“Dilara Dristi Retisralya, kenapa kamu suka banget makan pedes-pedes? Memangnya nggak takut sakit perut, ya?” suara Ilyaa yang terkesan dibuat-buat membuat Dristi mendesah pendek. Mata Ilyaa tak lepas dari ponsel, yang mengartikan bahwa gadis itu baru saja membacakan salah satu post yang baru saja ia lihat di Secret.
“Kalo dia ngepost kayak gini, artinya pelaku itu ada di dalem kantin,” tambah Ilyaa dengan pandangan menyisir sekitar.
Kantin sangat penuh siang ini. Sesak. Bahkan Ilyaa dan Dristi saja harus duduk bersama dengan beberapa senior, yang artinya mereka harus menjaga sikap. Di sini tidak ada senioritas, namun yang namanya senior, tetap akan disegani para juniornya.
“Ya udah laaa,” Dristi mengibaskan tangannya tak peduli, menyendokkan kuah bakso berwarna merah kental. “Biarin aja dia mau ngapain juga, gue nggak peduli,” ujarnya disusul tangannya yang bergerak mengambil sepotong basreng pedas.
Ilyaa hanya geleng-geleng kepala melihat Dristi yang terus-terusan memakan makanan pedas, padahal gadis itu memiliki maag. Lihat saja, nanti di tengah pelajaran pasti akan kambuh.
“Paling nggak peduli sama diri sendiri kek,” Ilyaa gemas, dia geleng-geleng sembari menyeruput minuman sodanya.
Dristi mengesampingkan pendapat Ilyaa. “Sekali-kali nggak apa kok. Asal jangan keseringan,” jawabnya disusul cengiran lebar.
☀☀☀
Pluk. Sesuatu mengenai kepala Dristi, membuatnya mengernyit bingung dan melirik ke arah atas. Ada buku paket sejarah tepat di puncak kepalanya. Seseorang di belakangnya, cowok yang duduk di belakang Dristi itu tidak tersenyum ataupun datar. Biasa saja, tapi wajahnya terlihat seperti senyum. Iya, dia Nata. Cowok itu duduk di belakang Dristi, sebangku dengan Fakhir.
“Buku lo ketinggalan,” jelas Nata saat dipandang bertanya.
Dristi melongo sepersekian detik, kemudian ber-oh-ria ketika sadar pagi tadi ia meninggalkan bukunya di meja makan. Iya, tadi pagi Dristi bangun telat dan lupa menyiapkan buku ketika malamnya. Alhasil saking terburu-burunya ia bolak-balik kamar dan meja makan ketika sarapan. Sebenarnya sih tidak telat banget, tapi karena Dristi naik angkot dan dia tidak mau kena macet, jadi yaaa harus berangkat jauh lebih pagi dari Nata yang naik motor.
“Oke, makasih,” sahutnya singkat kemudian mengambil bukunya dan memutar tubuh.
Fakhir yang sebelumnya sedang sibuk dengan ponsel sempat terheran akan pembicaraan yang sedikit janggal diantara mereka berdua. Tapi dia tidak memikirkannya lebih lanjut dan tetap main line ranger. Berbeda dengan Fakhir yang penasaran namun dipendam, Ilyaa bergeser merapatkan diri pada Dristi.
“Ketinggalan? Di mana?” tanyanya kepo.
“Di rumah.”
Nata mengangkat wajah dari kesibukan mencatat tugas sejarah, disusul wajah penasaran Fakhir yang juga tak sengaja mendengar ucapan Dristi. Pernyataan singkat tegas yang Nata yakini sekali akan menimbulkan banyak pertanyaan dari dua orang yang memandangi mereka berdua bergantian. Nata berdehem menghentikan keheningan, sekaligus berusaha mengalihkan perhatian dua pasang mata yang memandang Dristi meminta penjelasan.
Nata tersenyum geli dalam hati karena Dristi tidak sengaja mengatakan hal yang memicu pembicaraan tentang Dristi dan Nata yang sering berkunjung ke rumah masing-masing sampai meninggalkan suatu barang di sana, atau malah menimbulkan kecurigaan tentang mereka yang tinggal bersama. Padahal setiap hari Dristi selalu mengingatkan Nata untuk bersikap tidak-kenal-dekat saat di sekolah.
“Ketinggalannya di perpustakaan sekolah, bukan di rumah,” tangan Nata terjulur, menarik ujung rambut Dristi. “Pikun dasar.”
Dristi mendelik. “Sok deket banget sih,” cibirnya sebal sembari menepis tangan Nata. Padahal dalam hati, dia berterima kasih karena Nata membantunya berbohong.
Nata mengedikkan bahu sekilas menanggapi ucapan ketus Dristi. “Ada kotoran tadi di rambut lo,” dustanya.
“Oh, pas minggu kemarin ke perpustakaan itu, ya?” tanya Ilyaa.
“Iya lah, kapan lagi coba,” sambut Nata. “Pas itu gue lagi di perpus dan kebetulan liat bukunya dia.”
Fakhir hanya melirik dan mengangguk mengerti sebelum benar-benar kembali main game. Ilyaa manggut-manggut, ingin bertanya tapi dia memutuskan untuk percaya karena Nata terlihat sangat sibuk menyalin tugas. Mereka kehing canngung sampai pada akhirnya mata Ilyaa menyadari Dristi memegangi perut sembari menggigit bibir bawahnya.
“Kambuh, kan?” tanya Ilyaa seraya mengusap pundak Dristi.
Dristi menoleh dengan alis terangkat, takjub karena sahabatnya sadar ia kesakitan. Tidak menjawab apa-apa, tapi Dristi hanya nyengir tak berdosa.
“Kambuh?” tanya Nata dan Fakhir, berbarengan.
Fakhir melirik Nata sedikit tak suka tapi sedetik kemudian ia memandangi Dristi yang sudah diajak bangkit oleh Ilyaa. Gadis itu kelihatan sekali sedang menahan sakit, bisa dilihat dari keningnya yang semakin berkerut dan bibirnya yang sedikit-sedikit mengeluarkan ringisan.
“Tadi dia makan pedes, makanya maag-nya kambuh,” jawab Ilyaa. “Gue nganterin dia ke UKS dulu ya. Nanti kalo si bapak dateng tolong izinin.”
Setelah mendapatkan anggukan kepala dari Nata dan Fakhir, Ilyaa segera membawa Dristi keluar kelas. Sejenak sebelum Dristi benar-benar menghilang dari pandangan Nata dan Fakhir, mereka berdua merentangkan kedua tangan ke atas secara bersama-sama. Dan dalam beberapa detik kemudian, mereka berdua mengerang lega. Lalu, karena terkejut akan perilaku sama yang dilakukan, keduanya saling pandang.
“Maksudnya apaan tuh?” keduanya bertanya, berbarengan lagi.
Entah kenapa, hari ini keduanya seperti memiliki ikatan batin untuk melakukan suatu hal secara bersamaan. Apa karena mereka memiliki ketertarikan yang sama?
“Gue capek main game,” sahut Fakhir pertama.
Pemuda itu menyipitkan mata memandangi Nata seakan cowok itu memiliki suatu hal yang disembunyikan. Ditatap penuh kecurigaan oleh Fakhir membuat Nata jengah. Pemuda itu menghela napas kasar dan berbalik memandangi Fakhir dengan sorot santai. Sebenarnya perlakuan sama yang tak sengaja mereka lakukan hanyalah suatu kebetulan belaka. Tetapi entah kenapa, karena hal kecil tersebut udara di sekitar mereka terasa mencekam dan penuh kecurigaan tak jelas.
Awalnya, salah satu sudut bibir Nata naik sebelah. Bukan ingin tersenyum, melainkan menyeringai. “Lo nggak liat gue abis ngebut ngerjain lima lembar tugas sejarah?”
Kebohongan kecil pasti akan berbuntut dengan penutupan fakta lainnya. Fakhir tidak tau kalau Nata merenggangkan tubuh karena lega kebohongan kecil tak berencananya sebelumnya itu berhasil. Tidak 100 persen membuat mereka percaya akan alasannya, tapi paling tidak, kedua temannya tidak bertanya lebih lanjut tentang Dristi yg berkata "rumah".
“Gue yang akan mastiin Dristi sampe rumah dengan selamat,” ucap Fakhir.
Nata mendengus. “Silahkan,” kemudian tertawa. “Semoga selamat sampai tujuan,” nyampe rumah juga gue yang bakal jagain dia, tambahnya dalam batin.
☀☀☀
[2❤] Apa kamu lihat sinyal yang aku berikan saat di kelas tadi, Dilara Dristi Retisralya?Aku tidak berharap kamu melihatnya, sih. Kalau kamu lihat tanda hati yang kuberikan dan membaca tulisan ini, rahasiaku terbongkar, dong ;;)
5m ago, Indonesia
Ilyaa menaikkan alis ketika membaca salah satu post di Secret. Dia benar-benar penasaran pada pemuda ini--yah, itu kalau pengagum rahasianya itu normal. Tapi, kenapa orang yang memiliki pengagum rahasia ini--Dristi malah tidak peduli? Ilyaa bisa menebak, Dristi pasti sudah tidak pernah membuka Secret lagi.
“Umm, Dris,” Ilyaa mengangkat wajahnya dari ponsel dan menatap Dristi yang baru saja menutup matanya untuk beristirahat. Dia baru minum obat dan terpaksa membolos pelajaran selanjutnya untuk beristirahat.
“Apa?” tanyanya lemas. Dristi pikir, Ilyaa sudah pergi sejak tadi. Kenapa gadis itu belum kembali ke kelas?
“Tadi ada yang ngasih sinyal ke elo, nggak?”
Dristi membuka matanya perlahan. Memandangi Ilyaa dengan tatapan bertanya, kemudian disambut dengan layar ponsel yang berada tepat di depan wajah Dristi. Dia sempat mengerutkan kening, tetapi ketika membaca yang dimaksudkan Ilyaa, matanya melebar tak percaya.
“Tuh kan bener, pengagum rahasia lo ada di kelas kita,” seru Ilyaa gemas. “Sumpah gue pengen nangkep dia!”
Dristi menggumam sebentar, kemudian menutupi keseluruhan wajahnya dengan selimut. Melihat Dristi yang seperti lari dan tak mau membicarakan hal ini secara lanjut membuat Ilyaa mengguncang tubuh gadis itu dengan perlahan.
“Dristiii ih, jangan tidur duluuu,” dia berjeda, menarik selimut Dristi tapi gadis itu tidak mengendurkan cengkraman tangannya di ujung selimut. “Gue masih ngomong tauuu.”
“Ilyaa, kamu bukannya masih ada kelas?”
Teguran guru kesehatan membuat Ilyaa menghela napas dan berdiri dari duduknya. Dia memukul b****g Dristi yang tertutup selimut dengan perasaan dongkol. Selalu saja begitu ketika dia mencoba untuk membicarakan hal ini.
Bukannya Dristi tidak mau membicarakannya, tapi di balik selimut ia sedang memikirkan pemuda yang memberikan tanda hati. Dia melihatnya. Dua orang yang duduk sebangku itu, mereka menaikkan kedua tangannya dan membentuk suatu tanda.
Tapi sayangnya, Dristi tidak melihat jelas siapa yang membentuk hati. Karena mereka mengangkat tangan kurang dari satu detik. Mereka melakukannya secara bersamaan.
Fakhir dan Nata.
☀☀☀