Xander terus melangkah menuju kamar di lantai dua bersama Leona. Tubuh Shilla gemetar, emosinya meluap tak tertahankan. Dengan langkah terhuyung-huyung, hampir tak mampu mengendalikan perasaan yang berkecamuk, Shilla berlari mengejar suaminya.
"Tunggu!" serunya dengan suara lantang, membuat Xander menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar.
"Kenapa kau tak diam saja di ruang makan dan jangan menggangguku!" Xander menjawab dingin.
Jantung Shilla serasa berhenti. Ia tak menyangka suaminya sadar akan kehadirannya namun sama sekali tidak peduli. Di depannya, Leona semakin mengeratkan pelukannya dan berulang kali mencium leher kekar Xander.
Shilla tak mencintai suaminya, tapi melihat wanita lain menggerayangi tubuh pria yang sah menjadi miliknya membuat amarahnya meluap.
"Menjauh dari suamiku! Dan kau, Xander, jelaskan pada istrimu ini siapa dia hingga berhak berada di kamar kita," ucap Shilla dengan suara bergetar, sementara dadanya naik turun menahan emosi.
"Kamar kita? Hahaha," Xander tertawa mengejek. Dia kemudian masuk ke kamar, sementara Leona memandang Shilla dengan tatapan menghina.
"Hai, aku Leona. Jadi, kamu anak gembel yang terpaksa dinikahi kekasihku itu?" sindir Leona.
Shilla tetap diam. Dia merasa tak perlu melayani wanita itu. Bagaimanapun, ia adalah istri sah Xander.
"Itu barang-barangmu? Gunakan kamar tamu di lantai dasar dan jangan pernah keluar dari kamar jika aku ada di rumah. Ingat itu!" perintah Xander.
Shilla terdiam. Suaminya sendiri yang mengusirnya dari kamar mereka.
"Ayo sayang, aku sudah tidak sabar. Jangan pakai pengaman ya," bisik Leona manja sambil menarik Xander masuk ke kamar mereka.
Sejenak, Xander terdiam. Ada sesuatu yang tiba-tiba menusuk hatinya saat melihat Shilla memungut pakaian yang dilemparkan ke lantai. Namun, godaan Leona membuatnya mengikuti wanita itu masuk ke kamar.
Di depan pintu, Shilla mengumpulkan barang-barangnya yang berserakan. Semua ini bukan barang miliknya, tapi ia membutuhkannya karena tak membawa apa-apa dari rumah. Langkah Shilla terhuyung-huyung. Baru saja menikah, tapi ia sudah merasa ingin mengakhiri pernikahan ini.
Suara-suara menjijikkan terdengar lantang dari lantai dua. Rumah yang sepi membuat semua desahan dan erangan jelas terdengar. Shilla mencari ruangan di rumah itu hingga menemukan sebuah kamar di bagian kanan.
"Pasti ini kamar tamunya," gumam Shilla sambil membuka pintu. Air mata masih mengalir deras dari sudut matanya. Tapi Shilla tetap berusaha tegar.
"Alhamdulillah," ucap Shilla lega ketika melihat tumpukan alat salat di ruangan kecil pada pojok koridor yang ternyata mushala untuk tamu.
Dengan langkah ringan, Shilla memasukkan barang-barangnya ke kamar, lalu mengambil wudhu dan menunaikan salat Ashar yang hampir habis waktunya.
Setelah selesai salat, Shilla bersin beberapa kali karena debu di mushala. "Nanti aku bersihkan setelah salat," gumamnya dalam hati.
Selesai menunaikan salat Ashar dan qadha Zuhur, Shilla mulai membersihkan mushala. Dalam waktu setengah jam, tangannya yang terampil sukses membuat ruangan itu bersih dan nyaman.
"Rumahnya bagus, peralatannya lengkap, sayang sekali tidak digunakan," pikirnya sambil melanjutkan membersihkan seluruh rumah.
Saat azan Maghrib berkumandang, Shilla berhenti sejenak untuk salat. Setelah itu, ia melanjutkan pekerjaan membersihkannya.
Pukul sebelas malam, Shilla baru selesai. Lapar, ia membuka kulkas dan tersenyum melihat isinya yang penuh makanan. Ia memasak dua porsi mie rebus dengan berbagai tambahan.
"Dia pasti juga belum makan," gumam Shilla sambil menyiapkan dua porsi mie.
Tiba-tiba, pintu kamar Xander terbuka. Pria itu keluar hanya dengan balutan handuk di pinggangnya. Rambutnya yang basah tampak acak-acakan namun memancarkan kesan seksi. Shilla berusaha mengalihkan pandangannya setelah melihat tatapan tajam Xander yang mengarah padanya.
Shilla meletakkan sendoknya dan bangkit dari meja makan saat Xander membungkuk mengambil minuman dari kulkas. Perasaan sakit menyelinap di hati Xander saat melihat sosok Shilla yang sudah jauh di dekat pintu kamar tamu.
Xander terdiam. Dia tidak mengerti apa yang terjadi, tapi melihat Shilla duduk sendirian tadi membuat dadanya sesak. Tatapannya beralih ke meja. Dua mangkuk mie rebus masih mengepulkan asap.
"Dia lapar," gumam Xander. Tanpa pikir panjang, ia duduk dan melahap dua porsi mie yang dibuat Shilla.
"Enak sekali," katanya sambil meneguk minuman.
Xander keluar kamar sengaja saat Leona sudah tertidur. Bagaimanapun, ia tahu sejak mereka tiba, ia mengabaikan Shilla.
Matanya memeriksa sekeliling. Tumpukan piring kotor di wastafel sudah bersih, keranjang sampah kosong. Pria itu berjalan ke belakang rumah dan melihat pakaian kotornya sudah tergantung rapi di jemuran.
"Dia," gumamnya lagi.
Sementara itu, Shilla membaringkan tubuhnya di kamar tamu, menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang kedinginan. Letih dan nyeri di hatinya membuatnya tertidur cepat.
Malam pertama pernikahan yang seharusnya menjadi malam paling indah, bagi Shilla justru menjadi malam sunyi dan menyakitkan. Bahkan, Xander yang biasanya menikmati malam penuh gairah dengan Leona, kali ini merasa tidak nyaman. Wajah Shilla terus terbayang, mengganggu ketenangan Xander.