Kau Harus Menjadi Milikku

1205 Words
Ayara telah sampai di kantor dengan menggunakan taksi, tadi sempat ada perdebatan kembali dirinya dengan Beni, karena Beni memaksanya untuk ikut pergi bersama dengannya. Namun, tentu Ayara menolak, sebab ia sudah tidak mau lagi berdekatan dengan pria seperti Beni. Yang tubuhnya sudah ia gunakan untuk menyentuh sahabatnya. Menjijikan … Sesampainya di meja kerja, Ayara memegang kepala dengan kedua tangannya lalu menundukan kepala. Nafasnya tak beraturan, menandakan jika ia sedang menahan rasa kesalnya. “Apa yang terjadi?” suara bariton itu memecah lamunan Ayara tentang Beni. Ayara pun mengangkat kepala, lalu melihat ke arah Adam yang saat ini tengah berdiri di hadapannya. Ia lalu menggelengkan kepala, “TIdak apa-apa, hanya sedikit pusing.” jawabnya. “Apa terjadi sesuatu?” “Tidak terjadi apa-apa.” “Tapi wajahmu tidak menunjukan hal itu.” “Maaf, Pak … tapi ini masalah pribadiku. Aku tidak bisa mengatakannya pada Bapak.” ucap Ayara, meski ia membutuhkan seorang sandaran, tapi sebisa mungkin ia harus menjaga jarak dengan Adam. Tidak seharusnya ia menceritakan kehidupan pelik rumah tangganya dengan orang luar. Apalagi setelah kejadian itu, seharusnya Ayara menjaga jarak dengannya untuk menghindari hal yang sama terulang kembali. “Heemm, baiklah … aku hanya ingin kau bekerja dengan profesional. Jangan sampai masalah rumah tanggamu mengganggu pekerjaanmu.” jawab Adam dingin lalu kemudian pergi meninggalkan Ayara. Bisa Ayara lihat jika Adam kesal padanya. Namun, bagaimana lagi ia pun tidak bisa menceritakan masalah rumah tangganya. Meski ia sangat ingin menceritakannya, kesalahan kemari cukup menjadi tamparan keras untuknya. Di dalam ruangannya, Adam yang tadinya sangat bahagia tiba-tiba saja mendadak menjadi kesal. Ia kembali membuka pesan semalam yang ia kirimkan pada Ayara. Pesan yang terus ia pandangi, hingga ia tidak sabar ingin segera bertemu dengan si pengirim. Tapi setelah bertemu, ia malah terlihat kesal dan tidak mau bicara padanya. “Menyebalkan,” gumamnya, lalu ia kembali melihat ponselnya. “Bodoh! Seharusnya aku hapus aja pesan jelek ini!” “Maaf, Pak.” suara Ayara mengejutkannya, Adam lalu dengan segera memasukan ponselnya ke dalam saku. Jangan sampai Ayara tahu jika ia mengumpat pesannya barusan. Adam pun berbalik lalu melihat Ayara tengah berdiri di belakangnya, kenapa ia tidak menyadari kedatangannya. “Ada apa?” Adam bertanya dengan dingin, ia masih kesal pada Ayara. Jadi, jangan harap ia akan bersikap peduli.” “Ini laporan yang Bapak minta kemarin.” Ayara memberikan sebuah berkas yang semalaman ia bereskan, agar pagi ini Adam bisa langsung memeriksanya. “Taruh saja di meja.” Ayara pun mengangguk, kemudian menyimpan laporan itu di atas meja. Lalu saat ia berbalik, Adam yang tadinya melihat ke arahnya malah langsung memalingkan muka. Sepertinya ia marah pada Ayara, apa karena sikap Ayara tadi padanya, entahlah? Ayara tak bicara lagi, ia hanya menundukan kepalanya sedikit kemudian pergi meninggalkan ruangan Adam. Setelah memastikan Ayara pergi, Adam menoleh kembali ke belakang lalu menghembuskan nafas lega. Ia mengusap dadanya, sebab tadi ia takut jika Ayara melihatnya tengah mengumpat pesan yang ia kirimkan semalam. Pesan yang terus ia pandangi, walaupun sebenarnya pesan itu hanya pesan biasa. Tapi bagi Adam, pesan itu sungguh sangat berarti. “Jangan sampai aku terlihat bodoh di matanya.” gumam Adam, lalu kemudian ia mulai melakukan pekerjaannya. — Di kantor, Beni terus saja memikirkan Ayara. Melihatnya menangis tadi pagi membuat pikirannya terganggu. Ia merasa jika ia terlalu jahat padanya, padahal selama ini Ayara selalu menjadi istri yang baik dan tidak pernah mengeluh. Ia juga selalu perhatian dan tak pernah ia berbuat hal yang membuatnya kesal. Tapi ia tega menyakitinya dengan sangat dalam. Mau bagaimana lagi, karena ia pun memiliki perasaan yang sama terhadap Sabrina. Ia sangat mencintai wanita itu. Dan Sabrina pula yang sebentar lagi akan mengabulkan keinginannya selama ini. Yaitu memiliki anak. “Sepertinya aku harus meminta maaf pada Ayara, tapi bagaimana caranya agar ia memaafkanku. Dan juga agar ia tidak memintaku untuk pergi dari rumah.” gumamnya. Beni menyugar rambutnya, ia merasa frustasi dengan pemikirannya sendiri. Ia baru tahu jika ternyata membagi hati tak semudah dengan apa yang ia bayangkan. — Sampai sore hari Adam masih uring-uringan, ia masih kesal karena merasa jika Ayara mengabaikannya. Padahal saat ini ia sedang merajuk dan ingin dibujuk Ayara. Namun, wanita itu masih saja tidak peka dengan perasaannya. “Pak, pekerjaanku sudah selesai. Bolehkah aku pulang sekarang?” tanya Ayara, sebenarnya sejak tadi pekerjaannya sudah selesai. Jam kerja juga sudah lewat. Namun, Adam belum mengijinkannya untuk pulang. “Di saat atasanmu masih bekerja, kau sibuk ingin pulang.” jawab Adam. “Emm, a-aku …” “Apa kau sangat merindukan suamimu, sampai kau ingin segera sampai di rumah?” sinis Adam padanya. “Apa? Aku tidak pernah merindukannya, dan aku tidak akan pernah merindukannya.” jawab Ayara dengan kesal. Di saat ia sedang lelah, Adam malah berkata hal yang tidak-tidak. Ini sungguh sangat membuatnya kesal, Ayara tidak akan pernah merindukan Beni. Meski ada rasa yang sulit sepenuhnya untuk dihapus dari dalam hati. Tapi bukan berarti ia memiliki perasaan yang sama terhadapnya. “Benarkah? Kenapa aku ragu?” “Aku sudah tidak mencintai Mas Beni, bukankah aku sudah katakan itu! Apa Om pikir, aku akan tetap mencintai pria yang telah mengkhianatiku?” ini sudah bukan jam kerjanya lagi, jadi Ayara memanggil Adam dengan sebutan ‘Om’. Adam menghentikan gerakan tangannya yang sedang sibuk menari di atas keyboard. Lalu ia menatap Ayara, “Tapi kau masih serumah dengannya.” “Aku sudah mengusirnya, tapi mereka saja yang tidak tahu malu.” jawab Ayara, ia bersedekap lalu kemudian duduk di sofa dengan cemberut. “Mereka malah tidak mau pergi dan memintaku untuk berbaik hati, dan membiarkan mereka hidup bersama di rumahku. Dengan aku sebagai istri tua, dan si bebek itu menjadi istri muda. Aihhh … sungguh sangat menjengkelkan!” serunya dengan kesal. Adam yang tadinya kesal pada Ayara, kini malah tersenyum melihatnya. Ia suka melihat Ayara merajuk padanya. Ia suka saat Ayara banyak bicara dengannya, karena sikapnya itu menunjukan jika ia dibutuhkan oleh Ayara. Adam pun bangkit dari duduknya lalu kemudian mendekati Ayara lalu duduk di samping Ayara, “Kau yakin kau sangat kesal?” “Apa wajahku ini memperlihatkanku tengah berbohong?” “Tidak.” jawab Adam, ia menatap Ayara dengan intens. Ia mendengarkan celotehan Ayara, dengan tak henti menatapnya. Merasa ditatap oleh Adam, Ayara pun mendongak dan melihatnya, ia menggeser duduknya lalu berkata, “Ada apa? Kenapa Om melihatku seperti itu?” tanyanya, lalu Ayara mengambil cermin kecil di tasnya untuk melihat apa ada sesuatu di wajahnya. “Tidak ada apa-apa, lalu kenapa dia terus menatapku.” gumamnya pelan. Namun, perkatannya itu masih terdengar dengan jelas di telinga Adam. Adam menggeser duduknya, lalu menundukkan kepalanya agar sejajar dengan Ayara. “A-ada apaaaa?” tanya Ayara panik karena Adam sudah sangat dekat dengan wajahnya. Adam semakin mendekatkan wajahnya pada Ayara, dan Ayara yang siaga langsung menutup bibirnya dengan kedua tangan. “Jangan macam-macam, Om!” pekiknya takut. Ia tidak mau jika Adam kembali menciumnya, sebab jika hal itu terjadi akan terjadi sesuatu dalam tubuhnya yang tak bisa ia hentikan. Adam tersenyum kemudian berkata, “Apa kau tahu, semakin kau menolakku semakin aku ingin mendapatkanmu.” “A-apaaa? Om … jangan begini, aku eemmmmppppt …” Adam kembali membungkam bibir Ayara dengan bibirnya, sejak tadi ia sudah menahannya dan kali ini Adam tak ingin melepaskannya lagi. “Akan aku pastikan kau menjadi milikku, Ayara.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD