Menggantikan Menikah

856 Words
Tanah kuburan Seryl masih belum kering, namun pernikahan akhirnya tetap dilaksanakan. Shilla duduk di pelaminan menggantikan sang saudari kembar. Yaa ... orang tua Shilla dan Xander memutuskan pernikahan tetap dilangsungkan-semalam melalui telepon. Tepat pukul delapan pagi, akad nikah digelar dengan suasana khidmat dan sakral. Air mata Shilla perlahan mengalir, bukan karena kecewa dengan pernikahan ini, tapi karena bayangannya tergambar jelas—seharusnya Seryl yang berdiri di tempatnya hari ini, bukan dirinya. Pesta resepsi dibatalkan oleh Ghani, ayah Shilla, dan mertuanya mengingat masa berduka yang masih dalam. Tidak ada undangan besar, hanya beberapa kerabat dekat yang hadir dengan balutan suasana duka, mereka masih merasakan kehilangan atas wafatnya Seryl. Saat siang menjelang, keluarga besar Xander segera berpamitan. Tak terkecuali Xander, yang langsung membawa Shilla pergi. “Ayah, Ibu, aku pamit,” kata Shilla kepada orang tuanya dengan lirih. “Hati-hati di sana ya, Nak. Kabari Ibu kalau ada apa-apa,” sahut sang ibu dengan nada lembut, namun penuh kecemasan. Xander, dengan raut wajah dingin yang sama sekali tak ramah, membuat Shilla mempercepat langkahnya. Setelah menitipkan orang tuanya kepada saudara-saudaranya, Shilla segera masuk ke mobil yang telah menunggunya. Perjalanan berlangsung sunyi. Xander menyetir dengan kecepatan tinggi, membuat Shilla tak kuasa menahan rasa cemasnya. Mobil terus melaju, meninggalkan desa kecil yang selama ini menjadi rumah Shilla dan menuju kota besar yang gemerlap, kota yang hanya ia kenal dari cerita-cerita dan berita di televisi. Di sisi lain, mendiang Seryl sudah lama tinggal di kota itu, bekerja dan membangun kehidupannya sendiri. Tak banyak yang Shilla ketahui tentang pekerjaan Seryl, karena saudarinya itu jarang berbicara tentang hidupnya sejak pindah. Dua jam perjalanan berlalu dalam diam. Xander tetap bungkam, sementara Shilla hanya bisa menahan gejolak hatinya. Mereka melewati jalan tol yang sibuk, kemudian keluar menuju jantung kota dengan gedung-gedung pencakar langit di setiap sudut. Deretan mobil keluarga Xander sudah tiba lebih dulu, meninggalkan Shilla dan Xander dalam perjalanan yang panjang dan tak bersahabat itu. Bangunan-bangunan megah nan menjulang tinggi kini semakin memenuhi ruas kanan dan kiri jalan. Shilla hanya bisa diam, mengikuti perjalanan takdir yang kini membawanya ke sebuah kota besar yang belum pernah sekalipun dikunjunginya. Akhirnya, mereka tiba di kawasan perumahan elite. Xander melambatkan mobilnya di depan gerbang besar yang dijaga ketat. “Sore, Tuan,” sapa satpam di gerbang. Namun, Xander tetap diam. Shilla pun terpaksa menjawab dengan sopan, “Terima kasih, Pak.” Xander melirik tajam ke arahnya, membuat Shilla terdiam. Setibanya di rumah yang luas dan mewah, Shilla masih mencoba menenangkan diri. Namun, perasaannya kian buruk saat Xander mengatakan dengan dingin, “Ini rumah kita.” Tanpa banyak bicara, mereka masuk ke dalam. Xander mulai menaiki tangga menuju kamar, tetapi berhenti ketika menyadari Shilla tak mengikutinya. “Cepat naik! Lambat sekali, kamar kita di sini,” bentaknya. Shilla menelan salivanya berulang kali. Tidak mengira sedikitpun denga perubahan sikap suaminya itu yang begitu drastis. "Masuk!" Ucapan Xander sama sekali tidak ramah, membuat Shilla menahan air mata yang sedang bersiap meluncur dari kedua sudut matanya. Bergegas dia mengikuti langkah Xander. Sesampainya di dalam kamar, matanya tertumbuk pada foto besar seorang wanita yang tergantung di dinding, tepat di atas tempat tidur. "Dia kekasihku. Kalau kau ingin tahu," ucap Xander dingin. "Tidur di sini mulai sekarang. Bajumu ada di dalam." Xander segera meninggalkan kamar, meninggalkan Shilla dengan perasaan hancur. Baru beberapa jam menikah, suaminya sudah mengenalkan wanita lain sebagai kekasih. Hatinya semakin terluka, menyadari betapa pernikahannya ini jauh dari impian—semua terasa seperti mimpi buruk yang mendadak datang. Dengan air mata yang terus mengalir, Shilla sadar dia hanya istri pengganti dalam pernikahan ini. "Apa yang terjadi dengan kalian, Ryl," batin Shilla yang tak habis fikir dengan semua kejadian bertubi ini. Shilla selama ini hanya mendengar bagaimana mulusnya hubungan Seryl dengan Xander, sehingga dia sangat tak menyangka jika pria yang katanya paling mencintai Seryl itu justru tengah bersama wanita lain sedangkan tanah kuburan Seryl pun masih belum kering. Shilla memutuskan untuk menenangkan diri. Setelah berwudhu, ia mencoba mencari ruang untuk shalat di rumah yang besar dan sepi itu. Namun, langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara dari balik dinding kamar. “Aku marah padamu. Kenapa kau menerimanya?” suara seorang wanita terdengar manja, namun penuh rengekan. “Leona, sayang. Jangan marah. Aku hanya menikahi wanita itu selama dua tahun, sampai semua perusahaan kakek beralih ke tanganku. Setelah itu, aku akan menceraikannya. Tenang saja, kau tetap bebas di sini,” jawab Xander. Tubuh Shilla lemas mendengar percakapan mereka. Hatinya terasa tercabik-cabik, menyadari pernikahannya ini ternyata hanyalah formalitas, penuh kepura-puraan. Ia tidak lebih dari pion dalam permainan yang tak pernah ia pahami. Di balik dinding, Shilla berdiri kaku, mendengarkan setiap kata yang mengoyak harapannya. “Aku tak suka dia tinggal di kamar kita. Kau berlebihan memenuhi lemari dengan barang-barang miliknya,” keluh Leona. “Kalau kau tak suka, aku akan memindahkannya ke kamar tamu,” sahut Xander tanpa ragu. “Itu lebih baik. Kalau tidak, aku tak akan bersamamu malam ini,” ancam Leona dengan nada menggoda. Xander tertawa kecil. “Kau tahu aku tak akan sanggup melewatkan malam tanpa dirimu.” Shilla terdiam, menahan isak tangisnya. Nyatanya, ia tak pernah menjadi bagian dari hidup Xander, dan kini harus menghadapi kenyataan pahit yang tak pernah ia bayangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD