Pesta pernikahan antara Beni dan Sabrina pun akhirnya digelar, pesta pernikahan itu tidak diadakan secara mewah. Dan hanya diadakan secara khusus untuk keluarga besar dan para tamu penting saja.
Tidak seperti saat pernikahan Beni dan Ayara, yang kala itu diadakan di sebuah hotel dan digelar dengan mewah. Kali ini hanya pesta pernikahan biasa, dan diadakan di rumah orang tua Beni.
Meski hatinya sedikit kecewa, akan tetapi Sabrina tak memperlihatkannya. Dan menampakan raut wajah yang begitu bersyukur pada Beni dan keluarganya. Ia ingin terlihat begitu sebagai wanita yang baik dan lembut di mata semua orang.
Mulutnya yang manis mampu menarik perhatian keluarga besar Beni, hingga mereka bisa dengan mudahnya menerima Sabrina sebagai anggota keluarga.
Dan bahkan tak ragu untuk menjelekkan Ayara, dan mengatakan jika ia adalah wanita mandul yang tak mampu memberikan Beni keturunan.
Dan yang dilakukan oleh Sabrina tentu tak mengiyakan apa yang mereka katakan, dan terus membela Ayara demi sebuah simpati yang harus ia dapatkan dari keluarga suaminya.
“Kau cantik, baik, dan sangat lembut. Pantaslah Beni sangat mencintaimu.” ujar wanita yang merupakan adik ipar ibu mertuanya, ia begitu memuji Sabrina yang nampak sempurna di matanya.
“Dan satu hal lagi, Sabrina juga tidak mandul dan mampu memberikan untuk Beni dan penerus keluarga.” Emily datang dan menyahuti pembicaraan mereka.
“Iya benar, aku sudah tidak sabar ingin segera menggendong keponakanku.” ucap Bella ikut menyahuti mereka. Ia memang sangat antusias dengan pernikahan kedua kakak laki-lakinya ini.
Sabrina mengulas senyum manisnya dan mengusap lembut bahu Bella, “Sepertinya nanti akan ada aunty yang sangat sayang dengan keponakannya.”
“Tentu saja aku sangat senang, sudah sejak dulu aku ingin punya keponakan. Sayangnya Kakak malah menikah dengan si mandul itu.” ujarnya dengan sengaja mencela Ayara di hadapan semua orang.
“Sudahlah, jangan sebut-sebut lagi wanita mandul itu. Hanya merusak suasana.” Emi berdecih saat mengatakannya.
Sabrina menundukkan kepalanya sambil mengulas senyum, ada hati senang saat mendengar banyak orang yang mencerca Ayara. Sungguh ia merasa telah berhasil merebut kebahagiaan yang selama ini ia inginkan.
Adam mendengar semua perkataan para wanita itu, ia mencengkram tangannya pada gelas yang sedang ia pegang.
Ia menghabiskan minumannya lalu kemudian ia meletakkan gelas kosong itu dengan cukup kencang di meja.
Takkk …
Suara nyaring itu cukup menarik perhatian banyak orang, terutama para wanita yang saat ini sedang berkumpul menggosipkan Ayara.
Ia melangkah kakinya lalu maju mendekati para wanita bermulut tajam itu. Ia tersenyum sinis, memasukan kedua tangannya ke dalam saku lalu berkata, “Padahal kalian semua adalah perempuan. Tapi kenapa dengan mudahnya kalian berkata kotor seperti itu.” ucapnya dengan nada sinis.
Emi berbalik melihat adik angkat suaminya itu, ia mendelik tajam pada Adam. Sejak dulu ia memang tak menyukainya, sebab pria ini sangat cerdas dan pintar. Bahkan kekayaannya hampir melebihi kekayaan suaminya, sebagai penerus asli keluarga.
“Memangnya kenapa? Kami hanya bicara kenyataan, Ayara memang mandul apa yang salah dengan perkataan kami.”
Adam kembali tersenyum pada mereka, “Sebagai seorang yang mengaku sebagai seorang wanita terhormat, apa kau tidak malu berkata seperti itu?” tandasnya, Adam pun kemudian pergi, ia tak berniat untuk meladeni mereka semua. Ia tak ingin membuang waktu dengan hal yang tak berguna seperti itu.
Emi memalingkan wajah, dan tak menjawab perkataan Adam padanya.
Adam pun memilih untuk pulang dari pesta pernikahan Beni, perasaannya tak nyaman berada lama-lama di rumah kakak angkatnya itu. Apalagi ia tak melihat keberadaan Ayara di sana. Ia cemas padanya, karena bagaimanapun juga ia pasti terluka akan pernikahan kedua Beni.
Ya … Ayara masih saja menjadi istri Beni. Si pecundang itu tak mau melepaskan Ayara, tapi ia malah menyakitinya dengan menikahi Sabrina dengan dalih ingin seorang anak.
Benar-benar memuakan
—
Adam melakukan mobilnya menembus jalanan malam ini, suasana jalan malam ini masih cukup ramai mengingat jika ini adalah malam minggu.
Banyak orang yang menghabiskan waktunya di luar bersama dengan pasangan ataupun keluarga mereka.
Adam pun hendak melajukan mobilnya. Namun, netranya tak sengaja menangkap sosok seseorang yang ia cemaskan sedari tadi.
Adam melihat Ayara tengah duduk di bangku taman, sambil menatap kosong ke arah rumah mertuanya. Sesekali ia mengusap air matanya, yang tanpa ijin terus keluar membasahi pipinya.
Adam mengurungkan niatnya untuk pergi, dan keluar dari mobil untuk menghampiri Ayara.
Setelah berada dekat dengan Ayara, Adam pun duduk di sampingnya. “Apa yang kau lakukan di sini?”
Ayara hanya melirik sekilas pada Adam, dan kembali menatap rumah yang dimana saat ini sedang diadakan sebuah pesta pernikahan, pernikahan suaminya.
“Aku sedang duduk, memangnya kau tidak bisa melihat.” jawabnya sambil berdecih.
Mendengar jawaban dari Ayara, Adam pun kemudian mendekatkan tubuhnya untuk melihat lebih dekat pada Ayara. “Kau mabuk?”
Ayara menggeleng kemudian tersenyum, “Mana ada aku mabuk, aku tidak mabuk.” jawabnya sambil tersenyum, lalu menepuk bahu Adam, “Jangan katakan pada siapa-siapa, aku duduk di sini ya. Syuuuuuuttt … jangan bilang-bilang.”
“Kau mabuk, Ayara.”
Ayara kembali menggeleng, “Aku tidak mabuk, aku sedang merayakan pesta pernikahan suamiku. Masa tidak boleh.”
“Ayo, aku antar kau pulang.” ucapnya.
“Tidak mau, suamiku ada di sini.”
“Kau akan menunggunya menghabiskan waktu bersama dengan istri barunya?” Adam dibuat kesal oleh tingkah bodoh Ayara. Adam tahu jika Ayara sakit hati, tapi kenapa ia harus mabuk seperti ini.
“Memangnya kenapa? Aku juga istrinya.” Ayara mulai meracau.
Adam menghela nafas panjang, lalu tanpa banyak bicara ia langsung menggendong Ayara dan memanggulnya seperti karung beras. “Bodoh!”
“Hei lepaskan aku, Paman!” teriaknya.
“Kau bilang aku apa?” Adam membuka pintu mobil lalu membawa Ayara masuk dan memasang seatbelt di pinggangnya.
“Paman!” jawab Ayara.
“Menyebalkan!” ucap Adam, lalu ia masuk dan duduk dibalik kemudi dan membawa Ayara untuk pergi. “Aku akan mengantarmu pulang.”
“Aku tidak mau pulang.”
Adam tak menjawab dan hanya melajukan kendaraannya, membawa Ayara pergi dari tempat yang membuat hatinya tersiksa. Adam pun membawanya pulang ke rumah, sebab ia sudah meninggalkan rumah itu sebelum Beni menikah dengan Sabrina. Dan bodohnya Adam pun tidak tahu Ayara tinggal dimana saat ini. Bertanya pun percuma, karena saat ini Ayara sedang mabuk. Dan tidak nyambung saat ditanya.
Sesampainya di rumah, Adam menggendong Ayara ke kamar tamu untuk menidurkannya di sana. Sekilas, ia melihat wajah cantik itu berada dalam gendongannya, kemudian ia melanjutkan lagi langkahnya untuk segera membawa Ayara.
Setibanya di kamar, Adam membaringkan tubuh Ayara perlahan. Ia melepaskan sepatu yang masih menempel di kakinya. Lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, Adam duduk sejenak dan menatap Ayara. “Bodoh.”
Setelah itu ia bangkit dan hendak meninggalkan Ayara, akan tetapi saat baru saja Adam akan pergi. Tiba-tiba saja tangannya ditarik, Adam pun menoleh dan melihat Ayara yang tengah memejamkan matanya. “Ada apa?” tanya Adam.
“Temani aku sebentar saja.” lirih Ayara dengan sangat sedih.
Adam yang tidak tega pun duduk sejenak di sampingnya, “Jangan bertindak konyol seperti ini, jangan perlihatkan kau lemah. Aku tahu hatimu sakit, tapi hancurnya hatimu bisa menjadi pupuk cinta untuk para pengkhianat itu.”
Ayara tak menjawab, tapi ia bangun dan kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Adam, “Tolong peluk aku sebentar saja.”
“Apa?”
Ayara tak menunggu jawaban Adam, ia langsung memeluk tubuh pria ini dan menghirup aroma mint yang menenangkan. “Aku butuh sandaran, tolong peluk aku.” entah sadar atau tidak, apa yang Ayara katakan barusan.
“Ayara, kau mabuk.”
Ayara terdiam dan menikmati pelukan hangat Adam yang menenangkannya, lalu setelah itu ia melepaskan pelukannya dan memegang pipi Adam.
“Ayara.” Adam sudah berusaha untuk menjauh dari Ayara.
Tangan lentik Ayara kini justru menelusuri d**a bidang Adam, dan kemudian mengelusnya dengan lembut. Matanya yang sayu menatap Adam, seolah sedang menginginkan sesuatu.
Di bawah alam sadarnya, Ayara ingin melakukan apa yang selama ini tak ia lakukan. Sudah sejak lama Beni tak menyentuhnya, hingga berada dalam pelukan seorang pria membuat ia tak sadar ingin melakukannya.
Bibirnya mendekat dan mengusap bibir Adam.
“Ayara," Adam mengeratkan rahangnya menahan gejolak yang tiba-tiba datang. Namun, berapa kuat pun ia menahannya, ia tak bisa menahannya. Hingga akhirnya Adam menyerah, lalu berkata, "Ayara, jangan salahkan aku.” ucap Adam, lalu ia mengecup bibir ranum yang sejak tadi menggodanya.
Mendapatkan sentuhan lembut di bibirnya, membuat Ayara membalas ciuman yang Adam lakukan padanya. Lama sekali ia tak merasakannya, hingga saat bibir Adam mulai menyentuhnya Ayara pun langsung menyambutnya.
“Jangan salahkan aku, karena kau yang menginginkannya.” ucap Adam di sela-sela ciuman yang mereka lakukan.