Keringat masih menempel di kulit mereka ketika keduanya akhirnya jatuh lemas di sofa. Napas Ethan berat, kasar, tapi tetap terkendali, seakan-akan bahkan setelah menguasai tubuh Vivian, ia masih belum puas menaklukkan seluruh dirinya. Vivian menutup wajah dengan punggung tangannya, pipinya merona hebat. Rasa malu bercampur nikmat yang baru saja ia rasakan membuat dadanya bergetar. Ia sadar betul, seharusnya ia bisa menahan diri. Ia masih istri Hans. Ia masih terikat janji. Tapi barusan, semua itu runtuh di bawah sentuhan Ethan. Ethan mencondongkan tubuhnya, jemarinya menyapu lembut rahang Vivian, lalu berhenti di dagu, memaksanya menoleh. Senyumnya berbahaya, ada nada kejam sekaligus menggoda ketika ia berbisik. “Vivian … kamu lebih liar dari biasanya. Kamu bikin aku hampir kehilangan k

