Katakan Saja Kau Sepupuku

813 Words
Pagi itu, Shilla sudah bangun lebih awal dari biasanya. Ia merapikan rumah dengan tenang, mencoba mengabaikan segala pikiran tentang Xander. Baginya, ini rumah suaminya, dan karena itu, rumahnya juga. Meski hatinya perih, ia merasa berhak melakukan apapun di sini. Setelah menyeduh secangkir kopi, Shilla melangkah ke halaman depan. Taman di sana tak terurus, bunga-bunga kering dan tanahnya mengeras. Ia menatap taman itu, mengingatkan dirinya pada kehidupan lamanya sebelum semua ini berubah. Langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Shilla kembali masuk dan melihat Xander yang sudah siap berangkat kerja. Pakaian rapi dan jas yang elegan membuatnya tampak semakin gagah. Di sampingnya, Leona berdiri dengan penampilan tak kalah anggun, membuat mereka terlihat sempurna bersama. Meski hatinya terasa sesak, Shilla mencoba mengalihkan perhatian dengan membuatkan kopi s**u untuk Xander. Dia tersenyum samar saat meletakkannya di meja, meski di dalam hatinya, ia berjuang keras menahan rasa sakit. "Shilla, ini uang belanjamu untuk minggu ini. Lakukan apa saja di sini yang kau mau," kata Xander sambil meletakkan amplop di meja. "Dan satu lagi, kalau ada yang bertanya, bilang saja kau sepupuku." Shilla hanya bisa terdiam. Ingin rasanya dia bertanya, tetapi suaminya sudah bersiap pergi, menggandeng tangan Leona tanpa memperhatikannya. "Mas..." Shilla mencoba memanggil, tapi suaranya tenggelam. Xander tak menoleh dan terus melangkah keluar, meninggalkan Shilla seorang diri. Jantungnya terasa hancur, tapi dia tahu dia harus bertahan. Demi keluarganya, demi kehormatannya. Shilla mengambil amplop di meja dengan tangan gemetar. "Ya Allah," gumamnya pelan saat melihat isinya. Lima puluh juta. Uang itu membuatnya terkejut, meski rasa sakit hatinya tetap tak bisa hilang. Ia berdoa dalam hati, memohon agar suaminya selalu diberkahi dalam mencari rezeki. Setelah menyimpan uang itu di kamar, Shilla melanjutkan pekerjaannya di taman. Alih-alih terpuruk oleh nasib, ia memilih untuk mengisi harinya dengan kegiatan yang membuatnya merasa lebih baik. Mengurus taman yang terlantar memberinya sedikit ketenangan. Tangan-tangan dinginnya kembali menggemburkan tanah yang kering, seperti dulu saat ia masih mengelola toko bunga. Saat sedang sibuk dengan pekerjaannya, seorang wanita lewat bersama dua rekannya dan bertanya, "Mbak, Anda pembantu baru di rumah Tuan Xander?" Shilla tersenyum kecil. “Bukan, Mbak. Saya sepupu Pak Xander.” "Oh, begitu. Senang kenalan. Aku kerja di rumah sebelah, dia di rumah depan, dan ini di sebelah kiri," kata wanita itu sambil menunjuk temannya. Shilla mengangguk sopan. “Senang bertemu kalian, terima kasih.” “Boleh tahu nomor w******p-mu?” tanya salah satu dari mereka. Shilla tersenyum sambil menggeleng. “Maaf, saya belum punya ponsel.” Ketiganya tampak terkejut, lalu saling berpandangan sambil tersenyum simpul. Shilla hanya tertawa kecil dalam hati, merasa aneh dengan situasi yang dihadapinya. Namun, ada sedikit rasa lega. Setidaknya, dia bisa punya teman baru di lingkungan ini. Dengan perasaan lebih lega, Shilla kembali ke tamannya. Meskipun hidupnya kini penuh luka, ada harapan kecil dalam dirinya. Setidaknya, ia tak akan selalu sendiri. Setelah beberapa saat menghabiskan waktu di kebun, Shilla merasa sedikit lebih tenang. Namun, hal itu tak berlangsung lama. Dari arah depan rumah, beberapa pengawal mendekat dengan langkah cepat. Salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh kekar dengan seragam rapi, menghampirinya. "Maaf, Bu Shilla, Anda diminta segera menghentikan kegiatan di kebun," ucapnya sopan namun tegas. Shilla tertegun, bingung dengan permintaan itu. Ia menatap pengawal itu, mencoba mencari penjelasan. Pengawal tersebut terlihat berbicara dengan seseorang melalui telepon. Shilla tak bisa mendengar percakapannya dengan jelas, tapi ia yakin, dari ekspresi dan sikapnya, orang di ujung telepon adalah Xander. “Ini perintah dari Bapak, Bu. Katanya, Anda tidak perlu repot-repot mengurus kebun ini. Ada tukang kebun yang akan datang untuk merawatnya," lanjut pengawal itu setelah menutup telepon. Shilla merasakan rasa pahit di tenggorokannya. Selalu begini—Xander mengontrol segalanya, bahkan hal-hal kecil seperti ini. Ia tak pernah diberi kesempatan untuk menjalani hidup sesuai keinginannya, meskipun hanya untuk merawat taman yang sudah lama terbengkalai. "Tapi… ini kebun rumahku juga, kan? Aku hanya ingin mengisi waktuku," ujar Shilla dengan suara pelan namun mencoba terdengar tegar. Pengawal itu tampak ragu sejenak, tapi akhirnya ia menggeleng pelan. "Maaf, Bu. Saya hanya menjalankan perintah." Shilla terdiam. Rasa kecewa menyusup ke dalam hatinya, namun ia tahu bahwa berdebat tidak akan mengubah apapun. Seperti biasa, ia terpaksa menelan kepahitan itu. Xander tak ingin dia melakukan apapun yang memberi sedikit kebebasan. Sekali lagi, ia diingatkan bahwa dalam pernikahan ini, ia hanyalah sebuah sosok yang ditempatkan sesuai kehendak suaminya. Setelah para pengawal pergi, Shilla berdiri mematung di depan kebun yang baru saja ia urus. Dalam hati, ia bertanya-tanya apakah hidup seperti ini yang akan terus ia jalani—terkurung di dalam tembok-tembok besar ini, tanpa kebebasan, tanpa harapan. Angin lembut berhembus, menggoyangkan dedaunan di sekitar. Dengan pelan, Shilla menghela napas panjang. Meski sakit, ia menolak untuk menyerah. Setidaknya, ada satu hal yang tidak bisa Xander kendalikan—perasaannya. Dan dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap bertahan, apapun yang terjadi. Di tengah keheningan itu, ia memandang langit, berharap suatu saat nanti, kebahagiaan akan menghampirinya kembali. Lalu suara telepon terdengar berdering dari dalam rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD