Kerajaan Kang Goban

1753 Words
Sekitar enam tahun lalu, saat Kang Goban berhasil menjadi raja mafia keamanan kota Jakarta ia pun membentuk struktur kuat di setiap wilayah agar masing-masing wilayah tersebut tak bisa di rebut oleh mafia lain. Di seluruh wilayah terminal kota Jakarta di ketuai oleh Jeki dengan anak buah sekitar lima puluh orang. Di seluruh wilayah pasar kota Jakarta di ketuai oleh Baban dengan total anak buah empat puluh delapan. Di jalanan di ketuai oleh Renal dengan anak buah lebih dari delapan puluh orang. Sementara klub malam di ketuai oleh Valdo dengan anak buah sekitar seratus orang. Tentu seluruh struktur yang di bentuk Kang Goban itu ia sendiri sebagai pemimpin tunggalnya. Mungkin sebagian orang telah mendengar bahwa hari ini Kang Goban mengundang seluruh ketua wilayah dalam acara pesta keberhasilan mereka sebagai raja mafia keamanan selama enam tahun terakhir tanpa ada masalah besar. Bahkan nama Kang Goban sendiri telah terbang tinggi dan harum berkat ke wibawanya dalam menjadi pemimpin mafia. Kang Goban lebih di kenal sebagai bunga mawar di banding bunga bangkai. Dia sering di sebut-sebut sebagai pahlawan meski tak sedikit pula yang menganggapnya seorang kepala preman b***t. Satu persatu ketua wilayah datang, dari Jeki ketua wilayah terminal yang sering kali berlagak aneh ketika berjalan. Matanya agak buram mungkin karena ia sering mengonsumsi arak pinggir jalan. Siapa tahu bahwa kebiasaan buruk yang tak bisa ia alihkan dan lepaskan itu menjadi penumbuh semangatnya dalam bekerja. Setiap selesai kerja pun ia akan pergi ke tempat prostitusi memilih wanita yang menurutnya baik untuk di jadikan pelampiasan hatinya. Jeki sering kali bercerita tentang kondisi hidupnya pada siapa pun apalagi pada wanita malam. Hingga Kang Goban menjulukinya dengan sebutan kaleng karena tak bisa menjaga privasi dirinya sendiri. Lain dengan Baban ketua wilayah pasar yang baru saja datang dengan gagah. Sepasang sepatu pantofel mengkilap ia pakai, rambut wangi bagai harum melati, apalagi tersisir rapi bagai rumput yang memang benar-benar di jaga bentuknya. Baban memiliki tubuh Ideal, ia berumur tua dari pada Valdo dan Jeki. Kepalan tangannya sering kali membuat pingsan orang hingga ia di juluki Tyson oleh Kang Goban. Tetapi Baban hanya seorang yang garang di tempat kerja, sedangkan di rumah ia menjadi b***k cinta dari anak istrinya. Dia mencuci, memasak, bahkan ia sangat menuruti segala keinginan istrinya. Tentu Renal ketua jalanan itu ketawa ketika melihat sosok kekar Baban takut pada istrinya. Membanding-bandingkannya dengan dirinya. Sambil membuang ludah Renal mengacungi jempol tengah padanya. Baginya orang-orang seperti itu tidak pantas menjadi kepala preman melainkan pantas menjadi pembantu rumah tangga. Atau yang paling pantas menjadi Baby suster di rumah tangga orang. Renal sendiri berumur dua puluh tujuh sekarang tetapi belum menikah, ia merasa wajah tampannya perlu pasangan sempurna. Kalau di banding dia cocoknya menikah dengan para selebriti luar negeri, terutama orang Korea. Kaos dalamnya pun bergambar wanita-wanita Korea. Namun meski begitu, Renal sebenarnya takut mendekati wanita, ia lelaki payah dalam merayu wanita. Dan terakhir datang adalah Valdo. Dia mengagetkan semua orang karena menggunakan pakaian serba putih di antara mereka yang rata-rata menggunakan serba hitam. Valdo adalah ketua wilayah yang paling muda, umurnya masih dua puluh lima tahun. Tetapi meski begitu, Valdo konon memiliki jimat sakti hingga setiap kali ia bertarung baik dengan lelaki kekar besar melebihi ukuran dirinya ia selalu menang apalagi dengan orang biasa saja. Ada satu hal yang paling Valdo benci, yaitu orang-orang negeri sendiri yang mendewakan bule-bule luar negeri. Valdo tidak suka membahas dan berbahasa bule apalagi sampai kerja sama dengan orang bule. Ia memiliki prinsip bahwa para bule datang membawa perubahan yang buruk bagi generasi bangsa, hingga meninggalkan warisan serta budaya bangsa dan mengubahnya menjadi budaya-budaya bangsa mereka. Meja makan yang cukup panjang telah di penuhi oleh semua ketua wilayah sementara Kang Goban sendiri duduk di antara tepi yang paling maksimal untuk di lihat. Kang Goban jarang tersenyum tetapi tatapan matanya seperti tersenyum melihat mereka. Di sebelah kanannya ada Valdo dan di sebelah Valdo ada Baban. Sementara di depannya ada Jeki dan Renal. Tangan kanan Kang Goban tak bisa lepas dari tongkat kepala naganya, kulit keriput serta rambut ubannya menandakan bahwa staminanya tak lagi sekuat dulu tetapi tatapannya masih tajam dan masih bisa di artikan bahwa ia memang pemimpin yang di segani. Di atas meja putih itu telah tersedia berbagai menu makan serta piring dan gelasnya, namun Kang Goban sendiri belum mengizinkan bahkan belum berkata apa-apa pada mereka hingga mereka semua diam dan hanya bisa menundukkan kepala. Entah apa yang di pikirkan Kang Goban. Dia melihat ke arah ke empat ketua wilayah yang telah membantunya menjadi pemimpin besar penuh serius. Mungkin yang ia pikirkan siapa di antara mereka yang berhak menggantikan posisinya sebagai ketua dari kelompok mafia mereka. Atau Kang Goban telah mendapatkan gambaran namun ia masih memikirkan masa depan ketika nanti ia meletakkan jabatan tinggi dan sulit itu pada salah satu anak buah yang tengah di depannya. Kang Goban memang belum menjelaskan inti dari undangannya, ia hanya menjelaskan dalam undangan itu bahwa hanya untuk merayakan keberhasilan mereka selama enam tahun. Para ketua wilayah yang berada di naungan Kang Goban pun tidak tahu meski salah satu dari mereka berpikir dan merasa bahwa hari ini, undangan ini Kang Goban akan memilih di antara mereka sebagai pengganti posisinya sebagai raja keamanan kota Jakarta. Kang Goban pun memberi kode dengan batuk kecilnya hingga keempat anak buahnya mengangkat kepala. Lalu Kang Goban berkata, “Sebelum makan, bersyukurlah dulu pada Tuhanmu.” Perintah singkat yang tak terlalu jelas dari Kang Goban tersebut mereka artikan untuk membaca terlebih dahulu sebelum berdoa, maka mereka pun berdoa. Selesai memanjat doa, mereka pun membalikkan piring dan mengambil beberapa makanan di atas meja. Mereka memakannya pelan-pelan dan sangat hati-hati terkecuali Baban yang tak tahu diri. Suara mulutnya terdengar seperti mercon pernikahan orang Betawi saat menyantap paha ayam yang masih utuh. Memang Baban dari dulu tidak pernah sopan ketika sedang makan, ia bagai raksasa yang memakan apa pun menjadi lahap. Kang Goban sendiri tak terlalu menanggapi suara mulut Baban hanya saja dia melirik dan menggelengkan kepala hingga Valdo memperingati Baban dengan menendang kakinya. Baban pun mengunyah ayam utuh itu pelan-pelan, lebih pelan dari pengantin saat berjalan. Dia hati-hati mengunyah bahkan sampai tak bisa membuat halus makanan yang ia makan. Keempat ketua wilayah itu tiba-tiba menghentikan makan mereka bersamaan dengan Kang Goban mengelap mulutnya dengan sehelai kain. Saling menutupnya dengan minum dan mengelap tangan dan mulut mereka dengan kain. Setelah itu mereka kembali ke posisi awal siap siaga. Lalu Kang Goban bertanya, “Baban. Bagaimana dengan wilayah yang kalian pegang?” “Anu Kang... Wilayah yang kami jaga semuanya berada dalam kendali, aman dan ibu-ibu penjual pasar selalu titip salam kepada Kang Goban.” Jawab Baban penuh sopan. “Jeki. Bagaimana dengan wilayah yang kalian pegang? Saya dengar terminal di jadikan tempat transaksi narkoba. Benar?” tanya Kang Goban lagi berwajah seram. “Bu-bukan Kang. Itu hanya sekali. Itu kecerobohan dari anak buah saya. Selain itu kawasan terminal aman-aman saja Kang.” Jawab Jeki takut. Tiba-tiba Kang Goban menepuk meja makan hingga mengagetkan mereka. “Jangan sombong kamu Jeki. Di sini kita bukan bos dan anak buah. Sudahku bilang pada kalian berkali-kali bahwa kita rekan kerja. Saya hanya memberimu tanggung jawab sebagai pemimpin itu bukan berarti kamu memanggil teman-teman kerjamu anak buah. Paham? Apalagi kerjamu hanya tidur saja aku dengar, itu mengapa ada pengedar narkoba masuk ke dalam wilayahmu.” Kata Kang Goban. “Maaf Kang, maaf. Iya Kang, itu salah saya.” Jawab Jeki. Lalu Kang Goban menatap wajah Renal dan bertanya hal yang sama padanya. “Jalanan aman Kang. Pencopet, maling sudah berkurang bahkan kami kemarin membantu para pemulung, pengemis dan pengamen Kang. Mereka sangat terima kasih dan titip salam juga mereka sama Kang Goban. He he...” jawab Renal penuh semangat. “Valdo?” kata Kang Goban sambil melihatnya. “Iya maafkan saya Kang. Saya lalai dari tanggung jawab saya sebagai orang yang di percaya menjaga klub malam hingga rekan kerja sendiri saja saya tidak tahu bahwa dia bermain narkoba. Maaf Kang... Selain permasalahan kemarin, klub malam aman dan kondusif Kang. Dan ke depannya kami akan meningkatkan kembali keamanan di setiap klub malam.” Jawab Valdo dengan tegas. “Kalian tahu kenapa saya mengumpulkan kalian di sini? Tidak lain hari ini saya ingin mengundurkan diri dari jabatan ini dan menunjuk di antara kalian sebagai pengganti posisi saya.” Lanjut Kang Goban hingga membuat mereka melihat dan menyiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Bahkan Renal dan Baban sampai-sampai menarik kursi mereka hingga mereka terlihat tegak dan sopan dengan tangan di lipat di atas meja. Sementara Valdo hanya bisa menundukkan kepala ke arah meja dan menanggapi hal lain dari apa yang baru saja Kang Goban katakan. “Saya ingin kalian bersiap-siap untuk ini. Era kalian bukanlah era penakut dan pengecut. Saya dengar, ada kelompok bisnis gelap yang sedang mengincar wilayah kita. Kalian harus hati-hati karena musuh bisa saja datang dari orang terdekat kalian... Saya tahu di balik yang mengincar wilayah ini, dia merupakan orang licik yang tak segan bermain kasar untuk mendapatkan wilayah kita. Tentu saat saya menyerahkan jabatan besar ini dengan mudah mereka akan mendengar dan mulai melancarkan strategi untuk merebut wilayah kita. Sekali lagi kalian harus hati-hati dan terus kerja sama. Jangan sampai dari kalian tidak saling percaya apalagi membenci satu sama lain, tentu itu akan memudahkan kelompok yang ingin merebut wilayah kita. Mereka pasangi penyusup dan mata-mata di setiap tempat untuk melihat kelemahan kalian. Dan jika kalian lengah maka saya yakin semua yang telah kita raih akan berpindah tangan dengan cepat.” Kata Kang Goban dengan tenang. “Beban dan segala tanggung jawab ini akan saya serahkan pada Valdo. Dan posisi Valdo sendiri akan di gantikan oleh Baban. Sementara Baban berhak memilih di antara teman sekerjanya untuk menggantikan posisinya. Saya harap keputusan ini harap kalian terima.” Lanjut Kang Goban. Tiba-tiba Valdo meneteskan air mata lalu berkata bahwa ia belum sanggup memegang mandat dan tanggung jawab yang di berikan Kang Goban. Valdo menangis lalu mencium tangan Kang Goban sembari berkata maaf berulang kali padanya. “Valdo, dengar... Saya sudah tua dan saya rasa kamu yang pantas menjaga apa yang saya percaya. Kamu yang pantas Valdo. Berdiri dan angkat kepalamu bahwa ini bukan akhir dari kerja keras kita, melainkan awal dari kerja keras kita. Kamu harus mampu mengatur dan membuat keputusan segalanya!” kata Kang Goban. Lalu Kang Goban mengeluarkan cincin dari jari manis tangan kirinya, cincin warna hitam pekat terbuat dari batu yang sangat mengkilap. “Cincin ini saya serahkan padamu, Valdo. Namun dengar pesanku, cincin ini tidak akan membantumu menjadi kuat, ini hanya tanda bahwa kamu sekarang menjadi pemimpin dari bisnis besar ini. Jadilah dirimu sendiri, dengan gaya kepemimpinan dirimu sendiri, Valdo!” ucap Kang Goban lantas meninggalkan meja makan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD