“Assalamualaikum.” Untaian salam dari Azzura dan Rayhan bersamaan saat memasuki rumah.
“Waalaikumsalam, loh kok udah pada balik? Cepat banget acaranya,” tanya Bu Astrid pada keduanya, tetapi hanya Azzura-lah yang menjawab karena Rayhan sudah lebih dulu naik ke kamar.
“Em, emang niatnya gak lama lama kok Bu hehe,” jawab Azzura dengan kekehan yang dipaksakannya.
Bu Astrid sedikit mengernyit heran, tetapi tak terlalu dipedulikannya.
“Ya udah sana istirahat,” ujar Bu Astrid dengan penuh kasih sayang.
“Ntar lagi deh Bu, aku mau makan ini dulu,” ucap Azzura sambil memperlihatkan tentengannya.
“Itu apa?” tanya Bu Astrid.
“Pecel ayam, tadi beli di depan komplek. Makan bareng yuk Bu, Mas Rayhan katanya gak mau,” jawab Azzura lalu ia menuntun Bu Astrid menuju meja makan.
Mereka pun makan dalam diam, tak ada satu pun yang memulai obrolan sampai akhirnya Rayhan duduk di depan Azzura dengan mukanya yang sudah sangat mengantuk.
Azzura dan Nu Astrid lantas melihat ke arah Rayhan yang tak mengeluarkan sepatah kata pun.
“Kenapa?” tanya Rayhan karena merasa risi diperhatikan seperti itu.
“Kamu yang kenapa, tiba-tiba datang. Terus sejak kapan kamu punya baju tidur?” tanya Bu Astrid dan menatap geli Rayhan, sedangkan Azzura mati-matian ia menahan tawanya supaya tak lepas.
“Oh ini kado dari Ethan,” jawab Rayhan lalu ia mencomot lalapan yang ada di piring Azzura. Azzura kembali memakan makanannya yang tertunda karena melihat sisi imut dari Rayhan.
“Kado apa? Kamu ulang tahun masih lama juga,” tanya Bu Astrid sambil melanjutkan makannya.
“Kado pas nikahan baru aku buka tadi,” jawab Rayhan santai.
“Parah kamu! Nikah udah hampir 4 bulan baru dibuka sekarang,” ujar Bu Astrid yang hanya dibalas cengiran oleh Rayhan.
“Udah Azz?” tanya Bu Astrid sambil berdiri dari tempat duduknya dan berniat mengambil piring kotor Azzura.
“Biar Azzura aja, Bu,” sela Azzura lalu ia pun mengambil alih piring yang ada di tangan bu Astrid.
Saat Azzura sedang mencuci piring, Bu Astrid menyenggol lengan Rayhan dan membuat Rayhan menoleh.
Dengan sedikit berbisik, Bu Astrid bertanya, “Masih banyak kado yang belum kamu bukain?”
“Banyaklah, kan belum ada yang dibukain satu pun.” Entah kenapa Rayhan pun ikut berbisik.
Bu Astrid yang mendengar jawaban Rayhan pun menoyor kepala anak bungsungnya itu.
“Parah banget!"
“Ayo!” Rayhan langsung menarik tangan Azzura saat Azzura baru saja sampai di sampingnya, bahkan Bu Astrid saja tidak tau kalau Azzura sudah di sana.
“MasyaAllah,” ucap Azzura karena melihat kamarnya dipenuhi kado.
“Bantuin bukain kadonya,” perintah Rayhan pada Azzura.
“Eh mau ngapain?” tanya Rayhan saat Azzura membuka lemari pakaiannya.
“Mau ambil baju ganti Mas, gerah,” jawab Azzura.
Rayhan memberikan satu stel baju tidur serupa dengan yang dipakainya. “Pakai ini aja.”
“Couple?” tanya Azzura sedikit mengernyitkan dahinya.
“Auk, si Setan yang ngasih,” balas Rayhan dengan suara yang kecil, mungkin hanya terdengar seperti gumaman tidak jelas.
“Hah?” tanya Azzura.
“Ethan yang ngasih, udah sana cepetan ganti abis itu kita buka kado dulu.”
“Iya.” Lalu Azzura masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti bajunya menjadi baju tidur serupa dengan yang Rayhan pakai saat ini.
“Yang mana dulu, Mas?” tanya Azzura lalu ia menjepit rambutnya dan duduk di sebelah Rayhan.
Rayhan pun menoleh dan menatap Azzura lama.
“Mas kenapa sih liatin aku kayak gitu banget?” cicit Azzura sambil mengusap tengkuknya.
“Gak apa-apa, saya suka aja sama bajunya,” jawab Rayhan datar.
'Soalnya yang makai kamu,' batin Rayhan tersenyum.
“Yang mana ajalah," ucap Rayhan menjawab pertanyaan Azzura tadi.
Lalu mereka pun memulai membuka semua kado-kado yang seharusnya mereka buka saat malam pertama.
“Jadi selama ini kadonya Mas simpan di mana?” tanya Azzura di sela-sela kegiatannya.
“Di ruangan saya,” jawab Rayhan singkat, lalu ia membelalakkan matanya saat mendapatkan membuka kado yang isinya adalah sebuah lingirie berwarna hitam.
'Kalau dipakai Azzura gimana, ya?' batin Rayhan.
Seketika itu juga Rayhan menggaruk-garuk garis rahangnya yang tidak gatal untuk menutupi senyuman jahil dan mesumnya.
Rayhan melempar lingirie tersebut pada Azzura. “Buat kamu!” Lalu ia segera membuka kado yang lain. Namun, sudut matanya masih bisa melihat Azzura.
Rayhan menggigit bibir bawahnya supaya tidak tertawa karena melihat wajah Azzura yang sudah memerah.
'Kok ada sih orang yang jual baju kurang bahan begini?' batin Azzura.
“Dipakai, ya, malam ini. Saya mau minta jatah saya sebagai suami,” ucap Rayhan tanpa melihat pada Azzura karena Rayhan sedang membuka kado sekaligus mati-matian menahan tertawanya.
Karena tak kunjung ada suara dari Azzura, Rayhan pun mengangkat kepalanya dan mendapati Azzura yang memandang lingirie tersebut sambil sedikit menggigit bibir bawahnya.
“Ya elah, serius amat. Becanda kali,” ucap Rayhan lalu ia mengambil lingirie yang berada di pangkuan Azzura dan melemparnya ke atas sofa.
“Huft.” Azzura mengembuskan napasnya dan itu terdengar oleh Rayhan.
“Ya Allah, Ra, kamu anggap saya beneran serius tadi? Ya enggaklah hahaha,” ujar Rayhan yang membuat Azzura melengos, padahal tadi ia sedang menimbang-nimbang, bagaimanapun juga Rayhan suaminya.
Mereka pun kembali membuka kado sampai akhirnya tersisa 2 kado. Kado yang kotaknya sebesar karton indomie dan satu buah Amplop yang tidak terlalu besar.
Rayhan segera mengambil amplop tersebut.
“Cup, saya buka ini,” ucap Rayhan sambil tersenyum tepat di depan wajah Azzura. Lalu Rayhan berdiri dan menaiki kasur setelah itu ia membuka amplopnya.
“Ih padahal kan tadi itu udah di tangan aku.” Pun begitu Azzura tetap membuka karton tersebut.
“Wih paket liburan. Eh paket honeymoon deng,” ucap Rayhan dengan mata masih tertuju pada isi amplop tadi.
“Apa isinya?” tanya Rayhan karena Azzura yang tak bersuara sedikit pun.
'Iih siapa sih yang ngirim kado beginian,' batin Azzura jengkel.
“Ra?” Rayhan kembali memanggil Azzura yang tidak kunjung menyahuti Rayhan.
“Azzura?”
“Eh? Iya Mas, kenapa?” tanya Azzura kikuk.
“Apa isinya?”
“Bukan apa-apa,” ucap Azzura lalu ia memasukkan sampah yang terakhir tadi ke dalam kantong plastik besar yang sudah hampir penuh dengan berbagai sampah kertas kado.
Rayhan mengangkat alisnya sebelah dan masih terus memperhatikan Azzura yang kini sibuk menyusun kado yang tadi ia letakkan di atas sofa.
“Mau ngapain kamu?” tanya Rayhan saat melihat Azzura yang akan membaringkan tubuhnya di sofa yang baru saja selesai ia bereskan.
“Tidurlah Mas, udah jam 10,” jawab Azzura lalu ia membalikkan badan menghadap ke bagian senderan sofa dan membelakangi Rayhan.
“Saya tuh bukannya gak kuat gendong kamu, tapi takut abis gendong kamu paginya saya pegel-pegel,” lanjut Rayhan.
Azzura segera membalikkan badannya dan menghadap Rayhan yang kini duduk di kepala ranjang dengan tangan bersidekap. “Yang minta gendong juga siapa?” tanya Azzura, lalu ia kembali lagi pada posisi awalnya.
“Kamu,” tuduh Rayhan sepihak.
“Kapan?”
“Secara gak langsung kamu itu tiap malam minta saya gendong.” Azzura mengernyitkan dahinya berpikir apa maksud dari perkataan Rayhan.
“Ck, susah ya nyindir kamu,” ucap Rayhan.
“Lagian to the point aja sih, Mas,” jawab Azzura.
Rayhan turun dari ranjang menuju sofa di mana Azzura berbaring. Setelah itu Rayhan langsung menyelipkan tangannya di leher dan lutut Azzura.
“Mas turunin!” Azzura memekik tertahan dan memukul lengan Rayhan saat tubuhnya melayang.
“Tiap pagi bangunnya di atas kasur juga, masih aja tidurnya di sofa,” ucap Rayhan menurunkan Azzura di ranjang.
“Geser,” ucap Rayhan dan Azzura pun bergeser ke sebelah kiri. Setelah itu mereka pun masuk ke dalam selimut dan menatap langit-langit kamar.
“Mas?” Kini Azzura yang memanggil Rayhan yang berada di sebelah kanannya.
“Ya?” Lalu Rayhan memperbaiki posisi kepalanya.
“Aku boleh kuliah, 'kan?” Azzura sangat berharap ia diperbolehkan melanjutkan pendidikannya.
“Enggak,” jawab Rayhan cepat tanpa berpikir.
“Boleh, ya, Mas.” Kini Azzura sudah menghadap ke Rayhan yang masih menatap langit-langit dengan satu tangan dijadikan bantal.
“Enggak Azzura,” ucap Rayhan lembut.
“Aku janji jagain anak Mas baik-baik.”
Senyum tipis terukir di bibir Rayhan karena Azzura yang masih berusaha untuk membujuknya. “Anak kita, Ra,” ralat Rayhan.
Azzura terdiam saat Rayhan mengatakannya.
“Kalau anak kita kamu yang jaga, yang jagain kamu siapa?” Lalu Rayhan menutup mata dan kembali memperbaiki posisi kepalanya. Terdengar embusan napas kasar dari Azzura.
“Ngomong-ngomong, tadi kadonya apaan, sih?” tanya Rayhan dengan mata yang tertutup.
“Bukan apa apa kok, Mas.” Langsung saja Azzura meremas kantong bajunya yang mana kado tersebut berada.
Kalau saja Rayhan tak menggodanya dengan meminta jatah, mungkin ia akan biasa saja memberikan isi kado tersebut yang memang seharusnya hanya untuk Rayhan.
Azzura bergerak-gerak, entah mengapa ia kepikiran dengan godaan Rayhan tadi. Bagaimanapun juga Rayhan suaminya, cepat atau lambat mereka pasti akan melakukannya juga.
Namun, Azzura belum siap, ia masih takut. Apa mungkin Azzura trauma?
“Ra tidur! Jangan gerak-gerak mulu,” ucap Rayhan. Azzura yang ditegur langsung menutup matanya dan mencoba memasuki alam bawah sadarnya.
Tiga puluh menit kemudian.
“Ra? Kamu udah tidur?” Rayhan membalikkan badan dan menatap Azzura yang tidur terlentang menghadap langit-langit kamar.
“Udah tidur kali, ya?” tanya Rayhan pada dirinya sendiri.
Lalu Rayhan mendekatkan dirinya ke Azzura.
“Ffuah.” Rayhan sedikit meniup wajah Azzura memastikan Azzura sudah benar-benar tertidur. Azzura sedikit menggeliat karenanya. Lalu, Rayhan melancarkan aksinya mencari letak kado yang membuatnya kepo.
Awalnya Rayhan turun dari ranjang dan berjalan ke arah sofa. Rayhan mencari di sofa, tetapi tidak ada, ia yakin benda itu kecil. Namun, apa?
