fifth clue: 2 for rain

2142 Words
Nata menyentuh kalung berbandul cincin dengan garis hitam yang menjadi hiasannya. Dia menghela napas, memandangi langit-langit kamar tamu di rumah Dristi. Tubuhnya berguling ke kanan, kemudian ke kiri, dan begitu seterusnya berulang kali hingga ia terduduk lalu mengacak rambut frustrasi. Sudah jam duabelas malam dan dia belum juga bisa tertidur karena ucapan ayah Dristi tadi. Apa itu artinya, dia telah menyadari perasaan Nata pada anak gadis satu-satunya itu? Iya, pasti begitu. Seharusnya Nata tidak perlu duduk terlalu dekat dengan Dristi. Dengan begitu, ayah Dristi tidak akan curiga dengan perilakunya. Ah, memangnya tadi dia melakukan apa sih, sampai ayah Dristi menyadari perasaannya? “s****n, s****n, s****n!” dia membungkukkan badan, memekik tertahan dengan amarah bercampur kalut. “Kenapa kita harus jadi sodara, sih ....,” dia berjeda, memandang langit gelap tanpa bintang lewat jendela kamar yang belum ditutup gordennya. “.... seandainya aja orang tua kita nggak pernah kenal. Pasti itu akan lebih mudah.” Nata mengambil ponsel dan menyentuh layarnya, membuka kunci sampai ia menemukan pesan ibunya lewat w******p. Mom: Nata sayang, selamat ulang tahun. Mom: sukses ya sayang. Lancar sekolahnya. Dan jangan lupa kenalin pacarmu ke Mama. Mom: ngomong-ngomong, apa besok kamu punya waktu? Mom: Mama ingin bertemu, kangen deh sama anak Mama yang ganteng ini. Nata tersenyum kecil membacanya. Nata: besok ketemuan di tempat biasa ya, Ma. Nata: setelah Nata pulang sekolah, gimana? Mama bisa? Mom: bisa dong, sayang. ☀☀☀ Nata turun dari motornya, berjalan menuju pintu masuk dan tak sengaja matanya melihat seorang wanita paruh baya yang tengah tersenyum. Bukannya sedang tersenyum karena perkataan seseorang, tapi dia asik sendiri dengan pikirannya. Jelas, wanita itu sedang sendirian menunggu Nata. Menunggu anak satu-satunya yang sangat disayanginya. Padahal Nata sudah berada tak jauh dari ibunya tapi ia tetap asik pada lamunannya, dan sesekali bersenandung kecil. “Yang mau nikah seminggu lagi kayaknya bahagia banget sih,” Nata duduk tepat di depan ibunya, membuat beliau kaget dan langsung tersenyum sumringah mendengar kalimat anaknya. “Seneng dong, Nat.” Ibunya nyengir lebar lalu menyesap kopi hitamnya. “Sekolah kamu gimana? Baik-baik aja, kan?” Nata mengangguk, bersandar dan menghela napas. Memerhatikan ibunya yang sudah memanggil pelayan dan memesankan minuman untuk Nata. Senyuman lebar itu baru pertama kali dilihatnya semenjak kematian ayahnya. Lebih tepatnya, senyuman itu hadir sejak ibunya bertemu dengan ayah Dristi. Biarlah orang mengatakan ibunya ini adalah wanita perusak rumah tangga orang lain. Nata tidak peduli. Karena yang menjadi prioritas utamanya adalah kebahagiaan ibunya. “Kamu betah tinggal di rumah yang sekarang?” tanyanya tiba selesai memesan minuman Nata. Nata mengangguk. “Betah kok, Ma. Oom sama Dristi orangnya baik banget.” Nata seneng Ma bisa liat Dristi tiap waktu, bisiknya dalam hati. “Oh ya, Dristi temen sekelas kamu, kan?” pertanyaan itu dihadiahi anggukan kepala. “Terus temen-temen sekelas tau kalo kalian bakalan jadi ... sodara?” tanyanya hati-hati. Hanya senyuman dan gelengan kecil yang diberikan Nata. Beberapa saat kemudian, pesanannya datang dan Nata hanya bisa diam memandangi minuman berwarna kecoklatan itu. Dia menghela napas, begitu banyak pikiran tentang Dristi. Apalagi ucapan ayah Dristi tadi malam. Iya sih, dia mengerti sekali. Lagipula ayah Dristi dan Nata memiliki tujuan yang sama. Ingin membahagian satu orang yang sama, ibu Nata. Uh, bukan berarti ayah Dristi tidak mau membahagiakan anaknya. Hanya saja, Dristi memang tidak memiliki perasaan lebih terhadapnya. Lagipula ini hanya cinta anak SMA yang bisa berubah kapan pun. Perjalanan mereka masih panjang. Dristi dan Nata akan bertemu dengan banyak lawan jenis di kemudian hari. Intinya, tidak sebanding dengan cinta orang tua mereka yang sudah serius. “Dristi bahkan bersikap cuek Ma. Kalo di sekolah, kita sepakat untuk nggak kenal satu sama lain.” Ibu Nata merasa kasihan melihat anaknya yang dicuekin seperti itu. “Mau Mama bicarain sama Dristi?” “Nggak usah lah Ma,” Nata tertawa sumbang. “Kalo Dristi udah bisa nerima aku sebagai sodara, nanti dia pasti bakalan bilang sendiri ke anak-anak.” Ibu Nata hanya tersenyum singkat kemudian mengeluarkan bingkisan dan menyerahkannya pada Nata. Hadiah ulang tahun, dia bilang. Awalnya Nata menolak karena dia sudah cukup besar dan tak perlu diberikan hadiah, tapi Ibunya tetap saja memaksa Nata untuk memakai jaket barunya itu. Melihat hadiah baru yang ia dapatkan membuat Nata teringat akan suatu hal. “Mama, maaf ..., cincinnya ilang.” Ibu Nata mengangkat wajahnya. “Cincin couple pas Mama sama Papa pacaran dulu itu?” tanyanya, diberikan anggukan ragu oleh Nata. Banyak kenangan yang tersimpan dalam cincin itu. Tentang perjuangan ayah Nata mendapatkan restu dari orang tua ibu Nata. Tentang pertengkaran mereka. Tentang bagaimana mereka kembali bersama. Matanya menangkap rantai kalung di leher Nata. Cincin milik mendiang ayahnya itu memang dijadikan kalung oleh Nata. “Yang ilang punya Mama, ya?” Nata mengangguk samar, kemudian memandangi ibunya dengan perasaan bersalah. "Nata pasti bakalan nemuin, Ma. Nata janji.” Ibunya menepuk punggung tangan Nata dan mengusapnya perlahan. Cahaya matahari yang merembes masuk melalui kaca besar di sisi mereka memperjelas wajah Nata yang terlihat sangat bersalah. “Nggak apa kok, Nat. Nanti kalo udah ketemu juga, bakalan kamu kasih ke orang yang kamu sayang, kan?” senyum manis itu tercetak jelas di wajah ibunya. “Jadi nggak perlu minta maaf sama Mama. Itu kan udah kepunyaan kamu. Mama ngasih itu ke kamu,” dia berjeda, mengambil napas. “Tapi janji ya, Nata harus nemuin cincin itu, oke?” Nata mengangguk patuh. Awalnya, dia ingin memberikan cincin itu pada Dristi. Jujur saja, Nata sudah memendam perasaannya pada Dristi sejak setengah tahun yang lalu. Tepat ketika ia ingin mendekati Dristi, ibunya malah memperkenalkannya sebagai calon saudara tiri. Miris. “Nata nggak akan ngasih cincin itu ke siapa-siapa untuk waktu dekat ini, Ma.” “Lho. Bukannya kamu bilang sama Mama, kamu lagi naksir seseorang, ya? Mama pikir kalian udah jadian.” Nata hanya tersenyum masam. Bagaimana bisa jadian? Orang yang disukainya adalah anak dari ayah tirinya kelak. Ah, mungkin ini memang saatnya Nata harus menyerah. “Ah! Mama harus balik ke kantor sekarang,” seru ibunya kemudian bangkit dan mengecup puncak kepala Nata singkat. “Kamu hati-hati ya. Mendung, tuh. Jangan ngebut-ngebut bawa motornya.” Nata hanya mengangguk dan memandangi punggung ibunya yang semakin kecil. Punggung seseorang yang selalu mengerti dirinya. Yang selalu berada di sisinya. Satu-satunya yang ia miliki di dunia setelah kepergian ayahnya. ☀☀☀ Hari buruk untuk Nata. Motornya mogok dan terpaksa dia tinggal di parkiran cafe untuk diambil petugas yang sudah ia telpon. Dia tidak bawa payung. Hanya jaket berhoodie hadiah ibunyalah yang bisa ia pakai. Dia berjalan di trotoar, matanya memerhatikan orang-orang yang berlari mencari tempat perlindungan dari hujan. Hanya dia yang berdiam diri di bawah guyuran hujan yang deras. Semakin deras, namun membuat Nata semakin nyaman. Dia bahkan mendongak ke arah langit, merasakan tetesan air hujan yang menampar wajahnya. Paling tidak, tamparan air ini bisa sedikit menyadarkannya bahwa ia hidup dalam kenyataan. Dia harus bisa melepaskan apa yang tidak pasti demi mendapatkan kebahagiaan untuk orang sekitarnya. Dalam hal ini adalah ibunya. Kalau Dristi memiliki rasa yang sama padanya, dia pasti akan mencoba untuk memperjuangkan hubungan mereka. Tapi sayangnya Dristi tidak memiliki perasaan itu. Beberapa orang yang berlari menabrak pundak Nata, membuatnya terhuyung dan terduduk di trotoar. Dia seperti tidak punya tenaga saat ini. Dia menghela napas, merasakan matanya memanas dan tidak tau apa air matanya mengalir atau tidak. Seluruh wajahnya basah. Air yang sebelumnya mengenai kepala Nata kini sudah tidak terasa. Ia mendongak, mendapati Dristi menatapnya tanpa ekspresi berarti. Gadis itu memayungi Nata, membiarkan dirinya sendiri basah terkena air hujan. Tapi tatapan Nata teralih pada jari tengah Dristi. Itu... Cincin yang ia cari sejak kemarin. Satu-satunya alasan mengapa ia pulang terlambat kemarin malam. Keningnya berkerut, memikirkan bagaimana bisa cincin itu berada di tangan Dristi? Tapi kemudian sadar bahwa gadis di depannya ini belum sembuh betul dari demamnya. “Dristi!” Nata bangkit dari duduknya dan menyambar payung Dristi. Berbalik memayungi gadis itu. “Kalo lo sakit lagi, Papa lo bisa ngamuk sama gue.” Dristi terkekeh. “Nggak lah. Gue yang sakit kenapa elo yang kena marah, coba. Lagian, ngapain sih duduk di pojokan kayak pengemis gitu?” “Lagi pengen menyendiri aja,” sahut Nata seraya menyapu air yang mengenai pundak dan kepala Dristi. “Lo baru balik dari sekolah?” tanyanya sembari mengajak Dristi untuk berjalan di sisinya. Dristi mengangguk singkat kemudian melirik Nata. “Kemarin ..., Fakhir nembak gue.” Pegangan Nata pada payung Dristi menguat. Fakhir sudah menyatakan perasaannya pada Dristi? Lalu, apa jawaban Dristi? Apa mereka akhirnya jadian? Bisa jadi sih, Fakhir kan baik banget dan mereka juga keliatan deket. “Trus kalian jadian dong?” “Enggak,” Dristi menggeleng. “Baru banget gue nolak dia, hehe.” “Kenapa? Gue pikir, lo suka sama dia.” Ada kelegaan di hati Nata ketika tau Dristi Menolakny. Tapi percuma juga sih, toh dia tidak akan bisa bersama dengan gadis ini. “Dih, kata siapa?” Dristi mendelik. “Gue tuh cuma nganggep dia temen, nggak lebih.” “Jadi ..., lo nolak dia karena udah punya seseorang di hati lo?” “Kata-kata lo menggelikan banget, Nat.” Dristi tertawa lebar, membuat pundaknya naik turun. Dan Nata, tersenyum dalam hati. Dia senang melihat Dristi yang tertawa seperti ini. Membuat hatinya hangat. Mengesampingkan fakta bahwa mereka akan menjadi saudara, Nata melingkarkan tangannya di pundak Dristi dan menariknya mendekat. Merapatkan tubuh mereka. “Ih, eh, ngapain ih, basah tauuu,” Dristi menggeliat dalam rengkuhan Nata, tapi pemuda itu tidak menggubrisnya sama sekali. “Nataaa! Jangan kayak gini ih. Nanti kalo ada temen sekelas yang liat, mereka bisa salah paham.” “Ya tinggal jelasin aja sih kalo kita ini bakalan jadi sodara,” Nata tersenyum masam. Inginnya sih dia menjadikan Dristi sebagai pacar. “Seminggu lagi lho pernikahan orang tua kita.” Untuk kali ini aja, Dristi. Sebelum kita menjadi saudara, gue pengen nunjukkin sedikit perasaan gue, batinnya. “Sodara, ya ...,” Dristi menghela napas kemudian memandang Nata. “Kalo gitu, kita harus nentuin siapa yang bakalan jadi kakak. Lo lahir bulan apa?” “Bulan ini, Februari,” sahut Nata malas. “Bulan ini? Udah lewat apa belum?” “Kenapa emangnya? Mau ngasih kado?” Dristi mendecih. Dia memandang arah lain dan bersenandung. Mereka masih saling merekat, tidak ada niatan untuk melepaskan. Baik Nata, atapun Dristi. Lagipula, payung ini terlalu kecil untuk mereka berdua. Tubuh Nata yang basah tidak membuat Dristi risih, tapi membuatnya bersin. “Eh, sorry,” Nata melepaskan tangannya dan membiarkan Dristi berjarak darinya. “Ayo buruan pulang.” Dristi mengangguk kemudian berjalan agak cepat ketika memasuki komplek perumahan mereka. Nata sudah tidak berdiri di bawah payung Dristi, dia memilih untuk jalan di belakang gadis itu. Hanya untuk memandanginya. Hujan sudah tidak sederas tadi tapi, hatinya masih bergemuruh. Sesampainya di rumah, Dristi langsung berjalan masuk ke dalam kamar. Tapi baru saja ia sampai di depan pintu kamar, Nata menahan tangannya. Membuatnya menoleh dengan kening berkerut. “Kenapa, Nat?” “Umm,” Nata tampak gugup. “Cincin di tangan kanan lo, bagus.” Kening Dristi semakin berkerut. Bingung juga kenapa Nata tiba-tiba menanyakan soal cincin. Cincin yang ia temukan di ruang kesehatan kemarin. “Ini sebenernya bukan punya gue. Kemarin gue nemu di kasur UKS. Sebenernya gue udah bilang sama Bu Nada buat ngumumin tentang benda ilang. Tapi sampe sekarang kok, nggak ada kabar ya. Yang punya pasti nyariin banget deh.” Ah, Nata lupa mencari cincin itu di ruang kesehatan. Saat Dristi sakit tempo hari, dia memang mengunjungi gadis itu. Tapi hanya sebentar dan saat itu tidak ada siapa-siapa di sana. Dristi pastinya tidak tau kalau cincin yang dikenakannya sekarang adalah milik Nata. Cincin couple peninggalan orang tuanya. Cincin yang memang sudah direncanakannya untuk diberikan pada Dristi. “Lo tau sendiri Bu Nada orangnya lupaan,” Nata tersenyum. Senang karena cincin yang dicarinya sudah berada di tangan orang yang tepat. Beberapa saat mereka dalam keheningan, suara pintu yang dibuka paksa membuat keduanya menoleh ke arah pintu utama. Ayah Dristi datang lengkap dengan pakaian kantornya. Wajahnya benar-benar pias. “Pa? Kok udah ...” pertanyaan Dristi terpotong karena ayahnya sudah berdiri di depan Nata. Menyentuh kedua pundak cowok itu dengan tatapan tajam. “Nata, dengerin Papa baik-baik.” Nata memandang ayah Dristi dengan kening berkerut. Lalu saat mendengar ucapan pria paruh baya itu, Nata langsung berlari keluar rumah. Dia seperti mati rasa. Dia ingin ucapan ayah Dristi hanyalah kebohongan belaka. Dia tidak mau mempercayainya, tapi melihat sorot ketakutan serta kekhawatiran yang terpancar bersamaan di mata ayah Dristi membuatnya yakin bahwa ia tidak berbohong. “Mama kamu kecelakaan, Nat.” - - - [2❤] Hujan kali ini membawa sedikit kebahagiaan untukku, Dilara Dristi Retisralya. 20m ago, Indonesia apihijau - hujan itu bisa menyamarkan tangisan #eaaa bolamerah - ada anak alay di atas gue kapalungu - gue perhatiin nama cewek ini selalu muncul deh akhir-akhir ini. Siapa sih dia? tasduitkuning - cari di google aja, ntar juga nemu ☀☀☀
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD