Hans datang dengan setelan jas terbaiknya, wajahnya jelas menunjukkan semangat yang sulit ia sembunyikan. Ketika sekretaris mempersilakan masuk, Hans melangkah ke dalam ruangan kerja Ethan yang megah. Dinding kaca tinggi, rak buku kayu gelap, dan aroma kopi hitam yang samar. Ethan duduk di belakang meja, jas hitamnya kontras dengan cahaya siang yang menerobos tirai. Pandangannya tajam, tidak banyak bergerak, hanya sepasang mata dingin yang mengunci Hans sejak pertama kali masuk. “Mr. Sinclaire,” sapa Hans dengan nada penuh hormat, berusaha menahan senyum lebar. “Terima kasih sudah mengundang saya secara pribadi. Ini suatu kehormatan.” Ethan tidak segera menjawab. Ia hanya mengetuk ujung jarinya ke meja kayu, sekali, dua kali, seperti sedang menakar sesuatu. Barulah setelah itu bibirnya

