Valerie, jadi mau tidak mau Pedro harus menurut ketika Nyonya Genneth memintanya untuk minum teh bersama. "Bagaimana kabar Lady Viscout?" tanya perempuan paruh baya dengan dress panjang bercorak burung bangau itu. "Sepertinya sudah cukup lama kami tidak saling bertukar kabar." Pedro masih menahan senyum di wajah. Duduk dengan kedua tangan terkait di pangkuan, lelaki itu mengangguk kecil. "Ibuku amat sehat," jawabnya jujur. "Ah, dia sedang sibuk dengan kelas cocok tanamnya, jadi mungkin belum sempat memberi kabar." Seorang pelayan datang dan membawakan perlengkapan minum teh untuk nyonya dan tamu mereka. "Minumlah," pinta Nyonya Genneth. Ia sendiri sudah lebih dulu meraih cangkir, memegangi dengan jemarinya dan menyisip perlahan. Mencuri pandang jika saja Pedro melakukan hal serupa. "Terima kasih." Untuk sebuah kehormatan, Pedro tahu dia harus meminum teh itu. "Aku tidak tahu mengapa kalian harus pergi ke Muenchen di hari bahagia ini." Meletakkan cangkirnya di atas meja, Nyonya Genneth tampak berencana untuk membuka pembicaraan. "Tidakkah bisa acara ini diundur?" Pedro hampir terbatuk. Ia tidak tahu apa yang dikatakan Valerie pada ibu perempuan itu, namun bersyukur Pedro bisa menguasai dirinya hingga tidak menimbulkan kecurigaan. "Sungguh, seharusnya Valerie tinggal ketika calon suami kakaknya akan datang!" seru Nyonya Genneth tertahan. Mengembuskan napas kecewa, perempuan itu melanjutkan. "Tetapi tidak apa-apa, bukankah ditunjuk sebagai perwakilan kampus untuk acara amal adalah sebuah prestasi yang baik?" Ah, Pedro menghela napas. Ternyata, itulah kebohongan yang diucapkan Valerie agar dirinya bisa keluar dari rumah hari ini. Keningnya mengernyit samar, sebab kini lelaki itu mulai penasaran mengapa Valerie sampai berbohong demi keluar dari rumah. "Ah, iya, benar." Tidak tahu apa yang harus dia katakan, Pedro menyembunyikan wajah tampannya di sebalik gelas yang ukurannya cukup kecil di telapak tangan. Sama sekali tidak membantu dalam menyamarkan apa-apa. Tunggu, apa Nyonya Genneth baru saja mengucapkan calon suami kakaknya? Apakah itu berarti.... "Apa Versa akan menikah?" tanya Pedro tiba-tiba. Tidak menyadari nada suara yang dia keluarkan ternyata naik hampir satu oktaf. "Benarkah?" Kali ini kening Nyonya Genneth yang berkerut, menandakan keterkejutan. "Valerie belum memberitahu hal ini padamu?" tanya perempuan itu. "Benarkah? Dia tidak mengatakan apa-apa?" Pedro menggeleng. Tidak, sebab Valerie memang tidak mengatakan apa pun. Terutama, soal kabar pernikahan yang amat penting. Siapa kira-kira yang beruntung menikahi Versaline Genneth? Seorang gadis dengan kecantikan rupawan yang tidak hanya lemah lembut sikapnya, namun juga memiliki otak yang cerdas. Dialah yang akan meneruskan perusahaan keluarga Genneth nantinya. Dan itu berarti, calon suami Versa haruslah orang yang memiliki kompetensi amat baik. Meski tidak tertarik untuk urusan percintaan dan rumah tangga orang lain, tetapi sedikit banyaknya Pedro tahu bagaimana mereka, para keluarga bangsawan, bermain untuk mempertahankan keberadaan satu sama lain. "Ah!" Nyonya Genneth menangkupkan kedua tangan di depan tubuhnya. "Kupikir kau sudah tahu, Pedro!" "Tidak, belum," sahut Pedro akhirnya. "Valerie belum memberitahu. Apakah ini adalah sesuatu yang tidak boleh diberitakan pada orang asing?" Nyonya Genneth tampak tertawa. Terhibur dengan apa yang disampaikan Pedro, bahkan manik perempuan itu hampir tertutup saat ia tertawa. "Mana mungkin," sanggahnya. "Cepat atau lambat, kami akan menyiarkan kabar gembira ini, tentu saja! Lagi pula, kau bukan orang asing, Viscout. Bukankah kau telah menganggap rumah ini sebagai rumah keduamu?" Banyaknya waktu yang dihabiskan Pedro kecil di kediaman Valerie memang pantas dijadikan alasan mengapa Nyonya Genneth berujar demikian. Membalas dengan senyum, Pedro menganggukkan kepala samar. "Kalau begitu, aku harus mengucapkan selamat," ujarnya. "Semoga segala persiapan pernikahan Nona Genneth dan Tuan...." "Armour." Mengisi nama belakang calon menantunya, Nyonya Genneth tersenyum senang. "Tuan Armour," Pedro melanjutkan. "Akan lancar hingga hari bahagia itu tiba." Tampak sekali binar bahagia itu terpancar dari bola mata Nyonya Genneth. "Terima kasih, Pedro! Kau sungguh sudah tumbuh dengan amat gagah dan luar biasa," Nyonya Genneth memuji tamunya. "Ah! Bisakah kalian berangkat lebih lama? Jika saja memungkinkan, mana tahu bisa menunggu keluarga Tuan Armour datang dan kita bisa--" "Tidak bisa." Tepat waktu, Valerie memotong permintaan sang ibu. Menuruni tangga dengan outfit kasualnya dan tas backpack di punggung, perempuan itu berhenti di antara kursi Pedro dan ibunya. "Kami akan terlambat jika menunggu itu terjadi. Bye, Bu! Ayo, Ped!" Pedro sempat bingung pada awalnya, namun kemudian tak urung ia bangkit sebab mendapati manik Valerie melebar. Seakan sedang mengisyaratkan sesuatu. Agar mereka cepat-cepat angkat kaki dari sana. "Sayang sekali," gumam Nyonya Genneth bernada sedih. "Padahal kuharap kalian bisa tinggal. Tidak bisa, ya?" Valerie tentulah menggeleng. Dia tidak akan berbohong jika saja hatinya kuat untuk menyambut kedatangan Gosse. Dia bahkan tidak bisa tidur dengan benar belakangan ini, setelah mendengar kabar pernikahan itu mencuat. "Kami harus pergi, Bu," pamit Valerie tergesa. "Sampai jumpa!" Maju untuk mencium pipi ibunya, Valerie sudah lebih dulu berbalik badan untuk melangkah menuju arah pintu keluar. Samar-samar suara Pedro yang berpamitan di belakang sana menelusup ke dalam telinga Valerie, saat perempuan itu sudah lebih dulu menarik pintu utama. Pedro menyusul setelah Nyonya Genneth mengangguk, berlari kecil untuk mensejajarkan langkahnya dengan langkah sahabatnya. "Hei," panggil Pedro, membuat Valerie membalik badan sebelum mencapai pagar tinggi kediamannya. "Apa?" Memelankan langkah, Pedro berkacak pinggang. "Kakakmu akan menikah? Dan calon suaminya akan datang? Lantas, mengapa kita pergi?" Pedro tidak tahu apa yang Valerie coba sembunyikan, namun rasanya ada yang tidak beres. "Kau yakin?" tanya lelaki itu lagi. Menatap lekat Valerie, mencoba mencari kebenaran lewat manik kehijauannya. Valerie mencebikkan bibir. "Tidak, kita sebaiknya pergi saja." Tidak ada penjelasan, hingga Pedro kembali bertanya. "Siapa Armour?" Membuat Valerie kembali menaikkan kepala, membiarkan bola mata keduanya kembali bertemu. "Kudengar Tuan Armour yang akan menikahi kakakmu," sambung Pedro lagi. Masih amat penasaran. "Katakan, Armour yang mana?" Desahan napas Valerie mengudara, saat ia berhening beberapa detik lamanya. Membiarkan Pedro mungkin mendapati ada kesenduan di irisnya, perempuan itu berkata pelan. "Gosse," ucapnya setengah berbisik. "Gosse Armour, seniorku." ~Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD