"Melarikan diri mungkin adalah pilihan yang tepat. Setidaknya karena dia, aku punya alasan untuk tidak perlu menatap bola mata Gosse." ~Valerie Genneth.
***
Pedro terkekeh, tentu saja.
Jawaban sentimentil seperti ini telah menjadi makanannya sehari-hari, terlebih jika Valerie mengatakan bahwa dia sedang berada di fase datang bulan.
"Aku serius!" Lagi Pedro menekankan. "Kau di mana sekarang? Ayo bertemu dan membahas ini bersama-sama."
"Kafetaria."
"Kau bersama seseorang?" Pedro sudah bangkit dari duduknya dalam sekali langkah, kini berjalan menuju pintu dengan sebelah tangan yang menahan ponsel di telinga.
"Kau bersama Anne?" Suara lelaki itu kembali terdengar. "Baiklah, tunggu aku di sana."
Menutup panggilan telepon itu lebih dulu, Valerie kembali mengaduk spaghetti daging sapinya yang tidak lagi selera untuk dihabiskan. Anne menatapnya dengan penuh curiga, sebab begitu kentara perubahan yang terjadi pada wajah Valerie.
"Kau ingin mengatakan sesuatu, Val?" tanya perempuan berambut sebahu itu. "Apakah kau tahu sekarang wajahmu hampir sama kacaunya, dengan spaghetti yang tidak berhenti kau aduk-aduk sejak tadi?"
Valerie hanya bisa mendesah. Perempuan itu punya selera makan yang cukup baik, namun hari ini benar-benar tidak bisa dipaksakannya untuk menghabiskan spaghetti yang masih tersisa lebih setengah di atas piring.
Akhirnya memberi gelengan, Valerie bersuara.
"Aku baik-baik saja, Anne," katanya berbohong.
Tidak bisa dipungkiri bahwa pikirannya terus memilin, sedang mencari apa kira-kira alasan yang memungkinkan dia untuk absen di akhir pekan nanti. Dia tidak ingin menemui Gosse, terlebih tidak saat lelaki itu akan hadir sebagai calon suami dari kakaknya sendiri.
"Benarkah?" Anne tampak tidak setuju. Perempuan itu menarik kembali roti lapis yang hampir habis, memakannya untuk menuntaskan makan siang mereka. "Kau bisa bercerita apa pun padaku, kapan saja, dan di mana saja. Kau tahu itu kan, Val?"
Anne McGought adalah teman pertama yang dikenal Valerie di kampus ini. Berada di kelas yang sama juga di kelompok yang sama saat masa orientasi kampus berlangsung, keduanya merasa cocok satu sama lain hingga menjadi dekat sampai sekarang.
"I know," sahut Valerie memaksakan senyum. "Thanks, Anne. Aku tahu kau selalu bisa diandalkan."
Anne tidak ingin memaksakan Valerie untuk bercerita. Sebab bagaimanapun, pastilah ada hal-hal yang tidak ingin dibagi oleh seseorang pada orang lain. Termasuk, pada teman dekatnya sendiri.
Valerie kembali tenggelam dalam lamunan, persis saat namanya mengudara dari salah satu sisi kafetaria.
"Val!"
Menaikkan kepala, perempuan itu mendapati Pedro Viscout tersenyum lebar selebar wajah. Mengenakan kaos hitam dengan tulisan 'Nirvana till I die' di bagian depan, Pedro mengayun langkah dengan sedikit berlari.
Valerie belum berucap apa-apa, bahkan tidak bertenaga untuk membalas lambaian tangan sahabatnya itu. Mengambil posisi duduk tepat di sebelah Valerie, Pedro melingkarkan lengan bertatonya di pundak perempuan itu.
"Temani aku ke Munchen," katanya to the point. Tersenyum sekilas kepada Anne yang masih sibuk dengan roti lapis, Pedro tentunya sudah mengenal teman dari Valerie tersebut. Meski ia sendiri tidak begitu berhubungan dekat dengan Anne.
"Kau mau apa sih ke sana?" gerutu Valerie dengan ekspresi wajah yang kini cemberut. "Munchen itu jauh, dan padat penduduk. Kau mau berdempetan di sana?"
Sarkastik yang diberikan Valerie sama sekali tidak membuat Pedro mengurungkan niat. Dia berencana untuk membawa sahabatnya itu ikut serta, dan cara apa pun pasti akan dia lakukan.
"Armando menyuruhku mengembalikan barang-barang ke Queensbay," tutur Pedro seraya meraih sepotong kentang goreng di atas meja. Entah milik siapa, dia tidak peduli. "Aku sedang menerima hukuman lanjutan karena kabur dari hukuman semalam. Kau tidak kasihan padaku, hah?"
Valerie menurunkan lengan kokoh Pedro dari pundaknya dengan satu gerakan tegas, lantas memandangi lelaki itu dengan mata memicing.
"Aku tidak memintamu mengikutiku," katanya jutek. "Kau sendiri yang kabur dari hukuman, jangan lupa itu, Viscout!"
Anne memilih untuk diam dan mendengarkan interaksi dua sahabat berbeda gender itu, berpikir sebaiknya dia berfokus pada makan siangnya yang hampir habis tak bersisa.
"Ayolah, Val," bujuk Pedro lagi. "Armando menyuruhku menaiki kereta api, dan harus pulang dalam satu hari. Kau belum pernah ke Munchen, kan? Ini akan jadi pengalaman yang paling menyenangkan."
Cukup baik kata-kata yang disampaikan Pedro sebagai bujukan, namun sepertinya Valerie tidak sama sekali tergugah.
"Aku tidak berminat," katanya malas. "Kau pergi saja ke Munchen sendirian, mana tahu kau bisa menemukan teman bicara di kereta api nanti."
Pedro memasukkan kembali kentang goreng ke dalam mulut, lantas memberikan gelengan sebagai penolakan.
"Memangnya, berapa lama waktu tempuh Heidelberg ke Munchen?" tanya Valerie tiba-tiba. "Empat jam?"
"Hampir segitu," jawab Pedro di sela kunyahan. "Empat jam hingga mencapai pusat kota, namun tiga jam lebih beberapa menit untuk mencapai Queensbay. Tidak akan lama."
Valerie kembali menghela napas. Kali ini benar-benar meletakkan garpunya di atas spaghetti yang teronggok, perempuan itu memutar tubuh untuk menghadap pada Pedro.
"Aku akan ikut dengan satu syarat," tutur perempuan itu. Membuat Pedro tampak bertanya-tanya, namun tidak berhenti mengunyah kentang goreng. "Maukah kau melakukannya?"
Jeda beberapa detik saat Pedro mengambil waktu untuk menelan, disusul dengan suara Anne yang menginterupsi.
"Aku harus pergi, Val," ucap perempuan itu. Memegangi ponsel di genggaman, ia menggerakkan tangan. "Levan menungguku di perpustakaan. Bertemu di kelas, ya?"
Valerie mengalihkan pandangan pada Anne lebih dulu, lantas mengangguk setuju dengan sebuah senyuman. Memperhatikan bagaimana Anne bangkit dari kursinya dan melangkah pergi, meninggalkan dia dan Pedro yang kini masih duduk bersisian.
"Kau menghabiskan kentangku!" seru Valerie menepuk lengan Pedro yang kembali terulur ke piring. "Bayar itu nanti! Awas saja kau!"
Pedro merengut. "Astaga, si pelit ini!"
Valerie berdecih. Menyilangkan kedua tangan, ia kembali pada pembicaraan.
"Bantu aku untuk keluar akhir pekan nanti," pinta perempuan itu. "Aku ingin pergi dari rumah di akhir pekan, namun aku tidak bisa pergi jika alasanku tidak kuat."
Pedro tampak memandangi Valerie. Perubahan ekspresi pada wajah perempuan itu kembali membuatnya bertanya-tanya, namun ia menunggu hingga Valerie menjelaskan.
"Kau bisa membawaku keluar?" sambung perempuan itu. "Aku hanya tidak ingin ... berada di rumah."
Pedro menarik sehelai tisu untuk menghilangkan sisa minyak dan mentega di ujung-ujung jemarinya. Menyudahi kentang goreng yang kini menyisakan remahan, ia mulai bersuara.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, namun bisa kupastikan kita akan bersenang-senang di Munchen, bagaimana?" tawarnya lagi. "Kau belum memikirkan hal itu dengan baik, namun kau terus menolakku sejak tadi untuk alasan yang tidak masuk akal."
Valerie menajamkan mata. Baru saja hendak membuka bibir, namun suara Pedro lebih dulu terdengar.
"Munchen memang ramai," sela lelaki itu. "Padat dan juga sedikit sesak. Namun kau akan terkesima dengan apa yang mereka miliki di sana. Bukankah kau harus sekali-kali memandang dunia yang berbeda, Val?"
To be honest, Valerie tidak menyukai kegiatan luar rumah seperti itu. Membayangkan akan duduk di kereta api berjam-jam sudah membuatnya mual, lagi pula dia memang pada dasarnya tidak menyukai berpergian.
"Benarkah?"
Pedro mengangguk takzim.
"Kau tidak perlu khawatir," katanya kemudian. "Ikutlah bersamaku. Bukankah rencana pergi ini adalah sebuah alasan yang tepat untuk keluar rumah?"
Valerie mengernyit.
"Aku memintamu untuk membawaku keluar di akhir pekan, Viscout!" katanya setengah berseru. "Setelah itu, kupertimbangkan rencana ke Munchenmu ini."
Valerie menggerakkan tangan untuk meraih gelas minumannya, menyelipkan sedotan di sela jemari saat ia memilih untuk menenggak langsung cairan itu dari bibir gelas.
"Apa sih maksudmu?" desis Pedro akhirnya. "Kita akan pergi ke Munchen akhir pekan ini, kan? Bagaimana, sih?"
Menyelesaikan minumannya, Valerie memicing.
"Aku harus keluar akhir pekan," ujar Valerie lagi. "Kau paham tidak, sih? Pikirkan alasan agar aku bisa keluar, dan akan kupertimbangkan untuk ke Munich itu!"
Menggeleng, Pedro mengetahui ada yang tidak beres dalam percakapan mereka. Kali ini lengan kokohnya yang menyilang, menampilkan otot-otot liat dengan ukiran tato yang memenuhi kulit.
Menonjolkan sisi gagah dengan caranya sendiri, Pedro memiringkan kepala.
"Kau tidak paham, ya?" tanyanya.
"Kau yang tidak paham!" tuding Valerie kesal. "Kau mengerti tidak apa yang kuminta?"
Sumpah, rasanya ingin Pedro mencekik sahabatnya itu. Telmi sih boleh, tapi kalau sudah ngotot, sungguh mengesalkan.
"Kau perlu keluar di akhir pekan, kan?" tanya lelaki itu berupaya mengkonfirmasi. "Benar?!"
Valerie mengangguk. Mengabaikan ekspresi kesal di wajah Pedro, perempuan itu menyesap kembali minumannya.
"Benar."
"Sebab itulah aku berkata pergi ke Munchen adalah pilihan tepat, Val!" seru Pedro. "Astaga, kau bermain-main dengan kesabaranku."
Valerie tidak mau kalah.
"Munchen lagi! sanggahnya. "Kau begitu ingin pergi ke Munchen itu, ya?"
Giliran Pedro mengangguk.
"Aku harus bertugas untuk itu," sahutnya cepat. Keduanya saling menatap dengan manik melebar.
"Memangnya ke Munchennya kapan? Bukan akhir pekan ini, kan? Kau yang salah!" timpal Valerie lagi, mengibaskan rambutnya tidak sabar.
Pedro benar-benar harus menahan kekesalan atas perilaku Valerie kali ini.
"Selain pelit, kau juga telmi," ejek lelaki itu tanpa ragu.
"Hei!"
"Ke Munchennya akhir pekan!" sambung Pedro cepat. Patut saja pembicaraan ini melempem. "Paham sekarang? Jadi kau bisa menyebut kau harus ke Munich akhir pekan nanti. Atau perlukah aku datang dan memberi salam pada orang tuamu?"
Manik Valerie melebar. Baru memahami runutan yang mereka bicarakan siang ini, hingga hanya senyum miris yang dapat ia berikan.
"Ah, benar begitu, kah?" katanya. Mengetahui Pedro menahan kekesalan dengan iris melebar, perempuan itu tertawa.
"Ahaha, aku baru paham," lanjutnya lagi. "Maaf, maaf."
Lagi-lagi menggeleng, Pedro tentunya sudah terbiasa dengan prilaku Valerie.
"Kalau begitu, deal?" tanya lelaki itu kembali memastikan. "Aku akan menjemputmu pagi-pagi, dan kita bisa menaiki kereta api kedua atau ketiga."
Rencana ke Munchen itu mungkin menjadi sesuatu yang dapat menyelamatkannya, dan kini Valerie mulai merasa tenang. Kehadiran Pedro di sana membuatnya bersyukur.
"Deal!" sambut perempuan itu sumringah. "Kutunggu kau di rumah, dan katakan yang terbaik agar ibuku mengizinkan kita pergi."
Membalas senyum merekah Valerie, tampaknya Pedro tidak lagi menyimpan kesal. Rasa itu menguap begitu saja saat sahabatnya itu tertawa.
"Baiklah, serahkan padaku," ucap Pedro percaya diri. "Kau masih ada kelas?"
Melirik sekilas ke arloji yang ia kenakan, Valerie memeriksa waktu. Jam istirahatnya hampir usai, dan sebaiknya dia beranjak lebih cepat.
"Hingga pukul empat," jawab Valerie. "Kau?"
"Tersisa satu lagi hingga pukul dua lebih," balas lelaki itu. Mengibaskan celana jeansnya, ia bersiap untuk bangkit. "Aku akan mengemas barang-barang untuk dibawa. Sampai bertemu besok di rumahmu, oke?"
Valerie mendongak saat tubuh Pedro bangkit berdiri, kini menjulurkan telapak tangannya ke arah lelaki itu.
"Kentang gorengku tadi," kata perempuan itu sinis. "Bayar!"
Pedro menyeringai tidak percaya, namun tak urung ia merogoh dompet yang terselip di saku belakang celananya. Membuka dompet itu, Pedro mengeluarkan beberapa lembar euro untuk ia letakkan di telapak tangan Valerie.
Senyum perempuan itu melebar.
"Thank you!" Uang yang didapatnya jauh lebih banyak daripada harga kentang goreng yang dihabiskan Pedro.
"Belilah cokelat," gumam Pedro sebelum lelaki itu berbalik. Menarik atensi Valerie, saat lelaki itu melanjutkan. "Kudengar cokelat ampuh untuk mengembalikan mood."
Tidak menunggu jawaban dari Valerie, lelaki bertato itu begitu saja berbalik badan untuk melanjutkan langkah.
Meninggalkan Valerie yang kini tampak termenung, memandangi lembaran uang di atas tangannya.
~Bersambung