Part 6

1443 Words
“Kandungannya masuk minggu ke-3, kamu harus lebih jagain Azzura,” ucap Ryan menjelaskannya pada Rayhan. Kini mereka sedang berada di ruang kerja Rayhan. “Aku iri loh sama kamu,” ucap Ryan, Rayhan menghidupkan rokok lalu mengembuskan asap dan tidak disengaja menerpa wajahnya sendiri, seketika itu juga Rayhan berlari ke arah kamar mandi di ruang kerjanya. “Hhuuueeek.” Rayhan muntah dan Ryan yang melihat itu malah tertawa melihat adiknya. Lima menit Rayhan pun selesai bermuntah-muntah ria. Ia lemas sampai-sampai ia tak mampu menopang tubuhnya. Rayhan terduduk di dekat kloset dan menelusupkan kepala di lipatan tangannya yang terletak di atas kloset yang tertutup. Ryan tak henti-henti menertawakan adiknya yang lemas karena gejala yang seharusnya terjadi pada ibu hamil. “Mas? Gendong,” ucap Rayhan lemas sambil mengulurkan tangannya ke udara, meminta digendong oleh Ryan. Ryan mendekati Rayhan. Lalu membopong Rayhan ke dalam kamar yang berada di sebelah ruangan kerjanya dengan sesekali masih terkekeh-kekeh. “Loh Mas Rayhan kenapa, Mas?” tanya Azzura saat melihat Ryan membopong Rayhan lalu meletakkan Rayhan di samping perbaringan Azzura tadi. “Hahaha, ini dia abis muntah. lemes dia,” ucap Ryan lalu Azzura melepas selimut yang membungkusnya berniat turun dari ranjang tersebut untuk mengambilkan air minum hangat . Belum sempat Azzura menapak kakinya di lantai tangan Azzura dicekal oleh Rayhan. “Jangan ke mana-mana,” ujar Rayhan. “Tapi aku mau ambilin air hangat, Mas,” jawab Azzura. “Emm Azzura, Rayhan? Mas pamit, ya, soalnya sebentar lagi ada praktik. Kamu inget pesan Mas tadi, Han!” ujar Ryan. “Iya, Mas. Makasih, ya. Sorry aku enggak bisa antar sampai depan.” Rayhan menatap Ryan dan dibalas anggukan oleh Ryan, setelah itu Ryan pergi meninggalkan pasutri tersebut. “Besok kamu les!” sentak Rayhan saat melihat Azzura akan turun lagi dari ranjang. “Les?” Azzura mengernyit bingung. “Iya les. Les Bahasa Indonesia, biar kamu ngerti bahasa saya ‘jangan ke mana-mana’ itu apa artinya.” Sarkasme Rayhan membuat Azzura tak jadi turun dari ranjang. Azzura yang bosan mengambil ponselnya dan membuka aplikasi i********:-nya, tetapi tak ada yang menarik dan akhirnya Azzura meletakan ponselnya kembali. “Istirahat!” perintah Rayhan membuat Azzura mengerucutkan bibirnya. Ia tidak mengantuk, tetapi pria di sebelahnya ini bukan tipe yang bisa dibantah. “Enggak usah manyun gitu. Saya nggak akan cium kamu!” Lalu Rayhan membalikkan badannya membelakangi Azzura yang membelalakkan mata karena ucapan Rayhan. Entah keberanian dari mana didapat oleh Azzura, ia memukul Rayhan dengan bantal berkali-kali. “Aku juga enggak mau dicium kali!” ujar Azzura masih cemberut dan masih memukul Rayhan tanpa ampun. “Aduh! Apa-apaan sih?” Kalimat tersebut terus terucap dari mulut Rayhan dan sesekali menangkis pukulan yang diberikan oleh Azzura itu. Sampai akhirnya, Rayhan berhasil menggenggam pergelangan tangan Azzura lalu sedikit menyentak Azzura sehingga Azzura terjatuh ke atas Rayhan dengan tangan Azzura sebagai pembatas antara tubuhnya dan Rayhan. Waktu seolah berhenti sampai terdengar suara berdeham. “Ekhm.” Bu Astrid berdeham dan tersenyum melihat hubungan Azzura dan Rayhan mulai mengalami peningkatan. Rayhan yang mendengar dehaman itu segera tersadar lalu ia melepaskan cengkramannya dari Azzura dan menyuruh Azzura bangkit dari atasnya dengan isyarat. Rayhan tidak ingin gegabah. Ia masih ingat kalau kini ada nyawa lain di perut Azzura. Azzura merasakan pipinya memanas. Malu. Ia sangat malu ketahuan dalam posisi tersebut oleh mertuanya. “Mama harusnya ngetuk pintu dulu,” ucap Rayhan dengan wajah datarnya. “Mama tadi udah ngetuk pintu, tapi gak dibukain terus Mama denger orang mengaduh-aduh, Mama pikir kenapa. Ya udah Mama buka aja,” jelas Bu Astrid yang masih di ambang pintu. “Eh? Taunya,” lanjut Bu Astrid tersenyum menggoda ke arah anak dan menantunya. “Mama ngapain ke sini?” Rayhan mencoba mengalihkan pembicaraan. “Oh itu ... Mama mau ingetin. Azzura nanti minum obatnya jam 4.” Bu astrid masih saja tersenyum yang menurut Rayhan sangat menggelikan. “Oh. Ya udah. Nanti Rayhan ingetin.” Bu Astrid mengangguk lalu berbalik dan menutup pintu, sebelum pintu tertutup, Bu Astrid kembali menggoda Rayhan dan Azzura. “Yang tadi lanjutin aja,” ucapan Bu Astrid sukses membuat Azzura blushing. Saking malunya ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut dan membelakangi Rayhan. Setelah Bu Astrid keluar. Rayhan juga ikut masuk ke dalam selimut dan menyelipkan tangannya di antara tangan dan perut Azzura. “Mas!” protes Azzura. Ia sedikit risi karena baru sedekat ini dengan Rayhan. Rayhan tidak menghiraukan protes Azzura. “Saya enggak mau anak saya ileran, makanya saya peluk kamu.” Azzura langsung mencubit lengan Rayhan sehingga Rayhan meringis. Azzura tahu maksud perkataan Rayhan itu adalah ia mengidam memeluk Azzura. Azzura tahu itu karena tadi Ryan yang mengatakan kalau yang mengidam adalah Rayhan. “Anak aku juga,” sewot Azzura. “Tetap aja bibitnya dari saya.” Rayhan meletakkan dagunya di atas kepala Azzura dan kaki kanannya mengapit tubuh Azzura seperti bantal guling. Azzura tak suka berdebat oleh sebab itu ia tak membalas perkataan Rayhan lagi. Tak lama Azzura dapat merasakan embusan napas teratur di atas kepalanya. Kalau boleh jujur Ia suka posisi ini. *** “Minum obat kamu!” Sudah kali keempat Rayhan menyuruh Azzura meminum obatnya. Namun, Azzura hanya melihat butiran obat-obat yang berada di genggamannya itu. Rayhan sungguh jenuh melihat kelakuan Azzura yang tidak menjawab perkataannya ataupun melakukan apa yang disuruh sedari tadi. “Loh obatnya mau diapain, Mas?” tanya Azzura saat Rayhan mengambil seluruh obat dari tangannya, lalu Rayhan memasukan obat dan air ke dalam mulutnya setelah itu ia mengambil tengkuk Azzura dan mendekatkan bibir mereka. Sepersekian detik kemudian ia membengkap mulut Azzura dengan mulutnya menyalurkan obat tersebut ke dalam mulut Azzura. Azzura membelalakkan matanya dan dengan ragu ia menelan apa yang sudah ada di dalam mulutnya itu. Setelah yakin Azzura menelan semuanya Rayhan sedikit melumat bibir Azzura lalu melepas pagutannya dan menatap Azzura dengan seringaian kecil, sedangkan yang ditatap melirik Rayhan dengan tatapan malu, kesal, jijik. “Jorok banget sih, Mas,” tutur Azzura pelan sambil mengelap bibirnya dan sesekali mengeluarkan lidahnya karena merasakan pahit obat. “Kalau minum obat selanjutnya kamu masih susah. Saya jamin akan ngelakuin hal lebih dari tadi!” Ancaman Rayhan membuat Azzura bergidik ngeri. “Istirahat, saya ada kerjaan,” ucap Rayhan. "Dasar cowok m***m, egois, pemaksa, bossy!" umpat Azzura lalu membaringkan tubuhnya. “Saya punya dua telinga buat dengar itu semua,” ucap Rayhan lalu keluar dari kamar menuju ruang kerjanya. Sesampainya di dalam ruang kerja Rayhan langsung membuka laptop, ia melihat banyak sekali e-mail masuk, setelah itu Rayhan membalas satu persatu e-mail tersebut. Dua jam berlalu, akhirnya pekerjaan Rayhan selesai. Rayhan memijit tengkuk dan sesekali memutar kepala untuk merilekskan. Rayhan mengambil ponsel, lalu mengetuk tanda mikrofon pada google. “Oke Google, cara menjadi suami siaga.” Rayhan tersenyum saat melihat semua artikel tentang apa yang sedang ia butuhkan saat ini untuk dipelajari. Rayhan membacanya sebentar. Mungkin karena terlalu lama menatap layar dari tadi, mata Rayhan mulai memerah. Rayhan menopang kepalanya dengan mata yang masih membaca artikel. Entah kapan tepatnya, yang jelas kini Rayhan sudah tertidur. *** “Loh Azz? Kamu udah kuat emangnya buat masak?” tanya Bu Astrid saat melihat menantunya itu sedang memasak. “Udah Bu, lagian Azzura baru bangun dari istirahat kok. Bosan di kamar mulu dari pagi,” jawab Azzura sambil tersenyum. “Oh ya sudah kalau gitu, Ibu mau ke rumah tetangga dulu, ya, ada pengajian. Rayhan di mana Azz?” “Mas Rayhan mungkin di ruang kerjanya, Bu,” ucap Azzura sambil tetap memotong-motong bahan masakannya. “Ya udah, Ibu berangkat dulu, ya. Jangan capek-capek. Assalamu'alaikum.” “Iya Bu, hati-hati. Waalaikumsalam,” jawab Azzura, lalu melanjutkan masakannya, setelah selesai ia mencari Rayhan untuk diajaknya makan bersama. Tok Tok Tok! Azzura mengetuk pintu ruangan Rayhan, tetapi tak ada jawaban. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu tersebut yang memang tidak dikunci. Azzura menyembulkan kepalanya terlebih dahulu melihat dan memastikan ada orang apa tidak, dan ia melihat Rayhan yang tidur dengan kepala yang ia lipat di atas meja. “Mas, makan yuk!” Azzura mengguncang tubuh Rayhan “Engh.” Rayhan menanggapinya hanya dengan lenguhan tak jelas. “Mas udah Magrib, kalau gak mau makan, bangun dulu deh, sholat.” Azzura mengusap bahu Rayhan, tetapi hasilnya nihil. Rayhan sama sekali tak kunjung membuka mata. Azzura berniat untuk mengguncang tubuh suaminya itu lagi, tetapi pergerakkannya terhenti saat ia melihat ponsel Rayhan yang menyala berada di genggaman lemas Rayhan. Azzura pun mengambil ponsel tersebut untuk meletakkannya di atas meja. Ketika ingin mematikan ponsel Rayhan Azzura membaca judul dari artikel yang tertera di ponsel itu. “Tips and trik menjadi suami siaga saat istri hamil muda” Hati Azzura berbunga-bunga, rasanya seperti ada ribuan kupu-kupu yang menggelitiki perutnya. Senyumannya pun tak dapat ditahannya lagi. Sungguh dia sangat bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD