Bu Astrid kini sedang duduk di ruang TV dan menatap foto hasil USG tadi dengan senyum semringahnya.
“Akhirnya Mama bakal punya cucu,” ucap Bu Astrid lalu ia menoleh ke arah Rayhan yang juga sedang menatap mamanya itu.
“Kamu jaga Azzura baik-baik.” Nasihat Bu Astrid sambil mengelus pundak Rayhan.
“Mama yakin, kamu udah buka hati kamu sama dia. Cuma belum bisa ungkapinya aja, 'kan?”
“Sebenarnya Rayhan belum yakin, Ma,” ucap Rayhan yang membuat Bu Astrid menatap sendu anaknya itu.
“Kamu harus, Han,” ucap Bu Astrid meyakinkan Rayhan. Rayhan tak menjawab ucapan Bu Astrid, dan memilih beranjak dari duduknya dan berjalan menaiki anak tangga, masuk ke dalam kamar. Ia melihat Azzura sedang mencari-cari baju di dalam lemari.
“Mau ke mana?” tanya Rayhan yang membuat kaget Azzura.
“Kaget mulu kamu,” ucap Rayhan karena melihat Azzura mengucap sambil mengelus dadanya.
“Aku mau ke B'day party-nya temen aku. Bolehkan, Mas?” Rayhan yang tadinya sudah berbaring langsung duduk kembali.
'Enteng banget tuh mulut minta izin ke party,' batin Rayhan.
“Enggak,” ucap Rayhan tegas.
“Tapi, Mas ....”
“Saya bilang enggak ya enggak, kamu pikir B'day party itu orangnya enggak banyak apa? Nanti kalau anak saya kenapa-napa, gimana?” Rayhan tersulut emosi karena Azzura yang membantah perkataannya.
“Tapi dia sahabat aku Mas, masa aku enggak datang, sih?” Azzura menatap Rayhan yang mengerutkan keningnya seperti sedang berpikir.
“Cepet tua entar loh ngerutin dahi mulu,” ucap Azzura sedikit cemberut dan itu membuat Rayhan gemas.
“Saya tidur sebentar, nanti saya pikirin lagi.” Azzura mengerucutkan bibirnya kesal. Azzura yang tadinya sedang di depan lemari berjalan ke samping tempat Rayhan tidur lalu ia mengguncang tubuh Rayhan.
Sembari menggoyang-goyangkan tubuh Rayhan, Azzura memohon. “Mas, Mas boleh yaaa, Mas please.”
“Mas Rayhan ganteng deh,” goda Azzura mencoba membujuk Rayhan. Rayhan yang mendengar itu tersenyum di dalam selimutnya.
'Ada-ada aja sih nih bocah,' batin Rayhan terkekeh-kekeh.
“Saya tau itu. Jadi gak perlu kamu kasih tau,” ucap Rayhan.
“Ck” Azzura mendecak sebal lalu kembali ke depan lemari untuk merapikan beberapa baju yang sempat dibuatnya berantakan. Rayhan yang tidak mendengar rengekan dari Azzura pun menoleh sebentar.
'Ngambek apa, ya?' batinya bertanya.
Tak lama Rayhan merasakan tempat tidur bergoyang. Rayhan duduk dari tidurnya dan menoleh ke arah Azzura yang duduk di tepi ranjang.
“Kamu ngambek?” tanya Rayhan pada Azzura yang sedang mengutak-atik ponselnya.
“Hm? Enggak kok. Kalau Mas bilang gak boleh ya udah. Nanti aku kasih tau temen aku,” jawab Azzura masih dengan ponselnya yang miring.
Tiba-tiba Rayhan merebut ponsel Azzura untuk melihat kegiatan apa yang sedang dilakukan Azzura sehingga tidak menatap balik saat berbicara padanya.
“Kamu main apa sih? AAAAA KUTIL AYAM SETAN!”
Azzura yang melihat Rayhan yang begitu kaget tak kuasa menahan tawanya.
“Game apaan sih, itu? Ngagetin. Enggak bermutu banget,” ujar Rayhan sambil mengambil ponsel Azzura yang ia lempar ke dekat kakinya.
“Kayak Mas ya, 'kan? Ngagetin mulu,” jawab Azzura, lalu ia mengambil ponselnya dari tangan Rayhan.
“Ya udah sana siap-siap, biar saya temenin,” ucap Rayhan tiba tiba.
“Ke mana?” tanya Azzura yang melanjutkan bermain game tadi.
“Tadi katanya mau ke B'day party temen kamu. Ya udah sana siap-siap. Siapin baju saya juga.”
Azzura yang mendengar itu menghentikan permainannya sebentar lalu menatap Rayhan dengan tatapan tak percaya.
“Jadi Mas ikut? Padahal tadi sebenernya aku emang disuruh ajak Mas sama temen aku.”
“Terus kenapa eggak kasih tau saya?”
“Belum sempet,” jawab Azzura di sertai cengirannya.
“Ya udah sana, lagian saya ikut cuma mau jagain anak saya doang,” ucap Rayhan dan membuat Azzura melengos.
***
“Mas aku turun di sini aja, ya,” pinta Azzura saat mereka sudah berada di depan pagar rumah Virla.
“Enggak! Kamu ikut saya cari parkiran.”
“Hm iya deh.” Lalu mereka pun berputar-putar di sekitaran rumah Virla setelah mendapatkan tempat parkir Azzura dan Rayhan keluar dari mobil bersamaan. Setelah itu mereka masuk beriringan dengan Rayhan di sebelah kanan Azzura.
“Azzura ...,” teriak Virla saat melihat Azzura memasuki pekarangan rumahnya. Di situ ada Tyass yang sedang mengobrol dengan teman-teman lainya dan juga Ratna. Azzura langsung berlari menuju teman-temannya, Rayhan yang melihat itu membelalakkan matanya dan mengejar Azzura yang kini sudah berada di kumpulan teman-temannya.
“Ara!” pekik Rayhan tertahan dan langsung saja menarik lengan Azzura untuk menghadapnya.
“Kamu gak ingat anak saya?!” bisik Rayhan melotot dan itu membuat Azzura meringis.
“Maaf,” cicit Azzura menatap Rayhan yang kini sedang memelototinya. Rayhan menghela napas sebelum akhirnya melepaskan cengkraman tangannya pada Azzura.
“Mas, kenalin ini Virla yang ulang tahun.” Lalu Rayhan menoleh dan menjabat tangan Virla.
“Rayhan, Happy birhtday, ya,” ucap Rayhan disertai senyumannya.
“Yang ini Ratna.”
“Ratna. Mas ganteng teh namina saha?” Rayhan terkekeh-kekeh melihat tingkah Ratna yang bisa dibilang centil.
“Rayhan.” Rayhan pun melakukan hal yang sama seperti ia menjabat tangan Virla tadi.
“Tyass mana?” tanya Azzura.
“Bentar gua panggilin dulu,” ucap Ratna, tak lama Ratna datang dengan beriringan tangan Tyas.
“Hai Azz,” ucap Tyass sambil memeluk sahabatnya itu.
“Mas, ini Tyass,” ucap Azzura pada Rayhan yang sedang membalas pesan di ponselnya. Rayhan mendongak dan mendapati seseorang yang bernama Tyass tadi.
“Tyass?” ucap Rayhan, Rayhan yakin bahwa ada Sania di sini, karena setahu Rayhan, Tyass selalu mengajak Sania untuk menemaninya ke mana pun.
“Hai, Mas,” sapa Tyass mencoba sesantai mungkin.
“Loh lu kenal lakinya Azzura?” tanya Ratna pada Tyass dengan bingung. Azzura menatap Tyass dan Rayhan dengan bingung begitu pula dengan Virla.
Tiba-tiba saja Rayhan mengenggam tangan Azzura erat.
“Kita pulang?” ucap Rayhan tegas lalu ia berjalan keluar dengan menggeret tangan Azzura.
“Aku pamit sebentar sama mereka, Mas,” pinta Azzura, tetapi Rayhan tidak melepas genggamannya maupun menghentikan jalannya.
“Mas tunggu!” ucap Tyass yang kini berada di hadapan Azzura dan Rayhan.
“Mas marah sama Kak Sania kenapa aku juga ikut-ikutan dijadi ....” Belum selesai ucapan Tyass tiba-tiba ada yang memanggilnya.
Rayhan membeku di tempat, genggamannya semakin erat dan membuat Azzura sedikit meringis sakit
“Sania? Mantan Mas Rayhan yang pernah diceritain sama ibu?” batin Azzura.
“Tyas, hp Kakak mana?” ucap Sania, tetapi pandangnnya terhenti saat ia melihat Rayhan.
“Rayhan?” lirih Sania, sungguh ia merasa bersalah, tetapi dia juga tidak bisa melakukan apa pun sekarang. Ia telah bersuami, sedangkan Rayhan, ingin sekali ia berlari meninggalkan tempat ini. Ia takut pertahanannya roboh jika melihat Sania. Namun, ia ingat pesan Ethan.
“Ngapain kabur kalau ketemu mantan? Itu mantan bukan setan!”
'Emang ya, teori itu lebih gampang daripada praktik,' batin Rayhan.
“Hai,” sapa Rayhan singkat dengan senyuman yang ia paksakan. Mata Sania beralih pada genggaman tangan Rayhan pada Azzura. Rayhan yang menyadari itu langsung mengenalkan Azzura pada Sania.
“Oh kenalin, Azzura istri saya lagi hamil anak pertama.” Tiba-tiba saja raut wajah Rayhan menjadi semringah kala mengingat ia akan menjadi seorang ayah.
“Lu hamil Azz?” tanya Tyas antusias.
“Iya masuk satu bulan,” jawab Azzura sambil melirik Rayhan.
“Wow, selamat ya Azz gua seneng dengernya.” Virla langsung memeluk tubuh Azzura.
“Anak saya kejepit kalau kamu meluknya kayak gitu,” ucap Rayhan polos sambil memisahkan Virla dari pelukan Azzura dan membuat Virla mengerucutkan bibirnya kesal.
“Selamat ya Han, aku ikut bahagia,” ucap Sania yang diangguki oleh Rayhan.
“Selamat ya, emm ...?” ucap Sania seperti mengingat nama Azzura.
“Azzura,” ucap Rayhan mengingatkan nama Azzura.
“Oh iya, selamat ya Azzura. Semoga bayinya sehat sampai lahiran.” Doa Sania dan diamini oleh mereka semua.
Setelah itu Rayhan pamit untuk pulang pada mereka semua. Sesampainya di mobil Rayhan tak langsung menjalankan mobilnya, ia menyandarkan tubuhnya dan menutup mata, seolah-olah ia baru saja terlepas dari beban, sedangkan Azzura yang dari masuk ke dalam mobil menghadap keluar jendela melirik ke samping kanannya. Ia melihat Rayhan yang mengeraskan rahanganya dengan mata terpejam. Azzura memang tidak tau persis bagaimana perasaan Rayhan kini, tetapi yang jelas perasaan Rayhan pasti sedang kacau.
Azzura memberanikan diri mengusap lengan kiri Rayhan dan itu membuat Rayhan menoleh sebentar, lalu ia kembali menatap ke depan. Rayhan nyaman, tetapi ia belum mau mengakuinya. Hatinya masih menepis rasa itu. Azzura tersenyum melihat Rayhan yang menoleh.
“Cuma orang hebat yang bisa berdamai dengan masa lalunya, dan Mas termasuk orang hebat itu,” ucap Azzura dengan tangan masih mengusap lengan Rayhan.
“Kamu tau siapa dia?” tanya Rayhan tanpa menatap Azzura.
“Mantannya Mas, 'kan.” Itu bukan sebuah kalimat pertanyaan, tetapi lebih ke pernyataan.
“Hmm, Mama yang cerita?” tanya Rayhan.
“Iya, Ibu cerita sedikit,” jawab Azzura yang sudah tak mengusap lengan Rayhan.
“Oh.” balas Rayhan singkat, ia juga tak mempermasalahkan Azzura yang mengetahui masa lalunya.
“Mau pulang atau makan?” tanya Rayhan sambil menjalankan mobilnya keluar pekarangan rumah Virla.
“Beli makan aja, aku mau makan di rumah,” jawab Azzura, Rayhan mengangguk.
“Ekhm, kamu gak ada ngidam?” tanya Rayhan memecah keheningan.
“Enggak kok Mas, aku belum ngidam. Mas kali.”
Tiba tiba Rayhan tampak berpikir, apakah akhir-akhir ini dia mengidam.
“Eh? Iya deng saya yang ngidam. Kemaren saya makan jeruk bali, bakso urat, salak,” ucap Rayhan membuat Azzura terkekeh-kekeh.
“Mas sayang banget ya sama bayi ini?” tanya Azzura dengan nada lirih sambil mengusap perutnya yang belum membuncit tersebut.
Rayhan yang merasakan perubahan nada bicara Azzura itu mengambil napas dalam. Azzura merasakan sesuatu yang berat di perutnya.
“Orang tua mana yang gak sayang sama anaknya?” jawab Rayhan sambil mengelus perut Azzura. Azzura hanya tersenyum miris.
'Dan suami mana yang gak sayang sama istrinya, Ra. Saya sayang sama kamu, tapi maaf saya belum bisa buat mengakuinya,' batin Rayhan.