“Ck,” decak Rayhan karena tak menemukan benda itu.
Rayhan kembali ke atas kasur, membaringkan tubuhnya, menopang kepalanya dengan satu tangan lalu menatap Azzura.
Saat sedang asik memandangi wajah Azzura Rayhan melihat tangan Azzura yang meremas kantong bajunya.
Senyuman jahil Rayhan langsung muncul, lalu dengan perlahan ia melepaskan remasan Azzura dan mengambil benda yang membuatnya kepo di dalam kantong baju Azzura.
“Allahu akbar bhakkk.” Rayhan tertawa tanpa suara saat mengetahui kado yang membuatnya penasaran itu. “Kirain apaan kadonya,” ucap Rayhan di sela-sela tawanya.
“Siapa yang ngasih, ya?” tanya Rayhan pada dirinya sendiri. Rayhan kembali turun dari tempat tidurnya menuju kantong plastik besar yang menampung kertas-kertas kado tadi, dan mengambil sampah paling atas.
Rayhan mencari nama pengirim di bungkus kado itu, tetapi hasilnya nihil, ia tak menemukannya. Namun? Rayhan menemukan sticky note di dalamnya.
“Mas pengin cepet dapet ponakan.”
Rayhan menggeleng heran, dan langsung mengambil ponsel. Segera ia mendial nomor yang bernama :
Mas Ryan
“Assalamualaikum,” salam Rayhan dengan cepat.
“Waalaikumsalam Han, kenapa tengah malam nelpon?”
“Mas niat gak sih ngasih kado?”
“Maksudnya?”
Rayhan menggaruk pelipisnya. “Ya itu loh, kado pas nikahan aku.”
“Dih, udah hampir 4 bulan dan baru sekarang protesnya?” tanya Ryan dengan nada heran.
“Orang baru aku buka.”
“Hah? Parah kamu, Han. Berarti udah enggak guna lagi kado aku.”
“Gunalah.”
“Hahaha, jadi kamu nelpon cuman buat protes kadonya?”
“Iyalah, aku protes kenapa cuman satu gitu? Kenapa gak sekotak?”
“Yeeeeuuu, itu aja boleh ngambil punya Mas hahah.”
“Najis sumpah, Mas."
“Hahhahha, udah ah. Kalau mau sekotak beli sendiri. Modal dong.”
“Ya udah iya. Makasih sebelumnya.” Lalu Rayhan mematikan sambunganya sepihak.
Ia menghela napas dan sedikit terkekeh-kekeh melihat benda kecil berbungkus hitam itu.
***
“Kamu ngapain?” tanya Rayhan ketika ia baru keluar dari kamar mandi dan melihat Azzura yang menunduk dan melihat ke bawah ranjang.
“Enggak kok, Mas,” jawab Azzura cepat dan segera berdiri. Rayhan menyeringai dan langsung menuju laci tempat ia meletakkan amplop semalam.
“Nyari ini?” ucap Rayhan sambil menunjukan sebuah benda yang berbungkus plastik hitam dan bertuliskan super magic.
Azzura membelalakkan matanya, sedikit terkejut karena benda yang tadi malam ia sembunyikan berada di tangan Rayhan.
Rayhan terkekeh-kekeh melihat Azzura yang diam dengan pipi yang sudah seperti tomat. Rayhan sadar bahwa, bagaimanapun juga Azzura masihlah remaja yang akan malu jika berkaitan dengan hal intim seperti ini.
“Biasa aja kali, Ra,” ucap Rayhan, lalu ia mengambil bajunya yang sudah disiapkan Azzura di atas kasur.
“Kamu mau liat saya pakai baju.”
Azzura yang mengerti langsung keluar dari kamar dan menuju dapur, sedangkan Rayhan tertawa karena melihat Azzura yang sangat lucu di pagi hari ini.
“Ih, Ibu udah masak aja. Maaf ya Bu, tadi Azzura bangunnya kesiangan,” ucap Azzura saat melihat Bu Astrid yang ternyata sedang memasak.
“Udah enggak apa-apa. Ibu tuh udah lama banget gak masak, tiap harikan yang masak kamu.”
“Ya udah kalau gitu aku bantuin ya, Bu.” Azzura pun mulai membantu Bu Astrid, saat sedang fokus memasak Azzura merasakan ada seseorang di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati Rayhan membuka lemari kecil yang berada di atas kepalanya dan mengambil kotak s**u.
Bu Astrid melihat itu semua hanya tersenyum.
“Ma, tolong bikinin, ya. Aku ada rapat pagi ini,” ucap Rayhan lalu ia mencium tangan ibunya itu.
“Kamu nanti minum itu,” ucap Rayhan tersenyum pada Azzura. Azzura manganggukan kepalanya.
“Assalamualaikum."
“Waalaikumsalam,” jawab Azzura dan Bu Astrid.
Setelah memasak Azzura dan Bu Astrid pun memakan sarapan yang mereka buat. Tak lupa Azzura meminum s**u yang dibuatkan oleh Bu Astrid. Seperti biasa selesai makan, Azzura akan mencuci piring.
Tok tok tok!
Azzura yang baru saja selesai mencuci piring mengelap tangannya, lalu ia menuju pintu depan untuk membukakan pintu.
“Assalamualaikum,” ucap seseorang yang kini berada di depan rumah.
“Waalaikumsalam, bentar,” teriak Azzura.
“Loh Mas Ryan?” ucap Azzura saat membukakan pintu dan mendapati sosok Ryan. Ryan tersenyum pada Azzura.
“Masuk, Mas,” lanjut Azzura.
“Iya. Mama mana?” tanya Ryan lalu ia mendudukan diri di ruang tamu, tetapi saat Azzura ingin menjawab ternyata Bu Astrid sudah lebih dulu bersuara.
“Loh? Ada kamu Yan, enggak kerja?” tanya Bu Astrid yang baru saja keluar dari kamarnya.
“Aku ambil minum sebentar, ya Bu, Mas.” Izin Azzura yang dibalas senyuman oleh Bu Astrid dan Ryan.
“Kerja bentar lagi Ma, aku ada perlu sama Azzura sebentar,” ucap Ryan mencium tangan bu Astrid.
“Perlu apa?” tanya Bu Astrid serius.
“Masalah penyakit Azzura,” jawab Ryan. Pembicaraan Ryan terhenti karena Azzura yang telah tiba dengan membawa dua gelas minuman ke ruang tamu.
“Silakan, Mas,” ucap Azzura lalu ia meletakkan teh manis di depan Ryan.
“Iya, makasih,” ucap Ryan tulus.
“Mas ke sini cuma sebentar, kemarin Mas ngobrol sama dokter Diana. Dia bilang kalau ada kista di rahim kamu,” jelas Ryan memberitahukan maksud dan tujuannya mendatangi Azzura pagi-pagi.
“Boleh mas liat foto hasil USG kemaren? Mas mau liat dan bandingin ukurannya sama yang terakhir kali.”
“Fotonya ditempelin semua ke kaca sama mas Rayhan, Mas,” ucap Azzura. Ryan mengernyit, tetapi detik berikutnya dia tersenyum.
“Gak pernah berubah ternyata,” gumam Ryan teringat kebiasaan Rayhan. Setelah Ryan berdiri dari tempat duduknya.
“Ya udah kita ke kamar, Mas mau lihat sebentar doang,” ucap Ryan lalu ia berjalan beriringan dengan Azzura ke kamar atas, sedangkan Nu Astrid kembali ke kamarnya.
“Maaf berantakan, Mas,” ucap Azzura karena kamarnya yang masih berantakan dengan kado kado yang belum sempat dibereskan.
“Iya enggak apa-apa,” jawab Ryan. Ryan tak membuang waktu dan langsung melihat foto USG tersebut.
“Gimana, Mas?” tanya Azzura karena melihat Ryan yang terus memandang foto tersebut.
“Masih ada Ra kistanya,” ucap Ryan pelan tanpa melihat Azzura yang berada tidak jauh di belakangnya. Azzura menggigit bibir bawahnya, menahan tangisannya.
“Bayi aku?” tanya Azzura dengan suara yang bergetar.
“Sehat, kista itu gak akan ganggu proses kehamilan kamu kok.” Ryan membalikan badannya dan melihat Azzura yang sudah hampir menangis.
Ryan mendekati Azzura.
“Aku takut, Mas,” lirih Azzura.
“Wajar kamu takut, tapi jangan dipikirin banget. Nanti kamu stress, inget anak kamu.” Nasihat Ryan pada Azzura sambil tersenyum.
“Mas? Apa gak ada cara buat hilangin kistanya?” tanya Azzura masih dengan suara yang bergetar.
“Operasi Ra, tapi itu gak mungkin dilakuin sekarang. Yang penting jangan terlalu dipikirin banget, kasian baby-nya,” ucap Ryan lalu mrmasukan tangan ke dalam kantung celanananya.
“Iya, Mas. Makasih, ya,” ucap Azzura tulus dan tersenyum.
“Aku minta tolong supaya Mas Rayhan enggak tahu dulu, biar aku yang jelasin,” pinta Azzura.
Tampak Ryan sedikit berpikir. Namun, akhirnya ia mengiyakan juga permintaan Azzura.
“Ya udah kalau gitu, aku mau langsung ke rumah sakit, ya.”
“Bye ponakannya Om,” ucap Ryan sambil tersenyum dan melambaikan tangan di depan perut Azzura. Azzura yang melihat itu pun tersenyum.
“Dadah juga, Om,” balas Azzura dan mereka pun tertawa kecil bersama.
Ceklek!
Azzura dan Ryan lantas menoleh ke arah pintu dan mendapati Rayhan yang memasang wajah datarnya dan menatap Azzura juga Ryan penuh selidik.
Ryan yang masih berjongkok segera berdiri. “Yang satu sudah beristri, yang satu sudah bersuami dan bakal punya anak, tapi begini kelakuanya,” ucap Rayhan sarkasme.
“Mas, aku ...," ucapan Azzura terhenti saat Rayhan kembali berbicara.
“Udah diem!” Rayhan tidak membentak. Namun, terlihat jelas rahangnya mengeras. Ryan memasukkan kedua tangan pada saku celananya.
Ia tau adiknya itu pasti sedang cemburu, lagi pula ia tak melakukan hal yang aneh dengan Azzura, jadi untuk apa dia takut pada Rayhan yang kini menatap tajam ke arahnya.
“Ra, Mas duluan, ya. Assalamualaikum.” Ryan berjalan ke arah pintu dan melewati Rayhan lalu menepuk pundak Rayhan.
“Waalaikumsalam,” jawab Azzura lemah, rasanya suara Azzura tercekat saat ini karena melihat wajah Rayhan yang seperti itu.
“Duluan, ya,” ucap Ryan.
“Bodo,” jawab Rayhan yang membuat Ryan sedikit terkekeh-kekeh. Setelah Ryan keluar, matanya kembali tertuju pada Azzura yang melihatnya takut-takut.
Rayhan berjalan melewati Azzura menuju laci di samping tempat tidurnya, lalu ia mengambil beberapa berkas yang tertinggal. Setelah diambil ia kembali lagi melewati Azzura yang dari tadi tidak bergerak.
“Mas,” panggil Azzura, tetapi tak didengarkan oleh Rayhan.
Rayhan keluar dari kamar dengan membanting pintu yang membuat Azzura terjengkit kaget. Rayhan menuruni tangga dan melihat masih ada Ryan di sana sedang berbicara dengan ibunya.
Namun, obrolan mereka terhenti saat Rayhan menutup pintu rumah dengan keras.
“Buset dah.”
“Astagfirullah,” ucap Ryan dan Bu Astrid bersamaan karena kaget. Azzura yang juga mendengar bantingan pintu menutup mata, mencoba meredam perasaan kalutnya.
Rayhan memasuki mobil dan melajukan dengan kecepatan tinggi. Untung saja ini jam kerja, jadi jalanan tidak terlalu ramai. Rayhan masih belum bisa berpikiran positif tentang apa yang ia lihat.
Rayhan mengambil ponselnya dan men-dial nomor Hasnil, sekretarisnya.
“Selamat pagi, Pak?”
“Hasnil, sebentar lagi kamu jemput berkas ke pos satpam, saya titip di situ. Saya enggak ngantor, tolong handle,” ucap Rayhan.
“Baik, Pak”
Rayhan pun menutup sambungan secara sepihak dan melajukan mobilnya.
'Disaat saya mencoba buka hati saya buat kamu, kamu malah rusak kepercayaan saya lagi. Dulu karena surat yang menyatakan kamu sakit, sekarang apa, Ra?!” batin Rayhan.