• • • • Beberapa hari setelah pembicaraanku dan Razka di kala istirahat siang itu, dia dan Shira kembali bersama. Entah kenapa, aku merasa berperan besar dalam membaiknya hubungan mereka. Otakku selalu berkata “biarkan saja mereka”, namun hatiku selalu mengeluh “sakit liat mereka mesra begitu!”. Aku tak tau harus bagaimana. Aku memang menyukainya, tetapi dia sudah memiliki seseorang dan yang terpenting, mereka berbahagia. Aku menghela napas. Mereka sudah balikan hampir tiga bulan. Dan aku hanya bisa memendam perasaan, tak berani mengutarakan. Untuk menunjukkannya saja, aku tak bisa. Aku terlalu takut. Hanya dengan lirikan mata, sudah membuatku hatiku menghangat karena sosoknya yang berada dekat denganku. Ketika dia memamerkan deretan gigi putihnya, kedua sudut bibirku tertarik ke atas.

