25

927 Words
  She's strong enough to walk away but broken enough to look back -Valeri Valentine Darron- **** . Hari ini adalah harinya. Hari dimana Jason akan bertunangan dengan Sanna. Sejak pagi Valeri tidak bergerak dari tempat tidurnya. Yang ia lakukan hanyalah meringkuk sambil memeluk guling kesayangannya. Hatinya sakit, tapi ia tak mau lagi menangis karena ia tahu Jason tak mencintai Sanna. Valeri tak apa selama Jason tidak mencintai Sanna. Tetapi kalau Sanna berhasil membuat Jason mencintainya, maka di saat itulah Valeri akan pergi. Valeri tak tahu pasti bagaimana perasaan Jason padanya. Ia tak pernah memiliki keberanian untuk bertanya. Meski sikap Jason yang hangat itu membuat Valeri senang. Namun tetap saja ia tak tahu apa yang lelaki itu rasakan padanya. Apa mungkin Jason tak menyukainya? Atau, Jason memperlakukannya dengan baik karena kasihan dengan Valeri? "Jangan berpikir negatif"Ucap Valeri merutuki kebodohannya sendiri. Ia sering sekali berpikir negatif mengenai kejadian yang akan datang. Dan pada akhirnya Valeri akan menangis karna pikiran negatifnya itu sudah merenggut kebahagiannya. Pintu kamar Valeri terbuka, menampilkan sosok Jason yang memakai setelan Jas. Dan seperti biasa, ia sangat tampan. Valeri langsung duduk di tempat duduknya ketika melihat Jason mendekatinya.   "Tumben sekali kau masih berbaring jam segini, apa kau sakit?"Tanya Jason yang langsung memegang dahi Valeri. Valeri merasa senang ketika tangan hangat itu menyentuh dahinya yang dingin. "Tidak panas"Gumam Jason sambil melepas pegangannya, Ia melirik ke arah Valeri yang sedang menatapnya dengan tatapan tak terbaca. "Ada apa?"Tanya Jason binggung. "Kau akan bertunangan, hari ini?"Ucap Valeri pelan. Jason menghela nafas lalu mengangguk, "Iya. Tenang saja aku akan segera kembali. Kau tunggu disini dulu ya"Ucap Jason sambil tersenyum hangat. Saat Jason hendak berbalik pergi, Valeri menahan tangan Jason hingga lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah Valeri lagi. "Kenapa?"Tanya Jason binggung. Valeri menggeleng pelan, "Bi-bisakah kau tak pergi?"Ucap Valeri lagi dengan suaranya yang mulai berubah parau karena menahan tangis. Jason tersenyum kecil dan duduk di pinggiran ranjang Valeri, ia mengelus rambut pirang milik Valeri pelan. "Kau tahu kalau aku harus pergi kan?"Gumam Jason pelan. Valeri mengangguk,"Aku tahu, tapi apa kau benar-benar harus pergi?"Ulang Valeri lagi. Kali ini tangisnya sudah pecah. Air mata sudah mengalir turun dari kedua matanya. Jason terdiam sejenak, lalu lelaki itu mendekatkan wajahnya pada Valeri dan. cup! cup! Valeri merasakan sentuhan bibir hangat Jason di kedua matanya. Lelaki itu baru saja mencium kedua matanya untuk membuatnya berhenti menangis. "Jangan menangis.. aku tak suka melihat air matamu"Ucap Jason sambil mengelus pipi Valeri. Valeri memejamkan matanya, menikmati setiap gerakan yang dilakukan oleh tangan Jason. "Tersenyumlah Valeri. Aku menyukai senyummu. Karena kau tampak begitu cantik ketika kau tersenyum"Ucap Jason pelan. Lelaki itu meraih punggung Valeri dan memeluknya erat. "Dengarkan aku Valeri, aku akan mencoba untuk mengakhiri segala hubunganku dengan Sanna bagaimanapun caranya. Sampai saat itu tiba, aku mohon tunggulah aku. Karena aku sangatttt menyukaimu"Bisik Jason pada Valeri. Valeri menangis lagi, kali ini bukan karena sedih. Tapi ia bahagia sekali. Ia sangat bahagia sampai-sampai air matanya turun lagi. Valeri mempererat pelukannya pada Jason dan mengangguk, "Aku akan menunggumu, sampai kapapun. Meski itu mungkin berarti seumur hidupku"ucap Valeri. Jason melepaskan pelukan itu, lalu menatap ke Valeri sambil terkekeh, "Darimana kau punya kata-kata puitis seperti itu?"Tanya Jason yang membut Valeri merona malu. "Ah, aku membacanya di novel"gumam Valeri. Jason terkekeh lagi, lalu ia mengacak rambut Valeri gemas. "Aku harus pergi sekarang"Ucap Jason yang sebenarnya enggan untuk beranjak. Valeri mengangguk meski sangat terpaksa. Jason menghela nafas kemudian ia mengecup dahi Valeri lama. "Tunggu aku ya, sayang" **** Sanna tersenyum bahagia di depan cermin sambil menatapi dirinya yang terlihat cantik dengan balutan gaun silver polosnya   Ia sudah menunggu hari ini terjadi sejak 4 tahun yang lalu. Dan ia tak akan melepas Jason begitu saja hanya karena ada serangga penganggu seperti Valeri. Sanna tersenyum sinis, ia sama sekali tak akan melepaskan Valeri. Saat ini, ia tengah menyusun rencananya masak-masak agar tidak ada kesalahan sedikitpun. Ia tak mau setengah-setengah dalam menjalankan rencananya. Ia akan melakukannya dengan totalitas penuh sehingga gadis itu akan tersingkir sempurna dari hidupnya. "Apa kau sudah siap kak?"Tanya Sarah yang baru muncul dari balik pintu. Sanna mengangguk, ia merapikan riasannya sebentar dan keluar dari kamarnya. "Apa semua tamu sudah datang?"Tanya Sanna pada Sarah. Sarah mengangguk, "Iya sudah" Sanna pun berjalan menuju Ballroom hotel. Tempat dimana pertunangan dilakukan. **** Pesta pertunangan ini sangat ramai. Dan Jason merasa sesak karenanya. Acaranya sudah hampir selesai. Ia dan Sanna tadi sudah saling tukar cincin pertunangan. Jason melirik cincin yang melingkar pada jarinya itu dengan jijik. Ia berjanji akan melepas cincin itu sesegera setelah ia sampai dirumah. "Apa kau lelah sayang?"Tanya Sanna yang sedaritadi bergelayut manja di lengan Jason. Jason menghela nafas pelan. Ia bahkan sudah meluapkan emosinya pada Sanna, namun wanita ini seakan bebal dan tak tahu malu, sampai-sampai ia masih dekat-dekat Jason meski ia tahu Jason benci sekali padanya. Jason berusaha menepis pegangan Sanna dengan lembut agar tidak di curigai orang lain, namun Sanna malah semakin mempererat pegangannya. "Wah, kalian mesra sekali. Sangat cocok untuk bersama."Ucap seorang wanita muda yang tampak akrab dengan Sanna. "Ah! Jennie! Apa kabar?"Ucap Sanna sambil memeluk Jennie-jennie itu. Jason menghela nafas lega karena akhirnya Sanna melepaskan pegangannya dari Jason. Jason harus melarikan diri, selagi Sanna dan Jennie itu masih mengobrol. Ia memutuskan untuk ke toilet agar Sanna tidak dapat menemukannya. "Iya jadi begitu, karena itulah kami akan menikah, iya kan sayang?"Ucap Sanna sambil menoleh ke arah Jason yang tadi di sampingnya. Tapi Jason tidak ada di sampingnya! Tampaknya lelaki itu kabur. "Tampaknya ia kabur"Gumam Jennie kecil namun masih terdengar oleh Sanna. Sialan Jason! Bagaimana bisa ia mempermalukan Sanna seperti ini? Sanna mengepalkan tangannya erat, ia berjanji akan membalas penghinaan ini sesegera mungkin. ****  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD