Keesokan harinya, Ayara mulai membuka mata. Kepalanya terasa begitu berat, pusing dan juga merasa mual. Matanyanya mengerjap saat melihat ke sekeliling kamar, memperhatikan keadaan sekitar dan berpikir jika ia tak mengenal tempat dimana semalam ia menghabiskan malam.
Ia begitu terkejut saat mengetahui jika ia terbangun bukan di kamarnya sendiri. Keterkejutannya semakin menjadi, kala ada sebuah tangan kekar yang melingkar di pinggangnya.
Tunggu …
Sebuah tangan melingkar di pinggangnya, dan tangan itu terasa langsung menyentuh kulitnya. Dan saat tangan itu sedikit mendekapnya, Ayara merasakan dengan jelas sentuhan punggungnya yang langsung terasa saat berbenturan dengan sebuah d**a bidang yang mendekapnya.
Ayara membuka selimutnya, dan melihat jika saat ini ia tengah berduaan dengan seorang pria tanpa mengenakan apapun. “Astaga, apa yang aku lakukan?” gumamnya sambil memikirkan apa yang terjadi padanya semalam. Ia hanya ingat jika ia mengunjungi rumah mertuanya, dan duduk di luar sambil minum. Setelah itu ia tak mengingat apapun lagi, karena Ayara mulai mabuk.
Ayara terperanjat sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, ia berbalik dan melihat Adam dengan kondisi yang sama dengannya, yaitu tanpa pakaian yang melindungi tubuh mereka. “Ya Tuhan.” Ayara membekap mulutnya lalu dengan segera membalikan tubuhnya, sebab saat ia berbalik dengan jelas ia bisa melihat Adam yang berbaring tanpa penghalang apapun.
“Aaaaarrkhhh …!” Ayara semakin membalut tubuhnya dengan selimut.
Adam membuka mata dan melihat Ayara yang sedang memunggunginya, “Ada apa? Kenapa kau berteriak?” tanyanya dengan datar.
Ayara melirik sedikit, “Apa yang Om lakukan padaku?” tanya tanpa mau melihat wajah Adam.
Adam mengangkat alisnya, “Apa yang aku lakukan?” Adam bangun dan mulai menggeser tubuhnya untuk dekat dengan Ayara. “Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan?” ujarnya.
Ayara menggeser tubuhnya, untuk menjauhi Adam, “Apa yang Om katakan? Jangan membalik keadaan, Om yang sudah meniduriku? Jadi jangan banyak alasan.” Ayara mulai marah.
“Aku? Menidurimu?” kekeh Adam, “Apa kau lupa apa yang kau lakukan padaku semalam? Apa aku harus mengatakan jika semalam aku diperk0sa oleh sekretarisku sendiri.”
Ayara berbalik lalu berkata, “Om, jangan mengada-ada!” hardiknya, “Dimana ada perempuan yang men0dai laki-laki?”
“Perempuan itu ada di dekatku.” ucapnya lalu membalikan tubuh Ayara agar melihatnya.
Mata Ayara membelalak, kala melihat sesuatu yang semalam telah menerobos memasuki lahannya. “Oh astaga, apa Om tidak malu harus duduk tanpa memakai celana?” ucapnya dengan kesal sambil beringsut menjauhi Adam.
“Celanaku ada di belakangmu, tolong ambilkan.” ucapnya.
Dengan mendelik kesal, Ayara pun berbalik untuk mengambil celana Adam. “Setidaknya tutuplah dengan selimut, bukan malah dipamerkan seperti itu.” gerutunya sambil memberikan celana pada Adam.
“Selimutnya digunakan olehmu semua.” jawabnya dengan tenang.
Ayara tak menjawab, karena apa yang dikatakan oleh Adam memang benar. Kalau selimut digunakan oleh Ayara untuk menutupi tubuhnya. Tentu saja Ayara gunakan, ia kan harus menutupi tubuhnya. Ia bukan Adam yang senang memamerkannya seperti itu.
Adam kembali menggeser tubuhnya untuk dekat dengan Ayara, dan Ayara pun langsung menggeser tubuhnya menjauh, “Jangan dekat-dekat dan jangan macam-macam.”
Adam menunjuk lehernya yang penuh dengan jejak-jejak percintaan yang dibuat oleh Ayara, “Kau bisa melihatnya kan?”
Ayara masih terlihat kesal, tapi tak urung ia melihat apa yang ditunjukan oleh Adam padanya, “Aku punya mata, jelas aku melihatnya.”
“Bagus, dan kau tahu jika ini bekas apa. Kau bukan anak kecil, asal kau tahu saja ini adalah bekas percintaan yang kau tinggalkan.”
“Oh, kau sedang berbohong ya.” jawab Ayara.
“Aku? Berbohong? Kau bangun dalam keadaan seperti ini di rumahku, dan kau berkata jika aku sedang berbohong? Jelas-jelas kau memperk0saku semalam, masih tidak mau mengaku. Jangan bilang kau lupa dengan rasanya?”
“Apa?” wajah Ayara memerah mendengar apa yang Adam katakan, terlebih Adam mengatakan jika ia memperk0sanya. Apa Adam tidak mau mengatakan hal itu pada seorang wanita pikirnya. Dan untuk rasanya, Ayara tidak lupa. Tapi semalam ia pikir jika sedang bermimpi karena terlalu menginginkannya. Namun, ia malu untuk mengakuinya.
Ayara tidak bisa berkata-kata lagi, ia bangun dan pergi ke kamar mandi. Tak lupa ia memunguti semua pakaiannya yang tercecer di lantai. Sungguh saat ini ia merasa sangat malu, bodoh dan juga merasa sangat bersalah dengan apa yang telah ia lakukan dengan Adam.
Adam hanya melihat apa yang Ayara lakukan sampai ia pergi ke kamar mandi.
Setelah melihat Ayara masuk ke kamar mandi, Adam pun beranjak dari tempat tidur. Adam tersenyum kecil mengingat apa yang ia dan Ayara lakukan semalam. “Aku tidak akan melepaskanmu.” gumamnya lalu pergi meninggalkan kamar untuk membersihkan tubuhnya.
di dalam kamar mandi, Ayara menarik rambutnya frustasi, ia pun kini bisa melihat jika banyak tanda percintaan di tubuhnya. “Aaaarrrkhhhh… bodoh … bodoh … Apa yang kau lakukan, Ayara!” teriaknya.
—
Setelah selesai mandi, dengan perlahan Ayara membuka pintu untuk kembali ke kamar. Ia mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia kenakan semalam. Meski rasanya tidak nyaman, tapi apa boleh buat. Ia juga tak membawa pakaian ganti, dan yang harus ia lakukan sekarang adalah jika ia harus segera pergi dari rumah ini.
Saat sedang mengendap-ngendap, Ayara dikejutkan saat mendengar suara Adam memanggilnya. Rupanya pria ini berada di kamar itu dan menunggu, “Kenapa kau bertingkah seperti seorang pencuri?”
Ayara pun menegakkan tubuhnya, lalu kemudian ia berbalik menatap Adam, “Aku tidak begitu.” jawabnya.
Adam pun bangkit lalu memberikan sebuah paper bag yang berisi pakaian, “Pakai itu dan ganti pakaianmu.”
“Apa?”
“Kau tidak mungkin pergi bekerja dengan menggunakan pakaian itu kan?”
Ayara langsung memindai pakaiannya, ia mengenakan sebuah dress dengan model sabrina. Jelas ia tak mungkin mengenakan pakaian ini untuk bekerja. Apalagi banyak tanda merah di sekitar leher dan dadanya, “Tapi aku kan bisa pulang dulu dan berganti pakaian.”
“Tidak ada waktu, kau tidak lupa kan jika hari ini ada meeting penting. Jangan sampai kau membuatku mengalami kerugian.”
Ayara mendelik kesal pada Adam, lalu tanpa mengajak ia berdebat Ayara pun kembali ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Entah dari mana Adam mendapatkan pakain secepat ini, yang jelas Ayara kesal padanya. Atau mungkin pakaian itu adalah pakaian mendiang istrinya dulu. Sudahlah, Ayara tidak peduli, ia pun cepat mengenakan pakain itu karena ia pun merasa tak nyaman dengan pakaian yang ia kenakan sekarang.
Setelah semuanya selesai, Ayara pun keluar. Pakaian yang Adam berikan sangat pas dan juga bagian lehernya tertutup hingga tak memperlihatkan dengan jelas tanda merah di lehernya. Rupanya Adam memang sengaja memberikan pakaian yang menutupi tubuhnya.
Adam bangkit dari duduknya setelah melihat Ayara keluar dari kamar mandi, ia berjalan mendekat dan kemudian berdiri tegak di depan Ayara. “Apa yang kita lakukan semalam, kau harus mempertanggung jawabkannya.” ucap Adam.
“Apa?”