CHAPTER 04

2582 Words
Matahari baru saja terbenam di saat aku mematikan kompor sebagai tanda selesai memasak. Tersadar bahwa langit sudah menjadi gelap, aku menutup tirai jendela di dapur dan beranjak ke ruangan lain untuk menutup sisanya. Tepat saat menutup tirai di ruang tamu, aku tidak sengaja mendapati sebuah mobil asing terparkir di depan rumahku. Aku mengintip dengan penasaran dari jendela dan menunggu apakah mungkin sedan hitam yang kulihat hanya kebetulan berhenti di sana ataukah memang sengaja parkir untuk mengunjungi rumahku. Bila mobil itu sengaja parkir di depan rumahku, aku berpikir mungkin saja tamu tersebut berasal dari hotel tempat Ibu berkerja. Beberapa kali atasan atau pun partner kerja Ibu sengaja ingin menemuiku untuk berbincang-bincang tanpa adanya Ibu di rumah. Dalam kepalaku aku sudah merancang skenario untuk menyuruh Lynx tetap berada di lantai 2 sementara aku menjamu mereka. Setelah beberapa saat menunggu pemandangan yang tak kunjung berubah akhirnya aku melihat seorang laki-laki berjas dan berkacamata hitam turun dari pintu pengemudi. Lalu laki-laki itu membukakan pintu belakang dan sosok yang kukenal keluar dari pintu itu. Saat itu pupil mataku membesar secara otomatis dan tanganku dengan spontan mengikuti naluriku untuk menutup tirai. Suasana malam hari ini tiba-tiba saja terasa mencekam bagiku apalagi setelah mendengar suara langkah kaki Lynx yang menuruni tangga dengan terburu-buru. Aku keluar dari ruang tamu dan berpapasan dengan Lynx. Lynx memandangiku sebentar lalu menggerakkan bola matanya ke arah pintu. "Ayahku datang," kata Lynx dengan volume suara pelan. "Tok.. tok.. tok.." Aku mengambil nafas panjang sambil menekan engsel pintu. Pintu terbuka dan kini aku sedang berhadapan dengan sosok pria bertubuh tinggi memakai setelan coat abu-abu tua. Bola mata berwarna amber dan rambut hitam dengan gaya classic slick back. Dua hal itu sudah dapat menggambarkan dengan jelas rupa dari seorang Reinhard Olivine. Ayahnya Lynx, Reinhard Olivine, adalah anak pertama dari pendiri Olivine Hotel Group. Wajahnya sering terpampang di berbagai media dengan status pioneer dalam menciptakan sistem perhotelan yang modern. Reinhard Olivine juga dikenal sebagai pengusaha dermawan sering memberikan donasi kepada banyak pihak tidak terkecuali untuk SMA Johnson tempat anaknya bersekolah. Olivine Hotel Group mengelola 3 merek yaitu Olivine Hotel & Resort, Black Amethyst Hotel dan Constellation 69 Hotel dengan total 40 hotel yang beroperasi. Constellation 69 Hotel sendiri adalah perusahaan yang dibuat sendiri oleh Reinhard untuk memperkenalkan Olivine Hotel Group ke mancanegara. Sejak Lynx balita, Reinhard sudah berdomisili di luar negeri untuk mengelola perusahaannya itu dan hanya kembali kira-kira satu tahun sekali. Aku sudah cukup sering mengobrol dengan ibunya Lynx tapi aku hanya pernah mengobrol ayahnya Lynx sebanyak dua kali. Sekali saat Ibu masih bekerja di salah satu hotel milik Olivine Hotel Group, yaitu Black Amethyst Hotel. Saat itu aku diperkenalkan pada Reinhard Olivine oleh istrinya sebagai anak dari salah satu manager di hotel miliknya. Kedua kali aku mengobrol dengan Reinhard Olivine adalah saat Lynx terlibat perkelahian 2 tahun yang lalu. Dari dua pengalaman tersebut ditambah dengan saat ini, aku bisa menyimpulkan bahwa Reinhard Olivine mempunyai sikap bawaan yang sama dengan Lynx yaitu dapat mengintimidasi orang yang tidak dekat dengannya. Saat ini aku bisa merasakan intimidasi yang sama seperti saat Lynx merespon tindakan Kai tadi siang. Setelah beberapa detik terpana dengan sosok yang berada persis di depanku, mataku beralih pada seorang wanita cantik yang berada di belakangnya. Ibunya Lynx, Charlotte Amethyst Olivine mempunyai rambut hitam legam yang terurai lurus dan rapih sampai hampir sepinggang. Bentuk wajahnya oval, hidungnya mancung dan bulu matanya lentik. Bukan hanya kata cantik yang dapat mendeskripsikan wajahnya, tapi juga elegan dan menawan. Charlotte tersenyum ke arahku sebelum aku menyudahi momen observasi kilat ini. "Freesia masih belum kembali dari tempat kerjanya, kalian bisa menunggu di ruang tamu," kataku dengan pikiran bahwa Reinhard dan Charlotte sedang mencari ibuku, Freesia Hemlock Oleander. Reinhard tidak bergerak dari tempatnya dan memilih untuk menjelajahi rumah ini dengan pandangan matanya yang tajam. Aku juga bisa melihat Lynx memandang ayahnya dengan cara yang sama saat ini. "Tidak perlu, Rui. Kami hanya ingin mengunjungimu sebentar saja," kata Charlotte memecah keheningan dengan suaranya yang lembut. "Aku akan menanyakan beberapa pertanyaan. Kuharap kamu tidak berbohong, karena aku bisa mengetahuinya dan ganjarannya akan jauh lebih mengerikan." Bertolak belakang dengan Charlotte, suara berat dari Reinhard terdengar kasar dan membuat tidak nyaman. Aku membalas pandangan Reinhard setenang yang aku bisa, walau sebenarnya pikiranku sangat ingin menampilkan wajah yang bertanya-tanya. "Akan kucoba menjawabnya," jawabku. "Kapan terakhir kali kamu datang rumah kami?" Pertanyaan Reinhard membuat alisku berkerut secara otomatis. Datang ke kediaman Olivine? Ada kejadian apa di rumahnya hingga seorang pengusaha yang sangat sibuk rela mengorbankan waktunya bertemu seorang anak 16 tahun sepertiku? Apakah ia belum tahu bahwa.... "Bahkan aku belum pernah masuk ke kediaman Olivine." Jawabanku membuat Reinhard terdiam sesaat. Pandangannya beralih dari mataku yang berarti dia mengetahui bahwa aku tidak berbohong. Reinhard mengambil handphone dari saku coat nya, mengutak atiknya sebentar lalu memperlihatkan layar handphonenya padaku. Sebuah kotak navy yang berada di atas meja terpampang di tengah-tengah layar handphone Reinhard. "Apakah kamu berkaitan dengan orang yang menaruh ini di rumah kami?" tanya Reinhard. "Buat apa aku..." Belum sempat aku melanjutkannya, Reinhard memotong kalimatku dengan mencengkram bahu kananku dan matanya melotot. Dari ujung mataku aku bisa melihat Lynx beranjak mendekati kami dan sebelum masalah menjadi tambah runyam aku cepat-cepat menjawab apa yang ingin didengar oleh Reinhard. "Ti..dak," jawabku singkat dan membalasnya dengan mata yang juga melotot. Reinhard melepaskan tangannya dari bahuku sambil tersenyum sinis. "Bila yang kau katakan itu tidak benar, kamu dan ibumu...." "Yang akan mendapatkan ganjarannya. Anda sudah mengingatkanku di awal, Mr. Olivine," kataku menantang dengan mengikuti cara Reinhard memotong pembicaraanku dan menjiplak senyuman sinisnya. Reinhard berdecak sambil tersenyum melihat tingkahku, lalu ia melihat ke arah Lynx. "Ada yang harus kita bicarakan di rumah," kata Reinhard sebelum ia berbalik badan dan berjalan menuju mobilnya tanpa berbicara satu patah kata pun. Sementara itu Charlotte mendekatiku dan menepuk pipiku dengan lembut. Walaupun tangannya terasa dingin, tapi rasa dingin tersebut dapat dikalahkan oleh kehangatan dari sorot mata wanita ini. "Tenang saja, aku percaya padamu dan ibumu. Hanya saja ada sesuatu yang menggemparkan hari ini sehingga kami mencurigai semua orang," kata Charlotte dengan nada menenangkan dan senyuman di akhir kalimatnya. Lalu Charlotte memposisikan badannya ke arah Lynx dan suaranya menjadi lebih tegas dibandingkan saat berbicara padaku. "Sebaiknya kamu pulang dulu hari ini. Jonathan akan datang sebentar lagi." Aku menutup pintu rumah setelah mobil yang sedari tadi terparkir di depan rumahku sudah tidak terlihat. Saat berbalik Lynx menghela nafas panjang sambil memandangiku dengan dahi yang mengerut. "Bahumu baik-baik saja?" tanya Lynx tidak mengalihkan pandangannya dariku saat aku mendekatinya. Aku berusaha tersenyum lalu mengangguk pelan. "Aku tidak mengerti hal menggemparkan seperti apa yang bisa mencurigai orang yang bahkan tidak akan menang di persidangan bila melawan keluarga kalian. Yah... kamu tahu kan maksudku," kataku berusaha mengingatkan Lynx dan diriku sendiri tentang perbedaan derajat yang sangat tinggi antara keluarganya dan keluargaku. Lynx tidak merespon perkataanku saat itu dan tiba-tiba saja intuisiku ingin menanyakan sesuatu padanya. "Kamu tidak menyembunyikan sesuatu kan?" "Tentang apa?" tanya Lynx. "Entah. Aku hanya merasakan kejanggalan," jawabku sambil menunggu ekspresi Lynx yang mungkin saja berubah. Dan ya, ekspresi Lynx berubah menjadi mirip dengan ibunya yang berusaha menenangkanku. Padahal bukan perubahan seperti ini yang kubayangkan. Bukan jawaban seperti ini yang bisa membuatku tenang. "C'mon... jangan bilang kamu mau mengatakan supaya aku percaya padamu lagi." "Aku tidak perlu mengatakannya dua kali seperti ayahku kan?" kata Lynx sambil mencubit kedua pipiku dan memainkannya naik turun seperti anak kecil yang gemas saat mendapatkan boneka baru. Apakah aku seperti mainan di mata Lynx saat ini? "Hey, Lynx. Sebenarnya kamu menganggapku sebagai apa sih?" tanyaku dengan nada yang mulai kesal. Bola mata Lynx berputar 360 derajat sambil memajukan bibir bawahnya. Dari sikapnya itu terlihat bahwa Lynx tidak akan menjawab pertanyaanku dengan serius. Aku mendesah kesal sambil berusaha menepis kedua tangannya yang masih berada di wajahku lalu melangkahkan kaki menuju tangga. "Ah, sudahlah. Rahasiakan saja seumur hidup. Toh aku bukan siapa-siapa. Cepat berkemas, mobilmu sudah datang." Bukan ini yang ingin kukatakan. Mengapa aku menjadi emosi dengan hal sepele seperti ini? Tapi cukup wajar juga kan kalau aku marah saat teman baikku menyembunyikan sesuatu? Wajar? Tidak wajar? Tunggu.. apa yang sedang dia lakukan di bawah sana? Aku berada pada seperempat perjalananku dalam menaiki tangga ketika tersadar bahwa Lynx hanya terdiam memerhatikanku dari tempat terakhir dia berdiri bersamaku. Saat aku menoleh ke bawah, Lynx tersenyum jahil ke arahku. "Aku kan sudah mengatakan tadi siang bahwa kamu adalah orang yang menemaniku di sampingku." Lynx tahu bahwa aku tidak puas dengan ucapannya, jadi ia langsung melanjutkan kalimat berikutnya. "Aku akan selalu memberikanmu tempat duduk di sampingku. Setidaknya itu yang aku yakini selama 9 tahun ini." Bila didengar sekilas, Lynx memang seperti tidak mengatakan perbedaan yang signifikan antara kalimat pertama dan kalimat keduanya. Namun bagiku, penegasan pada kalimat kedua begitu berarti. "Wow.... kamu masih mengingatnya," kataku sambil menaikan salah satu ujung bibirku. Tanpa sadar aku merespon perkataan Lynx dengan antusias. Saat ini aku seperti anak kecil yang sedang dipermainkan oleh pemain sulap. Aku selalu salah menebak gelas yang mana yang berisi bola dan si pesulap membiarkanku terus menerus untuk menebak. Pada akhirnya aku tidak dapat menebak satu pun dengan benar, tapi di akhir sulapnya si pesulap sudah menyiapkan hadiah supaya aku tidak menangis. Aku seperti si anak kecil. Aku selalu berusaha menebak karena penasaran namun tidak pernah mendapat jawabannya. Dan Lynx seperti si pesulap. Ia hanya terdiam saat aku mencoba menebak tentang sesuatu yang berkaitan dengannya. Tapi pada kahirnya ia selalu bisa mengalihkan semua yang aku khawatirkan dan membuatku bisa menerima apa yang dia utarakan di akhir pembicaraan. "Lalu... sekarang kamu menjadi Juliet dan aku Romeo nya?" Dalam sekejap antusiasku menghilang karena menyaksikan tingkah Lynx yang mengumpamakan pijakan tangga ini sebagai balkon dari rumah Juliet pada kisah fiksi karangan William Shakespeare. Bagaimana pun, ucapan tidak karuan dari Lynx sebelum ia pulang tadi membuatku sadar bahwa ia baru saja memainkan trik sulapnya untukku. Bisa saja aku tetap mempertanyakan kekhawatiranku terus menerus karena belum mendapatkan jawaban yang kuinginkan dari Lynx. Tapi saat ini aku justru mengizinkan pikiranku untuk mengingat ucapan Lynx 9 tahun yang lalu. Aku tidak akan pernah melupakan awal pertemanan kami saat aku dan Lynx berumur 7 tahun. Aku tidak dapat menyebutkan bahwa saat itu adalah pertemuan pertama kami karena kedua ibu kami bersikeras mengatakan bahwa kami tidak bisa akur bila disatukan saat kami masih balita, jadi seharusnya kami sudah pernah bertemu beberapa kali sebelumnya. Dan bahkan di hari yang menjadi awal pertemanan kami pun kami bertemu karena aku yang masih kecil menentang perbuatan Lynx kecil. Bila cuaca masih cerah setelah jam pulang sekolah, Rui kecil akan berjalan kaki dari sekolahnya menuju tempat kerja ibunya, yaitu Black Amethys Hotel. Tentu saja siang hari bukan saat yang tepat untuk seorang front officer manager seperti Freesia untuk pulang. Jadi Rui kecil akan menunggu ibunya di sofa lobi hotel sambil membaca buku yang ia bawa. Di sisi lain, beberapa kali dalam seminggu anak bungsu dari empunya hotel akan mendatangi tempat yang sama dengan Rui kecil. Bedanya adalah Lynx kecil selalu duduk sofa restoran untuk memakan dessert dan langsung pulang setelah ia beres makan. Biasanya Rui kecil hanya melihat kedatangan tamu VIP itu sekilas dan kembali membaca. Tapi Rui kecil tidak bisa duduk diam saat kejadian itu terjadi. "Prang!" Rui kecil menutup bukunya saat mendengar suara piring pecah. Mata Rui kecil mencari arah datangnya suara dan tidak lama kemudian seorang pelayan wanita menangis di depan meja Lynx kecil. Awalnya Rui kecil tidak ingin ikut campur, tapi melihat pelayan wanita itu sampai berlutut, Rui kecil spontan berlari mendekati meja Lynx kecil. "Saya mohon, tuan muda... maafkan karyawan kami. Ia sudah mengabdi di hotel ini lebih dari 8 tahun," kata seorang bapak tua dengan baju seragam pelayan restoran namun sepertinya memiliki pangkat lebih tinggi daripada pelayan wanita yang sedang berlutut. "Maafkan saya, tuan muda Lynx. Lain kali saya akan lebih berhati-hati. Mohon berikan saya kesempatan," kata wanita yang kini sudah berlutut sambil membungkuk ke arah Lynx kecil. Sementara itu Lynx kecil hanya memandang ke arah wanita itu dengan pandangan tajam dan dingin sambil menyeka bagian badan yang terkena tumpahan air minum dengan serbet. Rui kecil menghentikan langkah kakinya karena persis di depannya terdapat pecahan gelas yang berserakan di lantai. Lalu Rui kecil menyimpulkan kejadian yang terjadi sebelumnya adalah pelayan wanita tidak sengaja menjatuhkan sebuah minuman ke badan Lynx kecil sehingga Lynx kecil marah dan melempar gelas ke lantai. Lalu Lynx kecil berniat memecat wanita tersebut dari hotel ini. Rui kecil yang menganggap hal itu tidak adil, terutama karena tidak tega melihat seorang wanita berlutut, melontarkan kata-kata pembelaan untuk si pelayan wanita. "Memangnya kamu tidak pernah salah?" Saat itu Rui kecil tidak tahu bahwa perkataannya bisa saja mendatangkan musibah bagi ibunya yang juga bekerja di hotel tersebut. Lynx kecil, si pelayan wanita, atasan si pelayan dan body guard Lynx. Keempat orang yang tengah meramaikan suasana di restoran hotel itu spontan menoleh ke arah Rui kecil yang sedang melotot. Seorang pelayan yang menonton keramaian dari jarak cukup jauh tiba-tiba menyebutkan nama ibu dari Rui dengan keras. "Itu anaknya Bu Manager Freesia!" Dan suara dari pelayan yang lain pun menyahut. "Panggilkan Bu Freesia sekarang juga!" "Siapa yang kamu ajak bicara?" tanya Lynx kecil dengan dingin. "Lynx Olivine, putra bungsu dari empunya hotel ini," kata Rui kecil dengan yakin dan penuh emosi. "Aku menanyakan apakah kamu tidak pernah berbuat kesalahan?! Kalau pun 1 nilai ujianmu salah semua, kamu tidak akan dikeluarkan kan?!" Mendengar suara Rui kecil yang sudah mulai tinggi, body guard Lynx kecil mendekati Rui kecil untuk membawanya keluar. "Berhenti," kata Lynx kecil sambil menjulurkan tangan kanannya pada body guard nya. "Dia tetap di sini. Kalian pergi," kata Lynx kecil menyuruh kedua pelayan restoran untuk pergi. "Tuan muda... tapi..." kata atasan pelayan terlihat ketakutan tapi masih berusaha membela anak buahnya. "Remidial," kata Lynx singkat saat melihat ke arah si pelayan wanita, lalu Lynx memandang ke arah Rui kecil. Si pelayan wanita sempat kebingungan dengan perkataan Lynx, namun atasannya menyuruhnya berterima kasih pada Lynx kecil dan mereka sepakat bahwa perkataan Lynx kecil adalah sebuah penerimaan maaf. Sementara kedua pelayan restoran berterima kasih terus menerus, Lynx kecil terus menerus memandangi Rui kecil yang tampak kebingungan. Kemudian Lynx kecil menyuruh Rui kecil untuk duduk di sebelahnya dengan gerakan bola matanya. "Tuan muda menyuruh Anda untuk duduk," kata si body guard kepada Rui kecil. Rui kecil pun perlahan-lahan mendekati sofa tempat Lynx kecil duduk sambil tetap melihat ke arah Lynx kecil. "Kamu tidak marah?" tanya Rui kecil masih dengan wajah kebingungan. "Tidak. Buat apa aku marah?" Jawaban Lynx kecil membuat Rui kecil duduk tapi masih dengan wajah waspada. Tidak lama kemudian Freesia berlari ke arah tempat duduk Lynx dan Rui dan berhenti dengan nafas tersengal-sengal. "Rui, kau tidak apa-apa? Para pelayan mengatakan kamu berada dalam masalah," tanya Freesia sambil memeriksa wajah dan tubuh anaknya dengan kedua tangannya. "Aku tidak apa-apa, Mom," kata Rui kecil bergantian melihat wajah ibunya kemudian ke arah Lynx kecil sehingga Freesia ikut memandangi sosok lain yang duduk di sebelah anaknya. "Ah, bajumu sampai basah begitu. Akan kuambilkan handuk baju untuk baju gantimu sementara," kata Freesia merasa iba dengan kondisi Lynx kecil. Lynx kecil hanya menjawab dengan gelengan. "Baiklah... apakah kamu akan menunggu di sini, Rui? Sepertinya aku belum bisa pulang cepat hari ini," kata Freesia sambil menepuk kepala Rui kecil dengan pelan. "Tidak apa-apa, Mom. Aku masih bisa belajar di sini," kata Rui kecil sambil tersenyum lebar melihat ibunya. Freesia ikut tersenyum. Sementara itu Lynx kecil hanya mengamati Rui kecil dan ibunya dalam diam. "Dia akan menemaniku setiap makan di sini," kata Lynx tanpa ekspresi saat Freesia beranjak untuk pergi. Rui kecil dan ibunya yang kebingungan melempar pandangan satu sama lain namun tidak mendapatkan jawaban. "Aku akan memberikannya tempat duduk ini... di sampingku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD