Tidak ada yang lebih menjengkel bagi Mika Nayara, selain perintah dari Rino—buaya buntung dan bos edan—untuk membelikan nasi uduk. Nasi uduk! Dan anda tahu pemirsa budiman, saudara seiman, dan setanah air, sekarang jam berapa? Empat pagi saudara-saudara! Hell. Ingin sekali Mika memaki dan mencakar muka Rino sepuasnya, lalu memasukkan ke karung, kemudian melemparnya ke laut. Dijamin hidup Mika aman dan tenang. Astaga. Di mana otak Rino berada? Dikira ia babunya apa? Seenak jidatnya main perintah dan di luar jam kerja pula!
Dengan mulut mengomel tidak karuan, Mika mengeluarkan motor dan pergi ke pasar kue subuh di daerah Senen. Tidak lupa kotak bekal sesuai permintaan Rino sarap itu, sebab Rino tidak ingin nasinya dibungkus dengan daun pisang dan harus tertata rapi dalam kotak. f**k! Rino benar-benar menguji kesabaran Mika.
Setelah berjibaku dengan dinginnya udara pagi, juga berdesakan dengan para tengkulak, Mika pulang kemudian langsung membersihkan diri. Setelah menghabiskan nasi uduknya sendiri, perempuan bercelana bahan warna krem tersebut berangkat. Ia tidak ingin terlambat dan mendapat teguran dari Rino.
“Mikado.”
Tentu saja Mika berbalik memenuhi panggilan familiar mantan atasan dia. “Pak Kabin, hehehe. Pagi, Pak.” Tidak ada takut-takutnya perempuan satu itu. “Bapak kangen, ya, makanya manggil,” tuding Mika kepedean. “Tahu, sih, Pak, Mika ini cantik. Secantik bidadari tapi mbok ya ingat anak sama istri gitu. Saya nggak mau lho dikira pelakor. Lagian saya juga masih ingin kerja di sini. Jadi, tolong Bapak jangan kejar-kejar saya terus,” cerocosnya dengan wajah dibuat sedramatis mungkin.
Kontan saja Hattari memukul kepala Mika dengan gulungan koran mengabaikan aduhan Mika. “Edan! Tidak usah drama. Siapa juga yang mau sama kamu. GR!” Terdengar kikikan di belakang dua orang beda jenis tersebut. Hal itu mampu membuat Mika mencebik. “Kemarin Pak Rino menegur saya. Katanya kamu tidak becus sama sekali dan minta diganti, tapi sebelum saya berangkat tadi beliau telepon, tidak jadi minta pengganti kamu.” Kemudian menoleh ke arah Mika dengan alis terangkat sebelah. “Bikin ulah apa kamu?” tanya Hattari dengan tatapan menuntut.
“Tidak ada, Pak,” kilah Mika. Mereka masuk ke benda baja itu, untuk membawa mereka menuju lantai masing-masing. “Bapak tanya seperti itu, kayak saya suka bikin ulah saja,” gerutu Mika kemudian.
“Kayak saya tidak kenal kamu saja,” sahut Hattari. “Kamu sama cucu saya sama, suka bikin ulah. Kalau Shiren wajar bocah, lah kamu … sudah bisa bikin bocah masih saja berulah.”
Kembali terdengar tawa tertahan dari karyawan lain dalam lift. Mika mencebik karena tidak bisa membalas ucapan Hattari.
“Tapi kan, Pak-”
Hattari mengangkat telapak tangan di depan wajah Mika menandakan ia tak ingin dibantah. “Tidak ada tapi. Jangan bikin ulah kalau masih ingin bekerja di sini. Pak Rino itu keponakan pemilik perusahaan ini, jadi jangan berpikir membuatnya marah.”
Telat keles, Pakkk! Batin Mika. Kenapa ia baru tahu. Ini namanya apes tujuh turunan.
***
Rino mendelik ke arah Mika kala nasi yang ia kunyah rasanya mengerikan. Ini pasti kerjaan perempuan itu, tak mungkin si penjual nasi, bisa-bisa tidak laku. “Kamu minta kawin?” ucapnya setelah membuang nasi yang belum ia kunyah benar di tisu kemudian melemparnya ke keranjang sampah.
“Kawin?” ulang Mika. “Memang saya kucing!” gerutunya sebal.
“Ya mungkin saja.” Mika melotot pada pria yang duduk tenang di kursi kebesaran dia. “Buktinya nasi ini aneh sekali.” Rino kemudian memicingkan mata pada Mika yang menahan tawa. “Saya yakin kamu sengaja,” tebaknya. Kilatan licik tersirat dalam netra cokelat bening Rino. Seringai samar terbit. “Duduk!” perintahnya. Ia menggeser kotak bekal tersebut ke hadapan Mika. “Makan.”
Jelas saja bola mata Mika melotot kuat serasa akan lepas. Yang benar saja. “Saya sudah makan, Pak,” tolak Mika. Cari mati namanya kalau makan nasi dengan campuran garam satu sendok makan penuh.
“Tidak apa, sekalian buat nanti siang. Jadi istirahat nanti kamu bisa kerja kan desain yang lain.”
“Hah? Ada gitu makan dirapel?” gumamnya lirih. Perempuan dengan hidung mungil itu menggeleng. “Maaf, Pak, perut saya sudah tidak muat. Tempatnya tidak ada yang kosong. Begah.”
“Kalau begah saya ada obat. Kalau penuh, ya, dipepetin saja, pasti cukup. Angkutan umum saja penuh tetap dipepetin penumpang cukup, masa perut saja tidak bisa.” Rino tidak menerima bantahan.
Mampus lo! Buaya kok mau lo kadalin, yang ada lo dimakan dia, dumel Mika dalam hati. “Tapi, Pak.”
“Tidak ada tapi, Mika. Makan atau ....”
“Iya!” Ia menelan ludah sebelum tangannya menyendok nasi bersantan dengan lauk ayam goreng. Menatap ngeri membayangkan rasa asinnya. God! Bisa tidak tiba-tiba nasinya menjadi gurih, harap Mika pada Tuhan. Ragu-ragu ia mulai mendekatkan nasi dalam sendok ke mulut dengan wajah pias. “Saya boleh nego tidak, Pak?” tanya Mika sebelum menelan bentuk matang dari beras. “Saya ganti nasi Bapak dengan nasi padang, gimana?”
Kedua alis Rino terangkat. “Kamu kira ini pasar, pakai nego segala. Sudah habiskan saya temani.” Rino kembali memeriksa rancangan dari Mika yang ia pinta beberapa hari lalu.
“Beneran ini, Pak, tidak bisa ditawar lagi?” Gelengan Rino menjawab jelas pertanyaan Mika. “Saya ganti steak, deh. Nasi ini buang saja, ya, Pak.” Wanita berkulit kuning itu masih berusaha membatalkan perintah Rino. “Pizza, soto, rawon atau yang lain, deh, Pak.”
“Mubazir. Sudah itu kamu habiskan saja.”
Astaga,ibukkk bantu anakmu ini!
Rino kembali melihat Mika yang ragu-ragu memakan benda gurih tersebut. Wajah yang takut-takut dan ngeri itu sungguh lucu, dan ia harus menahan tawa. Tatapan memohon Mika padanya mengingatkan dia akan Chese saat ia tinggal tadi pagi. Menggemaskan.
Raut tersiksa muncul ketika Mika mulai mengunyah. Kalau ini namanya makan garam. Ia tidak menyangka akan seasin ini. Saat serpihan-serpihan itu melewati kerongkong, Mika serasa menelan remahan bata merah. Seret. Satu suap, dua suap, tiga suap. Mika menyerah. Ia sudah tidak sanggup tapi belum terdengar perintah berhenti. Rino tetap fokus pada kertas-kertas di pangkuan dia.
“Minum.” Rino menyodorkan gelas berisi jus jeruk miliknya ke depan Mika.
Mika mendesah lega kala benda cair bening membasahi jalur pencernaan Mika dan mengurangi rasa asin di lidah.
“Kembali ke mejamu.”
Tanpa diperintah dua kali, Mika bangkit dan langsung melesat ke pintu. Tatapi langkah Mika terhenti saat Rino berbicara padanya.
“Lain kali saya tidak akan berbaik hati seperti sekarang. Ingat itu, adik kecil!”