Leona Hamil

818 Words
Hari demi hari berganti, bulan pun mulai berlalu. Enam bulan telah berlalu dengan sangat cepat. Xander, setelah menikahi Shilla, kini lebih sering pulang lebih awal dan malas berkumpul dengan teman-temannya, bahkan dengan kekasihnya. Meskipun hubungan antara Xander dan Shilla belum menunjukkan perkembangan yang signifikan, satu perubahan besar terlihat: Xander kini selalu menghabiskan malamnya di rumah. Malam itu, Shilla sedang memasak udang sambal pedas ketika Xander pulang. Pria itu, yang mencium aroma masakan yang menggugah selera, langsung menuju dapur untuk melihat siapa yang memasak. Langkahnya terhenti ketika ia mendapati bahwa di balik aroma lezat itu adalah Shilla, istrinya. "Makan, Mas," ucap Shilla, melihat kedatangan Xander, sambil menawarkan makanan kepada suaminya. Namun, Xander justru berbalik arah dan langsung pergi ke kamarnya. Ada perasaan tersayat di hati Shilla. Perutnya yang sejak tadi sudah meronta meminta diisi, mendadak terasa kenyang, dan selera makannya lenyap. "Aku lupa, bukankah Mas Xander sudah bilang jika aku harus menghindarinya saat dia berada di rumah," gumam Shilla memonolog dirinya sendiri. Setelah mencuci peralatan bekas memasak, Shilla segera kembali ke kamarnya. Sebelum pergi, ia meninggalkan secarik kertas di atas tudung saji untuk Xander. Tak lama kemudian, Xander yang merasa haus berjalan turun ke dapur untuk mengambil minum. Matanya mencari Shilla, namun wanita itu sudah tidak ada di sana. Perhatiannya tertuju pada meja, tempat secarik kertas ditempelkan di atas tudung saji. "MAS, MAKANLAH. MAAFKAN AKU YA." Tulisan tangan Shilla itu membuat hati Xander bergetar. Pria itu kemudian membuka tudung saji dan melihat makan malam yang masih panas dan tampak lezat. Xander memang pulang lebih awal dari kantornya karena terus memikirkan Shilla dan khawatir wanita itu belum makan. Tanpa ragu, Xander menyantap habis udang sambal buatan Shilla. Dia bahkan menambah porsi nasi dua kali. "Kamu jago masak rupanya," gumam Xander memuji dalam hati. Sementara itu, Shilla sedang mengaji di musala kecil. Suara lembut yang keluar dari bibirnya membuat hati Xander berdebar. Setiap ayat yang dilantunkan Shilla terdengar sangat indah, membuat tubuh Xander bergetar. Xander mulai merasa dilematis. Belum pernah sebelumnya ia bisa menolak ajakan Leona. Namun malam ini, untuk pertama kalinya, Xander mampu menolak ajakan Leona untuk keluar hanya demi pulang ke rumah dan melihat Shilla. Sederet pesan dari Leona memenuhi kotak masuk ponselnya, tetapi Xander enggan untuk membukanya, apalagi membalasnya. Hal ini membuat Leona murka dan semakin membenci Shilla. Pada pukul dua pagi, suara klakson mobil berbunyi di luar gerbang rumah mereka, membangunkan Shilla. Ia segera bergegas melihat ke luar dan mendapati seorang wanita yang berusaha masuk ke rumahnya, sementara sekuriti rumah berusaha menahannya. "Hei, gadis kampung! Bangunkan Xander sekarang juga! Dia harus bertanggung jawab atas kehamilanku!" teriak Leona lantang. Shilla hendak masuk untuk membangunkan suaminya, tetapi langkahnya terhenti karena bertabrakan dengan seseorang. "Mas, syukurlah kau sudah bangun. Kekasihmu hamil dan dia menunggu di luar. Sebaiknya ajak dia masuk dan bicarakan baik-baik di dalam," ucap Shilla dengan tenang, meskipun hatinya bergejolak. Xander hanya diam, merasa langkahnya sangat berat. Sementara itu, Shilla merasa tak percaya dirinya mampu berkata begitu lancar kepada suaminya. Ia segera mengambil wudu dan melaksanakan salat hajat untuk menenangkan jiwanya. Air mata mengalir deras tanpa suara setelah Shilla menyelesaikan salatnya. Ia hanya bisa berdoa dan mencoba menerima kenyataan bahwa ia bukanlah wanita yang diharapkan suaminya. "Sadar, Shilla! Siapa kamu, siapa dia. Biarkan saja, toh kau juga menikahinya demi Sherryl," gumam Shilla dalam hatinya, mengenang mendiang saudari kembarnya. Shilla belum pernah mendengar Xander membicarakan Sherryl. Ada yang janggal di antara semua ini. Xander tak pernah menyebut nama Sherryl, meskipun hubungan mereka tampak kuat sebelum Shilla menikah. Sementara Shilla merenung, suara benda pecah terdengar dari ruang tamu. Shilla, yang masih mengenakan mukena, segera berjalan keluar kamar. "Ini semua gara-gara kamu! Dasar wanita munafik, wanita kampungan! Beraninya kau menggoda kekasihku!" teriak Leona sambil menunjuk Shilla. Di depannya, Xander hanya berdiri dalam diam. Lantai ruang tamu kini dipenuhi pecahan guci-guci hias. "Aku hamil, dan kau hanya diam!" Leona berteriak dengan penuh amarah. "Leona, entah kenapa aku sangat tidak yakin bahwa bayi yang kau kandung adalah anakku," ucap Xander dengan raut wajah dingin. "Xander! Jika kau lupa, biar kuingatkan bagaimana kau terus merengek di pelukanku selama ini. Bahkan malam sebelum pernikahanmu, kau masih menikmati waktumu denganku," kata Leona dengan penuh percaya diri. Xander terdiam, sementara Shilla yang merasa emosi meraih surat hasil tes DNA yang tergeletak di meja. Hasilnya jelas, bayi di kandungan Leona adalah anak Xander. Namun, Xander tetap bersikeras menolak mempercayai hal itu. "Mas, surat ini adalah buktinya. Dan kau juga sudah mengakui hubungan kalian," ucap Shilla dengan air mata yang terus mengalir. "Shilla? Aku tidak menghamilinya. Apa kau tidak mempercayaiku?" tanya Xander, merasa sangat tertekan. Sementara itu, Leona tersenyum sinis. Rencananya berhasil. Hanya tinggal mencari cara untuk benar-benar hamil, dan ia bisa menyingkirkan Shilla dari kehidupan Xander selamanya. Xander melangkah mendekati Shilla, mencoba memeluknya untuk menenangkan wanita itu. Namun, Shilla segera menolak. "Jangan, Mas. Jangan sentuh aku," ucap Shilla dengan suara parau. Namun, Xander tak dapat menahannya. Ia memeluk Shilla dengan erat, berharap bisa meredam kepedihan yang dirasakan istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD