Undangan Pesta Bibi Marya

1102 Words
Shilla menghabiskan waktunya duduk di kantin yang berada di sebelah klinik. Sementara Xander-suaminya itu masih berada didalam ruangan menemani selingkuhannya. "Kasihan ya, pasien yang baru datang itu. Bayinya gak selamat, padahal kayaknya itu bayi bener-bener diharapkan banget," ucap salah satu perawat yang baru saja datang kepada temannya berbicara. "Iya, kasihan. Tapi kamu tahu gak, pembantunya Tuan tadi itu ya ampun maak cantik banget. Saingan sama nyonya nya itu mah." Perawat lainnya yang datang belakangan menimpali sambil bergabung di kursi didekat temannya itu. Shilla menelan salivanya dengan kasar, mengetahui para perawat itu tengah membicarakannya. "Sumpah, aku pengen banget punya laki kayak Tuan tadi. Tinggi, besar, kekar dan seksi banget deh pokoknya. Udah gitu, pasti tajir and sangat perhatian. Duch aku kintilin terus kalo punya laki kek gitu," ucap perawat satunya menimpali lagi. Shilla yang makin merasa tak nyaman mendengarkan obrolan mereka kemudian memilih pergi setelah membayar tagihannya. Langkahnya terus mencari dimana Xander berada. Hingga pandangannya mengunci ke sebuah bangsal di kamar operasi dimana terlihat Xander disana. Shilla berdegup kencang. "Semoga operasinya lancar.'" Gumam Shilla dalam hatinya. Dua setengah jam berlalu, Shilla yang menunggu sejak tadi tengah ke kamar mandi. Wanita ini sangat terkejut ketika mengenali punggung suaminya sudah berlalu menuju ke arah bangunan sebelah. Shilla berlari menyusul, namun pintu pagar tertutup kemudian. "Anda mau kemana?" tanya seseorang dari belakangnya menegur Shilla. "Maaf, saya mau menemui pasien yang baru saja dioperasi tadi." Shilla menjawab dengan datar. "Baca tulisannya mba! Ini area khusus! Hanya mereka yang diberikan kartu identitas yang boleh masuk. Terlebih, pasien tadi adalah Nyonya Shilla isteri Tuan Xander adalah pasien VVIP di klinik ini," papar sekuriti itu menjelaskan. "Baik," jawab Shilla yang menelan kekecewaannya lagi kali ini. Wanita ini tersenyum dalam pahit, sambil menelusuri koridor klinik menuju parkiran dimana mobilnya berada. "Itu namaku dan itu kartu identitasku," kata Shilla lirih. Wanita ini menghela nafasnya sangat dalam, sambil berusaha menekan emosinya yang meluap. Tak lama kemudian, Xander akhirnya datang dan membuat Shila lega. "Shilla," ucap Xander sambil menatap dalam-dalam wajah isterinya itu. "Mas, ada apa? Bagaimana kondisi Leona?" tanya Shilla sambil segera berdiri. Xander mengunci tubuhnya dengan menempelkan kedua telapak tangannya di mobil membuat Shilla yang berdiri disana terkunci tak bisa bergerak. Jarak keduanya sangat dekat hingga Shilla bisa merasakan hawa yang berhembus hangat dari nafas suaminya. "Kau baik-baik saja?" ucap Xander dengan mata berkaca-kaca bertanya. Jantung Shilla kian berdegup kencang dan terasa nyaris meledak. "Baik mas." Shilla terbata-bata. "Baiklah, ayo pulang," ajak Xander yang langsung menggendong Shilla lalu masuk ke dalam mobil dan mendudukkannya di kursi. Shilla masih mengeja kesadarannya atas perubahan sikap sang suami yang sangat drastis ini. Sementara Xander kini telah duduk di kursi pengemudi. Tanpa ragu, Xander langsung melajukan mobilnya dengan sangat cepat menuju sebuah butik. "Ayo, kita harus datang ke pesta malam ini," tegas Xander sambil membukakan pintu untuk Shilla. Shilla yang masih belum bisa mencerna keadaan hanya berjalan mengikutinya. "Denias, berikan yang terbaik untuk istriku," pinta Xander kepada seorang penata busana yang membelalakkan matanya menatap kearah mereka berdua. "Xander, istrimu? Jadi benar jika kau sudah menikah?" tanya Denias sambil menghampiri mereka. "Ya, waktumu hanya lima belas menit. Cepat siapkan sesuai pesananku." Pria botak tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya dan langsung menarik lengan Shilla masuk ke bagian dalam galeri butik ini. Disana dua pegawai wanita segera membantu Shilla. Sementara itu, Xander sendiri langsung bersiap. Lima belas menit kemudian, Xander sudah siap dengan tuksedo dan juga setelan nya yang sangat mahal itu. "Kamu.." ucap Xander terperanjat tak percaya melihat Shilla dalam balutan dress gown selutut yang berwarna peach sementara sebuah heels berwarna fuschia senada dengan tas nya yang juga berwarna fuschia membuat penampilan Shilla sangat elegant. Kalung berlian yang dikenakan Shilla sangat indah menghiasi leher jenjangnya, sementara kulitnya yang bak porselen menjadi kian terlihat dengan kerah model sabrina yang membalut tubuhnya ini. Xander tersenyum sangat penuh makna, membuat Shilla diliputi kegugupan karena belum pernah menggunakan pakaian sangat terbuka ini sebelumnya. Rambutnya yang digelung seperti kerang dengan hiasan mutiara asli yang berderet rapi di rambutnya membuat penampilannya semakin mewah. "Denias, kau memang hebat! Thanks Boy!" ucap Xander sambil tersenyum dan segera membawa Shilla masuk ke mobilnya. Mereka pun menikmati jamuan pesta pribadi keluarga di kediaman Bibi Marya dengan sangat meriah. Sleuruh keluarga besar Xander berada ditempat ini kecuali kedua orang tua Xander yang tengah berlibur di Antartika tak bisa mendadak pulang untuk pesta dadakan bibi Marya ini. "Xander, kapan aku menjadi bibi dari putramu?" ucap adik sepupu Xander sambil tersenyum menggoda i pria dingin itu. "Segera! Aku pastikan saat ayah dan ibu pulang, mereka harus bersiap menjadi ayah." ucap Xander sambil mengecup kening Shilla didepan semula orang. Sontak saja sekujur tubuh Shilla menjadi gugup oleh perlakuan suaminya itu. "Tanganmu dingin, kamu gugup ya?" bisik Xander sangat mesra tepat di daun telinga Shilla. Wanita itu hanya diam dan tak menjawab, namun Xander mengetahui jelas jawabannya dari rona merah di wajah Shilla yang menyapu habis seluruh pipinya itu. "Xander, Paman lihat istrimu masih malu-malu kucing. Jangan katakan jika kau sering membuatnya sendirian dan hanya sibuk bekerja!" ucap Paman Roy kepada Xander. "Sayang, kau lihat bagaimana paman roy menyerang ku. Bantulah aku please," ucap Xander dengan merengek manja kepadanya. Shilla tersenyum simpul oleh kelakuan suaminya itu. "Tidak paman, suamiku hanya bekerja pada jam kerjanya saja. Dia segera pulang setelahnya." ucap Shilla beralasan. "Makasih sayang, bersiaplah untuk menerima rasa terimakasihku malam ini juga. AKu sudah tak sanggup lagi." ucap Xander sambil berbisik. Rona merah kembali menyapu wajahnya, meski Shilla masih menebak-nebak apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu. Namun fikiran dewasanya seolah memahami arah dari kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh suaminya itu. Pesta semakin meriah, manakala keluarga ini melakukan panggilan video kepada kedua orang tua Xander yang tengah berada di samudera Antartika itu. "Hallo, mana menantuku?" tanya ayah Xander menyapa Shilla. Xander dengan segera menarik isterinya ke arah kamera. "Istriku ada disini ayah, tenanglah." ucap Xander sambil berulang kali menciumi Shilla didepan ayahnya dan semua orang. "Heyy nak, bulan madu sudah berakhir, kenapa kau masih begitu berapi-api," kekeh ibunya Xander sambil tergelak. Semua keluarga pun riuh karenanya. Mereka melihat perubahan drastis Xander yang biasanya sangat apatis dan kaku itu kini berubah hangat dan ternyata sangat romantis. "Bibi, jika aku besar nanti aku akan mencari pria yang seseksi paman Xander dan juga sehangat dia. Aku lihat Bibi Shilla sangat bahagia dan terus memerah wajahnya seperti kepiting sejak tadi," ucap Felicia keponakan Xander dari kakak sepupunya itu terus mengoceh dan berhasil membuat keriuhan semakin menghangatkan keluarga ini. Pukul sebelas malam, acara berakhir dan satu persatu mulai berpamitan pulang, tak terkecuali dengan Xander dan Shilla. "Ayo, kau akan lembur malam ini," bisik Xander sambil mengecup lembut bibir Shilla tepat di depan mobilnya. Jantung Shilla kembali berpacu cepat setelahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD