Dristi sedang melamun saat itu. Dia baru saja bangun dari lelapnya sekian menit yang lalu karena sadar bahwa bel pulang sudah berdenting. Tenggorokannya terasa kering, ia bergerak dari posisi tidurnya sampai duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya memerhatikan sekitar, mendapati gelas dan teko kecil di seberang tempat tidurnya.
Dia bergeser, namun terhenti ketika tangannya menyentuh sesuatu yang sedikit tajam. Tangan kirinya meraba-raba sprei, tidak sampai dua detik telapaknya merasakan sesuatu.
“Cincin?” gumamnya saat melihat jelas cincin perak yang terbagi menjadi tiga bagian, bentuknya seperti daun namun lebih panjang dan dipenuhi mata berkilau.
“Sudah bangun?”
Suara guru kesehatan yang muncul dari balik gorden membuat Dristi mendongak dan mengangguk kecil. Wanita berparas cantik dengan tubuh padat berisi itu menyingkap gorden dan memberitahu Dristi tentang anak-anak yang baru saja keluar kelas. Tangannya sibuk merapikan sprei dan selimut di beberapa ranjang lainnya, kemudian setelah selesai ia beralih memasukkan obat-obatan ke dalam lemari kaca.
“Emm, Bu Nada,” panggilan Dristi membuat pergerakannya memasukkan barang ke dalam tas kerjanya terhenti. “Tadi Ibu liat ada orang masuk ke sini, nggak? Selain Ilyaa.”
Wanita muda itu berpikir sejenak. “Ada dua anak perempuan, salah satu kakinya terkilir tapi dia tidak sampai istirahat di sini, sih,” dia berjeda, memandang Dristi. “Ada apa?”
Dristi memperlihatkan cincin yang sebelumnya ia temukan. “Saya nemun cincin, Bu. Pas bangun ada di kasur saya.”
Bu Nada mendekati Dristi dan memerhatikan cincin itu. “Wah, cincinnya cantik,” dia tersenyum kemudian beralih menatap Dristi. “Kamu pegang dulu saja ya. Saya orangnya nggak bisa jaga barang,” dia terkekeh. “Besok saya akan mengumumkan tentang barang hilang ini.”
Dristi mengangguk kemudian memasukkan cincin itu ke dalam jari tengahnya. Kalau mau mengaku, dia juga bukan orang yang pintar menjaga barang. Tapi kalau dia memakainya, takkan hilang, bukan? Lagipula ini sangat pas di tangannya.
Setelah memakai kaus kaki dan mengikat sepatu, Dristi bangkit dari duduknya dan pamit pada Bu Nada. Baru saja ia keluar ruangan, dari kejauhan ia melihat Fakhir melambaikan tangan ke arahnya. Di pundak kanannya terdapat tas selempang kecoklatan, milik Dristi.
“Lho, Fakhir. Ada apa?” tanya Dristi begitu Fakhir sudah berada tepat di hadapannya.
“Ada apa?” kepalanya miring ke salah satu sisi. “Gue cuma mau memastikan lo sampe rumah dengan selamat.”
Dristi menghela napas. Dia mengambil tasnya dari tangan Fakhir dan langsung memakainya di pundak. Berjalan perlahan mendahului Fakhir. Sebenarnya, dia tidak ingin pulang bersama pemuda itu. Bukan karena benci atau apa, hanya saja ia merasa canggung setelah memikirkan kemungkinan pemuda di sampingnya ini adalah orang yang mengiriminya post-post di Secret itu.
“Gue bisa pulang sendiri, Fakhir. Gue cuma maag, bukan orang pingsan atau sakit di bagian kaki,” tolak Dristi.
“Mau minum?” seperti tidak mendengar penolakan Dristi, Fakhir menyodorkan sebotol kecil air mineral.
Sebenarnya dia ingin menolak tawaran itu, tapi karena wajah Fakhir yang tersenyum lebar membuatnya tidak tega mematahkan kebahagiaan itu. Dengan senyuman, Dristi menerimanya dan segera meneguk beberapa kali. Setelah mengucapkan terima kasih, Dristi memutar tubuhnya dan berniat untuk pulang sendiri. Tapi pergerakannya membeku ketika Fakhir mengucapkan kalimat yang membuatnya diam tak bergeming.
“Dris, kenapa lo begitu tertutup?”
Dristi tidak berbalik, namun dia tetap berdiri membelakangi Fakhir.
“Apa lo punya suatu trauma akan suatu hubungan?” tanyanya lagi. Kali ini, Dristi menggeleng.
Fakhir berjalan mendekati Dristi dan mengambil tangannya. Menariknya agar berbalik menatap dirinya yang ingin membicarakan semua yang telah ia pendam sejak dulu. Sejak pertama kali bertemu Dristi. Tentang perjuangan yang sudah ia lakukan sejak setahun yang lalu. Tentang perasaannya.
Tatapan dalam itu dimengerti oleh Dristi. Dengan perlahan, ia merenggangkan genggaman tangan Fakhir. “Gue pulang dulu, ya.”
Melihat reaksi dingin Dristi membuat Fakhir menghela napas frustrasi. Dia bahkan belum mengucapkan apa-apa, tapi Dristi sudah menolak untuk mendengarnya. Tak bisakan dia mendengar ucapan kata yang ia sendiri yakini tidak akan mendapatkan jawaban positif?
“Dris, gue suka sama lo,” suara pelan namun tegas membuat gadis itu kembali terdiam. Matanya tak lagi mengarah pada sembarang tempat karena sekarang sudah terfokus pada sosok Fakhir yang juga memandangnya dengan sorot penuh keseriusan.
“Udah dari dulu, sejak kita pertama kali ketemu gue udah tertarik sama lo. Selama setahun ini, gue udah berjuang buat dapetin lo,” Fakhir mengambil tangan Dristi lagi, dan kali ini menggenggamnya erat. “Kalo lo punya luka yang bikin lo nggak bisa buat memulai suatu hubungan, gue bakalan berusaha untuk mengobatinya. Gue janji, gue nggak akan ngecewain lo. Gue akan jaga diri lo baik-baik, seperti gue menjaga diri sendiri.”
Dristi tidak tau harus berkata apa. Dia memang tidak pernah memiliki luka dalam menjalani suatu hubungan. Tapi, melihat orang tuanya yang berpisah memang membuatnya takut. Dia takut tersakiti. Dia takut terkhianati seperti ibunya yang menangis tiap malam. Ibunya yang hanya berdiam diri ketika sadar ayahnya berkencan dengan wanita lain, yang tak lain adalah ibu Nata. Dia benar-benar takut kalau hal itu akan menimpanya.
Kalau ayahnya berpikir Dristi pengertian karena menerima keputusan mereka dan tidak merengek seperti Razka, dia salah besar. Dampak terburuk dialami oleh Dristi. Kalau Razka masih bisa mencoba untuk memulai suatu hubungan, Dristi tidak berniat sedikit pun akan hal itu. Di benaknya selalu terlintas, mereka yang telah mengikat janji suci secara hukum dan agama saja bisa mengkhianati pasangan sehidup sematinya, bagaimana dengan seseorang yang hanya memiliki status sebagai seorang pacar? Apa hanya dengan janji yang mereka ucapkan, bisa menjamin hati mereka tidak akan berubah? Cinta manusia itu selalu berubah, tidak kekal. Itulah yang ia pelajari setelah melihat fenomena di lingkungan sekitarnya.
Dia tidak membenci ayahnya yang mengkhianati ibunya atau mendukung perilaku buruknya. Dia tinggal bersama ayahnya karena dia yang paling dekat dengan ayahnya. Dia sayang, sayang sekali dengan ayahnya sampai-sampai bersikap buta dan tidak menghiraukan apa pun. Dia menjalani kehidupan seperti semua baik-baik saja.
Padahal sebenarnya, semua terasa menyakitkan.
Tatapan Dristi berkaca-kaca, dia menggingit bibir bawahnya dan bersiap untuk melontarkan penolakan. “Gue ...”
“Jangan jawab sekarang,” Fakhir memotong ucapan Dristi. “Gue harap lo pikirin baik-baik semuanya.”
Dristi mengangguk patuh, kemudian dengan lembut Fakhir mengusap puncak kepala Dristi. Gadis itu tau sekali, Fakhir adalah pemuda baik yang ia yakin tidak akan melukai hatinya. Tapi tetap saja, ia masih ragu ...
“Gue boleh anterin lo pulang?”
Pertanyaan Fakhir memang diselingi dengan senyumnya yang manis, tapi matanya berkata lain. Pemuda itu terlihat sangat rapuh dan tersakiti. Dia terlihat sangat sedih, padahal Dristi belum berkata apa-apa. Untuk kali ini, yang terakhir kalinya, Dristi akan menerima tawaran Fakhir.
☀☀☀
[❤] Dilara Dristi Retisralya, aku kehilangannya.
35c ago, Indonesia
Dristi mengernyitkan kening saat membaca post di Secret. Maksudnya apa? Kehilangan apa? Diantara Nata dan Fakhir, siapa yang kehilangan apa? Atau, mereka kehilangan dirinya? Tunggu. Kalau itu benar-benar memiliki maksud kehilangan dirinya, artinya, orang yang selama ini memberikan pesan padanya adalah... Fakhir?
Tapi, mana mungkin itu Fakhir. Dari awal, Fakhir selalu mendekatinya secara terang-terangan. Lalu, kalau bukan Fakhir, artinya ..., Nata?
Ahh, Dristi bingung. Dia memijit keningnya yang terasa berat. Sejak pulang tadi, ia bersin tiada henti. Telapak tangannya beralih menyentuh tenggorokannya yang terasa panas. Mungkin dia harus mandi agar terasa lebih segar. Perlahan, ia melepaskan cincin yang ditemukannya di ruang kesehatan dan meletakkannya di atas meja.
Matanya sempat melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam. Dia sendirian di rumah. Nata dan ayahnya, belum pulang.
Setelah mandi, dia bukannya merasa segar. Kepalanya justru berkunang-kunang tapi ia tetap berjalan ke arah dapur. Dia bersin berulang kali, membuatnya kesal karena proses membuat s**u hangatnya terganggu. Setelah s**u panasnya siap, gadis itu duduk di meja makan. Hanya diam, memandangi cairan putih kental yang masih beruap. Telapak tangannya mengusap bagian luar badan gelas, terasa hangat. Baru satu kali menyesap, kepalanya terasa sangat berat.
☀☀☀
Nata membuka pintu rumah dengan perlahan. Sudah jam sembilan malam dan dia baru sampai rumah. Apa ayah Dristi akan memarahinya? Semoga dia tidak ketahuan dan bisa masuk kamarnya dengan cepat. Sebenarnya bukan itu saja yang dikhawatirkannya saat ini. Dia juga merasa bingung ketika memasuki rumah benar-benar dalam keadaan sepi. Di mana Dristi dan ayahnya?
Keningnya berkerut dalam seraya melangkahkan kaki menuju dapur. Dia lapar, dan belum makan apa pun sejak siang tadi. Tapi yang dilihatnya ketika memasuki ruangan dengan warna cokelat yang mendomiasi membuatnya terkejut bukan main. Dristi terduduk dengan kepala terkulai lemah di meja, matanya terpejam dan helaan napas yang terputus-putus serta berat membuat Nata berlari mendekat.
“Dristi?” dia mengguncang pundak gadis itu, tapi tak ada jawaban. “Dris, lo kenapa tidur di si... demam,” gumamnya ketika sadar suhu tubuh Dristi yang tinggi.
Dengan cepat, ia mengangkat tubuh Dristi. Gadis itu sempat membuka matanya dan melihat Nata yang mendekapnya erat. Hal yang pertama dirasakannya ketika membuka mata adalah dingin. Jadi, yang dilakukannya adalah merapatkan diri pada Nata. Berharap suhu hangat pemuda itu akan menular padanya. Membuatnya nyaman.
“Nat ..., lo baru pulang?” tanyanya dengan suara rendah.
Nata menunduk dengan wajah khawatir. Matanya melihat handuk kecil yang tersampir di bahu gadis itu. Dengan perasaan campur aduk, Nata mendorong pintu kamar Dristi untuk membaringkannya di ranjang.
“Kenapa sih nggak pernah peduli sama diri sendiri?!” suara Nata naik setengah oktaf. Tapi itu tidak membuat Dristi takut karena bersamaan dengan bentakan itu, Nata menarik selimutnya dengan lembut hingga batas dagunya.
“Lo dari mana, Nat?”
“Sekolah,” Nata berdiri tegak memandangi Dristi. “Udah makan belum?”
Dristi menggeleng. “Nggak kepengen makan.”
Mendengar penolakan dari Dristi membuat Nata menggeleng gemas. Dia berdecak sebal kemudian berbalik arah, meninggalkan Dristi yang hanya diam memandangi langit-langit kamarnya yang terdapat berbagai macam bentuk hiasan yang tergantung di beberapa sudut. Merasa pusing, dia menutup matanya pelan.
Meski dalam keadaan setengah sadar, samar-samar ia mendengar derap langkah kaki mendekat. Dia menebak, itu pasti Nata. Ayahnya belum pulang karena lembur. Beberapa saat kemudian, ia merasakan Nata duduk di lantai tepat di sebelahnya, memaksa matanya untuk terbuka dan memerhatikan Nata yang meremas handuk kecil basah. Tak ada pembicaraan diantara mereka, hanya hening diiringi suara tetesan air dari handuk masuk ke baskom.
Mata Dristi sangat berat, membuatnya kembali menutup. Beberapa detik kemudian, ia merasakan sensasi kulit Nata yang menyentuh permukaan kulit wajahnya. Pemuda itu menyapu rambut Dristi yang menutupi sebagian keningnya dan meletakkan handuk hangat di sana.
“Makasih, Nat...” bisiknya pelan.
Nata menghela napas. “Siapa coba yang sebelumnya nggak pengen direpotin?” Dristi tertawa kecil saat ingat malam ketika Nata minta dibuatkan bubur karena tenggorokannya sakit. “Sekarang malah elo yang repotin gue. Dasar.”
“Maaf ...,” Dristi melirik Nata yang menatapnya dengan sorot khawatir bercampur lega. “... Dan terima kasih.”
Nata mengangguk singkat dan mengetuk puncak kening Dristi yang tertutupi handuk. “Tidur, gih. Gue mau buatin makanan dan ke apotik dulu.”
☀☀☀
Nata melirik jam dinding dan memerhatikan jarum pendeknya yang berada di angka sebelas. Dristi sudah terlelap, namun demamnya belum turun dan memaksa Nata untuk tinggal di sisi gadis itu. Dia menghela napas berkali-kali, mengganti handuk kompresan dan juga mengusap punggung gadis itu dengan perlahan ketika Dristi mengerutkan kening, hanya sekedar ingin menenangkannya.
Dalam keheningan, Nata memandangi Dristi dengan intens. Gadis yang biasanya terlihat kuat kini dalam keadaan sakit. Membuat Nata ingin berada di sampingnya sepanjang malam. Menemaninya hingga sembuh. Tapi, bagaimana pun juga, hal itu tidak boleh dilakukan. Apalagi dia tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan Dristi. Ah, dia lupa. Sebentar lagi kan, mereka akan menjadi saudara.
“Cepet sembuh Dris,” bisik Nata seraya mengusap pipi gadis itu.
Tanpa disadarinya, di balik pintu kamar Dristi yang tidak tertutup rapat ada seseorang yang memerhatikan tingkah Nata selama lima belas menit terakhir.
Ayah Dristi menghela napas, sadar bahwa sorot dalam Nata pada anak gadisnya memiliki arti selain persaudaraan. Tangannya terkepal, merasa jahat karena membuat anak dari orang yang dicintainya memiliki rasa yang seharusnya tak ada. Dan ia merasa gagal menjadi ayah yang baik. Harusnya dari awal, Nata tidak pernah dibawa ke rumah ini.
Setelah berbagai pertimbangan, ayah Dristi mendorong pelan pintu kamar anak gadisnya. Membuat Nata menoleh dan segera berdiri tegap ketika melihat orang yang masuk ke kamar Dristi.
“Malam, Oom. Baru pulang?” tanya Nata sopan.
Pria paruh baya itu mengangguk dan tersenyum. “Jangan panggil pake sebutan itu lagi ya, Nata. Sebentar lagi kita kan jadi keluarga,” matanya melirik Dristi yang terlelap, seperti mengingatkan Nata akan hubungan yang akan mereka jalin. Sebagai ayah-anak dan juga tentunya, bersaudara dengan Dristi.
“Jadi panggil saya Papa aja ya, Nata?” tanya ayah Dristi dengan senyum lebar.
Nata mematung. Dia mengangguk samar, sadar bahwa sesuatu yang ia ingin perjuangkan tidak akan pernah bisa ia mulai. Mungkin selamanya, perasaan dia akan tetap mengendap dalam hati dan hanya waktu yang bisa menjawab.
Melihat Nata yang sepertinya mengerti akan maksud tujuan yang ia inginkan, ayah Dristi berjalan mendekati putrinya dan mengusap pipinya dengan sayang.
“Kamu boleh kembali ke kamar, Nata. Dristi biar Papa yang urus.”
Nata terkesiap. Dia mendapatkan penolakan, bahkan sebelum berhasil menyatakannya.
“Iya, Pa. Nata masuk kamar dulu ya,” sambut pemuda itu dengan suara bergetar sebelum benar-benar keluar dari kamar Dristi dan masuk ke dalam kamarnya.
Dia sadar, perasaannya ini salah dan harus dibuang.
☀☀☀