Kematian Seryl
"Apa?" ucap Shilla dengan mata terbelalak, tubuhnya mendadak lunglai saat mendengar kabar yang menghancurkan hatinya: saudari kembarnya, Seryl, telah meninggal dunia. Tangannya gemetar hebat, seolah dunia berputar terlalu cepat untuk bisa ia pahami.
Di dalam rumah, suara isak tangis mengisi udara, menghantam dinding-dinding yang sebelumnya dihiasi senyum dan tawa. Shilla dengan langkah tertatih masuk ke dalam, menuju sang ibu, Dinda. Wanita paruh baya itu sudah beberapa kali pingsan sejak mendengar kabar pilu tersebut, tubuhnya lemah dihimpit kesedihan yang tak terperikan. Sementara di pojok ruangan, Ghani, sang ayah, duduk termenung. Wajahnya pucat, mata kosong, seakan dunia di sekelilingnya memudar.
Dihadapannya, jasad Seryl terbujur kaku di dalam peti jenazah, dihiasi bunga-bunga yang tadinya disiapkan untuk pernikahannya esok hari. Pernikahan yang tak akan pernah terjadi.
Ruang yang tadinya penuh dengan dekorasi pernikahan kini berubah menjadi arena duka yang sunyi dan mencekam. Kursi-kursi yang berjejer rapi di halaman rumah tak lagi menyimpan janji kebahagiaan, melainkan saksi bisu akan kehilangan yang tak terduga.
Ghani tetap tak bergerak, matanya menatap lurus pada putrinya yang telah tiada. Sorot matanya begitu hampa, seakan tak mampu menerima kenyataan yang menamparnya. Di luar, keramaian dan canda tawa yang semula memenuhi rumah ini sirna dalam sekejap, menyisakan sunyi yang memekakkan telinga.
Para pekerja yang tadinya sibuk menyiapkan pesta pernikahan kini berdiri diam, turut merasakan kedukaan yang mendalam. Semua harapan keluarga Ghani, yang bertumpu pada pernikahan Seryl dengan Xander, seorang pengusaha kaya yang dijanjikan akan mengangkat derajat keluarga, hancur berkeping-keping. Ghani hanya mampu menyandarkan tubuhnya pada kursi plastik, menahan berat beban yang menumpuk di dadanya.
Di dalam, suara doa dan lantunan ayat-ayat suci terus mengalir, seolah menjadi pelipur duka yang dalam. Shilla, masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini, memilih tenggelam dalam doa, mencari ketenangan di tengah lautan kesedihannya.
"Shodaqallahuladzim," suara lembut Shilla mengakhiri bacaannya. Ia mendongak, menatap langit-langit yang seolah semakin menekan jiwanya.
"Shilla," suara Ghani terdengar, berat dan serak. Ia memanggil putri kembarnya itu dengan wajah yang semakin tirus dan serius.
"Iya, Ayah," jawab Shilla, nadanya penuh hormat, meski hatinya tersayat oleh kesedihan yang terus menghantuinya.
Ghani menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca. Di hatinya, pergulatan antara kewajiban dan cinta seorang ayah bertempur hebat. Bagaimana ia bisa menjelaskan keputusan yang akan ia sampaikan?
"Nak..." Suara Ghani tertahan, tercekik oleh salivanya sendiri. "Demi kita semua, besok, dengan berat hati, Ayah akan menikahkanmu dengan Xander."
Kalimat itu jatuh seperti bom di telinga Shilla. Ia terhenyak, tak percaya apa yang baru saja diucapkan oleh ayahnya. Menikah? Dengan Xander? Menggantikan Seryl? Hatinya menjerit, tetapi mulutnya terkunci rapat. Shilla tahu, ini adalah pertama kalinya ayahnya meminta sesuatu darinya—dan ia tak mungkin menolak.
"Baik, Ayah," jawab Shilla dengan suara bergetar. "Jika ini adalah restu Ayah, Shilla bersedia." Ucapannya terasa asing di telinganya sendiri, seolah ia tak sedang berbicara.
Malam itu, di antara kepedihan dan kebingungan, Shilla terlelap dalam tidur yang singkat dan penuh mimpi buruk. Sebuah pesan terakhir dari Seryl terus terngiang di kepalanya: percakapan mereka tentang Xander, tentang masa depan yang kini hilang bersama nafas terakhir saudari kembarnya.
Di kamar lain, ketegangan memuncak. Ghani dan Dinda terlibat dalam pertengkaran hebat. Dinda, yang tak mampu menerima keputusan suaminya, meluapkan segala kesedihannya dengan air mata yang deras.
"Kau sadar, Shilla adalah putri kita satu-satunya sekarang? Dan kau malah ingin menikahkannya menggantikan Seryl! Di mana perasaanmu, Pak?" Dinda menangis keras, bahunya terguncang hebat.
"Bu, tolonglah, jangan seperti ini," Ghani membalas dengan suara yang bergetar, mencoba menahan rasa bersalah yang menghantui hatinya. "Ayah juga tidak mau ini terjadi, tapi kita sudah terlanjur. Semua persiapan sudah selesai, tenda, katering, semuanya. Kalau sampai batal, kita bisa bangkrut, Bu. Darimana kita akan membayar semuanya?"
"Kau gila, Pak!" teriak Dinda, semakin histeris. "Duit bisa dicari, tapi anak kita?! Shilla bisa apa nanti kalau terjadi sesuatu padanya?"
"Ayah akan bicara dengan Xander," ujar Ghani pelan, nadanya pasrah. "Ayah akan menelepon besok."