Part 7

2759 Words
“Ha? Kenapa, Than?” ujar Rayhan sambil menempelkan ponsel di kuping sebelah kirinya. “Ke sini lu. Gua gabut anjir!” Rayhan yang mendengar itu terkekeh-kekeh lalu melanjutkan suapan makannya. “Iya, bentar lagi gua cabut, gua lagi makan BYE!” “Eh si monyet yak, gua bel— Rayhan langsung mematikan sambungan tanpa mendengarkan ocehan tak bermutu dari Ethan. “Mama mana?” tanya Rayhan sambil mencuci tangannya dengan air minum. “Oh Ibu ke rumah tetangga, Mas, ada pengajian,” jawab Azzura lalu ia bangkit dari tempat duduknya menuju wastafel dan mencuci piring kotornya dan Rayhan tadi. “Tetangga siapa?” ucap Rayhan dengan terus melihat pergerakan Azzura yang mencuci piring. “Emmm enggak tau juga sih Mas, soalnya Ibu izin ke rumah tetangga aja, gitu,” ujar Azzura yang membelakangi Rayhan. “Oh.” Rayhan menjawab singkat dengan mata yang masih memperhatikan seluruh gerakan Azzura. Tanpa diduga detik berikutnya Azzura membalikkan badan dan itu membuat Rayhan kaget bukan main. Ia gelagapan dan memilih berlalu ke kamar untuk mengganti pakaiannya. Setelah selesai ia keluar dari kamar dan menuruni anak tangga. Rayhan melihat Azzura sedang duduk sambil bermain ponsel dan ia pun ikut duduk di sebelah Azzura dan bermain ponsel juga. Azzura yang menyadari keberadaan Rayhan, meletakan ponselnya di paha lalu ia melirik Rayhan yang rapi. “Mas mau pergi, ya?” tanya Azzura pelan. Ia takut kalau- kalau Rayhan marah karena mengurusi hidupnya. “Hmm,” gumam Rayhan membalas pertanyaan Azzura dengan tatapan yang tak lepas dari ponselnya. “Assalamualaikum.” Salam dari Bu Astrid membuat Azzura dan Rayhan menoleh. “Waalaikumsalam,” jawab mereka, lalu Azzura menghampiri Bu Astrid yang sepertinya membawa barang belanjaan. “Ma, aku berangkat,” ucap Rayhan seraya pergi sambil menenteng sepatunya. “Loh mau ke mana, Han?” tanya Bu Astrid. “Ke tempat Ethan sebentar.” Rayhan yang sudah di ambang pintu pun menjawab dengan sedikit berteriak. “Maaf ya Ibu lama,” ucap Bu Astrid pada Azzura. “Iya Bu, enggak apa kok.” Azzura menyunggingkan senyum tipisnya. “Udah jam 10, kamu istirahat gih.” Azzura mengangguk mengiyakan perkataan Bu Astrid. Sesampainya di kamar, Azzura membaringkan tubuhnya di sofa seperti biasa. Tring tring! Ponsel Azzura berbunyi, setelah dilihat ternyata notifikasi dari grup bersama 3 temannya. *KALONG * Virlalilu Jangan lupa besok bawa kado sayang sayangku Ratna.p Ciri-ciri manusia gak tau diri begini, ulang tahun minta kado. Tyasss Ciri-ciri manusia gak tau diri begini, ulang tahun minta kado (2) Ratna.p Si Tyas main copas2 ae -_- Tyasss Suk suk w lah. Ratna.p Si Azzura sider aja -_- Azzura.M Hehe sorry. Aku ga tau mau ngomong apaan soalnya wkwkwk. Virlalilu Azzura ku .... Besok bawa kado yaaa. Azzura.M Iya. Mau kado apa? Ratna.p Yah lu tanya dia? Ngelunjak ntar dia Azz. Tyass Yah lu tanya dia? Ngelunjak ntar dia Azz. (2) Ratna.p Si monyet enggak kreatif banget sih -__- @.tyasss Virlalilu Seriusan Azz? Lu nanya apa mau gua? Wah Gue ga neko-neko kok. Gue minta lu hadir sama laki lu. Ratna.p Nah, boljug tuh Azz. Tyasss Alhamdulillah, tumbenan @.virlalilu gak minta macem macem wkwk. Azzura.M Aduh, bukannya gak mau Vir,Tapi aku ga yakin Mas Rayhan mau. Virlalilu Iiihhhh. Pokoknya harus. Titik. Ya gak, Guys. Siapa yang dukung gua? Ratna.p Meeeee. Tyasss Me toooo. Virlalilu Voting mengatakan lu kalah Azz, jadi lu kudu bawa laki lu ke party gua ok? Azzura.M Aku ga janji ya. Btw aku udah ngantuk. Night guys. Azzura menutup aplikasi chating-nya, dan mengembuskan napas kasar tanpa sadar air matanya turun. Ia pikir, setelah Rayhan tau ia hamil, Rayhan akan berhenti keluar malam, rupanya tak ada yang berubah. *** Adzan Subuh menginterupsi tidur Azzura. Ia merasakan ada sesuatu yang hangat di bagian kulit perut dan belakang telinganya. Ia pun membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya tidur di kasur dengan tangan Rayhan yang berada di dalam kaos tipisnya. Azzura menelan ludah saking gugupnya. 'Gimana caranya aku gerak kalau kayak gini,' bathin Azzura. Azzura pun bangkit dengan perlahan lalu ia ke kamar mandi untuk ambil wudhu dan melaksanakan sholat Subuhnya. Selesai sholat Subuh, seperti biasanya Azzura merapikan kamar terlebih dahulu barulah bagian rumah yang lain. Setelah itu, Azzura pun langsung menyiapkan sarapan. “Ya ampun Azz, biar Ibu aja,” ucap Bu Astrid. “Enggak apa-apa kok Bu, ini aku juga udah selesai,” ucap Azzura sambil tersenyum lalu menata nasi goreng seafood kesukaannya di atas meja. “Ibu duduk aja, aku mau panggil Mas Rayhan dulu.” Azzura menanggalkan celemeknya lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. “Ya Allah,” ucap Azzura melihat Rayhan yang tidur memenuhi satu kasur. Ibarat kata kepala di mana kaki di mana. “Mas, bangun Mas ....” Azzura membangunkan Rayhan sambil memunguti bantal yang berjatuhan di sekitar kasur. “Mas, enggak kerja emang? Udah mau jam 7 loh!” Dua detik setelah Azzura mengatakan itu Rayhan langsung berdiri dari tidurnya dan melihat ke jam dinding yang berada di atas kepala kasur. “Astaga!” pekiknya lalu ia berlari menyambar handuk yang tergantung di sebelah pintu kamar mandi setelah itu ia masuk dan melaksanakan mandi bebek. Azzura yang melihat itu hanya terkekeh-kekeh. Setelah selesai merapikan kamar dan menyiapkan setelan kerja Rayhan, Azzura kembali ke meja makan. “Belum bangun?” tanya Bu Astrid yang melihat Azzura turun dari kamarnya hanya sendiri. “Lagi mandi, Bu.” “Oh ya udah, kita makan duluan aja.” Azzura pun menyendokkan nasi goreng ke piring Bu Astrid. “Udah cukup,” ucap Bu Astrid. Sedangkan Rayhan, di kamar, sedang memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa. Pasalnya, hari ini ia ada rapat penting. Setelah selesai berpakaian ia kembali ke hadapan cermin. “Gila ganteng banget gua, yak,” ucapnya percaya diri di depan cermin sambil sesekali menata kembali rambutnya. “Calon-calon hot papa hehe.” Rayhan tertawa dan tersenyum-senyum sendiri seperti anak Abg yang mendapatkan surat cinta. Selesai ber-pd ria, Rayhan turun dan mendapati Azzura dan mamanya sedang sarapan. Azzura yang melihat Rayhan turun langsung menghentikan makannya lalu mengambilkan nasi bagian Rayhan. “Sarapan dulu, Han,” ajak Bu Astrid lalu ia duduk di hadapan Azzura. “Pulang jam berapa kamu semalam?” tanya Bu Astrid di sela makannya. “Tiga,” jawab Rayhan singkat tanpa menoleh ke arah ibunya. Terdengar embusan napas kasar dari Bu Astrid. “Han? Kamu udah mau jadi orang tua. Kamu juga punya Azzura sebagai tanggung jawab kamu. Tolonglah kamu berhenti clubing,” pinta Bu Astrid dan hanya dijawab dengan gumaman oleh Rayhan dan itu membuat Bu Astrid jengkel setengah mati. Bu Astrid yang tidak ingin berdebat di meja makan, memilih mengalah dan melanjutkan makannya. Rayhan yang pertama kali selesai dengan makanannya langsung ke dapur. Bu Astrid yang melihat itu memperhatikan Rayhan dengan tatapan heran. “Bu?” tegur Azzura saat melihat Bu Astrid menatap lurus. “Eh? Iya Sayang kenapa? Kamu mual?” tanya Bu Astrid menatap Azzura. “Enggak Bu, Ibu tadi ngelamun aja. Ga enak ya nasi gorengnya?” “Bukan gitu, nasi gorengnya enak kok. Enak banget malah.” Kemudian Bu Astrid melanjutkan makannya yang tertunda tadi. “Minum!” perintah Rayhan sambil menyodorkan segelas s**u cokelat hangat pada Azzura lalu ia berjalan ke samping dan menyalami ibunya. “Rayhan berangkat, Ma. Assalamualaikum.” Rayhan pun hilang di balik pintu dengan meninggalkan kedua wanita yang menatap kepergiannya dengan perasaan dan pikiran masing-masing. *** “Rapat kali ini cukup sampai di sini. Selamat siang dan selamat beristirahat.” Kalimat penutup dari Rayhan mengakhiri rapat yang lumayan menguras pikirannya. Rayhan beranjak dari tempat duduk lalu ia berjalan menuju ruangannya. Kemudian, Ia mendudukkan diri di sofa panjang berwarna cokelat yang ada di dalam ruangan tersebut. Rayhan membuka kembali ponselnya, dan mengetikkan kalimat yang sama seperti kemarin, kembali membaca dan mempelajarinya karena kemarin ia belum sempat membaca banyak tetapi malah ketiduran. “Woy!” pekik seseorang di belakang Rayhan sambil memegang pundak Rayhan dengan keras alhasil Rayhan terkejut. Rayhan yang gelagapan langsung menduduki ponselnya. “Eh Kutil Onta. Gua bilangin ya, kalau mau masuk itu ketok dulu tuh pintu!” sewot Rayhan pada Ethan. “Eh Upil Gajah, gua udah ketok tuh pintu tapi gak di waro. Ya udah gua masuk aja.” Ethan langsung duduk di sebelah sahabatnya itu sambil memakan camilan kacang yang ia bawa. “Bagi dong,” ujar Rayhan, ia tau kalau Ethan sedang menatapnya curiga. “Lu tadi lagi ngapain? Hp lu mana? Nonton bokep, ya, lu? Sendiri aja gak ngajak-ngajak." Beruntun pertanyaan Ethan lontarkan pada Rayhan. “Bokep gigimu itu!” Lalu Rayhan memasukkan tangannya ke dalam bungkus kacang untuk mengambil beberapa butir. “Setan emang!” umpat Rayhan karena ternyata kacangnya sudah abis dan Ethan terkekeh-kekeh. “Lu ngapain ke sini?” tanya Rayhan pada Ethan yang kini memainkan ponselnya. “Gabut hehe. Kerjaan gua udah pada kelar,” ucap Ethan tanpa mengalihkan pandangannya dari benda pipih nan canggih tersebut. Lalu ia mendial nomor Rayhan karena kepo akan hal yang disembunyikan Rayhan. Drt drt drt! Getaran dan juga suara musik yang teredam menginterupsi keduanya. Seringai jahil muncul di bibir Ethan, dengan secepat kilat ponsel Rayhan sudah ada di genggamannya. “Setan ... balikin hp gua! Anjir!” “Et-et-et. Gua nyium bau-bau rahasia, nih,” ucap Ethan sambil terus menghindari Rayhan yang berusaha merebut ponselnya kembali. Dengan masih menghindari Rayhan, Ethan men-slide layar hp Rayhan. Rayhan memang tidak pernah mengunci ponselnya karena ia adalah orang yang pelupa. “Woah, Cara menjadi, et ... et, sabar dong gua belum selesai baca, Nyet!” Ethan terus saja berlari dan menghindari Rayhan. “Menjadi suami siaga saat istri hamil muda,” lanjut Ethan yang sudah berdiri tanpa gangguan dari Rayhan yang ngos-ngosan, dia gagal. Tiba-tiba raut wajah Ethan semringah dengan mulut menganga. “Ini seriusan?” tanya Ethan antusias dan kembali duduk di samping Rayhan yang sudah melengos. “Iya.” Rayhan langsung merebut ponselnya dengan kesal. “Pantesan waktu itu lu bilang gua sok tau.” Rayhan masih tak menggubris Ethan. “Katanya gak suka, katanya jengkel, taunyaaa udah ngadon aja haha!” “Bacot ya lu setan, mending lu keluar deh daripada gak jelas kayak gini,” sahut Rayhan sambil melonggarkan dasinya tanda ia gerah akan sikap Ethan yang mengejeknya. “Hahah, but sekali lagi selamat, Han. Gua harap lu segera move on dan gak kebayang-bayang bini orang lagi.” Lalu Ethan menepuk pundak Rayhan sebanyak dua kali sebelum ia keluar dari ruangan sahabatnya itu. Setelah Ethan keluar dari ruangan Rayhan, ponsel Rayhan kembali berdering. Dilihatnya nama yang menelepon. “Mas Ryan,” ucapnya lalu ia men-slide tombol hijau. “Assalamualaikum, Mas.” “Waalaikumsalam Han, kamu di mana?” “Kantorlah Mas, di mana lagi?” “Kamu gak antar Azzura chek-up?” “Hah? Dia gak kasih tau aku.” “Ya udah ke sini cepet. Ntar langsung ke tempat praktik Mas. Tau, 'kan?” “Iya. Otw.” Rayhan memutuskan panggilan sepihak. Lalu ia bergegas menuju ke Rumah Sakit. “Hasnil? Tolong handle acara saya hari ini,” ucap Rayhan pada sekretarisnya. “Baik, Pak.” Tak membuang waktu Rayhan segera berlari menuju lift dan menekan tombol yang akan membawanya ke parkiran di Basement. Setelah itu ia melajukan mobil honda civic-nya dengan kecepatan normal menuju Rumah Sakit. Setelah sampai ia langsung menuju tempat yang diberitahukan oleh Ryan tadi dan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Di dalam dilihatnya Azzura yang akan berbaring dibantu Mas Ryan. Rayhan menatap datar Azzura, sedangkan yang ditatap tak berani menatap balik. “Tunggu sebentar, ya, biar Mas panggilin Dokter Diana,” ucap Ryan karena lupa bahwa Azzura biasanya di-USG oleh temannya. Rayhan dan Azzura mengangguk kemudian Ryan meninggalkan ruangan tersebut. Rayhan mengusap usap tengkuknya, ingin sekali ia marah pada Azzura karena tidak memberitahukan jadwal chek-up-nya. Namun, menurut artikel yang dia baca bahwa ia sebagai suami siaga harus menghindari sang ibu hamil dari stress. “Permisi,” ucap Dokter Diana. “Mari Ibu angkat bajunya sampai di bawah d**a, ya,” ucap dokter tersebut. Rayhan yang merasa tak ada gunanya di situ pun berjalan menjauh. “Loh? Bapaknya gak mau nemenin?” ucap Dokter Diana sambil mengoleskan ultrasonic gel pada perut Azzura. “Saya tunggu di sana aja,” ujar Rayhan menunjuk sebuah kursi “Memangnya enggak mau liat calon bayinya?” Dokter yang di perkirakan berumur 36 tahun itu tersenyum lembut pada Rayhan, dan pada akhirnya Rayhan pun tak jadi beranjak dari tempatnya tadi. Ia melihat Azzura yang sepertinya malu karena perutnya kini terbuka. Setelah itu dokter menempelkan alat USG di perut Azzura. “Tuh lihat!” Dokter itu menunjuk sebuah layar monitor yang menampilkan gumpalan-gumpalan yang belum terbentuk. Tampak jelas bagaimana antusiasnya Rayhan, sedangkan Azzura terharu melihatnya sampai ia tak sadar meneteskan air mata bahagia. “Itu anak saya, Dok?” tanya Rayhan dengan mata berbinar dan masih menatap layar monitor tersebut. “Iya, tuh masih berupa gumpalan gumpalan darah,” jelas sang dokter tersebut sambil menggerakan alat sensor di atas perut Azzura. “Anak saya laki-laki?” Senyum Rayhan tak henti hentinya mengembang. “Belum bisa dilihat Pak, soalnya itu masih gumpalan belum terbentuk.” “Terus ini apa?” tanya Rayhan, masih dengan menatap layar tersebut seperti anak kecil yang melihat ikan di dalam akuarium. Dokter tadi langsung menoleh ke monitor, tampak di raut wajahnya ia terkejut, kemudian ia menatap Azzura yang kini gelisah. Azzura menatap balik dokter itu lalu menggeleng, dan sepertinya dokter tersebut mengerti. “Juga gumpalan,” jawab dokter itu dan tersenyum pada Azzura, lalu ia membersihkan perut Azzura dan mencetak foto hasil USG tadi. Rayhan tersenyum tulus penuh arti pada Azzura. Lalu, ia membantu Azzura untuk turun dari ranjang. Setelah itu mereka berdua kini sedang duduk berhadapan dengan sang dokter dan juga Mas Ryan yang baru saja masuk. Dokter Diana memberikan beberapa arahan makanan, s**u, vitamin untuk ibu hamil dan Rayhan memperhatikan dan menyimak semuanya. Ryan yang melihat adiknya seperti itu, tersenyum tipis lalu ia melihat ke arah Azzura yang murung dan tatapannya kosong. “Ini foto hasil USG tadi bisa disimpan.” Saat Azzura ingin mengambilnya dari dokter tersebut Rayhan sudah lebih dulu. “Biar saya aja yang simpan,” ucap Rayhan lalu memasukkan foto itu ke dalam jasnya. Azzura hanya bisa mengangguk, tak sengaja pandanganya dengan Ryan bertemu. Tampak Ryan mengernyitkan dahinya ketika melihat Azzura. “Kalau gitu saya kembali ke ruangan saya dulu, ya. Dijaga kandungannya baik-baik,” ucap Dokter perempuan itu tersenyum pada Rayhan dan Azzura bergantian. Rayhan dan Azzura tersenyum menanggapi dokter tersebut. Rasanya sudah lama Rayhan tidak tersenyum sebahagia ini. “Makasih atas bantuannya, Dok,” ucap Rayhan yang tampak sangat bahagia. “Iya sama-sama, kalau gitu saya permisi.” Dokter Diana pun berjalan menjauhi mereka bertiga. “Ya udah kalau gitu aku sama Azzura pulang dulu ya, Mas.” “Kamu balik ke kantor aja Han, Mas ada perlu sebentar sama Azzura,” ucap Ryan. Ia tau, pasti ada yang tak beres dengan hasil USG tadi. “Perlu apa? Biar aku temenin aja, lagian kerjaan aku udah beres semua kok.” Rayhan menatap Ryan yang sedang berpikir lalu matanya menatap Azzura yang berada di sebelah kanannya. “Mas cuman perlu sama Azzura, gak sama kamunya,” ujar Ryan yang kini melepas kacamatanya. “Ck. Segala pakai rahasia-rahasiaan.” Rayhan menggenggam tangan Azzura lalu berjalan menjauh tanpa memedulikan Ryan. “Masuk!” perintah Rayhan saat mereka sudah di depan mobil. Setelah itu Rayhan melajukan mobilnya menuju rumah. “Maaf ya, Mas,” ucap Azzura saat mereka sedang dalam perjalanan. “Buat?” tanya Rayhan. “Aku enggak kasih tau jadwal chek-up.” Terdengar helaan napas Rayhan. “Hmm,” jawab Rayhan dengan gumaman. Setelah itu tak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara. “Kita ke Mcd dulu.” “Mampir ke Mcd dulu, ya, Mas.” Mereka mengucapkan kata tersebut bersamaan, Rayhan sedikit terkekeh-kekeh karenanya. Mereka pun makan sebentar, lalu melanjutkan perjalanan. Sesampainya di rumah, mereka masuk ke dalam kamar, Rayhan merogoh kembali kantong bagian dalam jas tersebut dan menemukan foto USG tadi. Rayhan tersenyum dengan terus melihat Foto hitam putih itu, setelah puas memandang foto itu, Rayhan memberi double tip di belakang foto tersebut. Lalu, ia menempelkan 2 foto USG itu di sudut kanan cermin. Azzura yang melihat itu tersenyum bahagia, tetapi ia juga takut kalau penyakitnya akan menganggu pertumbuhan anaknya. “Kenapa cuma 2, Mas?” tanya Azzura. “Satu lagi mau saya pajang di kantor,” jawab Rayhan tanpa menatap Azzura yang berada di belakangnya. Rayhan berbalik dan tersenyum setelah itu ia memeluk Azzura singkat, dan hal selanjutnya membuat Azzura terpaku beberapa saat. Rayhan mencium keningnya lumayan lama. “Saya lagi bahagia. Jadi maklumin aja.” Selesai mengucapkan kalimat itu Rayhan meninggalkan Azzura yang masih belum sadar dengan apa yang baru saja terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD