Part 4

2417 Words
Semenjak kejadian itu, Azzura jadi lebih sering menghindari Rayhan. Kalau Rayhan sedang bicara padanya juga Azzura tak pernah lagi memperlihatkan senyumannya dan balik menatap Rayhan seperti biasa saja. Rayhan menyadari perubahan itu, Azzura yang selalu ceria tiap pagi untuk menyiapkan keperluan kerjanya sudah tidak ada. Rayhan tahu kalau kejadian bulan lalu yang membuat Azzura seperti itu. Kadang Azzura merasa berdosa karena tidak mengacuhkan suaminya, tetapi hatinya terlalu hancur jika melihat Rayhan. Terlebih lagi, Azzura merasa Rayhan tidak peduli dengan perubahan yang terjadi padanya. Azzura mengambilkan makanan ke piring Rayhan untuk sarapan. Rayhan menatap Azzura, sejujurnya ia merasa bersalah, tetapi ia juga gengsi untuk meminta maaf duluan. Toh, Azzura adalah istrinya. Untuk saat ini, setahu Rayhan tidak ada hukum yang akan memenjarakan seorang suami memperkosa istri. Setelah Azzura mengambilkan Rayhan nasi, mereka pun makan dalam diam. Tak lama, Rayhan bangkit dari duduknya. “Ma, Rayhan berangkat dulu, ya.” Rayhan pun mencium tangan mamanya lalu berbalik mengambil tas yang diberikan oleh Azzura. Tak ada ucapan apa pun yang keluar dari mulut Rayhan maupun Azzura. Biasanya Azzura akan menemani Rayhan sampai depan mobil, lalu mengucapkan ‘hati-hati’ dan ‘semangat kerja’ pada Rayhan. Azzura tetap tersenyum meskipun Rayhan hanya menjawabnya dengan ‘ya’ atau hanya ‘hm’ saja. Namun, semua kebiasaan itu hilang. “Kamu anterin Azzura dulu, ya, dia UN hari ini,” ucap Bu Astrid, lalu Rayhan menatap Azzura. Azzura yang ditatap Rayhan meliriknya sedikit lalu menggeleng. “Enggak usah Bu, Azzura udah pesan ojek online tadi,” ujar Azzura, Rayhan mendengkus kesal dan langsung berjalan menuju mobil dan melajukannya menuju kantor. “Azz, ada yang mau Ibu bicarain sama kamu,” ucap Bu Astrid saat Azzura berdiri di depan rak sepatu yang berada di dekat pintu, lalu Bu Astrid menggandeng tangan menantunya itu. Azzura yang sudah menenteng sepatu kembali meletakannya. “Iya, Bu?” Azzura mengikuti jalan Bu Astrid ke ruang tamu. “Sini duduk,” ucap Bu Astrid lembut menepuk sofa di sebelahnya. Azzura pun menurutinya. “Ibu mau minta maaf sama kamu sebelumnya, karena Ibu enggak bisa mencegah semua itu terjadi. Ibu juga perempuan, jadi Ibu tau bagaimana rasanya diperlakukan seperti itu.” Bu Astrid menatap Azzura yang menunduk. “Maafin Rayhan,” lirih Bu Astrid ikut menangis melihat Azzura menangis. “Iya, Bu. Azzura udah maafin Mas Rayhan,” ucap Azzura tulus sambil mengangguk. Bu Astrid menghapus air mata Azzura. “Kalau gitu Azzura berangkat sekolah dulu, ya, Bu, takut telat. Doain Azzura semoga hari ini ujiannya lancar.” Azzura kemudian bangkit dari duduknya dan menyalimi tangan Bu Astrid. “Aamiin, hati-hati, ya,” ucap Bu Astri mengantar Azzura menunggu ojek online pesanannya. Setelah menikah, Azzura masih tetap melanjutkan sekolah, Azzura berani mengambil keputusan itu karena ia bersekolah juga tinggal hitungan hari. Seminggu setelah UN, angkatan Azzura mengadakan perpisahan di Bandung dan menginap selama 3 hari 2 malam di sana. “Pergi ke mana dia, Ma?” tanya Rayhan pada Bu Astrid saat ia melihat Azzura pergi dari rumah membawa koper kecil. “Oh, dia pergi ke Bandung. acara perpisahan sekolahnya,” jawab Bu Astrid sambil memakan sarapannya. Ketika itu juga rahang Rayhan mengeras, dia tidak senang melihat Azzura yang tidak meminta izinnya, dia merasa seperti tidak dihargai. “Dia enggak minta izin sama aku,” ujar Rayhan tidak santai. Bu Astrid menatap Rayhan aneh. “Memang selama ini kamu punya waktu? Dia aja udah nunggu kamu semalam sampai ketiduran di sofa,” ucap Bu Astrid membuat Rayhan diam, memang tadi malam Rayhan pulang jam tiga. Biasa, clubing. “Rayhan berangkat, Ma,” ucap Rayhan dengan kesal, lalu meninggalkan meja makan tanpa memakan sarapannya sampai habis. “Loh? Sarapannya enggak dihabisin, Han?” teriak Bu Astrid, tetapi tidak dihiraukan olehnya. Rayhan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di kantor ia langsung menuju ruangannya dengan kesal, bahkan sapaan dari para karyawannya ia abaikan begitu saja tanpa berniat membalas. Braaak! Pintu ditutupnya dengan kasar, sampai-sampai Hasnil, sekretarisnya terjengit kaget. “Buset dah bos gua, yak,” gerutunya. Rayhan duduk lalu mengambil ponsel yang berada di kantong jasnya dan membuka aplikasi w******p. Rayhan mencari nama istrinya. Kenapa kamu enggak izin sama saya?! Rayhan menatap ponselnya dengan kerutan di kening. Semenit, dua menit, tiga menit akhirnya Azzura membalas pesan Rayhan. Maaf Mas, tadi aku udah kesiangan banget. Busnya udah nunggu. Harusnya kamu tetap izin sama saya, kamu bisa telpon atau WA saya! Azzura menghelas napas, sebenarnya tadi ia akan melakukan itu, tetapi Rayhan sudah lebih dulu meghubunginya. Iya Mas, maaf. Aku ke Bandung 3 hari. Rayhan tidak membalas lagi, Setelah itu, Rayhan pun memanggil Hasnil. “Iya, Pak?” tanya Hasnil sopan dengan tangan yang memegang pulpen. “Tolong beliin saya rujak cingur yang di Bintaro!” perintah Rayhan sambil meberikan uang seratus ribu rupiah pada Hasnil. “Tapi ini masih pagi Pak, enggak takut mules? Lagian 15 menit lagi akan ada rapat, Pak,” ucap Hasnil, Rayhan menatapnya dengan kesal. “Ya udah kalau gitu, kamu harus udah balik sebelum 15 menit,” jawab Rayhan dan memperbaiki duduknya. “Ck, bapak pikir Bintaro-Jaksel deket? Sejam-an, Pak. MasyaAllah,” ucap Hasnil geleng kepala. “Kenapa kamu yang nyolot? Beliin sekarang!” ujar Rayhan sangat kesal. “Rujak jangkung aja deh, Pak, deket, di Menteng,” tawar Hasnil, Rayhan mendengkus sebal dan menatap Hasnil lagi. “Saya kepinginnya rujak cingur, bukan jelangkung!” “Jangkung, Pak,” ralat Hasnil, Rayhan menyipitkan matanya karena Hasnil terus menjawabnya. “Cepat! Kamu tunda dulu rapatnya jadi jam sembilan.” Hasnil mengangguk lalu berjalan keluar dari ruangan Rayhan. “Ngidam kok nyusahin gua! Aneh,” gumam Hasnil sembari menutup pintu ruangan atasanya tersebut. *** Kini, Azzura dan teman-temannya sedang berada di dalam bus pulang ke Jakarta. Azzura duduk berdua dengan Ratna. Drt drt drt! Ponsel Azzura bergetar, lalu ia pun mengambil ponselnya itu dari dalam