Insiden Di Tangga

1003 Words
Shilla tengah mengirisi wortel untuk membuat sup. Sementara daging sendiri sudah tercium menggiurkan aromanya di kompor yang tengah digodoknya. Wanita ini sangat menikmati perannya sebagai seorang isteri meski sejujurnya bagi Shilla ini sama sekali tak membuatnya nyaman. "Paket!" terdengar suara petugas pengiriman paket di gerbang rumahnya berseru. Shilla langsung berjalan keluar untuk mengambilnya. Namun Pak Seto satpam di rumahnya sudah terlebih dulu mengambilkannya. "Paket untuk Leona Bu." ucap Pak Seto kepada Shilla. "Ya sudah pak, antarkan langsung saja sama bapak ya. Kalau saya yang mengantar nanti malah.." ucap Shilla smabil tersenyum dan diam tak melanjutkan lagi ucapannya. "Siap Bu, aman. Jangan diteruskan, saya sudah faham." ucap Pak Seto sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Leona, sejak enam bulan ini selalu mengurung diri di kamar saat siang hari dan baru akan keluar saat Xander datang dari kantor. Mereka kemudian masuk ke kamar dan tak akan terlihat lagi oleh Shilla hingga esok paginya lagi datang. Sementara Shilla, wanita ini menjadi Nyonya babu di rumahnya sendiri. Shilla tak mengeluh, dia sudah menyerahkan segalanya kepada jalan Tuhan yang mengatur hidupnya. Meski sangat sering sekali, Shilla menghabiskan air matanya untuk mendoakan kehidupannya kepada Sang Pencipta. Shilla tak pernah tahu seperti apa keluarga besar suaminya yang hanya ditemuinya saat akad nikah tersebut. Dan sekarang, setelah enam bulan yang panjang dia tinggal bersama Xander, belum sekalipun keluarga dari suaminya datang berkunjung kerumahnya. Sore ini, Shilla masih menyelesaikan cuciannya yang menumpuk karena Leona mengganti semua seprai dan juga karpet-karpet did alam kamar. Sehingga pekerjaan mencuci Shilla kian menumpuk seharian ini. Dengan telaten, Shilla mencucikan semuanya. Leona akan mendapatkan smeua pakaian yang sudah bersih dan rapi setelah disetrika setipa malam di depan pintu kamarnya. "Shilla," ucap Xander yang memanggilnya. "Mas, sudah pulang?" ucap Shilla bertanya karena tak biasanya Xander pulang pada jam seperti ini. Mata Xander bukannya memperhatikan isterinya yang tengah berbciara itu melainkan sibuk melihat tumpukan cucian dan jemuran yang masih basah dibelakang Shilla. "Kamu ngapain nyuci sebanyak ini?" ucap Xander sangat terkejut. Pria ini melihat semua baju dan baju Leona tengah dicuci oleh Shilla, sementara selama ini yang diketahui Xander adalah Leona yang mengerjakan sendiri semua pekerjaan dirumahnya karena Shilla yang marah oleh kehadirannya memilih berdiam diri saja. "Gak apa-apa kok mas, lagian kasihan Leona jika masih harus mencuci dengan kandungan yang sudah sangat besar itu." ucap Shilla sambil mencuci tangannya hendak menyiapkan makanan dan minuman untuk Xander. 'glegg' Xander menelan salivanya dengan kasar, pria ini mulai meragukan semua ucapan Leona mengenai Shilla selama ini. Namun sebuah undangan dari bibinya membuat Xander harus menunda beberapa hal saat ini. "Shilla, kita harus pergi. Bibi Marya meminta kita hadir dalam acara ulang tahun pernikahannya malam ini." ucap Xander sambil menyodorkan sebuah tote bag kepada Shilla. Shilla tersneyum dan hendak mengambil tas dari tangan Xander. "Tidak bisa! Dia tak boleh datang! Aku yang akan mendampingimu mas!" ucap Leona sambil menarik tote bag dari tangan Xander dan langsung melemparnya ke bak cucian yang dipenuhi air. "Leona!" teriak Xander sangat kesla oleh kelakuan wanita tersebut. Pria ini langsung bergegas mengambil tote bag yang tercebur ke dalam bak cucian tersebut. Wajahnya menghitam oleh amarah, namun perut buncit Leona membuat pria ini menahan dirinya lagi. Shilla tetap tak bergeming, baginya tak masalah sedikitpun jika Xander tak mengajaknya. Bukankah selama enam bulan ini juga Xander tak pernah memberikan hak nya. "Leona, dengarkan aku! Kita sudah sepakat jika masalah keluarga maka kau tak akan mencampurinya! Shilla akan mendapatkan pengakuan dari keluargaku sebagaimana mestinya!" ucap Xander kepada Leona. "Tapi mas, itu tak adil! Sementara aku susah payah mengandung anakmu, lihat dia yang justru menikmati penghargaan dari keluargamu itu! Tidak bisa! Pokoknya aku tak terima!" ucap Leona sambil berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya. "Mas, cepat susul Leona!" ucap Shilla yang sangat mengkhawatirkan langkah wnaita tersebut yang begitu terburu-buru sementara sepatunya sangat lancip dan tinggi. Xander mengikuti saran Shilla dan segera pergi menyusul Leona. 'tapp' Mata Xander terbelalak, melihat Leona diatasnya itu terpeleset karena heelsnya yang licin. "Leona..!" teriak Xander yang langsung beranjak naik menapaki anak tangga untuk mengjar tubuh Leona yang nyaris menyentuh lantai itu. 'bugg' Suara Leona yang terjatuh terdengar. "Aaaaa.." jeritan histeris terdengar dari mulut Leona. "Tidaaaakkkkk!" teriak Xander yang langsung ambruk dibelakang Leona setelahnya. Sementara itu, jeritan keduanya sontak membuat Shilla yang baru saja hendak melanjutkan mencuci langsung terperanjat dan berlari menghampiri keduanya. "Leona?" ucap Shilla sambil membantu Xander membopong Leona menuruni tangga untuk segera membawanya ke rumah sakit. Darah segar terus mengalir dari paha Leona, sementara raungan kesakitan terus terdnegar dari bibir wanita tersebut. Xander sangat gugup hingga dia benar-benar mati langkah dan tak bsia berfikir. "Pak Seto, siapkan mobil!" teriak Shilla saat mereka sampai di pintu ruang tamu. "Aarrggh, sakiiit.." ucap Leona terus meraung kesakitan. Xander tak bicara sepatah katapun, pria ini memucat dan tak bisa berfikir apapun. Sementara itu, Pak Seto sudah menyiapkan mobil dan langsung membukakan pintu mobilnya saat melihat Leona digotong bersimbah darah. "Duch, kenapa ini Bu? Berabe banyak ini." ucap Pak Seto terus mengoceh. "Mas, kamu masuk dan duduklah." ucap Shilla sambil menunjuk ke kursi belakang. Setelahnya Shilla kemudian membaringkan Leona disebelah Xander. "Pak Seto, tolong jagain dulu. Saya mau ambil dompet." ucap Shilla kepada satpamnya. Shilla segera berlari ke kamarnya dan langsung mengambil tas kecilnya. Setelah itu, dia langsung mengambil kunci mobil dan mulai mengemudikannya. "Pak, jaga rumah dan jangan bicara apapun kepada siappaun. Katakan jika kami tengah keluar. Itu saja ya pak." ucap Shilla sambil melajukan mobil keluar dari pelataran rumahnya. Dikursi belakang, Xander terpaku dan terdiam, tubuhnya sangat lemas melihat aliran darah terus mengalir dari paha Leona. Sementara wanita itu kini diam tak sadarkan diri. Shilla mengandalkan GPS pada mobil suaminya ini untuk mencari klinik kebidanan terdekat. Dan betapa beruntungnya karena ternyata terdapat sebuah klinik tak jauh dari rumahnya. Dengan segera Shilla menepikan mobilnya di halaman UGD klinik tersebut. Empat perawat langsung merespon kedatangannya dnegan bersiap menerima pasien yang dipastikkan sudah dalam kondisi kritis ini. "Maaf Bu, dia kenapa?" ucap salah satu perawat menanyai Shilla. "Dia suaminya mba, saya hanya pembantunya. Tuan, ini tas nyonya." ucap Shilla smabil menyodorkan tas kecilnya kepada Xander. "Shilla?" ucap Xander dengan raut yang kebingungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD