Tama melangkah masuk ke dalam rumahnya sambil menenteng tas kerja. Ia menolehkan kepalanya melihat ke depan jendela rumahnya—di sana masih terlihat Reyhan dan Kayra yang duduk berhadapan. Naluri kekepoannya tidak dapat ia elakkan, langsung saja ia membalikkan badannya dan berdiri di balik jendela. Mengintip putrinya dan Reyhan yang tampak serius mengobrol sebelum akhirnya tertawa bersama. Hatinya menghangat melihat tawa lepas nan bahagia putrinya. Ah rasanya ia bahagia walaupun hanya melihat putri kecilnya tertawa seperti itu. Senyuman tergambar di wajah tampannya namun senyuman itu sedikit luntur saat ia melihat Reyhan mengelus sayang rambut Kayra. Pikiran Tama berkelana entah kemana melihat putrinya yang sudah tumbuh dewasa. Pasti—pasti sebentar lagi putrinya akan segera menikah. Putri

