Bagian 8 - Best Friend Day Out (I)

1394 Words
"Kurasa aku tidak akan sanggup menghadapi ini. Mungkin melarikan diri adalah pilihan terbaik, daripada harus menjadi saksi atas pilihanmu yang bukanlah aku." ~Valerie Genneth. *** Keesokan paginya, Valerie harus bersusah payah mengusapkan concelear ke area bawah matanya. Tidak ingin orang-orang mendapati bahwa dia menghabiskan semalaman suntuk menangis, namun rasa sedih itu memang tidak bisa dia tanggung untuk dirinya sendiri. Selepas kepergian Versaline dari kamarnya tidak lama setelah pelukan itu terurai, satu-satunya hal yang dapat dilakukan Valerie adalah membuka galeri ponsel untuk kemudian memilih foto-foto yang menampilkan wajah Gosse di sana. Begitu banyak waktu yang telah di lewati bersama lelaki itu, dan bagaimana Versa tampak bahagia untuk kabar perjodohan ini, sungguh cukup untuk membuat Valerie mundur teratur. "Aku tidak akan bersaing dengan kakakku sendiri, Gosh," gumam perempuan itu sembari memandangi sebuah potret dirinya dan Gosse dalam satu frame. Seingat Valerie, itu adalah foto yang diambil ketika mereka sama-sama mengikuti turnamen memanah di salah satu kampus di kota mereka. Dengan busur yang sama-sama dipegang di tangan, keduanya kompak tersenyum lebar ke arah kamera. "Perasaan ini mungkin terlalu melukai, dan aku tahu tidak ada jalan keluar selain merelakanmu untuk menjadi abang iparku tidak lama lagi." Valerie dapat mendengar suaranya gemetar, disusul dengan bulir-bulir air mata yang kini mulai mengumpul di sudut sana. Representatif dari hatinya yang remuk redam. "Tahukah kau apa yang paling menyedihkan, Gosh?" bisik perempuan itu lagi. Jemarinya mengusap layar, berada persis di wajah Gosse yang selalu tampak tampan. "Fakta bahwa dirimu juga tidak mengetahui tentang perasaan ini, menjadi penyesalan terdalam yang mungkin akan kukenang sepanjang sisa hidupku." Valerie tahu, mungkin ini semua juga kesalahannya karena selama kebersamaannya dengan lelaki itu, dia tidak pernah mengatakan apa-apa. Memendam perasaan dirasanya cukup, sebab sebenarnya ia tengah menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan semua. Namun semesta telah terlanjur mengoyak segala harapan yang tersisa, meninggalkannya dengan lubang menganga yang terus berdenyut nyeri. Memastikan sekali lagi matanya tampak cukup normal, akhirnya perempuan itu meraih tas selempang dan berjalan menuju pintu. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, saat ia menuruni tangga untuk menyapa sang ibu di dapur. "Val, kau tidak terlambat?!" Nyonya Genneth tengah mengaduk panci berisi sup makaroni hangat, saat ia mendapati putrinya mendekat. "Mau makan sup makaroni ini?" Berdiri di depan kulkas, Valerie menggeleng saat tangannya menarik pintu kulkas itu. "Tidak, Bu," kata menjawab. Meraih sebotol besar s**u tawar, perempuan itu berbalik untuk menuangnya ke dalam sebuah gelas kaca. "s**u saja cukup. Kelasku dimulai siang hari, jadi aku akan makan di kafetaria kampus bersama Anne." Nyonya Genneth tampak mengerti. Berputar untuk bergabung bersama Valerie di meja makan, perempuan paruh baya yang pagi ini mengenakan terusan lengan pendek bermotif bunga itu duduk persis di hadapan putrinya. "Kosongkan jadwalmu di akhir pekan ini, Val," katanya meminta. "Kau bisa?" Tegukan s**u tawar itu hampir membuat Valerie tersedak, saat kini ia mulai menerka apa maksud dari permintaan sang ibu. "Kenapa?" Senyum Nyonya Genneth merekah. Jemarinya terpilin di atas meja, memandangi Valerie dengan manik berbinar. "Seharusnya Ibu memberitahumu lebih cepat," jawabnya kemudian. "Tetapi semoga saja ini tidak terlambat. Kakakmu akan menikah, Val. Dan keluarga dari suaminya akan datang akhir pekan ini." Tidak bisa Valerie tahan respon yang begitu saja mengudara. "Calon suami," ralatnya cepat. Menyadari bahwa nada suaranya meningkat tanpa ia duga, perempuan itu buru-buru menutupi wajah dengan meneguk kembali susunya. Mengabaikan ekspresi wajah sang ibu yang kini berubah samar, namun Nyonya Genneth lagi-lagi melebarkan senyum. "Ah, kau benar!" serunya sembari menepuk sebelah tangan Valerie. "Bukankah Ibu terlalu terlihat bersemangat?" Kekehan ibunya memenuhi dapur, namun Valerie tidak lagi memberi perhatian lebih. Semua orang tampak berbahagia dengan kabar ini, tanpa seorang pun bertanya apa dia baik-baik saja. Tentulah dia seharusnya baik-baik saja, jika saja dia tidak menyimpan rasa untuk Gosse. Adik mana yang tidak senang dengan kabar pernikahan kakaknya sendiri? "Aku tidak bisa janji, Bu," ujar Valerie akhirnya. Meletakkan gelas yang telah kosong, perempuan itu meraup rambut blondenya untuk ia kucir kuda kini. "Akan kulihat jadwalku dulu, namun aku tidak yakin bisa hadir di pertemuan itu." Nyonya Genneth menahan napas beberapa detik. Menampilkan ekspresi tidak ingin dibantah, perempuan itu memiringkan kepala. "Kau bercanda, kan, Val?" tanyanya mengkonfirmasi. "Calon suami kakakmu akan berkunjung, dan bukankah kita harus lengkap saat kunjungan itu terjadi? Kau tidak ingin mengenal calon abang iparmu?" 'Aku sudah mengenalnya,' batin Valerie cepat. 'Tidak, bukan hanya mengenalnya, namun aku memimpikannya untuk dua tahun terakhir ini,' lanjut Valerie getir. Menghela napas, Valerie membiarkan ibunya kembali bersuara. "Ibu ingin kau hadir," kata Nyonya Genneth meminta, jelas dan tidak ingin ditawar. "Kau bisa melakukannya, kan? Ibu ingin kau membantu Versa berhias, Val! Kau kan paling pandai membuat hiasan rambut!" Valerie merasa tidak perlu lagi ia berlama-lama di dapur mereka. Bukan salah ibunya jika kini dia kembali merasa sedih, sebab Valerie tahu ibunya hanya ingin hal-hal terbaik untuk Versa. Tiba-tiba saja Valerie berpikir, apakah sikap sang ibu akan tetap sama jika ibunya mengetahui kebenaran yang sebenarnya terjadi. "Aku pergi, Bu," ucap Valerie tanpa lagi memberikan janji. "Sampai bertemu nanti malam." Nyonya Genneth membiarkan Valerie mengecup singkat pipinya, sebelum kemudian melangkah tegas menyusuri lorong dapur mereka. "Ingat, akhir pekan ini!" seru perempuan paruh baya itu lagi. Suaranya menggema, namun Valerie tidak sama sekali menoleh. "Berjanjilah, Val!" Namun teriakannya itu hanya menggema dan menghilang dalam kesunyian, sebab eberapa detik kemudian tubuh Valerie sudah menghilang di balik pintu. Tanpa jawaban. *** Armando mengepalkan tangan. Menahan ledakan amarah yang menguasai diri, ia meremas pundak Pedro tanpa mengurangi tenaga yang tersalurkan. "Jelaskan alasanmu meninggalkan hukuman kala itu, Viscout," pinta sang kapten tim basket. Nadanya tegas dan mengintimidasi, namun sepertinya Pedro sama sekali tidak terpengaruh dengan itu. "Temanku kehujanan," jawab lelaki bertato itu jujur. Dua tungkai kakinya terjulur ke lantai, membuat sepatu sport yang ia kenakan kini menyentuh permukaan. "Dan aku berani bertaruh dia tidak punya tempat tujuan kala itu." Armando tidak tahu harus diapakannya satu anggota timnya ini. Dari semua keseluruhan anggota yang ia kepalai, Pedro Viscout adalah lelaki bebas yang tampaknya tidak memiliki rasa takut. Tidak peduli seberapa sering Armando memaki atau memarahinya atas segala kesalahan yang lelaki itu lakukan, Pedro sama sekali tidak merasa berkewajiban untuk mengubah bagaimana ia bersikap. Pedro tidak bisa disetir. Tidak juga bisa dikendalikan oleh orang lain. Desisan amarah mengudara di sekitar keduanya, saat kini hanya mereka berdualah yang menghuni ruang tim basket itu. Khusus memiliki sesi lanjutan dari kejadian tempo lalu. "Baiklah," sahut Armando akhirnya. Semalaman lelaki itu berpikir bagaimana caranya untuk memberikan balasan setimpal agar Pedro menyerah, hingga ia menarik kesimpulan bahwa Pedro mungkin tidak mempan dengan segala bentuk hukuman fisik. "Hukumanmu belum berakhir," ucap Armando lagi. Berkacak pinggang, lelaki itu bergerak samar dengan kening berkerut. "Kurasa, hukuman fisik seberat apa pun tidak akan membuatmu jera, benarkan?" Pedro mengangkat kepala. Membalas tatapan Armando padanya, ia mengangkat bahu. "Aku suka hukuman fisik," jawabnya enteng. "Apa saja, berikan padaku. Lari 500 putaran? Atau push up 500 kali? Akan kulakukan." Perlu Pedro tegaskan, bahwa dia memang memiliki stamina dan kebugaran yang amat sangat kuat. Olahraga dan aktivitas fisik menjadi salah satu hobinya, maka hukuman apa pun yang disediakan oleh Armando tidak akan jadi masalah. "Oke," sahut Armando lagi. Mengusap jemarinya ke dagu, lelaki itu tersenyum penuh misteri. "Pergilah ke Munchen." Refleks mengerutkan kening, Pedro tidak mengerti mengapa kapten mereka mengungkit Munchen sekarang. "Munchen?" "Evander seharusnya pergi ke sana untuk mengembalikan barang-barang untuk turnamen lalu," lanjut Armando lagi. "Kali ini kubatalkan perjalanan itu untuknya, jadi kau yang harus membawanya hingga Queensbay." Pedro terhenyak. Masih memandangi Armando dengan bingung, saat Armando malah menarik seulas senyum. "Pikirkanlah kesalahanmu selama perjalanan, Viscout," katanya. "Kemasi barang-barang yang kita pinjam dari Queensbay sendirian, lalu berangkatlah dengan kereta paling pagi." Masih belum mengerti, Pedro membiarkan Armando merasa dirinya di atas awan. Tidak pernah ada anggotanya yang menginginkan perjalanan Heidelberg-Munich hanya untuk mengembalikan perlengkapan. Jarak yang harus ditempuh melebihi 340 km, dan akan menghabiskan tiga jam sekali jalan menaiki kereta api. Dan hukuman kali ini, semoga saja membuat Pedro jera. Helaan napas Pedro mengudara, yang tanpa disadari Armando menyimpan sebaris senyum yang hendak terlukis di wajahnya. Namun ia menahannya dengan sangat baik, saat lelaki itu kembali membiarkan Armando berpikir hukuman ini akan menjadi beban. "Apa aku harus naik kereta api?" tanya lelaki itu dengan sorot mata yang disendu-sendukan. "Tidak bisakah aku membawa mobilku sendiri?" Armando semakin merasa bangga akan dirinya sendiri. Keputusannya memberi hukuman ini tampaknya adalah sesuatu yang amat bijak. "Tidak," perintah Armando cepat. "Naiklah kereta api, dan kembalilah di hari yang sama." Bahu Pedro melorot memikirkan enam jam lebih perjalanan yang harus ia tempuh. "Tapi--" "Tidak ada tapi-tapian," sanggah Armando cepat. "Kurasa kau tidak memiliki banyak waktu untuk berkemas, jadi pastikan kau langsung mengemasi barang-barang itu segera setelah kelasmu hari ini usai." Pedro masih hening. Memikirkan begitu banyak hal di kepala. "Ada pertanyaan, Viscout?" Pedro menggeleng. "Siap, Kapten!" Senyum sinis Armando kembali terlihat. "Pastikan kau tidak mengulangi kesalahanmu lagi, atau kau akan menggantikan Evander sebagai kurir untuk barang seterusnya. Kau mengerti?" Tidak ada yang dapat Pedro berikan kecuali anggukan samar. Menampilkan sorot mata kesedihan, lelaki itu masih duduk tenang hingga Armando berlalu dan keluar dari ruangan mereka beberapa saat kemudian. Tepat saat pintu ruangan itu tertutup, Pedro melebarkan senyum dan merogoh saku celana jeansnya segera. Menghubungi nomor seseorang, ia menanti dengan manik berbinar. "Halo?" "Ayo ke Munchen, Val!" seru Pedro bersemangat. Hening. "Ayo berakhir pekan di Munchen!" ajak Pedro lagi. "Menaiki kereta api dan bercengkrama, bukankah itu hal yang menyenangkan?" Jeda beberapa detik saat Valerie terdiam, namun kemudian hanya tiga kata yang diucapkan oleh perempuan itu. "Kau sudah gila?" ~Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD