Pengganti Kang Goban

1755 Words
Baban baru saja memangkas rambutnya sampai botak, sampai kepalanya terlihat bening dan mengilat. Dua tahun lalu Baban pernah berkata pada Valdo bahwa ia akan memangkas rambutnya sampai botak ketika Valdo di angkat oleh Kang Goban sebagai penggantinya. Setelah terbukti Valdo terpilih mengganti Kang Goban, pria dengan tinju besar itu pun melunasi janjinya memangkas rambut. Ia elus-elus kepala botaknya dan berpikir bahwa tindakan yang baru saja ia lakukan cukup keterlaluan, ia bandingkan kepala botaknya dengan sepuluh orang berkepala botak lainnya, namun ia rasa sama seperti melihat satu butir telur, tak pantas bagi batok kepalanya tanpa rambut. Tidak hanya itu, Baban pun akan melakukan puasa Vodka dan s*x bebas hingga dua tiga hari sebagai bentuk perayaannya terhadap pemimpin baru mereka. Lalu menyantuni anak yatim serta janda-janda yang tinggal di daerah tertinggal. Tetapi baru saja Valdo meledek bahkan memintanya agar tidak keterlaluan dalam hal berjanji, sebab satu janji saja diingkari akan membuatnya tidak percaya lagi. Tapi sekali lagi Valdo mengapresiasi keberanian Baban dalam memutuskan pilihan, apalagi sampai mempertaruhkan rambut halus wanginya demi mewujudkan janjinya dua tahun silam. Orang-orang seperti Baban ini akan di anggap mampu bertahan di tengah krisis dunia, mereka yang mampu bertahan dari segala gempuran politik dunia hingga gempuran senjata. Namun Valdo memukul pundak Baban saat wajahnya selalu menampilkan seraut suram, lagi-lagi ia memperingatinya bahwa mereka bukan kelompok komedian melainkan mafia dengan harga kepala yang paling di incar oleh mafia yang ada di Jakarta. Baban menurunkan bibir bawahnya, tanda bahwa ia menolak untuk percaya bahkan takut pada ancaman atau peringatan yang baru saja Valdo katakan. Baban merapikan baju serta membersihkan beberapa helai rambut yang tersisa di pakaiannya. Baban menderu bagai mesin kapal butut yang di paksa untuk hidup, lalu melihat penampilan barunya di depan cermin besar. Dia anggap keren dan tak terlalu buruk di jadikan alat untuk menggoda wanita. Lihat orang-orang kulit hitam Afrika yang tak nyaman dengan sehelai rambut lalu mereka memangkas rambut dengan alasan bahwa semua keturunan mereka tak menyukai rambut. Masa Baban kalah dan tidak percaya diri. “Kenapa sebegitunya? Kalau kamu akhirnya kayak begini mending kamu diam saja.” Ucap Valdo pada Baban. Baban tahu bahwa Valdo adalah generasi muda yang berasal dari keluarga miskin dan di pungut Kang Goban di pasar enam tahun lalu. Sepak terjang Valdo semuanya telah Baban mengerti dari perjuangan hingga kesuksesannya sekarang. Valdo bukan lelaki pemalas yang serta merta bermain politik hingga ia di angkat menjadi pemimpin pengganti Kang Goban, bukan lelaki yang pandai bermain politik yang sering memainkan dua muka. Valdo juga bukan lelaki yang ingin segala sesuatunya ia dapatkan dengan instan. Valdo memang lelaki giat dan penuh tanggung jawab hingga Kang Goban pun memilihnya. Sementara Kang Goban sendiri tidak akan sembarangan memilih tanpa ada alasan dan penilaian yang ia anggap mampu menjadi penggantinya. Baban tahu semua itu hingga ia tahu bahwa sejak lama Renal dan Jeki berlomba merebut kursi pemimpin dengan cara wajah dua. Mereka menjilat sana kemari demi mendapatkan perhatian lebih dari Kang Goban. Bahkan sampai mereka pernah rela menjadi sopir dan pembantu di rumah Kang Goban padahal sudah ada. Tentu Baban tahu bahwa mereka bekerja tak sesuai hati bersih mereka. Sedangkan Valdo merupakan bintang yang bersinar di malam hari yang hidup dalam gelap malam. Dia adalah cerminan sempurna bagi siapa saja anggota mereka yang ingin di percaya. Baban teringat saat ia membawa Valdo ke salah satu orang pintar ramal untuk melihat masa depannya. Orang pintar berbibir hitam itu mengatakan bahwa Valdo ibarat bintang bersinar pada malam hari. Dan dapat di artikan kariernya akan cemerlang di masa akan datang. Dan sekarang hal itu terbukti. Selain itu Baban pernah berkunjung ke pedalaman suku Dayak di Kalimantan, dan diam-diam pergi ke dukun hanya perkara ingin menerawang sosok siapa yang akan mengganti Kang Goban. Dan orang pintar dengan rumah menyeramkan itu berkata ia berinisial R atau V. Pikiran Baban saat itu langsung mengarah pada Rivaldo atau Valdo. Dan sekarang memang telah terbukti. Entah kenapa semenjak Baban mengetahui Valdo akan menjadi pengganti Kang Goban ia pun menyukai apa yang menjadi kegiatan Valdo. Dia pernah mengutus orang secara sembunyi untuk memantau apa saja yang di lakukan Valdo selama hari-hari. Bahkan baru saja Baban jujur pada Valdo bahwa kalung Valdo yang hilang waktu itu adalah ulah anak buah yang ia suruh. Baban sangat terobsesi tentang Valdo bahkan jika nanti anaknya lahir ia akan memberinya nama Valdo. Bahkan ia pernah mencetak baju dengan tulisan Valdo lalu ia pakai sebagai jimat anti sial. Dan benar ia tak pernah sial waktu memakai itu. Valdo pun menampar bahu Baban sebagai respons atas kegilaan yang selama ini Baban lakukan. “Kamu terlalu fanatik, Ban.” Kata Valdo. “Ha ha ha... Kamu tidak ingin merayakan kemenanganmu ini Valdo?” tanya Baban. “Untuk apa? Kita ini bukan anggota parlemen di gedung sana. Kita hanya anak buah yang menjadi kepercayaan Kang Goban.” Jawab Valdo. “Tapi Valdo... Kamu tidak tahu bahwa Renal dan Jeki itu bisa berbuat licik demi mendapatkan posisi sekarang yang kamu dapatkan ini. Ini kursi panas Valdo, persaingan ketat di antara kita. Dari itu setiap kemenangan harus di rayakan setidaknya dengan meminum lalu menuangnya ke dasar bumi sebagai bentuk terima kasih kita pada Dewa. Hitung-hitung biar ilmu yang sedang menempel di tubuhmu itu keluar.” Lanjut Baban. “Kamu tahu aku kan... Aku tidak percaya hal-hal seperti itu. Omong kosong dengan semua itu. Kalau kamu mau minum bilang saja, tetapi kamu kan sudah janji akan puasa terutama puasa s*x bebas...” kata Valdo mengingatkan. “Iya, iya... Kalau begitu kita rayakan saja dengan minum kopi saja. Bagaimana?” “Boleh...” jawab Valdo. Perjalanan pulang dari rumah Kang Goban, mereka pun mampir di Cafe Palm yang ramai pengunjung. Di halaman depan Cafe itu ada tempat duduk dan meja yang langsung mengarah ke arah jalan raya namun rindang oleh kanopi biru yang di desain dengan cantik. Mereka keluar dari mobil sambil memerhatikan langkah dan sekitar di Cafe Palm tersebut. Baban mengusap tangan melihat gadis-gadis yang barang kali masih muda karena bermake-up tebal. Rambut mereka agak bergelombang dan bau parfum mereka saling bertubrukan. Baban pun bingung yang mana akan ia pilih sebagai pendamping tidurnya malam ini, kepalanya bagai kipas angin yang selalu sibuk memerhatikan kecantikan dan tubuh indah para gadis. Memasuki khatulistiwa Cafe, suara sepi tiba-tiba bergema oleh sepasang suara lentik dari dua penyanyi di depan sana, lagi-lagi Valdo mendengar mereka menyanyikan lagu barat yang tidak ia suka. Padahal lagu tanah air sendiri bagus-bagus apalagi mudah di mengerti. Valdo fobia bahkan sangat benci hal yang berkaitan dengan luar negeri, ia melihat sejajar tulisan menu di atas sana bertuliskan bahasa Inggris hingga ia meminta pada Baban untuk turut menghapus tulisan itu. Baban kaget dan menyangkal bahwa hal itu tidak mungkin ia lakukan. Matanya melebar berdampingan dengan keraguannya memenuhi perintah atasannya atau tidak. “Tulisan itu?” tunjuk Baban memastikan. “Iya.” Jawab Valdo lalau duduk dekat wanita dengan bulu mata yang lentik. Baban kebingungan entah apa yang akan ia lakukan, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk meminta pada kasir Cafe untuk menghapus tulisan atau menggantinya dengan huruf-huruf Indonesia. Saat kasir Cafe itu keheranan dan hampir melaporkan Baban pada atasan, Valdo pun memanggil Baban agar ia memesan kopi dan makanan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Lalu meminta penyanyi Cafe untuk membawakan lagu Indonesia. Baban hanya bisa mangut-mangut kan kepala dan baru saja ide bagus terlintas di kepalanya. Tiba-tiba saja ia senyum dan menegakkan d**a dan kepala, lalu mendekati kasir Cafe kembali dan mengatakan ia akan menyewa Cafe selama satu jam ke depan sambil sedikit merayu hingga meminta nomor telefonnya. Lantas Baban mengeluarkan kartu ATM dan membayar sewa Cafe tersebut selama satu jam. Lagu Inggris yang semula dimainkan berubah menjadi lagu Indonesia, dari lagu bergenre Rock, hingga hiphop. Dan papan menu bertulis Inggris yang mengganggu mata Valdo pun di turunkan sesaat setelah Baban memohon untuk di turunkan. “Beres Bos.” Ucap Baban sambil tersenyum riang. “Duduk!” suruh Valdo. Tetapi mata Baban tak berhenti menatap paha mulus seorang wanita di meja duduk sebelah Valdo. Sesekali ia menelan ludah dan langsung menghampirinya. Baban menunjuk wanita itu dengan alis pada Valdo, ia ingin berbisik dan meminta agar wanita itu bisa menemaninya malam ini satu malam atau satu jam saja. Itu lebih dari cukup. Dia rasa puasa s*x bebas yang baru saja ia katakan pada Valdo patut ia batalkan, lalu merayu wanita itu dengan segepok uang dan membawanya ke hotel. Entah kenapa wanita yang dari tadi menjadi pusat perhatian Baban itu pun menoleh, tersenyum padanya dengan cantik, lalu pelan-pelan menyedot minuman dingin di tangannya. Tetapi saat ia bertanya, “Ada apa, Bang?” ternyata ia waria yang baru saja terbukti dari suara berat dari tenggorokannya. “Sialan...” ucap Baban kaget. Dia tidak menyangka makhluk semulus dan lentik seperti dia adalah waria. Valdo tertawa hebat sampai menepuk meja. Kejadian kocak itu telah membuat perutnya menjadi sakit. Di tambah muka kaget Baban sama seperti melihat makhluk sakral. Lalu seorang pegawai Cafe itu datang, membisikkan sesuatu di telinga Baban yang tak bisa Valdo dengar. Barang kali ia sedang menawarkan menu spesial Cafe mereka atau hal lain yang berkaitan dengan uang. Baban mengangguk kepala, matanya sesekali menatap Valdo. Lalu ia membalas bisikan pegawai itu dengan berbisik pula hingga membuat Valdo curiga mereka sedang merencanakan hal yang tak ia duga. Pegawai mengangguk tanda paham lalu beranjak memberitahu pada seluruh pegawai lainnya dan kru musik yang dari tadi bermain asyik. Dan tiba-tiba saja semua pengunjung yang awalnya tenang dan saling asyik bertukar cerita fokus pada perkataan penyanyi yang baru saja mengatakan bahwa satu jam ini Cafe di sewa penuh oleh Valdo. Valdo sendiri pun kaget dan melihat senyum Baban bagai bunga melati yang sedang berkembang. Baban terlihat bahagia sementara para pengunjung Cafe sibuk mencari d mana Valdo berada. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Valdo memelankan suara. Dia sangat membenci kelakuan atau sifat Baban yang seperti ini. Baban tidak menjawab, ia hanya melempar satu senyum yang benar-benar menjengkelkan. Kepala botaknya itu ingin sekali Valdo jitak hingga berlubang agar ia tahu bahwa ia sangat marah. Tetapi Valdo tidak bisa, ia hanya bisa menarik nafas kemudian bangkit dari tempat duduknya. Lantas melangkah cepat ke arah keluar Cafe sambil menundukkan kepala lalu tak sengaja ia menabrak seorang Waiters wanita hingga gelasnya jatuh dan pecah. Kekacauan itu membuat semua pengunjung mengalihkan pandangannya pada mereka. Lalu satu dari pengunjung menunjuk ke arah Valdo kemudian teriak dia adalah Valdo. Sontak semua pengunjung teriak dan berlari ke arah Valdo, meneriakinya bagai maling yang baru saja merebut hati mereka. Baban sendiri tengah memanggil Valdo berulang-ulang hingga sangat jelas bagi para pengunjung Cafe bahwa dia adalah Valdo. Valdo lari keluar Cafe dengan cepat, di tepi jalan ia menghentikan Taxi lalu pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD