Kepala Kemanan

1278 Words
Dia perhatikan langit malam ini tak terlalu cerah, hanya saja gemerlap lampu kota yang membuat cerah.  Pikirnya ke club malam harus berdandan serba hitam agar terlihat seperti orang-orang. Dia bela-belain meminjam seperangkat pakaian kepada temannya agar seperti yang dia harapkan.  Setelah menyemprotkan parfum pewangi pakaian yang dia buat sendiri, dan memasang sepatu bututnya, dia pun berangkat sambil berdoa di dalam hati agar semuanya baik-baik saja. Lagi pula orang seperti Kang Goban tidak akan mengkhianati apa yang telah dia ucapkan, dia sangat percaya hal itu, melebihi kepercayaan seorang pacar pada pacarnya.  Club Sevenfold tidak terlalu jauh dari rumahnya, paling sampai setengah jam menggunakan motor. Tentu dia pun berandai-andai apa yang akan dia lakukan dengan kepala preman pasar di sana. Mungkinkah minum, bermain wanita dan berdansa dengannya di lantai dansa, tetapi masa Kang Goban seperti itu. Dia semakin penasaran.  Setelah membayar tukang ojek dengan uang yang dia pinjam dua puluh ribu kepada temannya tadi, dia pun masuk dan di jegal oleh pihak keamanan untuk memastikan dia tidak membawa senjata tajam.  Saat semuanya beres, dia pun mencari letak duduk Kang Goban di antara puluhan pengunjung yang sedang berjoget, minum di sana-sini dalam kegelapan ruang. Tetapi belum bisa dia temukan sosok Kang Goban yang tinggi besar.  Masuk sedikit di antara pengunjung, sambil menoleh-noleh dan akhirnya dia melihat sosok Kang Goban duduk sendirian di sofa yang mungkin tempat VIP. Sepertinya begitu, dia kurang tahu karena jujur ini adalah pertama kalinya dia masuk ke club malam.  Kang Goban pun tak mengangkat tangannya padahal dia tahu dia telah melihatnya, hal itu tidak membuatnya percaya diri dan berpikir bahwa Kang Goban telah lupa dengan janji temunya dengannya.  Sampai di depan Kang Goban dia tersenyum sambil menyapanya meski dia tidak dengar, dan Kang Goban pun tersenyum lalu menepuk lantai sofa di sebelahnya agar dia duduk di sampingnya.  Sedikit ragu-ragu dan gemetar, dia pun duduk dan mulai berkeringat, mungkin di pengaruhi suara club yang terlalu memekik telinga hingga tingkat detak jantung menjadi kencang. Mungkin juga di pengaruhi sosok yang dia temui itu. Bisa di katakan belum terbiasa dengannya.  “Siapa namamu tadi?” tanya Kang Goban yang telah lupa dengan namanya. “Aldo Kang…” jawabnya. “Kamu tahu kenapa saya memilihmu?”  “Tidak Kang. Memilih apa ya, Kang?” tanya Aldo sedikit ragu.  “Karena saya yakin kamu berpotensi di bidang yang akan saya rencanakan ini,” seru Kang Goban.  “Silakan minum dulu sebelum kita membahasnya lebih lanjut!” Pinta Kang Goban.  Aldo pun meneguk vodka biru berusia satu tahun yang di hidangkan untuknya itu. Rasanya kecut tapi banyak pahitnya, dan benar-benar keras untuk lidah kampung yang biasa minum arak biasa sepertinya.  “Sialan, Kang. Benar menggetarkan lidah minuman ini.” Katanya memuji.  “Kamu terlalu berlebihan…” jawab Kang Goban. Lalu Kang Goban menceritakan keinginannya.  Dua tahun yang lalu, ketika Kang Goban datang ke Jakarta sebagai penjual cilok seharga lima ribu per bungkusnya di tepi jalan, datang tiga pria bermuka seram menagih iuran sebagai pajak wilayah yang mengaku mereka kuasai, tetapi Kang Goban dengan santun menolaknya dan berharap ada hal lain yang bisa dia berikan selain uang.  Tiga preman itu menolak dan malah bertindak brutal, selain menghancurkan gerobaknya, mereka juga menghajar Kang Goban hingga Kang Goban tak kuasa menahan amarah.  Luka bengkak beberapa pukulan di wajahnya dia balas secepatnya, dia mengamuk memukul ketiga preman tersebut seperti orang buta hingga tak terasa pisau menancap di perutnya, namun karena tenaganya lebih kuat dari mereka, dia pun memenangkan perkelahian tiga lawan satu itu hingga akhirnya ketiga preman berhasil dia tundukkan.  Dan mulai saat itu namanya menjadi tenar di kalangan preman.  Hari berikutnya, dia di tantang duel oleh sepuluh preman jalan dan di situ ada ketuanya. Tanpa sebuah senjata, akhirnya Kang Goban memenangkan pertarungan melawan sepuluh preman tersebut berkisar lebih satu setengah jam pertarungan.  Namanya mulai berkibar layaknya bendera di ujung tiang, dan akhirnya dia perkenalkan dengan seorang kepala preman yang menguasai semua wilayah seperti pasar, terminal dan jalanan.  Beberapa bulan kemudian, dia pun di angkat menjadi kepala preman di ketiga wilayah itu setelah kepala sebelumnya mati bunuh diri.  Di bawah kepemimpinannya, mengubah segala opini dan obsesi para preman yang sebelumnya bertindak nakal saat menarif pajak menjadi santun tetapi tetap di segani, mula-mula anak buahnya hanya puluhan, akhirnya bertambah banyak menjadi seratus lebih.  Namun kali ini, dia melihat dirinya waktu muda pada Aldo yang baru dia temui di pasar, baginya Aldo memiliki prinsip yang sama dengannya dan keras kepala. Dari itu dia pilih Aldo untuk datang menemui di club malam ini.  Satu-satunya rencananya malam ini adalah, “Saya ingin memperluas wilayah dan menguasai tempat hiburan malam seperti ini. Disini tempat bisnis paling rentan dengan perkelahian, maka seperti mereka harus di butuhkan.” Katanya pada Aldo.  “Tetapi Kang, disini kan sudah ada keamanannya!” sanggah Aldo. “Memang benar, tetapi lihatlah nanti ketika ada yang bertengkar, paling sedikit lagi!” jawab Kang Goban sekali lagi.  Kemudian di tengah-tengah kesenangan para pengunjung yang asyik berjoget, dua pria terlihat cek-cok, berawal dari adu mulut hingga akhirnya saling pukul memukul, semua itu di sebabkan perebutan pacar hiburan.  Pria pertama mengaku dia yang lebih dulu memesan gadis centil berdada besar itu, dan pria kedua mengaku dia memang costumer yang sering main dengannya. Mau tidak mau, karena mereka saling mabuk dan memiliki kelompok yang sama-sama mereka nilai kuat, akhirnya pertarungan dua kelompok pun di mulai, dan lihat betapa kesulitannya keamanan menghentikan mereka. Bahkan keamanannya kalah. Di injak-injak bagai kloset di depan pintu rumah.  “Aldo… Buktikan dirimu sekarang, hentikan dua kelompok itu!” suruh Kang Goban.  “Tetapi mereka banyak Kang…” timpal Aldo ketakutan.  Namun lebih takut lagi ketika Kang Goban menoleh dengan tatapan tajam kepadanya. Aldo pun berdiri dengan kenyamanan sofa dan mulai melangkah ke tengah-tengah mereka.  Musik telah terhenti gara-gara perkelahian itu, banyak yang telah hancur karena ulah mereka, dan akhirnya Aldo teriak dengan keras menentang kedua kelompok itu. Jika kalah, akan pulang dengan mati, dan jika menang, mereka harus tunduk kepadanya.  “Ha-ha-ha…” dua kelompok itu saling tertawa mendengar tantangan dari pria kurus sepertinya. Paling hanya satu tendangan, ada yang bilang seperti itu.  Sementara Kang Goban masih diam, dia mengamati dan maju jika tiba saatnya.  Lalu dua tendangan dari arah berlawanan menyerangnya, berhasil dia tangkis dan menendang satu lawan di depannya. Hanya modal percaya diri, dia bisa mengalahkan dua orang itu.  Tetapi itu belum cukup, vodka yang barusan dia teguk belum naik ke ubun-ubunnya, dia belum emosi layaknya singa melawan singa. Hingga akhirnya dua kelompok itu langsung menyerang dari segala arah, meninju, menendang hingga dia tersungkur jauh di bawah kaki Kang Goban.  “Bagus Nak… Kamu telah membuktikannya, sekarang giliranku!” ucap Kang Goban sambil melihatnya.  Dia di langkahi sebelum menjadi mayat oleh Kang Goban, menuju ke tengah-tengah dua kelompok itu, ada yang mengaku mereka kelompok bernama Elang Merah, satunya entah apa. Tak terlalu Kang Goban tanggapi.  Tanpa basa-basi Kang Goban langsung meninju orang yang paling dekat dengannya dan langsung jatuh tanpa bangkit lagi. Tangannya yang sebesar palu Brahmana itu memang dahsyat kekuatannya.  Lalu dia di kepung dua kelompok, ada yang menusuk dan menggunakan senjata seperti botol bir, namun semuanya keok terpental jauh dan tidak bisa bangkit lagi.  “Bagaimana, apakah ada yang mencoba lagi?” seru Kang Goban.  Dua kelompok itu lari keluar berhamburan, tidak ada lagi dari mereka yang mencoba melawan pria raksasa itu. Bahkan jika Kang Goban di adu dengan banteng tentu dialah yang menang, sebab dia buyutnya banteng.  Dan Kang Goban tersenyum kecil, matanya mulai genit dan waktunya meninggalkan nama besarnya di club Sevenfold itu.  “Hubungi kami jika tidak hal demikian terjadi!” seru Kang Goban, lalu keluar tanpa membayar sepeser pun dari apa yang di hidangkan tadi kepadanya. Sementara Aldo telah di rekrut menjadi kepala keamanan bagian hiburan malam pada saat itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD