Azzura keluar dari kamar setelah ia selesai berpakaian baju tidur.
“Astagfirullah,” ucap Azzura terkejut karena melihat Rayhan memasang wajah datarnya yang berada di depan pintu kamar, memegang piring berisi makanan. “Bikin kaget kamu, Mas,” Azzura mengerutkan keningnya.
Azzura memundurkan tubuhnya selangkah saat Rayhan berjalan menuju ke arahnya. “Masuk!” perintah Rayhan saat Azzura berhenti.
“Tapi aku mau makan sebentar, Mas.” Azzura mengutarakan alasanya keluar dari kamar.
“Saya bilang masuk, ya, masuk!” Azzura mengangguk setelah itu menunduk lalu berbalik masuk ke dalam kamar.
“Makan!” Rayhan menyerahkan piring makanan tadi pada Azzura yang seketika terdiam karena Rayhan yang peduli padanya. Karena Azzura yang tak kunjung mengambil piring tersebut Rayhan pun meletakan piring di atas nakas di samping kasur.
Setelah itu, ia keluar dari kamar tersebut menuju ruang kerjanya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda. Saat Rayhan tengah asik mengettik di keyboard laptopnya, terdengar pintu ruangan diketuk.
“Mas, kata ibu di depan ada tamu,” ucap Azzura masih mengetuk pintu tersebut.
“Mas ada ta—” Tiba-tiba Rayhan membuka pintunya dan langsung menemui orang yang bertamu itu dan meninggalkan Azzura di depan pintu ruang kerjanya.
“Eh elu, Than,” ucap Rayhan saat tau bahwa tamu tadi adalah Ethan, sahabatnya.
“Jangan 'Tan' doang dong, berasa nama gua setan jadinya,” jawab Ethan sambil sedikit merajuk.
“Hahaha, alay lu najis. Kenapa?” tanya Rayhan dan duduk di single sofa.
“Minum, Mas,” ucap Azzura yang tiba-tiba datang membawa 2 minuman lalu meletakkan minuman tersebut di atas meja. Ethan yang melihat ada cewek di rumah sahabatnya mengernyit bingung, tetapi juga terkagum memandang wajah manis Azzura, sampai-sampai mulutnya terbuka dan semua itu tak luput dari penglihatan Rayhan.
Setelah selesai, Azzura pun langsung berlalu meninggalkan kedua pria tersebut. Namun, mata Ethan tak kunjung lepas dari Azzura.
“SubhanAllah, bidadari surga ternyata memang ada, ya. Tiba-tiba gue pengin tobat," ucap Ethan, matanya terus memperhatikan Azzura yang berjalan menaiki tangga.
“Maksudnya?” tanya Rayhan mengernyit bingung bercampur kesal saat melihat Ethan yang tak kunjung melepaskan pandangannya dari Azzura yang kini sedang berbicara dengan Bu Astrid di atas tangga.
“Tujuh tahun kita sahabatan, gua baru tau kalau lo punya adek segitu cantik. Kok enggak pernah ngenalin ke gua?” tanya Ethan dan sepertinya penasaran dengan gadis berhijab tadi.
“Adek?” tanya Rayhan bingung.
Ethan menganggukan kepalanya. “Iya, itu adek lu, ‘kan?” tanya Ethan sambil meminum air yang dibawakan oleh Azzura tadi.
“Dia bini gua,” ujar Rayhan santai. Ethan yang sedang menyeruput tehnya itu pun langsung tersedak sampai ia terbatuk-batuk dan muka memerah.
Rayhan sedikit terkekeh-kekeh karena sahabatnya itu tersedak. Namun, saat melihat sahabatnya hampir semenit tidak kunjung juga selesai terbatuk ia memanggil Azzura.
“Raaaa ... AZZURA!” teriak Rayhan dan Azzura pun langsung bergegas memakai jilbab sorongnya lalu setengah berlari ke arah Rayhan.
“Kenapa, Mas?” tanya Azzura saat sampai di hadapan Rayhan.
“Ambilin air putih cepetan!” Rayhan menepuk-nepuk pundak Ethan berusaha membantunya. Azzura bergegas mengambil air minum untuk Ethan.
“Nih, Mas,” ucap Azzura langsung memberikannya pada Ethan. Namun, Rayhan langsung mengambil minuman itu ia pun menyuruh Azzura untuk balik ke kamar. Setelah selesai minum, Ethan mengambil napas.
“Setan lu, Han. Untung gua enggak mati konyol,” ujar Ethan sambil mengelap air matanya yang keluar karena batuk tadi.
“Lah kok gua? Gua cuma bilang itu bini gua,” elak Rayhan dan kembali terkekeh-kekeh.
“Oh gue enggak sempat ketemu dia sih pas nikahan kalian.” Ethan melihat ke atas lagi tepatnya ke arah kamar Rayhan.
“Cantik, ya, Han,” ucap Ethan tiba-tiba lalu menatap Rayhan yang mengernyit tidak suka.
“Selama ini gue denger cerita lo. Lu bilang lo kesellah, inilah itulah tentang dia. Gue pikir orangnya jelek. Enggak taunya, bidadari surga banget,” ucapan Ethan itu tidak sengaja didengar oleh Azzura yang akan turun ke bawah lagi untuk meletakan gelas dan piring kotornya tadi.
‘Apa segitu gak sukanya Mas Rayhan sama aku?'’ batin Azzura.
“Bohay lagi,” lanjut Ethan dan membuat Rayhan memanas.
“Sok tau lu!” tukas Rayhan berusaha agar nada suaranya masih tetap santai. Ia juga tidak tau kenapa ia panas saat Ethan mulai membayangi Azzura.
“Lu tadi mau ngapain ke sini?” Rayhan mulai mengalihkan perkataan Ethan karena kalau dia masih melanjutkan tentang Azzura, bisa-bisa ia kalap karena hatinya yang mulai kesal pada Ethan.
“Dih gua lo bilang sok tau? Meskipun dia pakai hijab, gue bisa tau berapa ukuran dadanya haha,” ucap Ethan tertawa sumbang dan dia menghentikan tawanya itu saat melihat Rayhan yang menatapnya dengan tatapan macan yang sebentar lagi mengamuk.
“Lu ngapa dah ngeliat gua begitu amat?” tanya Ethan canggung. Ethan kembali meminum tehnya.
“Kalau lu enggak ada perlu lagi, lo bisa pergi. Gua mau istirahat karena gua juga belum pulih.” Ethan yang memang merasa sedikit bersalah karena telah membayangkan istri sahabatnya itu pun pamit pulang.
Sebelum keluar, Rayhan mengatakan sesuatu yang terdengar seperti bisikan. “Jangan jadiin bini gua sebagai objek fantasi liar lu!” ucap Rayhan dengan penekanan di akhir kata. Ethan hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya pergi meninggalkan rumah tersebut.
***
“Lain kali kalau saya enggak panggil kamu buat bawain minuman, kamu enggak usah ke sana,” ucap Rayhan ketika baru saja masuk ke kamar dan melihat Azzura sedang menyiapkan tempat tidur untuknya.
“Iya, Mas,” jawab Azzura lalu Azzura berjalan ke kamar mandi dan mencuci muka, lalu berjalan menuju sofa yang lumayan besar di sudut kamar untuk meingistirahatkan tubuhnya.
Azzura terbangun dari tidur, dilihatnya jam dinding ternyata masih jam 3.12 am. Lalu ia melirik tempat tidur dan tak menemukan Rayhan di sana.
“Mas Rayhan ke mana, ya? Apa pergi lagi? “ ucap Azzura bertanya-tanya, Azzura mengambil ikat rambut dan menguncir asal rambutnya. Ia keluar dari kamar bermaksud mencari Rayhan.
Saat turun dari tangga, Azzura mendengar suara bising di dapur dan di situ ia melihat Rayhan sedang berkutat dengan kompor.
“Kenapa bangun?” tanya Rayhan tanpa menoleh ke belakang yang mana ada Azzura di sana. Azzura terkejut karena Rayhan mengetahui keberadaannya.
“Ya Allah, Mas, hobi banget bikin kaget,” ucap Azzura pelan, lalu berjalan ke arah Rayhan.
“Ha?” tanya Rayhan menoleh ke belakang, menatap Azzura.
“Enggak kok Mas, aku mau ... mau ....” Azzura mencari alasan ia terbangun. “Mau minum ...,” ucap Azzura cepat dan langsung menuju ke arah dispenser. Azzura pun meminum air putih tersebut lalu melangkah menuju tangga kembali berniat untuk kembali ke kamar, tetapi langkahnya terhenti karena Rayhan mencekal tangannya.
“Temenin saya makan,” ujar Rayhan datar lalu menarik pelan tangan Azzura menuju meja makan.
“I-iya, Mas,” jawab Azzura canggung. Mereka menuju meja makan, lalu Rayhan memakan nasi goreng yang ia buat tadi, sendiri, sedangkan Azzura duduk di hadapan Rayhan. Tiba-tiba saja ia sangat menginginkan sekali nasi goreng itu.
‘Duh, kok kayak enak banget gitu, ya?’ batin Azzura sambil sesekali melirik ke arah nasi goreng itu. Azzura beberapa kali menjilati bibirnya, dan Rayhan menyadari itu.
“Buka mulut kamu!” titah Rayhan tiba-tiba dan membuat Azzura menatap Rayhan heran.
“Cepet!” ujar Rayhan memajukan sendok ke arah Azzura. Azzura membuka mulutnya dan Rayhan mendekatkan kedua tangan, satu memegang sendok dan satu lagi seperti menampung di bawah dagu Azzura.
Rayhan terus menyuapi Azzura bergantian dengannya sampai nasi goreng itu habis. Setelah habis, Rayhan langsung berdiri dari kursinya lalu pergi ke kamar, sedangkan Azzura pergi ke wastafel untuk meletakkan piring kotor tadi.
Setelah itu Azzura berjalan menaiki tangga mengikuti Rayhan. Saat di tangga paling akhir, Rayhan merasakan perutnya bergejolak ingn mengeluarkan isinya. Rayhan seketika berbalik badan dan berlari. Rayhan tidak tahu kalau di belakangnya ada Azzura, tentu saja ia mengenai Azzura dan perempuan itu pun jatuh berguling-guling ke bawah.
“Mama ...!” teriak Rayhan panik bukan main melihat Azzura tidak sadarkan diri. Rayhan menggembungkan pipi, menahan gejolak perutnya.
“Astagfirullah, Han. Azzura kenapa, Han?” tanya Bu Astrid setelah keluar dari kamar dan melihat kepala Azzura kini ada di pangkuan Rayhan.
“Mama tolong urus dia sebentar. Aku pengin muntah.” Rayhan langsung lari terbirit-b***t ke kamar mandi dan memuntahkan makanannya tadi.
“Huek!” Berkali-kali Rayhan memuntahkan isi perut. Sampai-sampai mukanya pucat pasi. Rayhan kumur-kumur lalu mencuci muka. Saat ia mengeringkan wajah dengan handuk, ia teringat satu hal.
“Azzura,” ucapnya pelan lalu langsung berlari ke tempat di mana Azzura tidak sadarkan diri. Namun, nyatanya tak ada orang di rumah ini. Rayhan berlari ke kamar mengambil jaket juga ponselnya. Rayhan segera menelepon Bu Astrid.
“Halo, Ma. Mama di mana?”
“Susul Mama ke rumah sakit. Sekarang Mama lagi di perjalanan,” suara Bu Astrid terdengar bergetar.
“Iya, Ma. Aku langsung berangkat.” Rayhan pun menuju mobilnya lalu mengendarai dengan kecepatan tinggi ke rumah sakit. Setelah sampai, Rayhan kembali menelepon mamanya, menanyakan di mana ruangan Azzura.
“Ma,” ucap Rayhan saat melihat mamanya di depan sebuah ruangan.
PLAK!
Rayhan ditampar oleh Bu Astrid yang sudah berlinang air mata dan Rayhan yang mendapat serangan tak terduga, mengerjapkan matanya menatap Bu Astrid.
“Kok Mama nampar aku?” tanya Rayhan tak terima sambil memegangi pipinya.
“Seharusnya Mama nampar kamu tadi, tapi kamu langsung kabur ke kamar mandi, jadinya Mama tampar kamu sekarang,” jawaban Bu Astrid sukses membuat Rayhan melongo heran.
“Jelasin kenapa Azzura bisa jatuh?” tanya Bu Astrid menatap Rayhan nyalang, dan Rayhan pun menceritakannya.
“Kamar kamu, ‘kan ada kamar mandinya,” ucap Bu Astrid, Rayhan sedikit meringis mengingat kebodohan sendiri karena tidak berlari ke atas menuju kamar mandi di kamarnya.
“Gimana keadaan menantu saya, Dok?” tanya Bu Astrid segera saat dokter keluar dari ruangan Azzura.
“Keadaan Ibu Azzura dan bayinya baik-baik saja. Kandungan menantu Ibu tidak terlalu kuat, tapi syukur tidak terjadi hal yang serius. Tolong dijaga kandungannya, karena usia kandungan masih sangat rentang mengalami keguguran,” jelas dokter tersebut sambil tersenyum.
Degh!
Rayhan membeku di tempat saat sang dokter menjelaskan tentang bayi.
Bayi?
Bayi?
Bayi?
Rayhan mengernyitkan dahinya.
“Bayi?” lirih Rayhan menatap sang dokter, Bu Astrid tersenyum bahagia sambil mengguncang tangan Rayhan dengan antusias.
“Maksud Dokter, Azzura hamil?” tanya Bu Astrid berbinar menatap dokter. Rayhan tidak pernah melihat Bu Astrid sebahagia ini.
“Iya ... oh jadi keluarga belum ada yang mengetahui? Kalau begitu selamat, ya. Saya permisi.” Dokter itu meninggalkan ibu dan anak yang sedang dalam pikiran dan perasaan masing-masing.
Bu Astrid masuk ke ruangan Azzura, sedangkan Rayhan duduk di ruang tunggu. Pikirannya kacau sehingga ia tak tau harus berekspresi seperti apa.
Di satu sisi ia sangat bahagia karena akan menjadi seorang ayah, tetapi di sisi lain ia juga dilema karena ia akan mendapatkan anak dari Azzura. Wanita yang tidak atau belum dicintainya.
Rayhan termenung sesaat. Dulu, ia selalu memimpikan Sania-lah yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
“Ck,” decak Rayhan, Rayhan mengusap kepalanya karena kesal pada dirinya sendiri yang masih memikirkan Sania yang notabene adalah istri orang. Saat sedang dalam lamunannya, tiba-tiba ada yang menepuk pundak Rayhan. Rayhan mendongak dan mendapati Ryan yang masih memakai pakaian paraktiknya.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Ryan pada Rayhan. Saat Rayhan akan menjawab, pandangan Ryan beralih pada Bu Astrid.
“Mama?” ucap Ryan saat melihat Bu Astrid keluar dari ruangan lalu mencium tangan Bu Astrid.
“Eh? Kamu, Yan,” ucap Bu Astrid lalu mengelus kepala Ryan saat mencium tangannya.
“Kok subuh-subuh pada di sini, Ma? Azzura mana?” Ryan celingak-celinguk mencari istri dari adiknya itu.
“Ada di dalam, baru siuman,” ucap Bu Astrid dengan nada kesal sambil melirik ke arah Rayhan.
“Loh, emang Azzura kenapa?” tanya Ryan panik sambil menatap Bu Astrid dan Rayhan bergantian.
“Tanya sama adik kamu ini,” ucap Bu Astrid dengan nada ketus dan membuat Ryan mengernyit bingung melihat kepergian ibunya. Setelah itu Ryan langsung melihat ke arah Rayhan yang kini sedang memijat pangkal hidungnya
“Jelasin!” titah Ryan dan Rayhan-pun menceritakannya termasuk tentang kehamilan Azzura. Ryan ikut senang atas kehamilan Azzura.
“Tapi Mas, kok dia gak morningsickness atau ngidam gitu, ya?” tanya Rayhan akhirnya.
“Harusnya kamu peka. Gejala itu kamu yang alami,” ucapan Ryan sedikit terkekeh-kekeh dan itu membuat Rayhan berpikir.
“Emang bisa gitu, ya? Kan yang hamil dia,” ujar Rayhan tidak mengerti.
“Kamu minta rujak, Azzura pergi kamu sakit, tengah malem kepengin nasi goreng, abis itu muntah,” jelas Ryan, tanpa sadar Rayhan mengangguk.
“Itu karena ikatan ayah sama calon bayi kuat,” ucap Ryan lanjut menjelaskan.
“Oh gitu, ya.” Rayhan menggaruk pelipisnya tanda dia masih kurang paham.
“Nanti Mas tolong ke rumah, ya, periksa Azzura,” pinta Rayhan.
Ryan berdiri dari duduknya dan tersenyum pada Rayhan. “Iya. Kalau gitu Mas mau ke ruangan dulu.” Ryan pamit menuju ruangannya, sedangkan Rayhan sedang menimbang-nimbang, apakah ia harus masuk ke dalam atau tidak. Tiba-tiba Bu Astrid datang membawa dua kotak bubur ayam di tangannya.
“Kamu ini bener-bener, ya, Han!” seru Bu Astrid menatap sengit anak bungsunya, sedangkan yang ditatap mengernyit bingung.
‘Apa lagi?' batin Rayhan.
“Masuk!” perintah Bu Astrid.
“Bau obat, Rayhan tunggu di sini aja, Ma,” tolak Rayhan beralasan. Bu Astrid menarik tangan Rayhan. Sesampainya di depan pintu Bu Astrid melepaskan tangannya.
“Masuk dan kamu yang harus ngasih tahu Azzura tentang kehamilannya.” Rayhan menatap Bu Astrid dengan tatapan menganga tidak percaya.
“Mama aja, nanti di rumah Rayhan yang bilang.” Bu Astrid menatap Rayhan tanpa kedip lalu kembali menyuruh Rayhan masuk.
“Masuk!” perintah Bu Astrid lalu membuka pintu kamar Azzura. Rayhan pun tak bisa menolaknya lagi. Kemudian Rayhan masuk dengan berdecak sebal mengikuti Bu Astrid yang sudah masuk lebih dulu.
Hal pertama yang dilihat adalah Azzura terbaring dan ibunya yang sedang menyiapkan bubur tadi.
“Azzura, bangun sebentar, Sayang. Makan dulu.” Bu Astrid membangunkan Azzura, sedangkan Rayhan sudah duduk di sofa besar yang berada di ruangan itu dan masih memperhatikan Azzura.
“Engh,” gumam Azzura.
“Eh? Ibu,” ucap Azzura saat terbangun lalu segera duduk, dibantu Bu Astrid. Azzura memegang kepalanya yang terasa sakit.
“Makan dulu, ya,” ujar Bu Astrid dengan lembut yang diangguki oleh Azzura.
“Kok cuma dua, Ma? Buat Rayhan enggak ada?” tanya Rayhan saat ibunya meletakkan makanan untuk Azzura di nampan.
“Ini kamu satu berdua sama Azzura.” Rayhan menatap Bu Astrid sambil megernyitkan dahinya.
“Azzura baru siuman Ma, ya kali makanannya bagi dua,” ujar Rayhan, melipat tangannya di depan d**a.
“Rayhan beli makan sendiri aja di luar,” ucap Rayhan. Namun, saat Rayhan akan keluar, Bu Astrid mengatakan sesuatu yang membuat Rayhan mematung di ambang pintu.
“Eh? Kamu itu sekarang harus jadi suami siaga, alias siap antar jaga,” ucap Bu Astrid menyipitkan matanya saat menatap Rayhan.
“Minggir-minggir, ngehalangin pintu kamu.” Lalu Bu Astrid keluar dari ruangan itu sambil membawa bubur ayamnya. Setelah Bu Astrid keluar, atsmofer ruangan menjadi sangat sangat awkward.
“Mas makan aja sarapannya, aku belum lapar kok.” Azzura meletakkan nampannya di atas nakas. Rayhan berjalan mengambil bubur yang terletak di nakas dan duduk di atas ranjang tepatnya berada di samping Azzura.
Azzura yang berada sangat dekat dengan Rayhan menahan napasnya karena gugup.
“Kamu bisa bunuh anak saya kalau tahan napas begitu,” ucap Rayhan sambil mengaduk-aduk bubur ayam itu. Rayhan tertawa dalam hati, ia yakin Azzura sudah mengerti maksud perkataannya.
“Hah? Anak? Anaknya, Mas?” tanya Azzura sambil mengusap-usap tengkuk dan menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya Azzura sudah punya ekspektasi, tetapi ia ingin mendengarnya langsung agar lebih jelas.
“Iya. Anak. Kamu. Hamil,” ucap Rayhan kata per kata tanpa memandang Azzura dan lebih fokus dengan mengaduk bubur yang sudah mulai encer.
Azzura tersenyum senang lalu ia mengucapkan kalimat syukur. Azzura sangat bahagia karena ia akan menjadi seorang ibu dengan bonus penyakitnya juga akan sembuh.
Ia berlinang air mata bahagia, saking bahagianya tanpa sadar ia memeluk Rayhan dengan erat. Rayhan yang mendapat pelukan tiba-tiba sempat membeku beberapa saat sebelum akhirnya ia berhenti mengaduk buburnya.
Rayhan memang tak membalas pelukan itu, tetapi hatinya sungguh menghangat karenanya, hingga tak sadar ia tersenyum.