kantong jaket. Azzura sedikit meringis kala tau yang mengirim pesan adalah ibu mertuanya. Azzura jadi tak enak hati karena dia tak memberi kabar pada beliau selama ia berada di Bandung. P P P Azzura? Kamu udah sampai mana? Udah di Tol Cipularang, Bu. Maaf ya, Bu, Azzura enggak hubungi Ibu. Oh udah di Cipularang, Iya enggak apa-apa. Nanti kalau udah sampai bilang ya, biar Ibu jemput. Enggak usah dijemput Bu, Azzura pesan taxi online aja. Ya udah kalau gitu, kamu langsung pulang ya. Rayhan demam soalnya. Astagfirullah, demam Bu? Kenapa? Sejak kapan? Terus sekarang gimana keadaan Mas Rayhan, Bu? Dari kamu pergi Azz, tadi pagi udah dibawa ke dokter. Katanya cuman demam biasa, terus juga kemaren Rayhan sakit perut. Ya udah kalau gitu Bu, InsyaAllah jam tiga sore Azzura sampai rumah. Iya Azz. Azzura menjadi gelisah, Rasanya ia ingin segera sampai rumah dan merawat suaminya itu. Mungkin itu adalah naluri seorang istri. “Azzura, lo ikut kita ke mal, ‘kan? Ikut dong, kan kita di Bandung enggak sempet belanja,” ucap Ratna yang sedang berdiri memasang jaketnya. “Lu ngapa dah?” tanya Ratna yang risi melihat Azzura yang tidak bisa duduk diam. Azzura menoleh ke belakang di mana Virla dan Tyass berada. “Aku kayaknya enggak bisa ikut kalian deh. Maaf, ya,” ucap Azzura kecewa, tetapi dengan wajahnya yang memang menampakkan kegelisahan. “Loh kenapa?” ucap Ratna kesal. “Mas Rayhan sakit,” jawab Azzura. Tyass memasang telinganya. “Ekhm.” Dehaman Virla membuat kedua sahabatnya yang lain melirik menggoda. “Cielah lakinya sakit, toh.” “Apaan sih. Wajar dong kalau aku ingin ngerawat Mas Rayhan?” Sebenarnya pertanyaan ini hanya ingin menutupi rasa malu dan pipi yang memanas karena godaan dari teman-temannya. Saat sudah sampai di Jakarta, Azzura pun langsung pamit pada teman-temannya lalu mengambil tas yang berada di bagasi dan kemudian memesan taksi online. Taksi online pesanan Azzura datang, dan ia pun langsung masuk ke dalam mobil. Lima belas menit, mobil yang membawa Azzura sampai di depan rumah berlantai dua. Azzura membayar taksi, lalu menggeret kopernya masuk ke dalam rumah. “Assalamualaikum.” Azzura membuka pintu lalu masuk ke dalam rumah. Azzura melepas sepatunya lalu meletakan di atas rak. “Waalaikumsalam, Eh udah pulang? Ibu baru aja selesai siapin makan malam,” ucap Bu Astrid tersenyum sambil menata makanan di meja makan. Lalu Azzura mengambil tangan Bu Astrid dan menciumnya. “Udah Bu, baru nyampe,” jawab Azzura. Bu Astrid mengambil ponselnya yang berada di atas meja. “Oalah kamu nelpon tadi? Maaf ya, hp-nya ibu silent,” jelas Bu Astrid pada Azzura. Azzura mengangguk. “Iya Bu, enggak apa-apa.” “Gimana perpisahannya?” tanya Bu Astrid mengambilkan air minum untuk Azzura. “Ya ampun Ibu, Azzura bisa ambil sendiri,” ujar Azzura menerima segelas air dengan tidak enak hati. “Asik kok, Bu.” Bu Astrid tersenyum lembut pada Azzura. “Mas Rayhan di mana, Bu?” tanya Azzura malu-malu. Bu Astrid yang melihat itu hanya terkekeh-kekeh. “Di kamar,” jawab Bu Astrid. “Kalau gitu, Azz mau ke kamar dulu, ya, Bu. Mau mandi sekalian lihat keadaan Mas Rayhan,” ujar Azzura, bu Astrid lalu mengangguk. Azzura pun berlalu menuju kamarnya dengan Rayhan. Azzura membuka pintu dengan hati-hati supaya orang yang berada di dalam kamar tersebut tidak terganggu, begitu pula dengan menutupnya. Ia melihat Rayhan yang meringkuk di bawah selimut sambil memegang perutnya dan sesekali meringis. Rayhan yang merasakan ada seseorang masuk ke kamarnya melirik sekilas. ‘Oh, udah pulang tuh bocah?’ batin Rayhan. “Addduuuuhh!” jerit tertahan Rayhan dan berhasil membuat Azzura yang sedang meletakkan tasnya itu menoleh lalu berjalan ke arah Rayhan. “Mas. Apa yang sakit?” tanya Azzura yang tak dijawab oleh Rayhan. Rayhan kembali menjerit tertahan sampai akhirnya Azzura mengibaskan selimut Rayhan dengan kasar. “Kamu mau ngapain? Udah saya bilang enggak usah ngurusin saya!” Rayhan mengernyitkan kening saking kesalnya ia pada Azzura. “Aku cuma ingin ngejalanin tugas sebagai istri,” ucap Azzura datar. Rayhan menarik kembali selimut. “Enggak perlu.” Rayhan membalikkan badannya sehingga ia membelakangi Azzura. Azzura tak menjawab perkataan Rayhan, ia mengambil minyak kayu putih di kotak P3K dan menarik badan Rayhan agar mau terlentang. Namun, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Rayhan, Azzura kesal bukan main karena di saat sakit seperti ini Rayhan masih tidak mau mengalah dengan egonya. Dengan sedikit emosi, Azzura menyentak badan Rayhan sehingga Rayhan telentang. Azzura menurunkan selimut Rayhan sampai ke pinggang Rayhan. “Tolong Mas, kali ini aja biarin aku ambil peranku sebagai istri,” ucap Azzura kemudian duduk di lantai samping kasur. Azzura menelan ludahnya saat mengangkat kaos Rayhan, sedangkan Rayhan hanya diam menatap Azzura yang telaten mengusap perutnya dengan minyak tersebut. Aneh, geli tetapi nyaman. Itu yang kini dirasakan Rayhan sambil menatap Azzura. Saking nyamannya, Rayhan sampai tertidur. Azzura yang melihat itu mengembuskan napasnya dan kembali menyelimuti Rayhan. Tangan kanan yang tidak terkena minyak mengusap kerutan di dahi Rayhan sampai kerutan itu hilang. Azzura tersenyum karenanya, kemudian meletakan kepalanya di samping tangan Rayhan. “Jangan sering ngerutin dahi, Mas,” ucap Azzura pelan dan ia pun tertidur sambil menggenggam tangan Rayhan. *** “Azzura? Rayhan, bangun Nak, makan malam dulu, yuk.” Jenuh, itu yang dirasakan Bu Astrid sekarang. Pasalnya, kedua insan tersebut tak juga membuka pintu yang entah sudah berapa kali diketuk. “Ya Allah, kirain dikunci,” ucap Bu Astrid membuka pintu kamar Rayhan sedikit kesal. Bu Astrid pun memasuki kamar anaknya itu, yang pertama kali dilihat adalah Azzura yang sedang duduk bersimpuh di lantai sambil menggenggam tangan Rayhan yang berada di atas kasur. Bu Astrid berjalan menghampiri pasutri tersebut bermaksud membangunkan mereka. “Han,” ucap Bu Astrid lembut sambil mengusap kepala Rayhan dengan sayang. “Han bang—” ucapan Bu Astrid terpotong saat Rayhan tiba-tiba membuka matanya. “Mama?” Rayhan yang akan mengucek matanya terhenti karena ternyata tangannya masih digenggam oleh Azzura. Rayhan menatap lekat-lekat Azzura yang tertidur dengan posisi yang tidak nyaman. “Azzura bangun, Nak,” ucap Bu Astrid sambil menepuk pipi Azzura. “Biar Rayhan aja Ma, dia kayaknya kecapean.” Bu Astrid yang melihat itu tersenyum tipis melihat sikap asli Rayhan yang sebenarnya tidak kasar pada siapa pun. “Nanti kamu ke bawah aja, ya, ajak Azzura sekalian buat makan malam.” Setelah mengucapkan itu Bu Astrid keluar dari kamar, tetapi ia masih terus memperhatikan anaknya yang menggendong Azzura ke tempat tidur lalu membuka jilbab Azzura. Setelah membuka jilbab Azzura, tampak Rayhan membuka ikatan rambut Azzura lalu menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Azzura Hati Bu Astrid menghangat melihatnya. Setelah itu Bu Astrid turun menuju ruang makan dan menunggu Rayhan turun bersama menantunya. Tak lama, Bu Astrid melihat ke arah tangga saat mendengar suara langkah kaki. “Azzura-nya udah bangun?” tanya Bu Astrid karena melihat Rayhan yang turun dari kamarnya hanya sendiri. Rayhan hanya melihat mamanya sekilas dan mengendikkan bahunya tak acuh. Bu Astrid hanya menghela napas kasar sambil menggelengkan kepala pelan. “Kamu udah mendingan?” tanya Bu Astrid. Rayhan menatap Bu Astrid lalu mengangguk. “Udah, Ma,” jawab Rayhan singkat. Selesai makan Rayhan mengambil piring bersih dan mengisikan nasi dan 3 ayam juga tempe goreng dan sedikit sambal di piring. “Buat siapa, Han? Ayamnya banyak banget?” tanya Bu Astrid saat mencuci piring “Oh ini, buat manusia yang masih tidur. Ayamnya buat aku,” ucap Rayhan. “Cie perhatian,” seru Bu Astrid menggoda Rayhan. Rayhan tidak menggubrisnya. Ia menyendok sayur bayam dan meletakan di piring untuk Azzura. “Ya entar kalau tuh bocah meninggal karena kelaparan, Rayhan belum siap jadi duren,” ujar Rayhan sarkasme. Bu Astrid menyipratkan air cuci piring pada Rayhan. “Ngomong tuh dijaga!” ucap Bu Astrid. Rayhan berjalan menuju kamar. Sesampainya di kamar, Rayhan tak mendapat Azzura di atas kasur di mana ia tadi tidur. Rayhan yang berjalan menuju sofa terhenti saat pintu kamar mandi terbuka dan menampakan sosok Azzura yang baru selesai mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di dadanya dengan panjang sejengkal di atas lutut. Rayhan menelan ludah karenanya, melihat Azzura yang terlihat sangat sexy, bagaimanapun juga, Rayhan juga laki laki normal dan pernah menjamah tubuh itu. Azzura sebenarnya kaget dan canggung saat ini, tetapi ia bingung harus ke mana. Akhirnya Rayhan keluar dari kamar tersebut dan mengakhiri atsmofer canggung yang terjadi beberapa menit yang lalu. “Astagfirullah, tadi kenapa aku gak langsung balik badan ke kamar mandi aja coba? Ck!” Azzura menggerutu dan merutuki kebodohan sambil menutup wajahnya malu. Di luar kamar Rayhan memegang piring berisi makanan yang akan diberikannya pada Azzura. “Gila, tuh bocah kecil-kecil bikin tegang!” Rayhan menetralkan detak jantungnya yang entah karena apa berdetak lebih cepat dari biasanya, padahal seharusnya dia sudah terbiasa melihat cewek sexy di club lebih dari Azzura tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD