Part 3

2558 Words
PART 3 “Saya terima nikah dan kawinnya Azzura Malik binti alm. Abdul Malik dengan mas kawin tersebut tunai.” Rayhan mengucapkan ijab qabul dengan lancar meskipun hatinya sangat kesal luar biasa. Bagaimana tidak? Ia harus menikahi seorang gadis SMA. Bagaimana jika ada yang mencapnya sebagai ‘p*****l’? “Bagaimana para saksi, SAH?” tanya Pak Penghulu sambil mengarahkan pandangannya pada semua saksi. “SAH!” sahut mereka semua bersamaan dan lantang seakan mengejek Rayhan yang sedang menahan kesal, sedangkan Azzura mengucap syukur dalam hati karena ia sudah sah menikah. Di sisi lain, ia juga sedikit belum siap untuk ‘melakukan’ itu. Membayangkannya saja sudah membuat Azzura bergidik ngeri. Setelah melaksanakan ijab kabul, Rayhan dan Azzura langsung menuju hotel tempat mereka akan melaksanakan resepsi. Sesampainya di hotel, Azzura dan Rayhan pun memasuki kamar yang telah di-booking. “Kamu ngapain ngikutin saya?” tanya Rayhan saat Azzura juga ikut masuk ke dalam kamar tersebut. “Pakaian aku kan di dalam kamar itu juga, Mas,” ucap Azzura yang masih aneh memanggil ‘mas’ pada Rayhan. “Ya udah ambil. Abis itu kamu keluar dari sini. Saya mau istirahat, kamu cari kamar yang lain aja,” ucap Rayhan dengan nada yang tidak enak didengar. Sebenarnya Rayhan bukan lelaki yang kasar terhadap perempuan. Namun, rasa kesal yang memuncak lebih dominan saat ini. Rayhan membuka pakaian dan terus memperhatikan Azzura yang sedang mengambil pakaian. Setelah itu, ia beranjak dari sana menuju meja untuk mengambil air minum. “Rayhan,” ucap Laras yang baru saja masuk setelah melihat Azzura keluar dari kamar dan menuju kamar Bu Astrid. “Kenapa, Mbak?” jawab Rayhan sambil mengambil air dari dispenser. “Kamu kenapa usir Azzura? Dia kan sekarang istri kamu.” Rayhan menoleh lalu mengangkat sebelah alisnya. “Aku enggak ngusir kali, Mbak, cuma nyuruh dia cari kamar lain karena aku mau istirahat.” “Itu juga termasuk pengusiran, meskipun secara halus,” ucap Laras tak mau kalah, Laras duduk di atas ranjang. “Terserah apa kata Mbak, aku capek.” Laras tidak menjawab dan langsung berdiri lalu keluar dari kamar Rayhan. Sebelum benar-benar keluar, Laras mengatakan pada Rayhan bahwa sebentar lagi akan datang beberapa orang yang akan merias Rayhan dan Azzura. *** “Mama ngundang orang berapa banyak, sih?” bisik Rayhan sedikit sewot pada Bu Astrid yang berada di sebelah kiri Rayhan. “Loh kenapa? Makin banyak yang diundang, makin banyak juga yang doain. Bagus, ‘kan?” Bu Astrid melirik putra bungsunya yang tampak kesal dan meninggalkannya berdua bersama Azzura di pelaminan. Rayhan mulai capek, mungkin ini efek ia tak menikmati acara, padahal Rayhan adalah salah seorang yang hobi mendaki gunung, jadi seharusnya ini bukanlah hal yang sulit. ‘Pernikahan konyol,’ batin Rayhan sambil terus menjabat tangan para tamu undangan yang memberi selamat. “Mau ngapain?” tanya Rayhan saat melihat Azzura akan duduk pelaminan. “Mau duduk, Mas," ucap Azzura ragu karena melihat wajah datar Rayhan. “Ambillin saya minum. Saya haus!” perintah Rayhan dan disanggupi oleh Azzura. Azzura pun berjalan menuruni pelaminan menuju tempat minuman. “Kok enggak minta tolong Mbak aja, Az?” tanya Laras pada Azzura, Azzura tersenyum lalu mengambil dua gelas minuman. “Ah, enggak apa-apa, Mbak. Cuma ambil minum doang,” ujar Azzura, lalu izin untuk pergi ke pelaminan lagi pada Laras. “Nih, Mas,” ucap Azzura memberikan satu minumannya pada Rayhan dan satu lagi untuknya. Rayhan menerima minuman tersebut dan tak ada ucapan terima kasih atau semacamnya yang keluar dari mulut Rayhan. Azzura hanya mengembuskan napas kasar, mungkin ia harus terbiasa dengan sikap dingin suaminya ini. Azzura yakin, sifat Rayhan seperti ini pastinya karena pernikahan yang tak diinginkan olehnya. Kalau boleh berpendapat, Azzura juga tidak senang dengan pernikahan ini. Namun, ia tetap melangsungkan pernikahan ini demi kesembuhannya dan sebagai balasannya pada Bu Astrid, ia akan mencoba untuk mengubah kembali sifat Rayhan menjadi lebih baik. Semakin larut, tamu undangan pun juga sudah mulai berkurang, tidak seramai tadi. Tepat jam setengah dua belas, acara benar-benar selesai. Langsung saja Azzura dan Rayhan menuju kamar. Tadi siang, setelah berdebat panjang dengan Bu Astid, akhirnya Rayhan mengalah dan membiarkan Azzura tetap tidur sekamar dengannya. Selesai membersihkan badan, Rayhan mengambil sebuah selimut tipis di dalam lemari. “Ambil ini tidur di sofa!” ucap Rayhan datar memberikan bantal dan selimut tersebut pada Azzura. “Iya, Mas.” Azzura kemudian berlalu mendekati sofa tersebut, lalu mulai tidur di sana dengan perasaan sedih. ‘Sebenarnya saya enggak ingin lakukan ini, tapi saya lagi kesal sama kamu. Kesal akan pernikahan konyol ini!’ batin Rayhan saat ia tidur membelakangi sofa yang ditempati Azzura. Sekitar pukul 01.00, Rayhan gelisah. Matanya sejak tadi tidak mau dipejamkan. Iseng, dia melirik ke arah Azzura yang tidur dengan selimut yang melilit di seluruh tubuhnya. Rayhan duduk di tepi ranjang lalu mengusap wajahnya kasar. Lima menit ia melakukan hal tersebut, Rayhan pun memutuskan untuk pergi ke club malam ini. Rayhan mengambil jaketnya di dalam lemari. Azzura yang terusik dengan bunyi decitan lemari akhirnya terbangun. “Mau ke mana, Mas? Ini udah tengah malam, loh?” tanya Azzura khawatir. “Kamu enggak usah urusin hidup saya. Mending kamu lanjut tidur aja,” ucap Rayhan sambil merapikan jaketnya. “Tapi Mas, ini udah larut banget.” Azzura menatap Rayhan melalui pantulan cermin begitu pun dengan Rayhan. “Kamu ngerti bahasa Indonesia enggak, sih?” bentak Rayhan yang membuat Azzura menunduk. “Urus hidup kamu, saya urus hidup saya!” “Apa gak bisa kita mulai sama-sama belajar jalani hidup?” tanya Azzura saat pintu hampir tertutup, Rayhan membeku sesaat lalu kembali melanjutkan jalannya. Setelah itu, Azzura bangkit dari duduknya lalu mengambil wudhu untuk sholat Tahajud. Hari semakin pagi, semenjak Rayhan pergi dini hari tadi, Azzura tidak dapat melanjutkan tidurnya kembali, padahal pagi ini ia masih harus bersekolah. Azzura juga baru ingat jika baju seragamnya ada pada Bu Astrid. Tok tok tok! Azzura yang baru saja selesai sholat Subuh berjalan menuju pintu yang baru saja diketuk. Panjang umur, baru saja Azzura teringat akan Bu Astrid dan kini beliau ada di depan pintu kamarnya. “Eh, Ibu,” ucap Azzura tersenyum, Bu Astrid pun membalas senyuman Azzura. “Nih seragam sekolahnya. Kenapa enggak izin aja hari ini?” tanya Bu Astrid pada Azzura. Azzura memegang handle pintu lalu menggeleng. “Aku ada ujian Bu, udah kelas 12 jadi banyak ujian sebelum UN,” jelas Azzura, Bu Astrid tersenyum dan meminta Azzura untuk geser karena ingin masuk ke dalam kamar. Namun, Azzura belum bergeser karena ia memikirkan jawaban jika Bu Astrid bertanya tentang Rayhan. “Kamu kalau mau mandi, mandi aja. Ibu mau bangunin Rayhan. Dia itu, kalau enggak dibangunin enggak akan bangun,” ucap Bu Astrid. “Tapi, Bu ...,” ucapan Azzura terhenti saat melihat Rayhan datang. Bu Astrid menoleh ke samping kanan dan mendapati Rayhan. “Kamu dari mana?” tanya Bu Astrid curiga, Rayhan menatap Azzura dan menyuruh Azzura menyingkir dari pintu untuk memberikannya akses masuk. Bu Astrid yang tidak dijawab oleh Rayhan akhirnya masuk ke dalam kamar meninggalkan Azzura yang masih di pintu. Rayhan membuka sepatunya, lalu tidur tengkurap di kasur. “Kamu dari mana?” Bu Astrid duduk di ranjang sambil menyibakkan selimut Rayhan. “Dari bawah,” ujar Rayhan berbohong dan menutup mata. Bu Astrid menarik tangan Rayhan supaya duduk, tetapi Rayhan bersikeras untuk tetap tidur. Ia sangat mengantuk. “Jangan bohong! Dari mana kamu?” tanya Bu Astrid. Azzura sudah dari tadi masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan ibu dan anak yang sepertinya akan berdebat. Rayhan menguap sedikit, lalu duduk. Bu Astrid mengendus bau Rayhan, dan langsung memukul lengan Rayhan saat mendapati Rayhan berbau alkohol. “Kamu minum?” Rayhan tak menjawab pertanyaan Bu Astrid. Ia hannya mengusap tengkuknya yang pegal. “Sampai kapan kamu kayak gini, Han?” tanya Bu Astrid, Rayhan menatap Bu Astrid lalu menguap kembali. “Setidaknya hargai Azzura sebagai istri kamu,” ujar Bu Astrid kemudian berdiri keluar dari kamar tersebut, Rayhan kembali merebahkan dirinya dan menatap langit-langit kamar. Tak lama kemudian, Rayhan pun tertidur. *** Azzura mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru di papan tulis, meskipun sedari tadi ia diganggu oleh Ratna dan Virla yang sangat kepo dengan suaminya. Azzura memang sudah memberitahukan mereka dua hari sebelum menikah, tentu saja Tyass sangat emosi dan marah akan keputusan Azzura, padahal ia mempunyai tabungan yang cukup untuk membantu Azzura. Sampai sekarang, Tyass masih belum terlalu banyak berbicara padanya. “Lu ada fotonya gak, Azz? Kepengin liat tau,” bisik Ratna, Virla sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan saat Azzura mengeluarkan ponsel dan memberikannya pada Ratna. Ratna membuka ponsel Azzura dan menu 'galeri foto' yang isinya sangat sedikit jika dibanding dengan Ratna atau Virla. “a***y, mirip Alvaro Mell,” ujar Virla saat melihat foto Rayhan. Azzura tidak terganggu sama sekali saat ini, karena fokusnya hanya pada tugas sekolah. “Reza Rahadian kali,” ucap Ratna yang masih terpesona akan ketampanan suami Azzura. Tyass yang kepo melirik sekilas dan betapa terkejutnya ia saat melihat foto tersebut. Itu adalah Rayhan, mantan kekasih kakaknya. Namun, Tyass tidak memberitahu pada ketiga sahabatnya. Ia sedang malas untuk menjelaskan jika ketiga sahabatnya terutama Virla dan Ratna. ‘Syukurlah kalau Mas Rayhan dapetin Azzura, semoga Mas bisa bahagia nantinya sama Azzura,’ batin Tyass. Dua bulan berlalu. Hubungan Rayhan dan Azzura tidak ada keistimewaan layaknya pasangan suami istri yang baru menikah pada umumnya. Rayhan masih suka mengeluarkan kata kasar dan bersikap dingin pada Azzura, masih suka keluar malam sampai pagi. Masih suka mabuk-mabukan dan lain sebagainya. Mereka juga belum pernah melakukan ‘hubungan badan’, karena Rayhan mengingat Azzura yang masih sekolah. Lagi pula, ia tidak mencintai Azzura untuk saat ini. Mereka tinggal bersama Bu Astrid selaku orang tua Rayhan. Sejak pingsan dua bulan lalu, kondisi kesehatan Bu Astrid nampak tak sesehat saat pertama bertemu dengan Azzura, bulan lalu Bu Astrid dinyatakan mengidap penyakit anemia akut. Tidak boleh kelelahan, itu adalah salah satu pantangan pengidap anemia. “Duh Ibu harusnya enggak usah nyapu rumah, biar Azzura aja, Bu,” ucap Azzura mengambil sapu dari tangan Bu Astrid. “Ibu tuh bosen kalau cuman duduk, nonton, tidur doang. Badan ibu pegal kalau enggak banyak gerak,” ucap Bu Astrid, Azzura menyandarkan sapu di dinding dan menuntun Bu Astrid menuju sofa. “Tadi aku beli terong belanda, Ibu tunggu di sini sebentar, ya, biar Azzura bikinin jus,” ucap Azzura lalu berjalan menuju dapur, tetapi tangannya langsung dicekal oleh Rayhan. “Ini apa?” tanya Rayhan sambil mengunjukan sebuah kertas. Azzura membelalakkan matanya saat tau bahwa itu adalah surat dari rumah sakit tentang penyakitnya. “KALAU SAYA NGOMONG ITU DIJAWAB!” Rayhan berteriak, Bu Astrid yang mendengar itu langsung menoleh dan panik saat Rayhan mencengkram tangan Azzura sangat kencang. “Penipu!” desis Rayhan dan menatap Azzura tajam. “Rayhan lepasin tangan Azzura Han, itu dia kesakitan,” ucap Bu Astrid berdiri lalu berjalan mendekati Rayhan. “Mama juga terlibat dengan semua ini?” tanya Rayhan dengan nada emosi yang menggebu-gebu. “Mas, aku bisa jelasin. Aku minta maaf.” Azzura berusaha menahan air matanya. “Benih yang kamu butuhkan bukan? Baik!” Rayhan lalu menarik tangan Azzura. “Rayhan kamu mau apain Azzura?” tanya Bu Astrid panik. Bu Astrid langsung berdiri di hadapan Rayhan dan Azzura. “Rayhan akan berikan apa yang diinginkan oleh gadis ini,” ucap Rayhan pada Bu Astrid lalu menggeret paksa Azzura menuju kamarnya. “Mas aku mohon jangan kayak gini, Mas.” Azzura terus meronta minta dilepaskan, tetapi tenaganya tak sebanding dengan tenaga Rayhan. Sesampainya di kamar, Rayhan langsung menghempaskan tubuh Azzura ke atas kasur. “Rayhan, Mama mohon jangan sakitin Azzura,” ucap Bu Astrid menggedor pintu kamar Rayhan. Rayhan membuka kemejanya lalu melemparnya asal. “Mas, jangan Mas. Aku mohon.” Tangis Azzura pun pecah, tetapi tak membuat hati Rayhan melunak. Rayhan benci dibohongi. Pada akhirnya. Semua itupun terjadi. Azzura menangis, menangis karena apa yang baru saja terjadi bukan karena dasar cinta, tetapi emosi, ini tidak lebih dari sebuah pemerkosaan. Azzura merasakan sakit di s**********n dan perutnya. Itu semakin membuatnya menangis, sedangkan Rayhan kini tubuhnya berbaring berbalut selimut di samping Azzura yang terduduk di dekat kepala ranjang. Pikiran jernihnya kembali, dia mendengar tangisan pilu Azzura. Sebenarnya, Rayhan sudah mulai mencoba membuka hati pada Azzura, tetapi hari ini ia merasa tertipu oleh istri dan ibunya. Istrinya diperkirakan diagnosa mengidap penyakit kista. Saat sedang dalam pikirannya, Rayhan mendengar suara air dihidupkan dari kamar mandi. Dilihatnya ke samping, dia tak mendapatkan Azzura di sisinya. Rayhan menatap pintu kamar mandi. Saat ia akan duduk dari tidurnya, Rayhan mendengar sesuatu yang jatuh di dalam kamar mandi. Rayhan mengambil boxer lalu memakainya. Ia berjalan menuju kamar mandi dan mengetuk pintu tersebut, tetapi tidak ada sahutan sedikit pun. Akhirnya Rayhan membuka pintu tersebut dan betapa terkejutnya ia saat melihat Azzura yang terjatuh di lantai dengan handuk yang masih melilit di tubuhnya. “Azzura?” panggilnya lalu menggendong Azzura keluar dari kamar mandi tersebut. Rayhan meletakan Azzura di kasur lalu mengambil pakaian dan memakainya. Rayhan bingung harus melakukan apa, akhirnya ia keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Rayhan mencari Bu Astrid. “Mama?” panggilnya menggema di sepanjang rumah. Rayhan pergi ke kamar Bu Astrid, lalu mengetuk pintu kamar Bu Astrid. “Ma, buka pintunya sebentar,” ucap Rayhan. Saat tahu kamar Bu Astrid tak terkunci, Rayhan langsung membukanya. PLAK! “Mama enggak pernah ajarin kamu berkelakuan b***t Rayhan!” ucap Bu Astrid dengan air mata yang mengalir deras. Rayhan terdiam melihat Bu Astrid yang menangis. Ada perasaan bersalah dalam hatinya. “Bantuin Rayhan bawa Azzura ke rumah sakit dulu, Ma,” ujar Rayhan. Bu Astrid yang mendengar itu tentu saja shock. Bu Astrid mengambil kunci mobil lalu menyuruh Rayhan membawa Azzura. Bu Astrid menahan pertanyaannya karena mementingkan Azzura supaya cepat sampai di rumah sakit. Rayhan kembali ke kamarnya lalu memakaikan Azzura baju tidur. Setelah itu, ia menggendong Azzura. Bu Astrid yang melihat Azzura pingsan kembali meneteskan air mata. “Biar Mama aja yang bawa mobilnya, kamu pangku Azzura,” ujar Bu Astrid membukakan pintu mobil. Rayhan mengangguk. *** “Untung aja kalian cepat bawa dia ke rumah sakit. Karena jika telat sedikit, saya tidak bisa menjamin keselamatan pasien,” ujar Dokter Diana yang menangani Azzura pada Rayhan dan Bu Astrid. “Harusnya kamu enggak main kasar,” ucap Bu Astrid. “Mama tau aku gak suka dibohongi!” ucap Rayhan bersandar di dinding sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. Dokter yanga berdiri di antara ibu dan anak yang berdebat itu pun berdeham. “Kalau begitu, saya ke ruangan dulu, pasien sudah bisa dikunjungi,” ucap dokter tersebut, Rayhan dan Bu Astrid masuk kedalam ruangan Azzura, Bu Astrid langsung menuju Azzura yang sedang tertidur di atas ranjang, sedangkan Rayhan duduk di sofa yang tersedia di dalam ruangan tersebut. “Mama kecewa sama kamu, Han!” Bu Astrid menatap Rayhan dengan air mata yang menggenang. “Asal kamu tau, kamu enggak lebih dari seorang pemerkosa,” ucap bu Astrid meluapkan kekecewaanya. “Dia istri aku, Ma.” “Kalau gitu, seharusnya kamu perlakukan dia selayaknya istri,” balas Bu Astrid, Rayhan menatap Azzura yang terbaring di ranjang. “Rayhan hanya memberikan apa yang dia inginkan dari pernikahan ini,” ucap Rayhan tidak mau kalah, terdengar bunyi gigi Rayhan saat mengatakannya. “Tapi enggak kayak gitu Han, wanita mana yang sudi dikasari seperti itu?” tanya Bu Astrid menatap Rayhan yang lebih tinggi darinya. “Dan suami mana Ma yang suka dibohongi?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD