Ayara pulang dengan diantar oleh Adam, sebab pria ini yang memaksa. Padahal Ayara sudah bersikeras menolaknya, akan tetapi Adam yang keras kepala tetap ingin mengantar Ayara untuk pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan Ayara sama sekali tak membuka suaranya, ia malas bicara dengan Adam. Pria ini kembali menciumnya dengan paksa.
Sedangkan Adam, pria ini sama sekali tidak terusik dengan sikap Ayara. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah, jika ia ingin dekat dengannya. Wanita yang sampai saat ini masih berstatus istri dari keponakan angkatnya.
Setelah melakukan perjalanan sekitar dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di rumah Ayara.
“Terima kasih, Om. Aku masuk dulu.” pamit Ayara, meski hatinya masih kesal pada Adam. Namun, ia tetap mengucapkan terima kasih karena telah diantarkan pulang.
Adam tak menjawab, akan tetapi pria ini malah ikut turun bersama dengan Ayara.
“Om, mau kemana?”
Mleihat Adam masuk ke dalam membuat Ayara menjadi takut, bagaimana kalau Adam kembali melakukan hal yang tidak diinginkannya. Dan apa yang akan terjadi jika Sabrina atau Beni sampai melihat apa yang ia dan Adam lakukan.
Astaga, bagaimana ini? Pasti mereka berpikir jika Ayara adalah seorang perempuan b***t, karena sebagai perempuan yang masih berstatus seorang istri, ia malah bermain gila dengan paman suaminya.
“Aaaahhh ya ampunnnn … mau apa sih dia?” Ayara mengejarnya dengan setengah berlari, karena Adam sudah berjalan duluan masuk ke dalam rumah.
Ayara baru saja akan menarik tangan Adam dan membawanya keluar, akan tetapi di saat yang bersamaan Sabrina keluar dari kamarnya. Mungkin ia mengira jika suaminya yang pulang, karena mendengar suara deru mobil yang terparkir di depan rumah.
Sabrina tersenyum saat melihat Adam, wajah ramahnya yang begitu manis. Wanita ini memang pandai mengambil hati siapa saja, bahkan mungkin sebentar lagi Adam pun akan terpikat pada bebek gatal itu.
“Selamat sore, Om.” sapa Sabrina, ia memang mengenal Adam dan sudah tahu tentang seluk beluk keluarga Beni. Bahkan ia sudah mengenal hampir seluruh keluarganya, tentu karena Beni yang memperkenalkannya. Ia sangat bangga pada istri keduanya yang cantik dan hamil itu.
“Selamat sore.” jawab Adam, “Dimana Beni?” tanyanya pada Sabrina.
“Mas Beni belum pulang, mungkin sebentar lagi.”
Adam mengangguk, lalu kemudian pandangannya ia arahkan pada Ayara, “Kau sedang apa? Duduklah.” ucap Adam.
“Aku …”
“Ayara, sebaiknya kau temani dulu Om Adam. Biar aku yang membuat minuman.” Sabrina pun kemudian pergi ke dapur untuk meminta pelayan membuat minuman, dan membawakannya beberapa cemilan untuk mereka.
Ayara duduk bersebrangan dengan Adam, ia sengaja menjaga jarak. Sebab takut kalau tiba-tiba saja Adam menariknya, dan kemudian melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.
“Kenapa kau menjauh?” Adam menahan senyumnya saat melihat Ayara yang cemberut melihat ke arahnya. “Apa kau cemburu karena aku bertanya padanya, aku hanya menyapa. Kau tenang saja, aku sama sekali tidak tertarik pada wanita sepertinya.”
“Siapa yang cemburu? Aku sama sekali tidak cemburu, aku hanya sedang menjauh karena ada orang yang suka tiba-tiba menarik tubuhku dan kemudian …”
“Menciummu.” potong Adam.
“Ommmmm …” Ayara sungguh takut kalau pria ini mengatakan apa yang terjadi pada mereka. Ia belum siap, sungguh Ayara sangat takut kalau apa yang diperbuatnya diketahui oleh orang lain. Apa bedanya ia dengan Sabrina, yang mampu memberikan peluang pada pria yang mendekatinya. Meski apa yang Ayara lakukan bukanlah sebuah kesengajaan. Namun, tetap saja jika ia sama hinanya dengan Sabrina.
Adam tidak menggodanya lagi, bisa ia lihat jika Sabrina sungguh sangat tertekan dengan keberadaan dirinya di rumah itu.
Tak berselang lama, Beni pun datang dan langsung menghampirinya. “Om …” sapa Beni lalu kemudian ia duduk bersama dengan Adam dan Ayara.
“Kau baru pulang?” tanya Adam.
Beni mengangguk, “Di kantor banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan.”
“Mas Beni, kenapa pulang terlambat. Oma Adam sengaja datang kemari untuk menemui Mas Beni.” ucap Sabrina sambil membawa nampan yang berisi 3 cangkir teh dan juga beberapa cemilan.
Dengan sigap Beni langsung bangun, dan membantu Sabrina. “Sayang, kau sedang hamil. Seharusnya kau tidak melakukan pekerjaan ini. Kemana para pelayan?” Beni begitu cemas melihat istri hamilnya membawa nampan yang beratnya tidak seberapa itu.
“Tidak apa-apa, ini adalah pertama kalinya Om Adam datang bertamu ke rumah. Aku hanya ingin menyambutnya. Tapi di rumah sedang tidak ada apa-apa, aku belum pergi belanja.” jawab Sabrina.
“Kau baru saja pulang ke rumah, jangan paksakan diri untuk pergi berbelanja. Seharusnya orang yang ada di rumah yang menyiapkannya.” Beni sengaja berkata sambil melihat ke arah Ayara.
Ayara baru saja akan menjawab perkataan Beni, akan tetapi Adam langsung memotongnya. “Rumah ini adalah milik Ayara, ia bebas melakukan apapun sesuai dengan yang ia inginkan.”
Sabrina langsung menundukan kepala, sedangkan Beni ia memalingkan muka. Sebab, ia tak suka dengan perkataan Adam barusan. Seolah ia ingin berkata kalau ia dan Sabrina hanya tamu tak diundang di rumah itu. Dan sebagai tamu seharusnya mereka tahu diri, dan tidak banyak bertingkah
“Kedatanganku kemari karena aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Bukan untuk dijamu.” Adam menatap Beni dengan tatapan yang menusuk.
“Tentang apa? Tidak biasanya, Om membicarakan hal penting denganku?” Beni pun kemudian mulai bertanya pada Adam, tentang maksud dan juga tujuannya datang ke rumah.
“Seperti yang kau tahu, jika rumah ini adalah milik Ayara.”
“Tapi aku yang membeli rumah ini.” jawab Beni.
“Jadi kau sedang mengungkit hadiah yang kau berikan pada istri pertamamu, karena kau ingin membahagiakan istri keduamu.” ucap Adam.
“Bukan itu maksudku, aku …”
“Bagaimanapun juga, kau sudah memberikan rumah ini pada Ayara. Kau memberikannya di saat kau masih mencintainya …”
“Sampai sekarang pun aku masih mencintainya.”
Ayara berdecih mendengar Beni berkata jika ia masih mencintainya, “Masih mencintaiku, tapi memiliki istri baru.” ejek Ayara, sebenarnya Ayara masih belum mengerti kenapa Adam harus mengatakan hal ini pada Beni. Apa ia sedang membantunya, ataukah apa Adam memiliki maksud tertentu.
“Karena itu memang kenyataannya, aku masih mencintaimu. Untuk itulah aku mau bercerai denganmu.”pungkas Beni.
“Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur tentang masalah rumah tanggamu, hanya saja karena masalah ini kinerja Ayara menurun, dan itu membuatku terganggu.” ucap Adam, “Jadi, sepertinya aku harus ikut turun tangan, karena permasalahan rumah tangga kalian ternyata memberi efek buruk pada perusahaanku.”
‘Apaaaa??? Dasar pembohong! Aku bekerja dengan sangat baik, bahkan baik sekali. Kenapa duda m3sum ini malah berbohong di hadapan bebek-bebek gatal itu!’ jerit Ayara dalam hati.
“Ayara, seharusnya kau profesional dalam bekerja.” Sabrina berkata seolah Ayara sangat bersalah di sini.
“Semoga suamimu menikah lagi.” jawab Ayara.
“A-apa?” Sabrina pun kemudian terdiam setelah mendengar perkataan Ayara.
“Untuk itulah, aku sarankan untuk kalian bercerai saja. Kau … ceraikan Ayara sekarang juga.” tegas Adam.
“Apa???” Beni menggelengkan kepala.