Saban hari nama Kang Goban dan Valdo menggema bagai letusan nuklir menderu sebuah kota. Orang-orang membicarakan mereka seperti membicarakan selebriti tanah air yang baru saja naik daun. Di sudut kampung, di gang-gang kecil bahkan nama mereka di perbincangkan setara dengan kopi pahit hangat yang selalu menjadi pembuka awal pagi para penarik angkot di warung tepi jalan Jakarta.
Orang-orang saling bertanya identitas Kang Goban dan Valdo, mulai dari asal hingga bagaimana bentuk wajah mereka. Ada yang menganggap bahwa Kang Goban dari Medan merantau ke Jakarta beberapa tahun silam sebagai penjual sepatu, lalu mengubah namanya menjadi Kang Goban seolah-olah ia berasal dari Jawa Barat yang identik dengan sebutan Kang. Tentu itu sebagai bentuk keamanan privasi Kang Goban. Sebab seorang mafia seperti dia pasti banyak yang penasaran mengenai informasinya.
Sementara Valdo ada yang mengatakan ia berasal dari Kalimantan, asli suku Dayak pedalaman hutan Kalimantan yang tangguh-tangguh secara fisik dan spiritual, maka dari itu ia di jadikan tangan kanan oleh Kang Goban.
Lalu mereka saling berdebat dan mengaku pernah melihat Kang Goban dan Valdo di klub malam yang sedang duduk santai di sofa yang remang-remang. Yang mengaku pernah melihat mereka itu hanya bisa melirik dengan secarik ujung matanya, itu pun diam-diam. Namun di cahaya yang begitu sulit, ia mengaku tak melihat begitu jelas wajah mereka, hanya Kang Goban ia identikkan dengan tongkat berkepala naga selalu di tangannya.
Anehnya dua master mafia itu tidak pernah terlihat di kelilingi wanita-wanita cantik berbusana mini, yang d**a mereka memikat serta b****g mereka yang tampak memanggil. Ada apa?
Ada yang berprasangka bahwa itu adalah pantangan yang harus mereka jaga, ada juga yang mengatakan bahwa Kang Goban dan Valdo adalah laki-laki penyuka sesama jenis dan banyak tuduhan lainnya. Tetapi yang paling masuk akal, orang mengatakan bahwa Kang Goban selaku pemimpin dari kelompok mereka mencoba membenamkan tradisi atau aturan agar tidak pernah bermain wanita saat sedang bekerja. Entah karena wanita akan membawa kesialan bagi pekerjaan mereka atau mereka menjaga martabat seorang wanita. Entah.
Kini telah lima tahun kelompok Kang Goban memegang keamanan klub malam di seluruh kota Jakarta. Nama mereka bukan hanya terdengar di sempitnya lubang tikus dan semut bahkan terdengar dan di segani oleh gubernur Jakarta. Pemerintah seperti mereka tidak akan berani mengusik kelompok Kang Goban perihal ada kesepakatan. Kesepakatan itu tentu saling di jaga baik dari kelompok mafia terbesar kota Jakarta Kang Goban dan penegak hukum dan pemerintah daerah kota Jakarta.
Perjanjian yang di sepakati enam tahun lalu itu mengenai kerja sama polisi dan kelompok Kang Goban untuk menstabilkan kedamaian kota Jakarta, agar para pengedar narkoba baik di jalan dan di klub malam mereka awasi dan mereka pula mendapatkan izin menangkap lantas melaporkannya pada polisi. Selain itu kelompok Kang Goban selalu di undang baik dari sisi gelap dan terang saat tiba pemilihan umum baik pemilihan pemimpin daerah maupun legislatif. Bahkan ada calon yang membeli suara rakyat melalui mereka.
Tentu semua kesuksesan ini tak luput dari kerja keras Kang Goban dan dukungan pikiran anak buahnya. Apalagi Kang Goban memang terkenal bijaksana dalam menentukan sikap, ia di kenal bagai serigala yang jarang bicara tetapi setiap apa yang keluar dari mulutnya sangat mengerikan.
Lantas malam kamis sekitar jam tujuh, masuk panggilan suara dari Kang Goban, yang meminta Valdo untuk pergi diam-diam ke Jakarta Selatan mengawasi Mia di klub malam yang ia jaga. Valdo tak lagi bertanya kenapa ia harus mengawasi Mia padahal dia adalah salah satu kelompok mereka yang di rekrut Kang Goban sendiri setahun lalu.
Valdo pun mencium tangan ibu serta mengusap kepala adiknya yang belum tahu bahwa anaknya Rivaldo adalah Valdo tangan kanan mafia yang paling di takuti di seluruh kota Jakarta. Valdo merahasiakan segalanya pada keluarga kecilnya, bahkan satu rumah mewah di perumahan Elit miliknya pun ia tutupi dari keluarganya. Valdo hanya bisa katakan bahwa ia bekerja di minimarket yang kebetulan punya teman baiknya di Jakarta Barat. Hingga mengharuskannya jarang pulang dan tinggal di kos dekat sana. Keluarganya pun sama sekali tidak curiga, dan tidak bertanya lanjut karena Valdo selalu membawa uang beberapa ratus seminggu sekali. Namun di balik itu, ia telah menyiapkan uang untuk biaya adiknya nanti ketika ingin kuliah.
Valdo pun menaiki mini bus ke klub malam yang di jaga Mia. Di balik kemeja hitam rapinya ada satu senjata api yang sedia kapan saja ia gunakan ketika tiba-tiba datang suatu ancaman dari musuh. Bau parfumnya tak terlalu sengat, pas di hidung dan sangat menenangkan namun tetap wibawa.
Valdo tidak terlalu tahu tentang Mia, rumornya dia adalah laki-laki nekat yang memiliki banyak tato di tubuh hingga wajahnya. Selain itu ada bekas codet di wajahnya. Mia sendiri adalah nama samaran yang ia ambil dari nama seorang artis wanita dari Jepang yang sering ia tonton saat menjelang sepi. Sementara nama aslinya Ubek, lahir di rahim orang tua yang sampai sekarang ia tidak tahu siapa.
Sebelum masuk klub, Valdo terlebih dahulu memasang seperangkat penyamaran hingga wajahnya berubah seketika. Sementara senjata apinya ia simpan di tempat sampah agar terbebas dari pemeriksaan penjaga keamanan saat memasuki klub.
Valdo pun memasuki klub dan lolos dari penjagaan tanpa sedikit pun dari mereka curiga. Klub Night itu ramai pengunjung yang berjoget ala zombi, saling senggol dan mungkin mereka semua mabuk. Suara musik DJ yang memekik di telinga itu serupa suara teriakan siksaan di dalam neraka. Dia pun duduk sendiri sambil memerhatikan Mia dan beberapa anak buahnya yang duduk sebelahnya, mereka sedang menikmati alunan keras DJ dengan beberapa botol Vodka dan di temani wanita-wanita sexi.
Tetapi Valdo tidak menemukan hal ganjil dan hal yang patut di curigai pada Mia dan anak buahnya, ia sama seperti anggota Kang Goban lainnya, suka mabuk dan main wanita. Tidak ada yang salah. Sesekali Valdo meyakinkan diri bahwa Kang Goban tidak mungkin salah dalam memberi perintah dan sangat pasti ada masalah pada Mia. Apalagi Kang Goban langsung memerintahkannya, itu berarti tugas ini memang penting untuk di gali informasinya.
Valdo masih memerhatikan gerak-gerik Mia dan orang-orang sekitarnya, Valdo tahu bahwa orang yang telah di rasuki kesenangan akan mudah lupa dan waspada. Barangkali ada mata-mata di dekat Mia lalu memasukkan racun pada minumannya hingga ia tewas di tempat. Valdo perhatikan dengan sangat jelas, dari apa yang Mia minum hingga ia sentuh, meski terkesan agak jijik melihat tingkah lakunya yang selalu menampar b****g wanita, Valdo tetap membetahkan diri mencari tahu apa yang akan terjadi.
Lalu seorang wanita muda kira-kira berumur dua puluh tahun mendekat dan memeluk Mia, mengecup telinga kirinya hingga ia terlihat geli. Wanita itu mengelus-elus d**a Mia sembari ia katakan beberapa rayuan yang membuat Mia mengakak. Mia pun merespons dengan mengecup leher wanita muda itu hingga ia merasa geli. Tetapi tiba-tiba sebuah panggilan masuk bergetar di handphonenya yang tergeletak di atas meja. Mia pun menyudahi permainan birahinya lantas mengangkat panggilan dan seketika wajahnya berubah serius.
Selesai bicara, mata Mia tampak melihat seorang wanita berbalut busana merah yang tengah memasuki ruang toilet lalu ia berdiri lantas mengikutinya dari belakang. Valdo tidak ingin ketinggalan, ia berdiri bergerak dan pelan-pelan mengikuti mereka secara waspada.
Saat wanita berbusana gaun merah itu keluar dari toilet, Mia pun berganti memasukinya sementara Valdo hanya bisa mengamati Mia di balik cermin. Kemudian Mia keluar membawa tas kecil yang wanita gaun merah bawa tadi.
“Kalau boleh tahu, itu apa, Mia?” tegur Valdo dari belakangnya. Pelan-pelan Mia menoleh, suara khas milik Valdo tidak asing baginya hingga ia langsung ketakutan.
Valdo pun membuka penyamarannya saat Mia langsung melihatnya. Lantas berlutut di hadapan Valdo dan meminta padanya agar ia tidak melaporkan aksi transaksi narkoba yang baru saja ia lakukan.
“Kumohon... Valdo. Jangan laporkan aku!” ucapnya memohon.
“Kamu tahu apa yang telah kamu lakukan Mia? Kamu menjalani bisnis yang paling kita jauhi sebagai kelompok Kang Goban. Dan aku baru tahu mengapa Kang Goban memintaku untuk mengawasi kamu. Hem, ternyata ini alasannya. Berdiri Mia, jadilah lelaki gantel. Hubungilah sekarang polisi dan serahkan dirimu secara hormat!” kata Valdo.
“Persetan dengan kamu...” kata Mia, lalu berdiri dan mencabut pisau dari balik baju belakang lantas menyerang Valdo hingga perkelahian terjadi di antara mereka.
Tetapi meskipun Valdo kalah tua di banding Mia, namun tenaga dan kepandaian silatnya jauh lebih hebat dari pada Mia apalagi Mia tengah mabuk berat. Valdo tendang keras pada bagian d**a Mia hingga ia terjungkir ke pintu toilet hingga terbuka. Mia teriak memanggil kelompok anak buah dan mereka pun datang. Tetapi setelah mengetahui bahwa Valdo adalah lawan perkelahian bos mereka, mereka pun gentar dan ragu untuk melawan.
“Hajar dia g****k!” seru Mia sambil menahan sakit di dadanya. Valdo sama sekali tak melihat ke arah anak buah Mia, matanya tajam bagai elang sedang mengincar anak ayam.
Mia lari pincang sambil ketakutan, lalu Valdo menendang perutnya tanpa ampun dan meminta anak buah Mia untuk menghubungi polisi. Keamanan klub yang memeriksa Valdo saat masuk tadi langsung bergerak menelepon polisi saat tahu bahwa yang menghajar Mia adalah Valdo.
Tak ada ampun bagi setiap anggota Kang Goban yang ketahuan berbuat curang. Dan tindakan yang baru saja Mia lakukan di anggap sebuah pengkhianatan yang dapat merusak nama besar Kang Goban. Wajah Mia hancur berdarah, tetesannya mengalir hingga menutup penglihatannya.
“Ha-ha-ha... Bunuh aku!” tantang Mia meludah darah. Valdo pun kembali memukulnya hingga terkapar batuk darah. Lalu meminta kepada anak buahnya untuk mengikat Mia sembari menunggu kedatangan polisi ia siapkan barang bukti narkoba di dalam tas kecil tadi.
Semua pengunjung di klub yang telah mabuk itu seketika sadar dan mengalihkan perhatian mereka pada sosok Valdo yang menjadi perbincangan selama ini. Ada yang memfoto bahkan memvideo aksi penghajaran yang di lakukan Valdo terhadap Mia. Namun selesai itu, orang yang ia lihat memfoto dan memvideonya ia minta untuk menghapusnya sebelum ia banting handphone mereka.
Anak buah Mia pun di minta untuk memeriksa galeri handphone pengunjung agar setiap foto dan video wajahnya yang tersisa jelas-jelas hilang di handphone mereka. Semua anak buah Mia pun menuruti perintah Valdo, memeriksa handphone pengunjung dan rata-rata semua pengunjung memilikinya.
Valdo tidak ingin di kenal sebagai mafia di kalangan ramai, karena memang bagi seorang mafia seperti dia harus menjaga nama, wajah pribadi agar tidak ada orang yang tak bertanggung jawab menyalahgunakannya bahkan sampai di gunakan untuk menghancurkan bahkan membunuhnya.
“Persetan dengan kamu, Valdo... Tunggu pembalasanku!” ancam Mia tergeletak di lantai.
Valdo hanya bisa tersenyum mendengar ancaman tersebut, ia telah kebal terhadap ancaman serupa bahkan ada yang sampai mengancam akan mencari keluarga lalu akan membunuhnya. Orang-orang seperti itu kebanyakannya adalah gembong narkoba yang tertangkap basar transaksi gelap di kawasan wilayah mereka. Bukan hanya dua kali tetapi bahkan puluhan kali ia menerima ancaman sampai-sampai orang yang mengancamnya ingin membunuhnya sampai ke liang lahat dan di neraka sekalipun.
“Matilah kamu di penjara, Mia. Terimalah dari kepala bodohmu itu perbuat. Mudah-mudahan kamu tenang di dalam sana, karena banyak sekali yang mengincar kepala dari anggota Kang Goban di penjara sana.” Sahut Valdo dengan tenang.
Dua puluh menit kemudian, tiba sekelompok polisi bersenjata dari Mabes Polri masuk ke dalam klub dan melihat Valdo tengah duduk di sofa sementara Mia tergeletak di depannya. Para polisi pun mengganti ikat tangannya dengan borgol, mengucapkan terima kasih pada Valdo lantas membawa Mia dan barang buktinya ke kantor Markas Besar Polisi Republik Indonesia.